Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 31 - Putus Aluna
Aluna pulang dari rumah keluarga Myles dengan langkah yang terasa begitu berat, beban di pundaknya seperti makin bertumpuk-tumpuk.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, pandangannya kosong menatap jalanan kota yang berlalu di balik kaca jendela, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Kepalanya dipenuhi begitu banyak suara, begitu banyak tekanan, sampai rasanya dadanya sesak dan sulit bernapas.
Ucapan Sarah terus terngiang di telinganya. 'Kalau kamu benar-benar menganggap kami keluargamu, buat Davion membantu sekarang juga.'
'Setelah Jesselyn ditemukan, terserah kamu mau melakukan apa.'
Semua kalimat itu terdengar seperti belas kasih di permukaannya, tetapi Aluna tahu betul makna di baliknya. Artinya sederhana begitu Jesselyn kembali keberadaannya tidak akan lagi dibutuhkan.
Dan anehnya kenyataan itu tidak lagi terlalu menyakitkan seperti yang ia duga.
Yang membuat dadanya nyeri sekarang adalah kenyataan bahwa setelah semua yang ia lakukan, keluarganya masih terus menekannya tanpa memikirkan sedikit pun posisinya.
Mereka menuntutnya melakukan hal yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Mereka memaksanya membujuk pria yang bahkan nyaris tidak pernah benar-benar mempercayainya.
Sementara di sisi lain Davion sendiri sedang menjauhinya tanpa alasan yang Aluna mengerti.
Semua orang menuntut sesuatu darinya.
Semua orang menginginkan sesuatu darinya.
Tapi tak satu pun bertanya apakah dirinya baik-baik saja?
Saat mobil akhirnya berhenti di basement apartemen, Aluna menarik napas panjang sebelum keluar. Ia memijat pelipisnya pelan, berusaha meredakan sakit kepala yang sejak tadi mengganggu.
Begitu pintu apartemen dibuka, suara tawa kecil langsung menyambutnya dari dalam.
Aluna sedikit tertegun.
Karena yang ia lihat di ruang tengah bukanlah apartemen kosong seperti biasa. Melainkan Mommy Ivana dan Daddy Aston yang tengah duduk santai di sana, sementara beberapa paper bag belanjaan memenuhi meja makan.
Mata Aluna langsung membesar karena terkejut. “Daddy? Mommy?”
Begitu melihatnya datang, wajah Ivana langsung berbinar. “Aluna sayang!” serunya riang sambil berdiri menghampiri. “Kamu sudah pulang."
Reflek semua beban yang sejak tadi menyesakkan dada Aluna langsung ia sembunyikan di balik senyum lembut. Ia memaksa sudut bibirnya terangkat seolah semuanya baik-baik saja.
“Mommy... Daddy,” sapanya hangat, juga berusaha terdengar ceria. “Kenapa datang mendadak? Tidak memberiku kabar lebih dulu. Tapi begitu aku tetap berada di apartemen.”
Ivana tertawa kecil sambil menggenggam tangan menantunya. “Mommy datang mendadak tentu saja karena mommy merindukan mu. Lagipula sudah lama kita tidak makan bersama, jadi Mommy berpikir kenapa tidak sekalian datang dan menyiapkan makan malam spesial.”
Aluna menatap banyaknya bahan makanan yang dibawa Ivana dan tak bisa menahan senyumnya menjadi lebih tulus.
“Mommy membawa sebanyak itu?”
“Tentu,” sahut Ivana bangga. “Hari ini Mommy akan masak sendiri untuk menantu kesayangan Mommy.”
Mata Aluna langsung menghangat. Perhatian seperti ini selalu terasa sangat asing sekaligus sangat berharga baginya.
Ivana lalu segera masuk ke dapur sambil membawa beberapa kantong belanjaan, sibuk mengatur semuanya dengan bantuan pelayan yang ikut datang.
Sementara itu Daddy Aston menepuk sofa di sebelahnya. “Kemarilah, Aluna. Duduk dengan Daddy.”
Aluna menurut, lalu duduk di samping pria paruh baya itu dengan sopan.
Aston menatapnya dengan senyum lembut khas seorang ayah. “Bagaimana kabarmu hari ini?”
Aluna tersenyum kecil, bahkan pertanyaan sederhana ini pun dilontarkan oleh Daddy Aston. Sementara papa Pieter tak pernah menanyainya sekalipun. “Aku baik, Daddy.”
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Aston lagi. “Mereka sehat?”
Pertanyaan itu membuat senyum Aluna sedikit menegang, tetapi ia tetap mengangguk pelan. “Mereka baik-baik saja.”
Aston mengangguk puas. Lalu setelah diam sejenak, pria itu kembali bertanya, “Apa Davion sudah mengubah keputusannya soal perusahaan keluargamu?”
Jantung Aluna sedikit mencelos mendengar pertanyaan itu. Ternyata Daddy Aston pun tahu tentang rencana Davion untuk membantu perusahaan keluarga Myles, tapi bukan bantuan cuma-cuma melainkan sekaligus membeli sebagian besar sahamnya.
