NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 IDENTITAS BARU

​Alesia menarik napas dalam-dalam, melangkaj melewati gerbang megah SMA Binara 2. Hari ini adalah lembaran baru, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata langsung tertuju padanya. Langkah kakinya yang anggun dengan paduan seragam yang pas membuat beberapa siswi yang baru datang berbisik kagum. Bahkan, gerombolan cowok yang sedang nongkrong di koridor lantai dua mendadak berhenti mengobrol, tertegun menatap pesonanya dari atas.

​"Wah, cantik banget... Kayaknya Murid baru?" gumam salah satu cowok di lantai dua dengan pandangan tak berkedip.

"Kayaknya sih gitu. Gaya jalannya elegan banget," batin seorang siswi yang berjalan tak jauh di belakang Alesia, ikut mengagumi kecantikan gadis itu.

​Di tengah tatapan memuja itu, Alesia sebenarnya merasa asing dan bingung. Berada di lingkungan baru tanpa mengenal satu orang pun membuatnya sedikit gugup. Matanya menyapu area loker sepatu, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada sesosok cowok yang naik bus bersamanya tadi. Cowok itu sedang sibuk menaruh sepatu sekolahnya ke dalam laci loker, bersiap menggantinya dengan sepatu khusus ruangan.

​Tanpa membuang waktu, Alesia melangkah mendekat. "Permisi," ujar Alesia memecah keheningan di area loker. "Boleh tanya, di mana ruangan kepala sekolah?"

​Cowok itu refleks menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka sebelum akhirnya menunjuk dirinya sendiri. "Apa kamu memanggilku?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar dingin dan datar.

​"Iya, kamu," jawab Alesia sabar, meski jengkel dengan respons cowok itu. "Boleh kasih tahu aku di mana ruangan kepala sekolah?" tanya Alesia sekali lagi, berharap mendapat jawaban yang jelas.

​Cowok itu terdiam sejenak. "Ruangan kepala sekolah ya? Sebentar..." Ia memalingkan wajah, menatap ke arah temannya yang baru saja selesai meletakkan sepatu di loker sebelah.

​"Hee, Reo! Tolong anterin dia ke ruang kepala sekolah, gue mau langsung ke kelas," ujar cowok dingin itu tiba-tiba. Tanpa menunggu persetujuan dari temannya, cowok itu—yang ternyata bernama Gian—langsung berbalik arah dan pergi begitu saja.

​"He, Giaaan! Apa-apaan kamu itu? Malah menitipkan dia padaku!" sahut Reo setengah berteriak. Ia hanya bisa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu melirik canggung ke arah Alesia.

​Alesia yang melihat kelakuan Gian hanya bisa melongo. Bagaimana bisa ada cowok secuek itu pada orang yang sedang bertanya baik-baik? Dasar cowok aneh, gumam Alesia kesal dalam hati. Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi kekesalannya. Ia harus segera bertemu kepala sekolah.

​"Kak, hallo... Boleh tolong anterin saya?" tanya Alesia pada Reo, memasang wajah seramah mungkin.

​Reo mengembuskan napas pasrah, lalu tersenyum ramah. "Hehe, ya sudah aku anterin. Mau bagaimana lagi, Gian sudah pergi main tinggal begitu aja," sahut Reo, mencoba mencairkan suasana sambil memberi isyarat agar Alesia mengikutinya.

​Jadi, cowok menyebalkan yang tadi namanya Gian ya... gumam Alesia sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

​Sembari berjalan beriringan, Reo sesekali melirik gadis di sampingnya. Dalam hati, ia tidak bisa memungkiri bahwa murid pindahan ini memang sangat cantik. "Maaf ya, aku baru melihatmu di sini. Kamu baru pindah ke sekolah ini, ya?" tanya Reo ramah.

​"Iya, aku baru saja pindah ke sini," jawab Alesia singkat dengan senyum tipis.

​"Waw, kenalin, aku Reo dari kelas 2-C," ujar Reo bersemangat sambil mengulurkan tangannya di tengah koridor yang mulai ramai.

