Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 9.
Keesokan paginya, Viera terbangun dengan perasaan tidak biasa. Ia merasa cemas dan waspada. Amplop cokelat itu masih tergeletak di meja makan, sengaja tidak ia buang. Ia ingin mengingat satu hal penting, ada mata yang mengawasinya, dan itu berarti ia tidak boleh lengah.
Ia mengambil ponsel khusus, nomor yang hanya diketahui pengacaranya lalu menekan satu kontak.
“Ada ancaman tidak langsung padaku,” ucap Viera tenang begitu sambungan tersambung. “Foto-foto dan pengawasan. Aku ingin perlindungan hukum dan privasi penuh.”
Di seberang sana, sang pengacara menarik napas pendek. “Baik, Nyonya. Kita bisa ajukan permohonan perlindungan sementara dan restraining order jika perlu. Saya juga akan koordinasi dengan pihak keamanan gedung.”
“Lakukan. Dan satu hal lagi, jangan libatkan Damian dalam apa pun.”
Telepon ditutup.
Viera berdiri mengenakan mantel tipis, lalu keluar menuju balkon. Angin pagi menyentuh wajahnya, membawa kesadaran yang tajam. Jika dia tidak lagi berjalan sendirian, tapi ia juga tidak akan bergantung pada siapa pun.
Di gedung perusahaan Damian, rapat direksi berlangsung dingin. Damian duduk kaku di ujung meja, pikirannya tidak sepenuhnya hadir. Angka-angka melintas, suara-suara berdiskusi, namun satu nama terus bergema di kepalanya.
Viera.
Ketika rapat usai, sekretarisnya menghampiri. “Tuan, ada kabar. Pengacara Nyonya Viera mengajukan permohonan perlindungan privasi. Nama Anda tidak tercantum sebagai pihak yang diizinkan menghubungi.”
Damian hanya tersenyum pahit, ia benar-benar telah dikeluarkan dari hidup wanita itu secara resmi—dan sah.
Sementara itu di gedung perusahaan, Lucca bergerak cepat. Ia memerintahkan asistennya memanggil kepala keamanan internal dan meletakkan satu map tebal di meja.
“Ini prioritas! Tidak ada pendekatan langsung, tidak ada intimidasi balik.“
“Anda ingin kami memasang pengawasan, Tuan?” tanya kepala keamanan.
“Pasang, tapi harus rapi. Jika ada satu langkah keliru, Calista akan memanfaatkannya.”
Di rumahnya, Calista menerima balasan pesan yang ia tunggu. Senyumnya melebar ketika membaca laporan singkat yang masuk, jadwal kontrol Viera, jam pulang, rute yang sering dilalui. Cukup untuk membuatnya merasa unggul... sementara.
Namun, rasa puas itu tidak bertahan lama.
Ponselnya bergetar lagi, nomor tak dikenal.
Unknown: [Apapun yang sedang kau lakukan, berhenti sekarang! Atau kau akan menyesal!]
Wajah Calista menegang. Ia menoleh ke sekeliling rumahnya yang sunyi, lalu tertawa kecil.
“Ancaman murahan,” gumamnya, meski jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia membalas singkat.
Calista: [Siapapun kau, aku tidak pernah mundur karena ancaman.]
Pesan itu terkirim, dan Calista sadar... permainan ini tidak lagi searah.
Malamnya, Viera duduk di sofa dengan berkas-berkas terbuka. Ia membaca pelan, teliti. Tentang hak asuh tunggal, perlindungan identitas anak, dan langkah hukum lanjutan. Tangannya berhenti di satu halaman, lalu ia menghela napas panjang.
Esoknya hujan turun tipis, seperti ragu untuk benar-benar jatuh.
Viera duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuan. Jadwal kontrol kandungan hari ini sedikit lebih lama karena dokter ingin memastikan kondisi janin stabil setelah tekanan emosional yang dialaminya beberapa minggu terakhir.
Ia tidak merasa lemah.
Hanya… lebih berhati-hati.
Ketika namanya dipanggil, Viera berdiri dengan langkah mantap.
