Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Istirahat
Mobil terus melaju membelah aspal tol yang membara di bawah terik matahari siang. Di kursi kemudi, Ayah Aris tampak begitu fokus dan sesekali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memantau keadaan anak dan menantunya di baris belakang.
Abi yang menyadari Ayahnya sudah menyetir cukup lama sejak dari rest area tadi pun berniat untuk menawarkan bantuan.
"Ayah, biar Abi yang lanjut bawa mobilnya. Ayah istirahat saja, gantian sama Abi," ucap Abi pelan, takut getaran suaranya membangunkan Shanum.
Ayah Aris melirik melalui spion, pandangannya tertuju pada Shanum yang kepalanya terkulai dalam di ceruk leher Abi. Tangan Abi pun masih melingkar protektif di pinggang istrinya, seolah memastikan guncangan mobil tidak akan mengganggu mimpi buruk yang mungkin sedang ia hindari.
Ayah Aris tersenyum tipis, sebuah senyum penuh pengertian yang jarang ia tunjukkan. "Nggak usah, Bi. Ayah masih kuat," jawab Ayah Aris dengan suara yang tak kalah lirih.
"Tapi sudah hampir tiga jam, Yah. Ayah pasti capek," ucap Abi.
Ayah Aris menggeleng pelan sambil tetap menatap lurus ke jalanan, "Lihat Istrimu, Bi. Dia kelihatannya nyenyak banget tidurnya, kalau kita berhenti sekarang buat tukar posisi, dia pasti bangun. Jadi, biarkan dia istirahat, kasihan... dia pasti capek, dia kan belum terbiasa perjalanan jauh," ucap Ayah Aris.
Mendengar ucapan Ayah Aris, Abi terdiam. Ia menunduk dan menatap wajah istrinya yang polos tanpa riasan, ada sisa guratan kelelahan di sudut mata Shanum dan jemarinya yang kasar karena kerja keras di desa nampak mungil dalam balutan selimut yang Abi berikan.
"Ayah senang lihat kamu bisa mulai menerima dia," gumam Ayah Aris yang hampir tak terdengar.
Abi tidak membantah lagi, ia justru makin merapatkan dekapan lengannya dan membiarkan aroma sabun mandi Shanum yang sederhana menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Mobil itu terus melaju menuju Bandung, membawa dua jiwa yang terikat janji, di tengah pengawasan hangat seorang Ayah yang memberikan ruang bagi mereka untuk mulai saling mengenal dalam sunyi.
Mobil SUV hitam itu akhirnya memasuki kawasan perumahan asri di Bandung saat azan Isya berkumandang. Udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut, sangat kontras dengan hawa panas yang mereka lalui di sepanjang tol tadi, Ayah Aris menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah bergaya minimalis modern dengan taman kecil yang tertata rapi.
"Alhamdulillah, sampai juga," gumam Ayah Aris sambil mematikan mesin.
Bunda Rina dan Manda segera turun untuk meregangkan otot-otot mereka yang kaku. Namun, Shanum sama sekali tidak terusik. Gadis itu masih terlelap pulas, kepalanya bersandar nyaman di ceruk leher Abi, bahkan napasnya terdengar teratur dan halus. Abi menatap wajah istrinya sejenak dan ia ragu untuk membangunkan Shanum.
"Bi, bangunkan Shanum. Sudah sampai," ucap Bunda Rina sambil mengetuk kaca jendela mobil.
Abi menggeleng pelan ke arah Bundanya lalu ia membuka pintu mobil dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan guncangan, "Jangan, Bun. Kasihan, dia nyenyak banget. Biar Abi gendong ke kamar," jawab Abi pelan.
Bunda Rina sempat tertegun, ia menatap putranya dengan tatapan tak percaya. Putranya yang dikenal kaku dan sangat menjaga jarak fisik itu, kini justru menawarkan diri untuk menggendong seorang wanita. Namun, melihat keseriusan di mata Abi, Bunda Rina hanya bisa terdiam dan melangkah masuk ke rumah duluan.
