#bebas promo euy!!!🥳🥳🥳
#yang mampir wajib like..komen dan vote ya..😎
##
(Season 1)
Haniza Tiara Putri..
seorang putri konglomerat yang rela berpenampilan seperti Betty La Fea hanya untuk terbebas dari sikap protektif sang ayah dan kakak laki-laki nya. Mempunyai sifat keras kepala.
Mencoba mencari cinta sejatinya diantara bayang-bayang masa lalunya.
#Aldian Reza Kusuma
seorang pengusaha muda nan sukses. Namun menyimpan seribu duka dihatinya. Mulai dari penghianatan sang kekasih hingga fitnah keji yang mengikuti setiap langkahnya.
Akan kah kali ini takdir menghadirkan cinta tanpa duka untuk Reza?
Sanggupkah dia menggenggam cinta nya walau berbagai rintangan melanda?
ikuti cerita seru Reza-Tiara ya gengs.... 😘
🥳🥳🥳telah hadir season 2 nya juga di karya ini ya zeyeng ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kalung senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
si gadis penyelamat
Tiara berjalan dengan langkah gontai ke ruangannya. Sepanjang jalan ia hanya bisa menunduk sambil menahan air mata yang masih berpacu ingin turun di pipinya. Sebelum pergi ke ruangannya, Tiara sengaja singgah sebentar ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya, sekaligus ia ingin menghilangkan isak tangisnya.
Tiara membuka kacamata dan membasuh wajahnya berkali-kali. Dia bahkan menepuk-nepuk wajah nya, berharap sembab karena tangisan tadi menghilang karena tepukan- tepukan itu.
Diambilnya bedak di tasnya, lalu sapunya keseluruh wajahnya, sambil tetap menahan air mata yang ingin keluar.
"Kamu harus kuat Tiara!" Ucapnya, menyemangati dirinya yang berada dalam kaca!
lalu dipakainya kembali kaca mata tebal itu. Diperhatikan nya kembali dirinya di dalam cermin. Kemudian setelah merasa yakin tidak ada air mata yang akan lagi keluar, maka Tiara tersenyum kepada dirinya yang ada di cermin, "Semangat!!!!" Ujarnya, lalu pergi meninggalkan kamar mandi.
Dibuka nya pintu ruangan design. Dan dilihat nya sekeliling ruangan itu. Terlihatlah para babang ganteng nya sedang sibuk membuat design di meja kerja mereka masing-masing. Tiara merasa lega, karena ia mengira tidak ada satupun dari mereka yang menyadari kehadirannya di sana.
"Gimana Hany, tadi di ruangan pak Reza?" Tanya Alam, dan menghentikan Kerjaan Tiara.
Para babang yang lain juga menghentikan kerjaan nya. Kini tatapan semua orang di ruangan tersebut tertuju pada Tiara.
Tiara langsung memasang senyum manis nan imut di wajah nya. "Semua baik-baik saja!" Jawabnya, dan melangkah menuju meja kerjanya.
"Are you oke, Hany?" Tanya Putra, dia merasa cara Tiara menjawab barusan bukan seperti Tiara yang biasanya.
"Oke mas, pak Reza tadi cuma negur dikit doang. Aku aja yang orangnya baperan, jadi agak terasa aja sampai sekarang." Jelas Tiara, sambil pura-pura sibuk mencari barang. Dia harus bisa mengendalikan rasa sedih dan ibanya. Kalau harus menjawab pertanyaan -pertanyaan babangnya sambil memandang mereka,Tiara takut, air matanya akan jatuh dengan sempurna.
"Syukurlah kalau gitu!" Ujar Putra, kembali fokus dengan kertas di atas meja nya.
Tiara turun dari kursinya, dan berjongkok seakan-akan dia mencari sesuatu. Padahal dia sedang mengelap air mata yang menggenang di ujung matanya. "Aku letakin dimana ya?" Serunya pelan, agar orang-orang tidak curiga karena dia berjongkok agak lama.
