hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : Kesempatan Kedua
... Tahun 2025...
Safira menyeka keringat yang merusak riasan tebal di wajahnya, Gaun yang ia kenakan terasa menyesakkan. Di tangannya, tergenggam map berisi kontrak kerja sama dengan Wijaya Group—sebuah pencapaian mustahil yang ia perjuangkan mati-matian demi mendapatkan pengakuan dari ayahnya.
"Papa pasti bangga. Kali ini, Papa pasti akan memelukku," gumam Safira riang saat melangkah masuk ke rumah mewah keluarga Maheswara.
Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang ruang keluarga. Suara gelak tawa yang hangat mendadak berubah menjadi belati yang menghujam jantungnya saat sebuah nama disebut.
"Pa, kenapa sih Papa nggak usir Safira saja? Dia itu pembawa sial. Gara-gara dia, Mama meninggal," ucap Bima, abang keduanya, dengan nada jijik yang kental.
Safira membeku. Map di tangannya bergetar.
"Sabar, Papa akan segera mengusirnya setelah dia berhasil mendapatkan kontrak dari perusahaan Wijaya. Dia masih berguna sebagai 'alat' negosiasi kita," balas Raga, sang ayah, tanpa beban sedikit pun.
Hancur. Harapan yang Safira bangun bertahun-tahun runtuh dalam satu kalimat. Safira Kirana Maheswara hanyalah sebuah alat. Anak ketiga dari lima bersaudara itu tidak lebih dari bayang-bayang di rumahnya sendiri.
"Sudah, daripada membahas anak sial itu, lebih baik kita bicarakan ulang tahun adikmu yang manis ini," lanjut Raga sambil mengelus rambut Maya, anak tirinya.
"Aku mau pesta yang mewah ya, Pa! Abang juga harus siapkan kado yang paling bagus buat Maya!" seru Maya manja.
"Tentu saja, Tuan Putri," sahut Bima penuh kasih sayang—kasih sayang yang tidak pernah sekalipun Safira rasakan.
"Pa, jangan lupa motor baru buat Vian, ya. Bosan pakai yang lama," timpal Vian, si bungsu, yang langsung diiyakan oleh Raga dengan tawa renyah.
Di balik tembok, Safira terisak tanpa suara. Apa aku memang se-tidak berharga itu? batinnya pilu. Kehadirannya di rumah ini hanyalah sebuah anomali yang tidak diinginkan.
Dengan perasaan hancur, Safira berlari keluar rumah. Ia menerjang hujan deras yang tiba-tiba turun, seolah langit pun ikut menangis untuknya.
Selama 22 tahun ia mengemis kasih sayang, rela menjadi pelayan bagi saudara-saudaranya, namun yang ia dapatkan hanyalah kutukan.
"Ma... kenapa Papa dan Abang membenciku? Apa salahku lahir ke dunia ini? Apa benar aku ini pembawa sial?" jeritnya di tengah deru hujan.
Pandangannya mengabur oleh air mata dan air hujan. Ia terus berjalan tanpa arah, hingga kakinya berdiri di tengah jalan raya yang sepi. Cahaya silau dari sebuah truk besar tiba-tiba muncul dari arah depan. Safira tidak lari. Ia justru berdiri diam dengan tatapan kosong. Baginya, kematian mungkin adalah satu-satunya pelarian dari rasa sakit ini.
BRAKKKK!
Tubuh mungil itu terpental. Darah segar mengalir, tersapu air hujan. Di sisa kesadarannya yang kian menipis, Safira membisikkan janji terakhirnya.
"Jika ada kesempatan kedua... aku tidak akan pernah mengemis kasih sayang kalian lagi..."
...Tahun 2020...
"Uhuk! Uhuk!"
Safira tersentak bangun. Paru-parunya terasa penuh dengan air. Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang terasa asing namun familiar.
"Aku... belum mati?" gumamnya sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat.
Ia segera meraih ponsel di meja nakas. Matanya membelalak. Tanggal yang tertera adalah lima tahun yang lalu. Ini adalah hari di mana ia jatuh ke kolam renang karena didorong oleh Maya, namun seluruh keluarganya justru menuduhnya sedang mencari perhatian.
Flashback
"Seharusnya lo mati aja, sialan!" desis Maya sebelum mendorong Safira ke kolam yang dalam.
Maya pergi dengan seringai di wajahnya setelah memastikan tidak ada orang yang melihat.
Safira yang tidak siap kesulitan untuk berenang terus meronta. "Tolong... to...long..."
Ia akhirnya diselamatkan oleh seorang tukang kebun. Saat itu, abang-abangnya ada di sana, melihat tubuh Safira yang pucat pasi ditaruh di pinggir kolam.
"Tuan Muda, Nona Fira pingsan. Haruskah saya membawanya ke rumah sakit?" tanya tukang kebun itu ketakutan.
Bima hanya melirik sekilas dengan tatapan dingin. "Nggak usah. Paling dia cuma akting biar dikasihani. Taruh saja di kamarnya, nanti juga bangun sendiri."
Flashback End
Safira tertawa getir di dalam kamarnya yang sepi. Tawa yang terdengar sangat dingin. Mengingat betapa bodohnya dia di masa lalu yang terus mengejar orang-orang yang bahkan tidak peduli jika dia mati.
Ia bangkit, berjalan menuju cermin, dan menghapus sisa air mata di wajahnya. Matanya kini tidak lagi memancarkan binar memohon, melainkan ketajaman yang membeku.
"Jika kalian tidak menginginkanku, maka aku juga tidak menginginkan kalian," ujarnya tegas pada bayangannya di cermin.
"Aku tidak akan membuang tenagaku untuk balas dendam sekarang karena kalian sudah memberiku makan selama ini. Tapi..." Safira menyeringai tipis, "jika kalian yang mulai mencari masalah denganku, aku pastikan kalian akan menyesal telah membiarkanku hidup."
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya ,kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti,biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas