NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Pukul tujuh pagi.

Langit Jakarta belum sepenuhnya terang, tapi cahaya matahari sudah mulai menyelinap di antara celah gedung-gedung tinggi. Warna keemasan tipis jatuh di balkon apartemen, memantul lembut di lantai marmer yang dingin.

Di dalam apartemen yang luas dan terlalu rapi itu, Rionegro berdiri di depan cermin.

Kemeja putih sudah terpasang rapi di tubuhnya. Lengan digulung sedikit, cukup santai tapi tetap terlihat profesional. Rambutnya sudah tertata seperti biasa—tidak berlebihan, tidak terlalu diperhatikan, tapi tetap terlihat teratur.

Ia mengambil jam tangannya dari atas meja kecil di dekat pintu kamar. Gerakannya tenang, santai, dan terbiasa. Rutinitas pagi yang hampir selalu sama.

Namun, hari ini ada sesuatu yang sedikit berbeda. Pikirannya sempat melayang beberapa detik, tanpa alasan yang jelas.

Ia mengambil tas kerjanya, memastikan laptop dan beberapa berkas sudah ada di dalam.

Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.05.

Masih cukup waktu.

Ia keluar dari kamar, berjalan menuju ruang tengah apartemennya yang minimalis. Tidak banyak dekorasi, hanya beberapa lukisan sederhana yang dipilih lebih karena estetika daripada makna.

Seperti biasa sunyi.

Ponselnya yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat alisnya sedikit terangkat.

'Revano'

Sepupunya.

'Jarang-jarang dia menelpon pagi-pagi begini.' pikirnya

Rionegro menjawab panggilan itu sambil berjalan menuju pintu apartemen. “Halo.”

Suara di seberang langsung terdengar santai seperti biasa. “Hallo, bro.”

Rionegro langsung bisa membayangkan ekspresi Revano tanpa harus melihatnya.

“Ada apa pagi-pagi?” tanya Rionegro datar.

“Lo sibuk ga sekarang?” tanya Revano basa-basi.

“Lagi mau berangkat ke kampus.” kata Rionegro.

“Serius amat hidup lo.” balas Revano bercanda dengan tawa kecil terdengar.

Rionegro mendengus pelan. “Langsung ke inti.”

Revano tertawa kecil. “Santai napa sih.”

Rionegro menunggu.

“besok malam free nggak?” tanya Revano akhirnya.

“Kenapa?” tanya Rionegro penasaran.

“Gue mau ngajak lo ke Club.” kata Revano dengan jujur.

Jawaban itu jujur dan jelas.

Rionegro terdiam sebentar.

Revano menambahkan dengan nada santai, “Nongkrong biasa aja. Udah lama kita nggak kumpul.”

“Siapa aja?” tanya Rionegro lagi.

“Paling gue, lo… sama sepupu-sepupu Kalendra yang lain, kakak lo ikut juga btw.” Jelas Revano.

Rionegro bersandar sebentar di dekat pintu, mempertimbangkan.

“Besok malam?” gumamnya pelan.

“Iya, jangan bilang lo ada kelas malam besok,” kata Revano cepat.

“Enggak.”

“Yaudah ikut.” ajak Revano dengan sedikit nada paksaan.

Rionegro menghela napas kecil. “Jam berapa?”

Revano terdengar senang. “Nah gitu dong. Biasanya lah, sekitar jam sembilan malam.”

“Tempat biasa?” tanya Rionegro.

“Yoi.”

Rionegro mengangguk pelan walaupun tidak terlihat. “Oke.”

Revano langsung tertawa kecil. “Akhirnya lo keluar juga dari sarang.”

“Lebay.” balas Rionegro.

“Serius, lo tuh terlalu lurus hidupnya.” kata Revano dengan nada lebih serius.

“Gue kerja.” kata Rionegro singkat.

“Gue juga kerja.” balas Revano.

“Kerjaan lo fleksibel.” kata Rionegro.

“Ya, ga gitu juga bro, gue juga sibuk, tapi tetap santai.” jelas Revano.

Rionegro menggeleng kecil.

“Yaudah, nanti gue kabarin detailnya,” kata Revano.

“Iya.”

“Jangan tiba-tiba cancel.” Kata Revano mengingatkan.

“Gue bukan lo.”

Revano tertawa lagi. “Yaudah, dosen sibuk. See you.”

Telpon berakhir. Rionegro memasukkan ponselnya ke saku.

Tidak ada perasaan khusus. Hanya rencana biasa. Nongkrong biasa. Seperti dulu.

Ia keluar dari apartemen, mengunci pintu, lalu berjalan menuju lift.

Pagi masih cukup lengang. Beberapa penghuni lain terlihat berjalan santai, sebagian masih terlihat mengantuk.

Udara pagi terasa lebih segar dibandingkan biasanya.

Begitu keluar dari lobby apartemen, pikiran Rionegro secara refleks mengarah ke satu tempat.

Cafe yang sama seperti kemarin.

Tempat di mana ia secara tidak sengaja bertemu Yusallia lagi.

Ia sebenarnya tidak terlalu lapar. Tapi tetap ia berjalan ke sana untuk sarapan. Tanpa ingin terlalu memikirkan alasan lainnya. Atau mungkin, tidak ingin mengakuinya.

