NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Topeng Yang Terlepas

Permintaan Ratna tidak berhenti pada satu atau dua kali.

Awalnya sebulan sekali. Datang dengan wajah lelah, cerita yang sama, dan nada memelas yang nyaris selalu berhasil meluluhkan hati Naya. Lalu berubah menjadi dua minggu sekali. Hingga tanpa Naya sadari, enam bulan berlalu dalam pola yang terus berulang.

“Ibu lagi kepepet, Nay,” kata Ratna suatu siang.

“Uang dari ayah kamu kurang. Ibu bingung mau ambil dari mana.”

Naya selalu mengangguk. Bukan karena ia tidak berpikir, melainkan karena ia memilih menjaga adab. Di matanya, Ratna tetap ibu dari suaminya. Menghormati orang tua adalah prinsip yang ia pegang sejak kecil.

Namun, perlahan ada sesuatu yang berubah.

Pada bulan keempat, Ratna meminta jumlah yang lebih besar. Lima juta. Naya sempat terdiam, bukan karena tidak punya, melainkan karena hatinya mulai bertanya.

Kenapa selalu kurang?

Kenapa selalu minta?

Kenapa ayah mertua tidak pernah disebut secara langsung?

Naya tetap memberi—setengah dari jumlah yang diminta—dengan alasan uangnya sedang diputar untuk usaha.

Ratna menerimanya, meski sorot matanya sempat berubah sesaat. Ada kilat kesal yang cepat ia sembunyikan.

Sepeninggal Ratna hari itu, Naya duduk lama di ruang tamu. Rumah terasa sunyi, padahal siang masih terang. Tangannya memeluk bantal kecil, pikirannya berputar tanpa henti.

Apa aku terlalu mudah percaya?

Atau justru aku yang terlalu buruk sangka?

Ada keinginan untuk bercerita pada Adit, tetapi lidahnya terasa berat. Ia takut menuduh. Takut dianggap mengadu. Takut merusak hubungan ibu dan anak.

Namun rasa penasaran akhirnya menang.

Hari itu Ratna kembali datang, dengan cerita yang sama dan wajah yang sama. Setelah uang berpindah tangan, Ratna pamit dengan senyum tipis yang terasa aneh.

Naya menunggu beberapa menit, lalu mengambil tasnya. Kali ini, ia tidak menyalakan motor. Ia memesan taksi online dan menjaga jarak ketika mobil Ratna melaju.

Dadanya berdegup kencang.

Mobil itu berhenti di sebuah pusat perbelanjaan besar.

Naya tertegun.

Mall?

Katanya buat kebutuhan rumah…

Ia turun perlahan, menjaga jarak, menyamar sebagai pengunjung biasa. Dari kejauhan, Naya melihat Ratna melangkah masuk dengan percaya diri. Tidak ada raut sedih. Tidak ada tanda tertekan. Wajah Ratna justru terlihat cerah, bahkan bersemangat.

Ratna masuk ke sebuah butik. Keluar dengan beberapa kantong belanja bermerek. Setelah itu, ia menuju sebuah kafe mewah dan duduk bersama beberapa perempuan seusianya.

Naya berdiri terpaku di balik pilar.

Tangannya gemetar ketika mengeluarkan ponsel. Ia menekan tombol rekam, tanpa benar-benar tahu untuk apa. Mungkin hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa instingnya tidak salah.

Dan saat itulah, kalimat itu terdengar jelas.

“Enak ya punya menantu gampang dibodohi,” kata Ratna sambil tertawa kecil. “Asal pasang muka sedih, langsung cair uang.”

Tawa perempuan-perempuan itu menyambut.

“Lumayan buat poya-poya,” lanjut Ratna tanpa rasa bersalah. “Uang dari Mas Rangga memang banyak, tapi tetap saja kurang. Jadi ya… aku manfaatkan saja menantu kampunganku itu.”

Dunia Naya seolah berhenti berputar.

Dadanya sesak. Napasnya pendek. Air mata jatuh tanpa ia sadari. Semua kebaikan yang ia berikan, semua kesabaran yang ia jaga, ternyata hanya dianggap kebodohan yang bisa dimanfaatkan kapan saja.

Tangannya mencengkeram ponsel erat-erat.