"Kamu cari apa?" Tanya Zaki, dari mejanya.
"Ini, aku cari jodoh ku?" Jawab Tiara asal.
"Kamu ini ditanya serius malah bercanda jawab nya!" Zaki pun membiarkan Tiara sibuk mencari benda yang entah apalah di bawah sana.
Setelah Tiara membersihkan semua airmata dengan tisu, dia kembali duduk tenang. Dilihatnya para babangnya dari balik kacamata tebalnya. "Aku pasti akan merindukan kalian semua!" Gumamnya dalam hati.
"Tea time!!!!!" Serunya tiba-tiba kepada semua orang!
"Eh, non! yang ada sekarang itu lunch time!!" Celetuk Alam mendengar seruan Tiara. "Udah siang ni, tea time itu cocoknya pagi."
"Hehehe, karena tadi pagi telat datang, jadi tea time nya diundur jadi sekarang!" Bela Tiara dan berdiri dari kursinya. " Jadi ada yang mau gak ni??!"Tanyanya lagi.
"Mas, kopi kaya biasa!" Seru Tama sambil tersenyum. "Gak pakai gula, soalnya udah ada kamu!!"
"eeaaaaak!" Timpal Alam, menyambung ucapan Tama. "Akuh juga mau seperti biasa, babe!" Alam pun ikut memesan minum ke Hany.
"Mas Putra dan Zaki mau pesan apa? Sama kayak biasa aja?" Tanya Tiara pada dua orang lelaki yang masih sibuk menorehkan pensilnya di atas kertas.
"Iya, aku sama aja!" Jawab Zaki, singkat.
Tiara menoleh ke Putra," Mas, gimana?
Putra meletakan pensilnya dan berdiri, "Mas, buat sendiri aja! Yuck mas temani ke pantry." Putra berjalan keluar ruangan design.
Tiara hanya diam, dan mengikuti Putra dari belakang. Sebenarnya, dia mau pergi sendiri aja untuk membuatkan minuman yang terakhir kali nya untuk para babangnya ini. Dia takut, air matanya kembali jatuh ketika sedang membuat minuman untuk para babangnya. Maklum hatinya melankolis banget.
"Kamu baik-baik saja Hany?" Tanya Putra, yang entah sejak kapan berhenti dan menatap Tiara.
Tiara yang sedari tadi tidak fokus ketika berjalan, hampir saja menabrak Putra yang berhenti tiba-tiba.
"Loh, mas kok berhenti?" Tanyanya, bingung.
"Mas tanya, kamu baik-baik aja kan?" Putra sekali bertanya, meyakinkan apakah Tiara baik-baik saja. Karena dia tahu betul bahwa sepupunya Reza kalau marah, tidak pernah selembut yang Tiara ceritakan. Dan tisu-tisu yang berserakan di bawah meja Tiara juga menjadi bukti kalau Reza pasti telah mengatakan hal yang menyakitkan hati.
"Aku baik-baik saja mas! " Jawabnya pelan, dan melewati Putra.
"Kamu yakin, baik-baik saja?Terus,tisu yang berserakan di bawah meja kamu tadi untuk apa?" Tanya Putra, dan langsung menahan tangan Tiara yang lewat di sampingnya.
"Oo.. itu, hmm.. anu! Kacamata aku tadi berdebu mas waktu mencari buku design ku di laci meja bagian bawah! Jadinya aku lap pakai tisu deh!" Jelas Tiara, mencoba menarik tangannya.
"Perlu setengah kotak tisu untuk membersihkan debu di kacamata?" Putra tetap menahan tangan Tiara.Malah kini, dia menarik Tiara lebih dekat padanya.
Dilihatnya dengan seksama kedua mata Tiara yang berada di balik kacamata tebal itu. Tiara yang ditatap seperti itu, langsung mengalihkan pandangannya kesembarang arah.
