Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arus Bawah Tanah
Kegelapan mutlak merengkuh tubuh Shen Yuan. Arus sungai bawah tanah itu tidak mengalir seperti air biasa, melainkan mengamuk bagaikan ribuan naga es yang sedang memperebutkan mangsa. Hawa dingin airnya begitu menusuk hingga sanggup meremukkan besi baja menjadi serpihan debu.
Shen Yuan terombang-ambing tanpa daya. Paru-parunya terasa seperti diisi oleh pecahan kaca setiap kali ia mencoba menahan napas. Luka robek di dadanya, akibat tebasan pedang Jian Wushuang, berdenyut menyakitkan saat air sedingin es itu mencoba membekukan aliran darahnya. Tulang lengan kanannya yang retak terasa seolah ditusuk oleh ribuan jarum beracun setiap kali arus membenturkannya ke dinding gua bawah air.
"Bocah! Bangun! Jangan biarkan apimu padam!" raung Leluhur Darah, suaranya bergetar hebat di dalam lautan kesadaran Shen Yuan yang mulai meredup. "Jika kau kehilangan kesadaran sekarang, Tubuh Emas Gelapmu akan tertidur, dan air Yin Mutlak ini akan menelan jiwamu!"
"A-Aku... tahu..." Shen Yuan menggertakkan giginya di dalam air, menolak untuk membuka mulut.
Ia memaksakan sisa-sisa kesadarannya untuk memutar Sutra Penelan Surga. Meski sangat lambat dan tersendat-sendat, hawa murni iblis di dalam Dantian-nya mulai berputar, menciptakan selubung panas yang sangat tipis untuk menjaga jantungnya tetap berdetak.
Waktu kehilangan maknanya di dalam perut bumi. Entah sudah berapa lama Shen Yuan terseret oleh pusaran air yang ganas tersebut. Ia hanya mengandalkan naluri liarnya untuk bertahan, memegang erat Kantong Qiankun di pinggangnya dan gagang Pecahan Gigi Naga di tangan kanannya yang patah, seolah kedua benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya di alam kehidupan.
Hingga akhirnya, sebuah cahaya redup menusuk kelopak matanya yang tertutup rapat.
Wussshhh! Bum!
Arus sungai bawah tanah itu tiba-tiba memuntahkannya keluar dari sebuah air terjun yang tersembunyi di lereng tebing batu. Tubuh Shen Yuan melayang di udara sesaat, sebelum terhempas keras ke atas hamparan pasir yang kasar dan panas.
"Ugh..."
Shen Yuan memuntahkan air sungai yang kotor bercampur darah kehitaman. Ia terbatuk hebat, membalikkan tubuhnya dengan sisa tenaga terakhirnya. Udara yang menyambutnya bukan lagi angin beku dari Wilayah Utara, melainkan angin kering yang membawa hawa panas membakar, seolah ia baru saja dilemparkan ke dalam tungku peleburan raksasa.
Ia membuka matanya dengan susah payah. Di atasnya, langit tidak lagi berwarna kelabu pucat, melainkan berwarna kuning kemerahan akibat badai debu yang menutupi matahari. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan bukit-bukit pasir tak berujung dan tulang belulang binatang buas yang memutih terbakar terik matahari.
"Hah... sungai bawah tanah itu ternyata membelah jalur urat bumi dan membawamu melintasi perbatasan benua," Leluhur Darah menghela napas lega, meski nadanya masih terdengar lemah. "Selamat datang di Gurun Pasir Kematian, Bocah. Kau selamat dari cakar Sekte Pedang Langit, tapi langit masih belum selesai menyiksamu."
Shen Yuan mengertakkan rahangnya. Ia menopang tubuhnya dengan siku kiri, menyeret dirinya menjauhi tepi air yang perlahan meresap ke dalam pasir kering.
Setiap pergerakan adalah siksaan murni. Lengan kanannya sama sekali tidak bisa diangkat. Retakan pada tulangnya akibat benturan dengan kekuatan Inti Emas benar-benar menghancurkan susunan tulang ragawinya.
"Aku butuh... Batu Roh..." bisik Shen Yuan dengan suara serak.
Ia bersandar pada sebuah batu karang yang terkikis angin, lalu membuka Kantong Qiankun-nya dengan tangan kiri. Ia mengeluarkan seratus butir Batu Roh Tingkat Rendah dan menyebarkannya di atas pangkuannya.
Tanpa memedulikan badai pasir yang mulai menerpa wajahnya, Shen Yuan memejamkan mata. Sutra Penelan Surga, Putaran Penyembuhan Mutlak!
Pusaran hawa murni iblis merayap keluar dari perutnya, menelan seluruh Batu Roh itu sekaligus. Batu-batu kristal putih itu hancur menjadi debu dalam hitungan tarikan napas, melepaskan hawa murni langit dan bumi yang luar biasa besar ke dalam Dantian Shen Yuan.
Energi itu diarahkan secara paksa menuju lengan kanannya dan luka di dadanya.
Tubuh Emas Gelap Shen Yuan mulai memancarkan pendaran keemasan yang berkedut-kedut. Proses menyambung kembali tulang yang retak oleh kekuatan Inti Emas ratusan kali lebih menyakitkan daripada mematahkan tulang itu sendiri. Shen Yuan menggigit bibirnya hingga robek. Urat-urat di lehernya menonjol, namun tidak ada satu pun jeritan yang keluar dari mulutnya.