Jadi selama ini… aku hanya alat?

Naya mematikan rekaman. Ia tidak sanggup mendengar lebih lama. Dengan langkah gontai, ia berbalik pergi, meninggalkan kafe itu bersama sisa harga diri yang nyaris runtuh.

Topeng Ratna akhirnya terlepas.

Langkah Naya terasa berat. Setiap jejak seakan menancap di lantai marmer mall itu dengan beban yang tak bisa dijelaskan. Matanya sembab, dadanya terasa sempit. Dunia seolah mengecil, sementara suara tawa Ratna tadi terus bergema di kepalanya.

"Enak ya punya menantu gampang dibodohi."

"Aku manfaatkan saja menantu kampunganku itu."

Kata-kata itu seperti belati, menembus lembut tapi meninggalkan luka yang dalam.

Naya berjalan tanpa arah, pandangannya kabur oleh air mata yang tak berhenti jatuh.

Di tengah langkah yang limbung, tubuhnya bertabrakan dengan sesuatu yang kecil dan ringan.

“Duh!” seru suara mungil di bawah sana.

Naya tersentak, segera berjongkok. Seorang anak perempuan duduk di lantai, lututnya sedikit lecet, tapi wajahnya tak menangis. Anak itu menatap Naya dengan mata bening seperti kaca — polos, jernih, namun menyimpan kedalaman yang tak biasa.

“Maaf ya, Nak… Tante nggak sengaja,” ucap Naya dengan nada panik, cepat-cepat membantu anak itu berdiri.

Anak itu diam sesaat, menatap Naya lama sekali. Tatapan yang membuat jantung Naya berdetak tak beraturan. Ada sesuatu yang aneh — perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah wajah kecil itu… familiar.

Tiba-tiba, anak itu tersenyum lembut. Senyum yang hangat, tulus, dan menggetarkan sesuatu di dada Naya.

“Ummi…”

Satu kata sederhana itu membuat waktu berhenti sejenak.

Naya tertegun.

“Maaf, sayang. Tante bukan ummi kamu,” katanya lembut sambil berusaha tersenyum, menahan getaran di suaranya.

Tapi anak itu menggeleng pelan, tetap tersenyum. “Tidak, ini ummi…” katanya dengan keyakinan yang polos namun penuh keyakinan.

Naya menelan ludah. Tenggorokannya tercekat. Ia belum sempat menjawab saat terdengar suara dari arah lain — suara seorang perempuan paruh baya, tenang namun tegas.

“Aluna! Kamu ke mana saja, Nak? Oma dari tadi nyari kamu.”

Seorang wanita elegan datang tergesa, rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sopan tapi jelas berkelas. Tatapannya penuh kasih saat menatap cucunya, namun ketika matanya bertemu dengan Naya… dunia seolah berhenti sesaat.

Mereka saling menatap.

Ada sesuatu di sana — sesuatu yang samar tapi kuat.

Wajah Naya membuat wanita itu terpaku. Ada kenangan lama yang berusaha keluar dari ingatan yang selama ini terkunci rapat.

Namun wanita itu segera tersadar, menarik napas panjang, lalu tersenyum lembut.

“Maafkan cucu saya ya, Nak,” ucapnya sopan. “Dia sudah lama kehilangan ibunya. Jadi setiap perempuan yang pakai gamis longgar, dia suka panggil ‘ummi’.”

Naya mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga anak kecil.”

“Terima kasih ya, Nak.”

Wanita itu mengangguk hormat, lalu menggandeng tangan kecil itu.

Tapi Aluna — anak itu — justru menoleh lagi. Matanya masih menatap Naya. “Oma, itu ummi,” katanya pelan, suaranya terdengar tulus sekali.

Senyum di wajah Naya mulai pudar. Ada sesuatu yang mengalir di dadanya, rasa yang aneh — antara perih, hangat, dan tak terjelaskan. Ia hanya bisa membalas dengan lirih, “Kamu manis sekali, Nak…”

Wanita tua itu menoleh sekali lagi, tatapannya dalam. “Mari, kami permisi ya.”

“Iya, Bu,” jawab Naya pelan.

Mereka pergi.

