Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Jangan sentuh aku!" Nafiza tidak membentak, tapi ucapannya lirih, nyaris berbisik, seolah ia takut suaranya akan pecah. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, meninggalkan jejak yang berkilauan di bawah sinar matahari. Ia merasakan kehancuran yang luar biasa, seolah seluruh dunianya runtuh di hadapannya.
Zayn tertegun. Bukan karena bentakan Nafiza, tapi karena kesedihan yang terpancar dari matanya. Ia bisa merasakan betapa hancurnya hati Nafiza. Ia merasa bersalah, sangat bersalah.
"Sayang, maafin Mas," Zayn berucap lirih, suaranya tercekat. Ia berusaha meraih tangan Nafiza, tapi ia ragu. Ia takut sentuhannya hanya akan menambah rasa sakit Nafiza.
Nafiza menggeleng pelan, tanpa membuka matanya. "Aku ... aku nggak mau denger apa pun," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku mau pulang."
Zayn menghela napas berat. Ia tahu, percuma saja ia memaksa Nafiza untuk berbicara saat ini. Hatinya terlalu terluka. "Oke," jawab Zayn akhirnya, menyerah. "Mas anterin pulang."
Nafiza menggeleng lagi, kali ini lebih tegas. Matanya terbuka, menatap Zayn dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekecewaan, kesedihan, tapi juga ... ketegaran.
"Nggak perlu," ucap Nafiza, suaranya sedikit lebih kuat. "Aku bisa sendiri."
Kemudian, tanpa menunggu jawaban Zayn, Nafiza berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya pelan, namun pasti, seolah ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak berlari, tidak berteriak, tapi setiap langkahnya meninggalkan luka yang mendalam di hati Zayn.
Zayn terdiam, terpaku di tempatnya. Ia hanya bisa menyaksikan Nafiza pergi menjauh. Ia merasa lumpuh, tidak berdaya. Ia ingin mengejar Nafiza, memeluknya, meyakinkannya bahwa ia tidak bersalah. Tapi ia tahu, itu hanya akan memperburuk keadaan.
Larissa, yang sejak tadi hanya diam menyaksikan, menghampiri Zayn dengan tatapan penuh simpati palsu. "Kasihan," desisnya, nada bicaranya sinis. "Istrimu drama banget."
Zayn menoleh, menatap Larissa dengan tatapan tajam yang membuat Larissa terdiam. "Ini semua salahmu!" Zayn berucap dengan nada rendah, penuh dengan amarah tertahan. "Jangan pernah lagi muncul di hadapanku atau istriku lagi." tegasnya dengan tatapan tajamnya.
Dengan langkah lebar, Zayn meninggalkan Larissa yang mematung di tempatnya. Ia tidak tahu kemana Nafiza pergi, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menemukannya. Ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan maafnya dan memperbaiki semua ini.
Zayn tidak bisa membiarkan Nafiza pergi begitu saja. Ia tidak inginmeninggalkan istrinya dalam keadaan terluka seperti itu. Ia harus meyakinkan Nafiza bahwa ia tidak bersalah dan bahwa ia sangat mencintainya.
Dengan tekad yang membara, Zayn berlari menuju pintu keluar taman. Ia harus mencari Nafiza. Ia harus menjelaskan semuanya.
Zayn berlari ke segala arah, mencari Nafiza di setiap sudut hotel. Ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui, menunjukkan foto Nafiza di handphonenya, berharap ada yang melihatnya. Namun, usahanya sia-sia. Nafiza seakan menghilang ditelan bumi.
Zayn mulai putus asa. Kemana Nafiza pergi? Apakah ia benar-benar membencinya sekarang?
Zayn menarik nafas dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan frustasi, hingga ia teringat satu tempat. Nafiza pasti akan kembali ke kamar hotel.
Dengan harapan yang kembali membara, Zayn berlari menuju lift. Ia terus menekan tombol naik, tidak sabar untuk segera sampai di kamarnya.
Begitu pintu lift terbuka, Zayn dengan cepat melangkah masuk dan menekan tombol lantai kamarnya. Ia merasa cemas dan khawatir. Ia berharap Nafiza ada di kamarnya.
Dengan jantung berdebar kencang, Zayn membuka pintu kamarnya. Namun, suasana kamar sangat sepi dan dingin. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Nafiza di sana. Tempat tidur masih rapi seperti sebelumnya, seolah tidak ada yang menempatinya.