"Mata merah mu gak bisa bohong, Hany!" Putra kini sudah menggenggam kedua lengan Tiara. "Kamu yang cerita atau mas yang tanya langsung dengan pak Reza!" Ancam Putra.
Tiara kini menatap Putra,"Tapi mas janji, mas gak akan cerita kesiapa-siapa?"
Putra melepaskan genggamannya, dan menarik Tiara menuju roof top gedung itu. Tiara dengan pasrah, membiarkan Putra menariknya.
Setibanya di roof top, Putra melepaskan genggaman tangannya. "Nah, sekarang coba jelasin ke mas, apa yang sebenarnya terjadi."
Tiara menarik nafas dalam, dan mulai bercerita. "Pak Reza marah besar mas! Karena aku tadi pagi terlambat datang dan tidak menghadiri rapat." Jawab Tiara, sambil menunduk.
"Terus kamu nangis hanya karena dimarahi oleh si direktur gila itu!!"
"A-aku, dikeluarkan dari perusahaan, mas!" Ucap Hany,terbata-bata.
"Hanyza Tiara Putri! Angkat kepala mu ketika berbicara!!"Seru Putra dengan suara beratnya.
Tiara menarik nafas, dan melihat ke Putra. Air mata yang tadi sudah berhenti mengalir, kini turun lagi. Tiara mencoba tersenyum, namun senyumannya terasa menyayat hati.
" Hany, kamu gak jelasin ke pak Reza alasan kamu terlambat tadi pagi?"Putra memegang erat bahu Tiara.
"Aku udah coba jelasin, mas! Tapi dia gak kasih kesempatan buat aku untuk jelasin alasan keterlambatan aku tadi pagi."
Putra mengusap kasar wajah nya. Dia tahu benar tabiat sepupu nya. Reza memang pemarah dan keras kepala, tapi mengapa Reza sampai hati untuk membatalkan magang seorang mahasiswa hanya karena datang terlambat dan tidak ikut rapat dadakan yang diadakan nya.
Bahkan kalau harus dipikir-pikir lagi, seharusnya, ada ataupun tidak ada nya Tiara dalam rapat tadi pagi, tidak akan memberikan pengaruh besar pada hasil rapat. Toh Tiara hanya sekedar anak magang! Putra benar-benar bingung! Perlakuan Reza sangat tidak wajar! Memecat Tiara hanya karena satu kesalahan kecil, sungguh sifat yang sangat kekanak-kanakan. Kecuali, Reza memang sudah membenci Tiara sejak dulu.
"Ikuti aku!" Putra kembali menarik tangan Tiara.
Tiara menghempaskan tangan Putra, "Kemana lagi, mas!" Serunya.
"Aku akan membawa mu menemui Direktur yang kekanak-kanakan itu!" Jawabnya, dan menarik kembali tangan Tiara.
Tiara menahan tangannya. Dan menghempaskan kembali tangan Putra." Aku gak mau mas! Aku juga punya harga diri. Aku gak mau bertemu dan memohon kepadanya.Aku juga gak mau kamu terlibat dalam hal ini"Ucap Tiara.
Bagaimana pun, Tiara adalah putri konglomerat yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan.Selalu dimanja oleh keluarganya. Dan dia tidak pernah direndahkan apalagi sampai dibentak seperti yang dilakukan oleh Reza di ruangan nya tadi. Egonya menahannya untuk mengikuti Putra menghadap Reza.
"Aku akan menyelesaikan design pesanan client terakhir ku, mas! Dan segera mengemasi barang-barang ku di meja. Aku harap mas tepat janji! Dan tidak memberitahu hal ini kepada teman-teman di divisi kita." Tiara melangkah meninggalkan, Putra.
Putra yang merasa hal ini tidak adil untuk Tiara, dengan cepat pergi dari roof top itu, bahkan dia meninggalkan Tiara yang sedang menuruni tangga dari rooftop itu.
Tiara hanya melihat Putra yang pergi meninggalkan nya sendiri. Dia berpikir, mungkin Putra kecewa atas sikap keras kepala nya, yang tidak mau menghadap ke Reza untuk meminta maaf.