“Tekanan darah Anda sedikit naik,” ujar dokter setelah pemeriksaan. “Tidak parah, hanya saja Anda harus benar-benar menghindari stres.”
Viera tersenyum tipis. “Saya akan berusaha.”
Dokter menatapnya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada profesional, “Dan satu hal lagi, kehamilan ini akan membutuhkan pengawasan ekstra. Tidak semua komplikasi bisa terlihat sejak awal.”
Viera mengangguk.
Keluar dari ruang periksa, ia mendapati dua pria asing berdiri agak jauh dari pintu keluar. Pakaian mereka rapi, wajah datar, terlalu… sadar akan sekitar.
Siapa mereka? Kenapa mencurigakan?
Viera menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia tidak ingin berprasangka, tapi setelah amplop cokelat itu, kewaspadaannya meningkat dua kali lipat. Ia melangkah keluar rumah sakit, hujan menyambut dengan dingin yang menenangkan.
Di dalam mobil, Viera menghela napas panjang.
“Tenang,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Tidak semua yang tidak kau pahami adalah ancaman.”
Namun jauh di dalam hatinya ia tahu, sesuatu sedang bergerak ke arahnya.
Di tempat lain, Calista duduk di sebuah kafe privat dengan kaca besar yang menghadap jalan protokol. Ia mengenakan mantel hitam panjang, kacamata gelap meski cuaca mendung.
Di hadapannya duduk seorang pria berwajah biasa saja—tipe yang mudah dilupakan.
“Aku ingin semua kegiatannya setiap hari ,” ujar Calista tanpa basa-basi. “Terutama… siapa yang berdiri di belakangnya.”
Pria itu ragu. “Nyonya, wanita itu sekarang sangat tertutup. Aksesnya hanya satu, pengacara.“
Calista menyeringai. “Justru itu menarik.”
Ia menyilangkan kaki, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Tidak ada manusia yang benar-benar sendirian. Jika dia terlihat sendirian tapi aman… berarti ada seseorang yang berada di belakangnya.”
Pria itu terdiam. “Kalau begitu, risikonya lebih besar.”
Calista mengangkat bahu. “Aku tidak pernah bermain aman.”
Sore menjelang malam, Viera tiba di apartemennya. Ia berhenti sejenak di depan pintu, merasakan keheningan yang kini sudah ia kenal. Ia masuk, menyalakan lampu... lalu tiba-tiba membeku.
Ada vas bunga kecil di atas meja dekat jendela. Ada bunga lili putih, segar dan baru. Viera tidak panik, dia menutup pintu perlahan lalu mendekat.
Tangannya gemetar tipis saat menyentuh kelopak bunga, dia segera menghubungi pihak keamanan gedung. Setelah pengecekan singkat, tidak ditemukan tanda pembobolan. Kamera Cctv hanya merekam seorang petugas kebersihan yang masuk sesuai jadwal.
“Tapi kami tidak mencatat ada pengantaran bunga, Nyonya.” Ujar petugas itu bingung.
Viera mengangguk. “Terima kasih.”
Begitu pintu tertutup setelah petugas keamanan itu keluar, ia bersandar di dinding.
Di Penthouse-nya Lucca berdiri di depan jendela, dengan ponsel di tangan. Asistennya baru saja melapor.
“Bunganya sudah sampai, Tuan. Tenang saja, tidak akan ada jejak.”
Lucca mengangguk pelan. “Bagus.”
“Tapi sepertinya itu berisiko, Tuan.”
“Tidak apa-apa! Aku hanya ingin dia aman." Pria itu menatap kota di bawahnya.
Lucca tahu, cepat atau lambat Viera akan menyadari bahwa ada seseorang yang menjaga jarak. Tidak mendekat, tidak menuntut tapi selalu ada untuk wanita itu. Dan ia siap… jika suatu hari, Viera mengetahui tentang dirinya.
Di luar sana, hujan kembali turun. Kali ini lebih deras. Dan di antara hujan, bayangan, dan rahasia yang belum terungkap—garis-garis nasib semakin saling mendekat, saat babak berikutnya telah dimulai.