Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Suasana di terminal keberangkatan itu mendadak kehilangan gravitasi. Kata-kata Edric tentang bayi mereka yang telah tiada menghantam Archello seperti ribuan ton baja yang jatuh dari langit. Archello mematung, tangannya yang menangkup wajah Lyodra bergetar hebat.
Informasi itu—tentang nyawa kecil yang tak pernah ia ketahui keberadaannya dan kini telah terkubur—membuat jiwanya terkoyak hingga ke dasar yang paling dalam.
Archello menoleh sejenak ke arah Oliver. Tatapannya penuh dengan permohonan maaf yang bisu, sebuah pandangan yang mengisyaratkan bahwa seluruh dunia yang mereka bangun selama lima bulan terakhir telah runtuh dalam sekejap mata. Namun, detik berikutnya, ia kembali menatap Lyodra dengan intensitas yang mengerikan, seolah jika ia berkedip, gadis itu akan menghilang lagi.
"Ay... aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu kau masih hidup, apalagi tentang... tentang bayi kita," suara Archello pecah, tercekik oleh isak tangis yang tak tertahankan. "Aku mencintaimu, sayang. Kumohon, jangan hukum aku seperti ini. Aku merasa mati setiap hari selama empat tahun ini karena mengiramu telah tiada."
Lyodra menatap mata Archello yang memerah. Ingatan yang semalam kembali kini menari-nari dengan kejam di kepalanya. Ia melihat pria yang dulu memujanya, namun ia juga melihat pria yang semalam melumat bibir wanita lain. Pertahanan Lyodra runtuh, dan kalimat yang keluar dari bibirnya menjadi belati terakhir bagi Archello.
"Aku melihatmu menciumnya semalam, Ello..." bisik Lyodra. Suaranya tenang namun mengandung luka yang sanggup menghancurkan gunung es mana pun. Ia melirik Oliver yang berdiri tak jauh dari mereka. "Kau tampak sangat bahagia bersamanya. Kau tersenyum, kau melindunginya... kau terlihat seperti pria yang sudah menemukan rumah baru."
Deg. Jantung Archello seolah berhenti berdetak.
"Kau sudah melupakan kami," lanjut Lyodra, air matanya kini mengalir deras, membasahi syalnya. "Oh, tidak... bukan kami. Kau sudah melupakan aku. Aku sudah mengikuti berita pertunanganmu sejak lima bulan lalu dari balik layar televisi rumah sakit. Dan... dan aku tidak mau merusak kebahagiaanmu karena kehadiranku. Itulah sebabnya aku ingin pergi hari ini. Aku ingin kau tetap bahagia dengan pilihanmu, tanpa harus merasa terbebani oleh kenangan dari masa lalu."
Mendengar pengakuan Lyodra bahwa gadis itu selama ini memperhatikannya dari jauh dalam luka, Archello merasa seperti iblis. Ia bersimpuh lebih dalam, membenamkan wajahnya di pangkuan Lyodra, meratapi kebodohannya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku bisa bahagia saat tahu kau masih hidup, sayang?" raung Archello. Ia mendongak, menatap Lyodra dengan tatapan memohon yang paling hancur. "Kau masih hidup... dan aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Maafkan aku... Maafkan aku karena aku sempat mencoba untuk terus berjalan saat kau sebenarnya sedang berjuang untuk kembali padaku."
Archello berdiri, ia tidak memedulikan tatapan orang-orang di bandara. Ia menoleh ke arah Oliver dengan tatapan dingin, seolah Oliver hanyalah debu yang lewat, bukan wanita yang semalam ia kecup dengan janji masa depan.
"Oliver... Oliver bukan siapa-siapa, Ay. Dia tidak berarti apa-apa dibandingkan kau. Maafkan aku telah membiarkannya masuk ke dalam hidupku yang hampa," ucap Archello dengan kejam.
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu, menghapus lima bulan perhatian Oliver dalam satu tarikan napas.
"Maafkan aku, Ay. Aku mencintaimu... hanya kau."
Tanpa menunggu jawaban, Archello menarik tengkuk Lyodra dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang penuh dengan keputusasaan, rasa sakit, dan kerinduan yang membara selama empat tahun.
Ciuman itu terasa sangat berbeda; itu adalah ciuman penuh duka yang seakan berusaha menghapus jejak ciumannya pada Oliver semalam. Archello mencium Lyodra seolah-olah ia sedang mencoba memberikan napas hidupnya sendiri kepada gadis itu.
Di sudut lain, Oliver Bernardo berdiri di sana seperti mayat hidup. Ia menatap pemandangan di depannya dengan pandangan kosong. Ciuman itu... pelukan itu... air mata Archello yang mengalir hanya untuk Lyodra... semuanya menjadi bukti nyata bahwa dirinya hanyalah sebuah figuran dalam drama cinta yang sangat besar.
Oliver merasa kakinya seolah berubah menjadi abu. Ia tidak bisa merasakan lantai di bawahnya. Janji Archello semalam bahwa ia "akan berusaha mencintai Oliver" kini terdengar seperti lelucon paling pahit di dunia. Ia melihat Archello memperlakukan Lyodra seperti permata yang hilang, sementara dirinya dibuang seperti sampah yang mengganggu pemandangan.
"Kau bukan siapa-siapa..." bisik Oliver mengulang kata-kata Archello. Suaranya hilang di tenggorokan.
Edric, yang melihat Oliver akan jatuh pingsan, segera menangkap bahu gadis itu dan membantunya duduk di kursi tunggu. Oliver duduk dengan lemas, tangannya dingin seperti es. Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang semalam digenggam Archello, tangan yang kini terasa sangat hina.
"Rupanya aku hanya obat bius bagi lukanya," gumam Oliver dengan air mata yang jatuh tanpa suara. "Aku hanya jembatan yang ia gunakan untuk menyeberang, tapi saat ia melihat tujuannya kembali, ia membakar jembatan itu tanpa peduli aku ada di atasnya."
Ia menatap Archello yang masih mendekap Lyodra erat, sama sekali tidak menoleh lagi padanya. Oliver menyadari sesuatu yang sangat menyakitkan: ia tidak hanya kehilangan tunangannya, ia kehilangan harga dirinya. Ia kehilangan kepercayaan bahwa ia layak untuk dicintai.
"Aku mencintaimu dengan seluruh kejujuranku, Archello," batin Oliver di tengah isak tangisnya yang sunyi. "Tapi bagimu, kejujuranku hanyalah bayang-bayang yang tidak akan pernah bisa menandingi hantu yang kau puja. Aku ada di sini, bernapas dan menyentuhmu, tapi kau lebih memilih dia yang bahkan mengira dirinya sudah mati."
Edric menatap Oliver dengan iba. "Maafkan kakakku, dan maafkan keluarga kami... semua ini adalah kesalahan para tetua."
Oliver tidak menjawab. Ia hanya terus menatap ciuman itu. Baginya, ciuman Archello pada Lyodra adalah nisan bagi hatinya sendiri.
Di tengah bandara yang sibuk, Oliver Bernardo merasa dirinya baru saja mati—bukan secara fisik seperti Lyodra dulu, tapi secara jiwa. Ia adalah korban yang paling sunyi di antara cinta yang kembali bersemi di atas penderitaannya.
"Selamat tinggal, Archello," bisik Oliver dalam hati. "Selamat atas kembalinya duniamu, dan selamat karena telah menghancurkan duniaku sepenuhnya."
Archello terus mendekap Lyodra, air matanya membasahi bahu gadis itu, sama sekali tidak menyadari bahwa di belakangnya, ada satu hati yang baru saja berhenti berharap untuk selamanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