Tiara pun kembali ke pantry untuk membuat minuman.
***
"Kamu dari mana aja, Za?" Tanya Siska pada putranya, ketika Reza dan Ardi memasuki kamar VIP di rumah sakit medical Center.
"Gimana kabar Daffa mom?" Tanya Reza, cemas. Dan segera berjalan ke arah anaknya.
"Daffa, baik-baik aja, Za! Dia cuma syok dan lecet-lecet sedikit." kata Siska, dan membelai kepala Daffa.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mom?" Tanya Reza, tanpa mengalihkan pandangannya dari putranya.
"Bukankah, seharusnya Daffa hari ini berada di sekolah dan belajar seperti biasanya? Kenapa dia bisa berada di dalam bus mom?" Tanya Reza, kesel karena mendengar kecelakaan putranya.
"Tadi pagi, jam 7, Daffa sudah sampai di sekolah nya nak. Namun, mommy lupa menyampaikan ke kamu bahwa hari ini Daffa ada kunjungan ke Museum. Mommy sudah tanda tangan surat izinnya beberapa hari yang lalu.
Mom benar-benar tidak menyangka kalau bus sekolah yang Daffa tumpangi akan mengalami kecelakaan,Za!!! Mom benar-benar menyesal telah memberikan nya izin untuk ikut ke museum!! Kalau mom tidak mengizinkan nya, maka kecelakaan ini tidak harus di alami oleh cucu mommy yang kecil ini! Ini semua salah mommy, Za!" Tangis Siska pecah ketika mengingat dia lah yang telah mengizinkan Daffa untuk pergi ke museum. Dia semakin merasa bersalah karena tidak memberitahukan hal tersebut kepada Reza.
Reza menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan amarah nya.Dipejamkan nya matanya untuk agar ia dapat kembali dalam mood semula.. Syukurlah, Daffa tidak kenapa-kenapa. Kalau tidak, Reza mungkin akan sangat marah pada mommy nya dan juga pada sekolah Daffa.
" Apa mommy tahu, mengapa kecelakaan ini bisa terjadi?"Tanyanya pelan.
"Yang mommy dengar dari polisi yang sedang menginterogasi supir bus tersebut, busnya tumbang karena menghindari pengendara motor yang ngebut di jalan Subrantas tadi pagi." Siska menjelaskan perihal kecelakaan itu pada Reza.
Reza dan Ardi saling bertatapan setelah mendengar penjelasan dari Siska. Pikiran mereka sama-sama tertuju dengan kejadian na'as yang mereka temui tadi pagi.
"Za, jangan-jangan kejadian yang tadi pagi itu?" Tanya Ardi, ragu.
"Arrrrghh....!!!!" Reza meninju dinding kamar dengan kesal. Dia tidak menyangka bahwa kecelakaan yang dilihatnya tadi pagi adalah kecelakaan bus sekolah putranya.
"Kenapa, Za?" Tanya Siska, cemas melihat reaksi anaknya.
"Za, benar-benar menyesal, mom!!!! Za gak menyangka kalau kecelakaan yang Za lihat tadi pagi itu adalah kecelakaan bus sekolah nya Daffa!!!" Seru Reza, Kesal.
"Apa maksud mu nak?" Siska bingung dengan perkataan Putranya.
"Tapi pagi sewaktu arah ke kantor, Reza dan Ardi melewati jalan Subrantas, mom. Dan kami melihat ada kecelakaan bus di sana. Bahkan Ardi sempat keluar dan melihat kondisi bus dan penumpang nya. Dari Ardi jugalah, Reza tahu kalau bus yang tumbang itu adalah bus sekolah anak Taman kanak-kanak. Hanya saja, Reza tidak menyangka kalau Daffa ada di dalam bus itu!! Kalau saja Reza tahu Daffa akan berpergian menggunakan bus hari ini, Za pasti akan segera mengecek korban bus itu, mom!" Ujarnya kesal.