Ia tahu, di Gurun Pasir Kematian, suara kelemahan hanya akan mengundang kedatangan binatang buas purba yang bersembunyi di balik lautan pasir.
Tiga batang dupa penuh berlalu di bawah terik badai pasir.
Seratus Batu Roh telah berubah menjadi debu kusam. Pendaran emas di tubuh Shen Yuan perlahan meredup. Napasnya mulai stabil. Ia membuka matanya dan perlahan menggerakkan jari-jari tangan kanannya. Meski masih terasa kaku dan ngilu, retakan pada tulangnya telah menyambung kembali.
"Kekuatan pemulihan dari Tubuh Emas Gelap memang menakutkan," gumam Shen Yuan, mengepalkan tinju kanannya perlahan. "Tapi pukulan Jian Wushuang itu benar-benar memberi pelajaran. Kesempurnaan Fana tidak akan pernah cukup untuk menundukkan kehendak langit. Aku harus menembus Ranah Pembukaan Nadi secepatnya."
"Ranah Pembukaan Nadi bukanlah sesuatu yang bisa kau terobos hanya dengan menyerap Batu Roh," sahut Leluhur Darah. "Di ranah fana, kau hanya memperkuat wadah tubuhmu. Tetapi Ranah Pembukaan Nadi adalah tahap di mana kau memaksakan hawa murni di Dantian-mu untuk mendobrak masuk ke dalam sembilan jalur nadi utama, sehingga kekuatanmu bisa dipancarkan keluar dari tubuh. Untuk melakukan itu, kau butuh pemicu... sebuah pertarungan hidup mati, atau obat roh penembus batas."
Shen Yuan mengangguk paham. Ia mengambil Pecahan Gigi Naga yang sedari tadi tergeletak di sisinya. Pedang patah berkarat itu tampak sangat tidak mencolok, seperti rongsokan besi yang siap dibuang. Namun, Shen Yuan telah merasakan sendiri bagaimana pusaka ini sanggup menelan serangan ahli Lautan Qi dan meretakkan pedang pusaka sekte raksasa.
Ia membelai gagang pedang itu, mengingat kilatan pusaran hitam yang melesat dari ujung patahannya.
"Gulungan Pedang Penelan Langit," bisik Shen Yuan. "Seni pedang yang ditinggalkan Tuan Tanah Hantu ini seolah memang diciptakan khusus untuk melengkapi Sutra Penelan Surga. Setiap tebasannya bukan hanya untuk memotong, tapi untuk merampas nyawa musuh secara mutlak."
"Tentu saja. Tuan Tanah Hantu mungkin adalah seorang jenius yang pernah melihat sekilas tentang kaidah Iblis Penelan Surga di masa lalu, dan menciptakan seni pedang itu sebagai tiruannya," Leluhur Darah mendengus bangga. "Sayangnya, pedang patah itu terlalu berat dan menguras terlalu banyak hawa murni. Dengan ranahmu saat ini, mengayunkannya sekali dengan kekuatan penuh akan membuat Dantian-mu kering kerontang."
Shen Yuan membalut Pecahan Gigi Naga dengan potongan kain dari ujung jubahnya, lalu mengikatnya erat di punggungnya. Mulai sekarang, pedang berkarat ini akan menjadi lambang kutukannya bagi langit.
Ia menatap hamparan Gurun Pasir Kematian yang membentang tanpa batas. Angin panas meniupkan debu yang menari-nari seperti hantu yang berbisik.
"Sekte Pedang Langit tidak akan diam. Setelah mereka membongkar reruntuhan makam dan menyadari aku menghilang, mereka pasti akan menyebarkan perintah buruan ke seluruh penjuru Benua Awan Gelap," Shen Yuan menelaah keadaannya dengan tenang.
Identitasnya sebagai pemuda fana yang merampas warisan Tuan Tanah Hantu dan melukai Tuan Muda Pertama Sekte Pedang Langit akan segera menjadi legenda yang mengguncang setiap rumah teh dan balai lelang. Tidak akan ada kota yang aman baginya. Setiap mata yang memandangnya akan dipenuhi oleh keserakahan demi imbalan dari sekte raksasa tersebut.
"Bagus," Shen Yuan tersenyum. Senyum yang membuat suhu panas gurun terasa membeku sesaat. "Jika seluruh benua ingin memburuku, maka aku akan menjadikan Benua Awan Gelap ini sebagai tungku raksasa untuk menempa pedangku."
Ia menarik tudung jubahnya, menutupi wajahnya dari terpaan debu. Dengan langkah yang mantap, sang Iblis Penelan Surga melangkah maju ke dalam lautan pasir yang mendidih.
Gurun Pasir Kematian terkenal sebagai tempat pembuangan bagi para penjahat kejam, tempat pelarian bagi para buronan sekte, dan sarang bagi sekte-sekte aliran sesat yang menolak tunduk pada kubu-kubu besar. Ini adalah medan pertarungan yang sempurna bagi Shen Yuan untuk melatih Gulungan Pedang Penelan Langit dan mencari jalan untuk membelah sembilan pembuluh nadinya.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara lonceng unta dan derit roda kereta kayu. Sebuah rombongan pengelana sedang bergerak menembus badai pasir, tidak menyadari bahwa dewa kematian baru saja melangkah memasuki wilayah kekuasaan mereka.