Aluna menunduk sesaat sebelum akhirnya menggeleng kecil.
“Belum, Daddy.”
Wajah Aston sedikit berubah, tampak berpikir. Namun sebelum pria itu bisa mengatakan sesuatu, Aluna buru-buru menambahkan dengan suara lembut, “Daddy tidak perlu memikirkan hal itu terlalu jauh.”
Aston menoleh padanya, menatap Aluna yang tersenyum tipis, meski sorot matanya terlihat sedikit redup.
“Apapun yang terjadi pada keluarga Myles itu adalah tanggung jawab keluarga Myles sendiri, Daddy tidak perlu khawatir," ucap Aluna.
Kalimat itu membuat Aston terdiam. Ia menatap Aluna beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah gadis itu.
Karena meskipun Aluna tersenyum, entah kenapa pria itu merasa ada luka besar yang sedang disembunyikan di balik senyum tersebut.
“Aluna,” panggil Daddy Aston pelan.
Namun Aluna buru-buru kembali tersenyum lebih lebar. “Dad, aku hanya tidak ingin membuat Davion dan Daddy berselisih hanya karena masalah keluargaku.”
Aston semakin terdiam, tatapannya melembut dan pria itu pun menghela napas kecil sebelum mengusap kepala Aluna dengan penuh kasih. “Kamu anak yang terlalu baik.”
Kalimat sederhana itu nyaris membuat pertahanan Aluna runtuh saat itu juga. Karena entah kenapa, mendengar seseorang berkata bahwa dirinya adalah anak yang baik membuat tenggorokannya langsung terasa sesak.
Setelah sepanjang hidup terus diperlakukan seperti beban dan alat.
Namun Aluna tetap tersenyum. Tetap menahan semuanya rapat-rapat di dalam hati.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu apartemen terbuka. Semua orang menoleh bersamaan dan melihat Davion yang akhirnya pulang.
Begitu masuk dan melihat kedua orang tuanya ada di sana, langkah pria itu sedikit terhenti. Namun yang lebih membuat tatapannya membeku adalah saat melihat Aluna duduk di samping Daddy Aston dengan wajah tenang, sementara tangan ayahnya masih berada di atas kepala wanita itu dalam gesture penuh kasih.
Entah kenapa pemandangan itu langsung membuat rahang Davion menegang.
Karena lagi-lagi Ia merasa Aluna sedang memainkan perannya dengan sempurna.
Dan lagi-lagi semua orang tampak begitu menyayanginya.
“Davion, kamu sudah pulang,” seru mom Ivana dari arah dapur.
Namun pria itu masih berdiri di tempat, menatap lurus pada Aluna dengan pandangan dingin yang perlahan menggelap.
Sementara Aluna yang menyadari tatapan itu Refleks menegang di tempat duduknya.
Aluna tahu malam ini akan kembali menjadi malam yang sulit, terutama setelah mom Ivana dan Daddy Aston pulang nanti.
"Dav, duduklah sini. Ada yang ingin Daddy katakan padamu," ucap Daddy Aston kemudian.
Yang gugup adalah Aluna saat mendengar hal tersebut, dilihatnya Davion yang mendekat lalu duduk di salah satu kursi. "Ada apa Dad? Kenapa datang tanpa memberi kabar?" tanyanya lebih dulu.
"Mommy mu sudah tidak sabar datang ke sini, Daddy sendiri juga merasa terkejut," balas Daddy Aston.
Saat Davion tak menjawab lagi, Daddy Aston pun kembali buka suara. "Besok kita pergi ke perusahaan keluarga Aluna dan menyelesaikan semuanya, keputusan Daddy sudah bulat sekarang," putus Daddy Aston.
"Tidak!" balas Aluna, tanpa sadar bahkan suaranya meninggi. Sampai Davion dan Daddy Aston sama-sama terkejut, karena ini adalah kali pertama Aluna meninggikan suaranya.
Namun sungguh, Aluna pun tak ingin mendapatkan bantuan cuma-cuma dari keluarga Harold. Aluna lebih setuju dengan cara yang Davion gunakan.
Karena dengan begitu, setelah semuanya selesai Aluna bisa mengakhiri pernikahan ini tanpa merasa hutang Budi lagi.
Setelah bicara dengan nada tinggi, Aluna segera menenangkan dirinya sendiri. Lalu kembali bicara dengan lembutnya seperti biasa. "Tidak Dad, ku mohon jangan membantu keluarga ku dengan cuma-cuma. Aku setuju dengan cara yang Davion gunakan," putus Aluna.
Aluna tak peduli dengan pencarian Jesselyn yang hampir menemukan titik terang, kini Aluna hanya ingin peduli pada dirinya sendiri lebih dulu.
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.
gw bisa callingin psk ..davion, kalau lo gk bisa tahan, mau lo?
davion bilek....mau lah, dah lama juga gk main😌
Biarkan Aluna menjemput kebahagiaannya dgn pria lain yg baik, yg menghargainya..