​Alesia menatap uluran tangan itu. Di detik inilah ia memantapkan sebuah keputusan besar. Ia ingin melupakan masa lalunya, memulai hari yang benar-benar baru di sekolah ini tanpa ada satu orang pun yang mengaitkannya dengan masalalunya.

​"Salam kenal. Namaku Gretta," ucapnya tegas, mengulurkan tangan dan menjabat tangan Reo. Mulai detik ini, bagi dunia luar, namaku adalah Gretta.

​"Salam kenal yah, Gretta. Semoga kita bisa berteman baik," balas Reo dengan senyuman lebar. "Oh iya, Gretta kelas berapa?" tanya Reo lagi setelah melepaskan jabat tangan mereka.

​"Aku kelas dua juga, tapi aku belum tahu bakal ditempatkan di kelas dua yang mana," ujar Gretta jujur.

​"Wah, semoga kita satu kelas ya!" pekik Reo sambil tertawa renyah. Ia kemudian memberi isyarat agar Gretta terus mengikutinya menyusuri lorong yang panjang menuju area perkantoran sekolah.

​Sepanjang perjalanan menuju ruang kepala sekolah, Reo yang ramah tidak berhenti bertanya. Ia penasaran tentang alasan Gretta pindah sekolah di pertengahan semester dan mengapa memilih SMA Binara 2 sebagai sekolah barunya. Menanggapi rentetan pertanyaan itu, Gretta hanya membalas dengan jawaban-jawaban singkat yang aman, tanpa sedikit pun membeberkan alasan yang sebenarnya.

​Tidak sampai lima menit berjalan, akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah pintu ruangan kepala sekolah dengan papan nama kuningan di atasnya.

​"Nah, ini ruangan kepala sekolah, Gre. Yaudah yah, aku pergi ke kelas dulu," ujar Reo sambil berbalik arah, meninggalkan Gretta dengan lambaian tangan yang bersahabat.

​"Makasih banyak, Reo," sahut Gretta setengah berteriak agar terdengar. Setelah punggung Reo menghilang di tikungan koridor, Gretta menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu di depannya. Tok! Tok! Tok!

​"Permisi..."

​"Silakan masuk," terdengar suara berat dari dalam.

​Gretta membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Seorang pria paruh baya berkacamata menyambutnya dengan senyuman hangat. "Oh, jadi kamu murid baru itu. Silakan duduk dulu," ujar Kepala Sekolah ramah.

​Gretta pun duduk dengan takzim. Kepala Sekolah mulai menjelaskan berbagai aturan tata tertib di SMA Binara 2, membagikan beberapa buku paket pelajaran yang tebal, serta memberikan selembar kertas berisi jadwal pelajaran. "Nah, ini jadwal pelajaranmu dari wali kelas 2-C. Jadi, Gretta nanti masuk di kelas 2-C ya," jelas Beliau.

​Tepat setelah pembicaraan mereka selesai, pintu ruangan kembali mengetuk dan terbuka. Seorang guru perempuan masuk. Beliau adalah wali kelas 2-C sekaligus guru yang mengajar mata pelajaran Biologi hari itu. Guru tersebut menghampiri Gretta sambil tersenyum tipis, memancarkan aura keibuan yang menenangkan. Kepala Sekolah pun segera menyuruh Gretta untuk mengikuti wali kelasnya tersebut, karena sebagai murid baru, Gretta jelas belum tahu di mana letak ruang kelas 2-C.

​Gretta berjalan mengekor di belakang sang guru. Tak sampai lima menit, mereka berdua sudah berdiri di depan pintu kelas 2-C. Suasana di dalam kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi saat guru tersebut melangkah masuk ke dalam kelas.

​"Selamat pagi semua," sapa Guru tersebut dengan suara lantang namun ramah.

​"Pagi, Buu Karin!" seru para murid kompak.