Zayn mulai panik. Ia mencari Nafiza di kamar mandi, di ruang ganti pakaian, namun hasilnya nihil. "Kemana Nafiza pergi?" gumamnya pelan.
Akhirnya, matanya menangkap sebuah siluet di balik gorden kamar yang menghadap ke arah balkon. Dengan langkah cepat, ia berlari kecil menuju balkon, berharap itu adalah sang istri.
Benar saja. Itu Nafiza. Ia sedang berdiri di balkon, memandang jauh ke arah hamparan taman di bawah sana. Punggungnya terlihat rapuh dan penuh dengan kesedihan.
Zayn menarik napas lega. Ia bersyukur bisa menemukan Nafiza. Ia melangkah pelan mendekati istrinya, berusaha tidak mengagetkannya. Ia ingin memberikan Nafiza waktu dan ruang, namun ia juga tidak ingin membiarkannya sendirian dalam keadaan seperti ini.
Dengan lembut, Zayn memeluk Nafiza dari belakang. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nafiza, mendekapnya erat-erat.
Nafiza tidak menoleh, tidak juga memberontak. Ia membiarkan Zayn memeluknya. Ia hanya berdiri diam, menatap kosong ke arah tama yang luas. Zayn merasakan tubuh Nafiza menegang di dalam pelukannya. Ia tahu, Nafiza masih sangat marah dan terluka. Ia tidak bisa mengharapkan Nafiza untuk langsung memaafkannya. Ia harus bersabar dan memberikan waktu padanya.
Zayn meletakkan dagunya di bahu Nafiza, menghirup aroma rambutnya yang harum. Ia merasakan kehangatan tubuh Nafiza yang menenangkan. Ia memejamkan matanya sejenak, menikmati momen ini. Ia sangat bersyukur bisa menemukan Nafiza dan memeluknya seperti ini.
"Sayang," bisik Zayn lembut di telinga Nafiza, memecah kesunyian. "Maafin Mas ya."
Nafiza tidak menjawab. Ia tetap diam, tidak bergerak sedikit pun.
Zayn menghela napas, lalu melanjutkan ucapannya. "Mas tahu, Mas salah. Mas nggak seharusnya biarin wanita itu meluk Mas. Mas janji, ini nggak akan terjadi lagi. Mas sayang banget sama kamu, Sayang. Mas nggak mau kehilangan kamu."
Air mata Nafiza mulai menetes, membasahi pipinya. Zayn bisa merasakannya. Ia tahu, Nafiza mendengarkan ucapannya.
Dengan lembut, Zayn membalikkan tubuh Nafiza menghadapnya. Ia menangkup wajah Nafiza dengan kedua tangannya, menatap matanya yang sembab karena menangis.
"Lihat Mas, Sayang," ucap Zayn lembut. "Mas nggak bohong. Mas cuma sayang sama kamu. Kamu satu-satunya wanita di hati Mas."
Nafiza menatap Zayn dengan tatapan yang penuh dengan keraguan dan kesedihan. Ia ingin mempercayai ucapan Zayn, tapi hatinya masih terlalu sakit untuk menerima kebenaran.
Zayn mengerti keraguan Nafiza. Ia tidak memaksanya untuk percaya. Ia hanya ingin Nafiza tahu, bahwa ia sangat mencintainya dan ia bersedia melakukan apa pun untuk mendapatkan maafnya.
Dengan lembut, Zayn menghapus air mata yang membasahi pipi Nafiza. Ia membelai rambutnya dengan sayang, mencoba menenangkan hatinya yang terluka.
"Mas ngerti, kamu butuh waktu untuk sendiri. Mas akan kasih kamu waktu. Mas janji, Mas nggak akan ganggu kamu. Tapi, Mas mohon, jangan jauhin Mas terlalu lama ya, Sayang. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu," ucap Zayn dengan nada yang memohon.
Nafiza menatap Zayn dengan tatapan yang semakin lembut. Ia melihat ketulusan di mata suaminya. Ia melihat penyesalan yang mendalam di sana.
Akhirnya, Nafiza bersuara. "Mas ... aku ..."
Zayn menantikan ucapan Nafiza dengan penuh harap. Ia berharap, Nafiza akan memaafkannya.
Bersambung...