Dengan gerakan yang pelan nan lembut, Abi menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Shanum dan lengan lainnya menyangga punggung serta leher istrinya. Ia mengangkat tubuh kecil itu keluar dari mobil, Shanum sempat menggumam kecil dan merapatkan wajahnya ke dada Abi, mencari kehangatan, namun ia tidak terbangun.
Abi melangkah masuk melewati ruang tamu, menaiki tangga menuju kamar kamarnya di lantai dua. Setiap langkahnya terasa sangat hati-hati, ia tidak ingin kepala Shanum terbentur atau ia terbangun dalam kondisi kaget. Sesampainya di kamar, Abi merebahkan Shanum di atas kasur empuk yang sudah dialasi sprei bersih, lalu ia melepas sandal Shanum perlahan dan menyelimutinya.
"Selamat istirahat," bisik Abi pelan sebelum mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur yang temaram.
Abi kemudian turun kembali ke halaman rumah. Di sana, Ayah Aris sedang menurunkan koper-koper dari bagasi.
"Shanum sudah di kamar?" tanya Ayah Aris.
"Sudah, Yah. Kayaknya kecapean sampai nggak bangun," jawab Abi sambil meraih dua koper besar milik Ayahnya untuk dibawa masuk.
"Terus, kamu jadi langsung ke apartemen malam ini?" tanya Ayah Aris lagi sambil menutup pintu bagasi.
Abi terdiam sejenak, ia menatap ke arah jendela kamar di lantai dua tempat Shanum berada. Sebenarnya, ia sudah berencana untuk langsung membawa Shanum ke apartemennya malam ini agar besok pagi ia bisa langsung bersiap mengajar. Namun melihat kondisi Shanum yang kelelahan dan lingkungan rumah orang tuanya yang asing bagi istrinya itu, Abi mengurungkan niatnya.
"Nggak, Yah. Besok pagi aja ke apartemennya. Kasihan kalau Shanum harus dipindah-pindah lagi malam ini dalam kondisi tidur. Biar dia bangun di sini dulu, sarapan, baru kita berangkat," jawab Abi.
Ayah Aris menepuk bahu putranya bangga, "Keputusan yang bagus," ucap Ayah Aris.
Lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan lembut di langit-langit kamar yang tinggi, Shanum mengerjapkan matanya perlahan dan merasa pening yang samar akibat tidur yang terlalu dalam. Indra penciumannya menangkap aroma yang asing namun menenangkan, campuran antara parfum maskulin yang elegan, wangi detergen mahal dan sedikit aroma kayu cendana.
Shanum mencoba menggerakkan tubuhnya, namun ia menyadari ada sesuatu yang berat dan hangat melingkar di perutnya. Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, jantung Shanum berdegup kencang, ia menoleh sedikit dan mendapati wajah Abi berada sangat dekat dengan wajahnya.
Abi tertidur dalam posisi miring menghadap Shanum, napas pria itu teratur dan hangat menerpa dahi Shanum. Lengan kokoh Abi memeluk pinggang Shanum dengan posesif, seolah takut istrinya itu akan menghilang jika ia melonggarkan dekapannya.
Shanum terpaku, ingatan terakhirnya adalah ia menyandarkan kepala di bahu Abi di dalam mobil yang berguncang saat melewati tol.
"Mas Abi," gumam Shanum hampir tak terdengar.
Shanum mencoba melepaskan diri dengan sangat hati-hati, namun gerakannya justru membuat Abi semakin merapatkan pelukannya dalam tidur, Shanum bisa merasakan detak jantung Abi di punggungnya.
Di tengah kegelapan kamar yang terasa asing itu, Shanum merasa sebuah perasaan aneh membuncah di dadanya. Pria yang dianggapnya dingin dan kaku ini, ternyata memiliki sisi yang begitu lembut.
Shanum menatap jam dinding digital yang menyala di atas nakas, di mana sudah pukul setengah 12 malam dan Shanum tidur cukup lama. Shanum pun memberanikan diri untuk menyentuh lengan Abi yang melingkar di perutnya dan mencoba menggesernya sedikit agar ia bisa bangun untuk mengambil air wudhu dan melakukan salat Isya yang terlewat.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