Naya tetap berdiri di tempat yang sama, menatap punggung kecil itu sampai hilang di antara keramaian mall. Di matanya, air kembali menggenang — entah karena luka yang baru ia alami, atau karena pertemuan aneh barusan yang meninggalkan rasa asing di dadanya.

Saat keluar dari mall, langkahnya kembali goyah. Dunia terasa sunyi, dan di dalam kepalanya, dua suara bergantian menggema:

tawa sinis Ratna — dan panggilan lembut dari anak kecil yang memanggilnya Ummi.

Malam turun perlahan, membawa udara yang lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, namun bagi Naya, rumah itu terasa asing. Sunyi. Berat. Seolah menyimpan gema dari semua yang ia pendam seharian.

Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, ponsel berada di tangannya. Rekaman itu masih tersimpan rapi. Setiap kali ia mengingat ulang suara Ratna yang tertawa, dadanya kembali sesak. Bukan hanya sakit hati — ada rasa bodoh, dikhianati, dan dipermainkan.

Pintu rumah terbuka.

Adit pulang.

“Nay?” panggilnya seperti biasa.

“Di kamar, Mas,” jawab Naya pelan.

Adit masuk dan langsung menangkap perubahan itu. Naya tidak menyambutnya dengan senyum hangat seperti biasanya. Wajahnya pucat, matanya sembab, tubuhnya terlihat lelah meski seharian hanya di rumah.

Adit duduk di sampingnya. “Kamu kenapa, sayang?”

Naya diam. Dadanya naik turun. Ia ingin bicara, tapi suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Ia takut. Takut melukai perasaan suaminya, takut dianggap memperkeruh keadaan.

Namun satu kalimat kembali terngiang di kepalanya:

Kalau aku diam, ibu akan semakin berani.

Naya menghela napas panjang. Ia bangkit, mengambil ponselnya, lalu menyerahkannya pada Adit.

“Mas… dengerin ini dulu.”

Adit mengernyit, namun menerima ponsel itu. Detik berikutnya, suara Ratna memenuhi kamar.

Tawa kecil. Nada meremehkan. Kalimat yang menusuk.

“Enak ya punya menantu gampang dibodohi…”

“…aku manfaatkan saja menantu kampunganku itu…”

Wajah Adit berubah drastis. Rahangnya mengeras. Matanya memerah. Tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih.

“Ibu…” desisnya tertahan.

Rekaman berhenti. Hening menyergap. Hanya suara napas mereka yang terdengar berat.

Adit menunduk. Ada amarah, kecewa, dan rasa bersalah yang bercampur jadi satu. Ia tahu ibunya sulit berubah, tapi ia tidak menyangka akan sejauh ini.

Naya menatap suaminya. Suaranya bergetar, tapi nadanya tegas.

“Mas… mulai bulan depan, aku tidak akan memberikan uang lagi ke ibu. Kalau ibu maksa atau datang lagi dengan cara yang sama… aku akan laporkan ke pihak berwajib.”

Adit menoleh padanya. Tatapannya dalam. Lama.

“Terserah kamu saja, sayang,” katanya akhirnya. “Itu uang kamu. Kamu berhak menjaganya.”

Kalimat itu justru menjadi titik runtuh Naya.

Air matanya jatuh deras. Ia menutup wajahnya, isaknya pecah tanpa bisa ditahan.

“Mas… aku salah apa?” tangisnya. “Kenapa ibu masih tidak suka sama aku? Kurang apa aku, Mas?”

Adit langsung menarik Naya ke dalam pelukannya. Ia mendekap istrinya erat, membiarkannya menangis sepuasnya di dadanya. Tidak ada nasihat. Tidak ada pembelaan. Hanya kehadiran.

Di dalam hatinya, Adit berkata lirih,

Ibu… kali ini aku tidak bisa lagi membelamu.

Tangis Naya perlahan mereda, berganti isak kecil yang melemah. Malam itu, keduanya terdiam lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Di luar sana, Ratna mungkin masih tertawa dengan uang yang ia ambil.

Namun di dalam rumah itu, sebuah batas telah terbentuk.

Naya tidak lagi sekadar diam.

Dan Adit tidak lagi bisa berpura-pura.

Topeng telah terlepas.

Selamat siang readers selamat membaca

Tinggalkan jejak kalian like komennya ya terimakasih..

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!