"Itu salah mommy, Za!! Mommy yang lupa memberitahu mu, nak!"Siska kembali menangis.
" Sudahlah tante! Ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah takdir tuhan. Yang penting sekarang Daffa itu sudah selamat dan keadaannya tidak kurang apapun. Kalau masalah syok, aku yakin dokter pasti tahu bagaimana mengatasi syok pada anak-anak." Ardi mencoba menenangkan ibu sahabatnya itu.
"Kalian gak perlu khawatir!" Seru Irfan, yang berdiri di pintu kamar rawat putra sahabatnya itu.
"Daffa, keadaannya sangat baik bila dibandingkan dengan anak-anak lain korban kecelakaan mobil itu. Mungkin awalnya dia syok karena mengalami kecelakaan itu, namun ketika aku pertama kali jumpa dia pagi ini, keadaannya sudah terkendali." Irfan masuk ke dalam ruangan tersebut, dan menepuk pundak sahabatnya. "Mungkin ini karena Daffa merasa aman dan nyaman berada didekat gadis yang mengantarkan nya tadi pagi ke rumah sakit.
" Gadis?" Tanya Reza heran. "Bukankah seharusnya, guru Daffa yang harus mengantarkan nya ke rumah sakit? Apakah gadis itu gurunya?
" Kalau itu gue gak tau, Za. Tapi kalau gue lihat dari penampilan nya, hhmm.. sepertinya dia bukan gurunya, Daffa. Lagian Daffa memanggilnya Kakak. Oo. iya, kalau gak salah, nama nya Hany. "Jelas Irfan,memasukan tangannya ke saku jasnya.
" Hany?" Tanya Reza dan Ardi bersamaan.
"Iya, Hany." Jawab Irfan, dan melirik kedua sahabat nya itu.
"Za, lo ingat gak, tadi pagi, gue bilang gue lihat ada seseorang yang membantu evakuasi korban di bus itu. Dan di tas selempang nya, gue lihat ada id perusahaan kita. Jangan-jangan.... "Tersirat kecemasan di wajah Ardi,
dia ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
Sungguh ini merupakan sebuah kebetulan diluar pemikiran nya. Kalau sampai dugaannya benar, maka Reza pasti akan sangat menyesal dengan perbuatannya tadi pada Tiara. Ardi menelan salivanya, memikirkan kemungkinan hal tersebutlah yang terjadi.
"Bagaimana ciri-ciri gadis itu?" Tanya Reza, pada Irfan.
" Yang pasti dia bukan tipe lo, Za!" Jawab Irfan tertawa. " Gadis itu sangat.. " Irfan memikirkan kata yang tepat untuk menggambarkan gadis yang dilihatnya tadi pagi. "Unik!" Ujarnya, setelah menemukan istilah yang tepat untuk penampilan si gadis.. " Dia menggunakan kacamata tebal, kawat gigi dan rambutnya itu., sangat aneh menurut gue! Seperti di berikan minyak yang sangat banyak!" Sambungnya, dan tertawa.
" Baiklah, gue akan keluar dulu. gue akan visit malam ke ruangan Daffa. Tadi gue mampir karena gue liat lo ketika gue keluar dari ruangan pasien." Ucap Irfan, meninggalkan ruangan tersebut.
"Ada apa, Za?" Tanya Siska, heran melihat anaknya seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
***
hai.. hai.. hai..
maaf otot telat up ya....
cos jaringan alam khayal otot lagi terganggu... wkwkwkwk#kidding.
di sini Ujan mulu zeyeng... jadi jaringan yang ilang timbul di kota otor...
gimana di kota mu? hujan juga kah?
***
tor.. koq tiba-tiba Reza punya anak?
dari episode satu kagak pernah di singgung soal anak nya??
ayoooooo siapa yang tau, Daffa anak siapa?????? komen di bawah ya...
😌😌😌😌😌jangan lupa like, komen dan vote nya...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣
lsng minta d kelonin