Dia menuju basement apartemen dan kemudian menjalankan mobilnya menuju cafe tersebut.

Cafe itu terlihat hampir sama seperti kemarin pagi. Tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk dengan laptop terbuka. Beberapa lainnya membaca buku.

Aroma kopi kembali menyambutnya. Hangat, tenang, dan familiar.

Ia memesan menu yang hampir sama seperti kemarin.

Kopi hitam dan juga menu sarapan sederhana. Tidak banyak variasi.

Ia memilih duduk di meja yang kurang lebih sama. Posisi yang membuatnya bisa melihat pintu masuk. Tanpa benar-benar berniat melihat siapa yang datang. Atau mungkin, sedikit berniat.

Pikirannya sesekali teralihkan ke pintu setiap kali lonceng kecil di atasnya berbunyi.

Satu orang masuk.

Bukan.

Dua orang masuk.

Bukan.

Seorang wanita berambut panjang masuk.

Bukan.

Rionegro menyesap kopinya pelan. Ia menyadari sesuatu yang sedikit mengganggunya.

Ia menunggu. Tanpa benar-benar ingin menunggu.

Beberapa menit berlalu. Tidak ada sosok yang ia kenal.

Ia menatap jam tangannya. Masih cukup waktu sebelum harus ke kampus.

Ia menghela napas kecil. Merasa sedikit bodoh.

“Ngapain juga berharap,” gumamnya pelan.

Bukankah kemarin ia sendiri yang bilang kemungkinan mereka tidak akan bertemu lagi?

Jakarta besar. Pertemuan kemarin sudah cukup kebetulan. Tidak mungkin terjadi terus.

Ia menunduk, memfokuskan diri pada sarapannya. Tidak lagi melirik pintu setiap kali terbuka. Mencoba kembali ke rutinitas normalnya.

Beberapa menit kemudian, sarapannya habis. Kopi tinggal sedikit.

Tidak ada kejadian aneh. Tidak ada pertemuan tak terduga. Semuanya normal. Dan entah kenapa, justru itu yang terasa sedikit aneh.

Ia membayar pesanannya di kasir. Mengangguk singkat pada barista yang memberikan struk.

Lalu berjalan keluar dari cafe.

Udara pagi kini sudah lebih hangat. Aktivitas jalanan mulai meningkat. Mobil-mobil mulai lebih ramai. Motor-motor berlalu lalang.

Suara kota kembali mengambil alih suasana tenang pagi.

Rionegro berjalan menuju mobilnya. Langkahnya tetap tenang dan terukur, seperti biasanya.

Tapi pikirannya masih sempat mengulang satu hal kecil—Tidak bertemu Yusallia pagi ini seharusnya hal biasa. Tapi kenapa terasa seperti sesuatu yang kurang?

Ia membuka pintu mobil. Masuk ke dalam mobil. Dan kemudian menyalakan mesin.

Radio menyala pelan. Mobil mulai bergerak keluar dari area cafe.

Tujuannya jelas. Ke arah menuju kampus. Karena pukul sembilan ia sudah harus mengajar kelas Ekonomi Pembangunan.

Materi hari ini sudah ia siapkan semalam. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia sudah terlalu terbiasa mengajar.

Mahasiswa sudah terbiasa dengan caranya menjelaskan yang sistematis dan lugas.

Semuanya berjalan seperti biasa. Seperti hidup yang ia pilih untuk tetap stabil. Tanpa banyak kejutan. Tanpa banyak perubahan.

Tapi entah kenapa, Pagi ini terasa sedikit berbeda. Bukan karena telpon dari Revano. Bukan karena jadwal kuliah.

Tapi karena satu kebiasaan kecil yang tiba-tiba muncul tanpa ia sadari, yaitu berharap bertemu seseorang yang bahkan baru ia temui dua kali.

Rionegro menghela napas pelan. Mencoba menepis pikiran itu.

“Cuma kebetulan,” gumamnya lagi.

Mobil terus melaju menuju kampus. Lampu lalu lintas berganti warna. Orang-orang berjalan tergesa. Hari kerja dimulai lagi.

Dan Rionegro kembali menjadi dirinya yang biasa—Dosen ekonomi yang rasional. Yang tidak percaya kebetulan berarti apa-apa. Yang tidak percaya hal seperti jodoh datang dari pertemuan acak. Yang percaya semua hal bisa dijelaskan secara logis.

Kecuali sampai akhir dia tetap tidak bisa menjabarkan alasan kenapa ia datang ke cafe yang sama lagi pagi ini.

1
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
Ocean Blue
ceritanya seru
Rose Ocean
ceritanya keren
Yogitha Ratnajyoti ❤
menarik 👌🔥
Reva456
lanjut thorr
Rieza05
lanjut thor
@RearthaZ
ayo kita lihat nanti, kira-kira bagaimana hehehe
Lisa
Apakah hal ini yg membawa mereka ke arah pernikahan..🤔
CHEN DEV
lanjut kk
CHEN DEV
sudah mampir kk
Rei_983
lanjutin thor
Reilient
lanjutkan thorr
Hiccup Toothless
lanjutin thorr
Rose Mizuki
lanjutin trus thorr
@RearthaZ
aman kok bryan cuman teman hehehe🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!