​"Ibu ada berita yang sangat membahagiakan hari ini. Kalian semua kedatangan teman baru," ujar Bu Karin penuh semangat, memancing rasa penasaran seluruh isi kelas.

​Di bangku tengah, Reo langsung membatin dengan mata berbinar, Siapa itu? Apa murid yang tadi bareng gue?

Sementara di barisan depan, seorang siswi bernama Arkana langsung menyahut, "Pasti cantik, Bu."

"Eh, atau jangan-jangan ganteng? Bener bukan begitu, Bu?" tanya Cila yang langsung disambut tawa seisi kelas.

​"Silakan masuk, Gretta," panggil Bu Karin ke arah pintu.

​Gretta pun melangkah masuk dengan anggun. Begitu sosoknya terlihat di depan kelas, suasana langsung riuh rendah. Kehadiran Gretta sukses membuat para cowok di kelas itu tak berhenti kasak-kusuk mengagumi kecantikannya. Bahkan, beberapa cowok yang terkenal agresif langsung bersorak menggoda, bahkan ada yang blak-blakan mengajaknya berpacaran. Gretta hanya bisa tersenyum simpul menanggapi tingkah laku heboh teman-teman barunya itu.

​"Silakan perkenalkan dirimu, Gretta," pintah Bu Karin menenangkan kelas.

​Gretta maju satu langkah, menatap seluruh penjuru kelas dengan tatapan percaya diri yang memikat. "Pagi semua. Perkenalkan, nama saya Gretta Alesia Nobara. Panggil saja Gretta atau Gree. Umur saya 18 tahun. Semoga kita bisa berteman baik ya," ujar Gretta dengan suara yang terdengar merdu namun tegas.

​"Namanya bagus banget, secantik orangnya!" puji salah satu siswa dari bangku tengah.

"Gimana kalau namamu kupanggil 'Sayang' aja, Gree?" celetuk seorang cowok bernama Zordan dengan wajah cengegesan, memancing sorakan dari yang lain.

​"Hee, Zordan! Mana mungkin Gretta suka sama modelan kayak kamu!" pekik Nana, seorang siswi berambut pendek, sambil tertawa puas menjatuhkan mental Zordan. "Bukan begitu kan, Gretta?"

​Gretta hanya tersenyum tipis, tidak ingin menanggapi candaan itu terlalu jauh.

"Sudah, sudah, diam kalian semua!" lerai Bu Karin sambil mengetuk meja dengan penggaris. "Gree, silakan kamu duduk di bangku yang kosong itu. Di barisan paling belakang urutan kedua dekat jendela."

​Gretta mengangguk sopan. "Baik, Bu. Terima kasih."

​Gretta pun berjalan menyusuri barisan meja menuju bangku kosong yang ditunjuk. Begitu ia sampai di kursinya, sosok di sebelah mejanya langsung menyapa dengan wajah semringah. "Hey! Kita satu kelas," bisik Reo kegirangan. "Gree, ingat aku gak? Ini aku, Reo."

​Gretta menoleh dan tersenyum tulus. "Hey, Reo. Iya, kita satu kelas. Makasih ya buat yang tadi," bisik Gretta balik. Ia merasa sangat lega dan senang karena setidaknya ada satu orang ramah seperti Reo yang ia kenal di kelas ini.

​Namun, rasa senang Gretta mendadak terusik saat ia melirik ke arah bangku tepat di belakangnya. Di sana, duduk cowok menyebalkan dari halte bus tadi. Gian. Cowok itu duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, sama sekali tidak memedulikan kehadiran murid baru yang sedang menjadi pusat perhatian, seolah-olah Gretta hanyalah angin lalu.

​"Silakan buka buku kalian. Ibu akan menerangkan tentang Bab 1 cerita cerpen halaman 56," suara Bu Karin memecah lamunan Gretta.

​"Baik, Buuu..." sahut seluruh murid kompak, termasuk Gretta yang mulai membuka buku barunya, siap memulai lembaran hidup yang baru sebagai Gretta.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!