Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Sinar matahari pagi di Swantipura tidak pernah benar-benar berhasil mengusir dingin. Sinarnya yang pucat pasi hanya mampu menembus kaca-kaca jendela buram yang berlapis bunga es, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan melankolis di atas lantai batu pualam.
Di dalam kamar permaisuri yang sangat luas itu, Dewi Pregiwa duduk terdiam di depan meja riasnya yang terbuat dari perak murni. Dua orang emban sedang sibuk menyisir rambut panjangnya yang sehitam malam, mengoleskan minyak kemiri dan menyematkan jepit-jepit kecil bertahtakan safir biru. Mereka bekerja dalam keheningan yang tegang, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Sejak malam perjamuan kemarin, ada aura aneh yang memancar dari sang permaisuri—sebuah ketenangan yang terlalu absolut, yang entah mengapa justru membuat bulu kuduk para pelayan itu berdiri.
Pregiwa menatap pantulan dirinya di dalam cermin perak raksasa tersebut.
Wajah di dalam cermin itu begitu sempurna. Kulitnya seputih susu, bibirnya merah merekah seperti kelopak mawar yang mekar di tengah salju, dan sepasang matanya yang bulat tampak begitu teduh dan penuh dengan kelembutan pualam. Namun Pregiwa tahu, wanita di dalam cermin itu tidak nyata. Itu hanyalah sebuah topeng. Sebuah zirah perang yang jauh lebih kuat dari Antakusuma milik Gatotkaca, karena zirah ini tidak terbuat dari baja yang bisa ditembus oleh pusaka, melainkan terbuat dari kepalsuan yang tak bisa dideteksi oleh mata manusia biasa.
*Berapa lama aku harus mengenakan topeng ini?* batin Pregiwa, matanya menatap tajam ke dasar pupilnya sendiri di cermin. *Setahun? Sepuluh tahun? Tidak peduli berapa lama. Aku memiliki seluruh sisa hidupku untuk menghancurkan mereka semua.*
Terdengar suara ketukan keras dari arah pintu kayu ek kamarnya, disusul oleh derit engsel yang dibuka tanpa menunggu persetujuan.
Pangeran Mahkota Jayantaka melangkah masuk. Napasnya masih membawa sisa-sisa aroma anggur keras dari pesta semalam, namun matanya memancarkan energi liar yang tak pernah padam. Ia mengenakan jubah tidur sutra tebal yang memperlihatkan dadanya yang bidang. Sang pangeran berjalan menghampiri Pregiwa, memberi isyarat dengan jentikan jarinya agar kedua emban itu segera menyingkir dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Jayantaka mencondongkan tubuhnya dari belakang kursi Pregiwa. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher sang permaisuri, menghirup aroma melati yang selalu menguar dari rambut wanita itu.
"Pagi yang sangat indah untuk ratuku yang jelita," bisik Jayantaka dengan suara serak, tangannya yang besar melingkar di bahu rapuh Pregiwa.
Di bawah meja rias, tangan Pregiwa mengepal sangat kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Sentuhan pria ini membuat perutnya mual. Bau anggur dan keringat yang menguar dari tubuh Jayantaka terasa seperti racun yang mencekik paru-parunya. Hatinya menjerit, meronta ingin mendorong pria ini menjauh, berteriak bahwa satu-satunya tangan yang berhak menyentuhnya telah terbaring mati di Kurusetra.
Namun, di dalam cermin perak itu, wajah Pregiwa sama sekali tidak berubah. Topeng pualamnya bekerja dengan sempurna.
Sang permaisuri mengendurkan kepalan tangannya, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya untuk mengelus punggung tangan Jayantaka yang berada di bahunya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, memberikan akses yang lebih mudah bagi sang pangeran, dan melengkungkan senyum yang begitu manis hingga mampu meluluhkan gunung es.
"Pagi ini terasa jauh lebih hangat karena kehadiran Kanda," jawab Pregiwa dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengalun seperti melodi seruling bambu. "Apakah Kanda tidur dengan nyenyak setelah perayaan kemenangan yang begitu meriah semalam?"
Jayantaka tersenyum puas, harga dirinya melambung tinggi ke angkasa mendengar pujaan dari bibir permaisurinya yang terkenal sulit ditaklukkan itu. Ia menegakkan tubuhnya dan memutar kursi Pregiwa hingga mereka berhadapan.
"Tentu saja aku tidur nyenyak, Istriku. Anggur dari gudang penyimpanan utara sungguh luar biasa," ucap Jayantaka, matanya berbinar-binar penuh ambisi. "Tapi yang membuatku tidak sabar menanti pagi adalah rencana yang telah kususun semalaman. Kau tahu, kemenangan Amarta membawa emas yang tak terhitung jumlahnya ke kas kita. Aku berencana untuk menggandakan jumlah kavaleri elitku. Aku akan membangun divisi baru, 'Sayap Elang Hitam', yang akan dipimpin oleh para bangsawan muda dari lingkar dalamku."
Pregiwa mendengarkan dengan saksama. Insting politiknya, yang kini setajam belati pembunuh bayaran, langsung membedah rencana suaminya. Menggandakan kavaleri dan menyerahkan komando pada bangsawan muda yang tidak berpengalaman adalah sebuah kebodohan militer yang nyata. Itu akan menciptakan kesenjangan yang lebih besar dengan pasukan infanteri veteran seperti milik Panglima Haryasuta yang baru saja ia beli kesetiaannya semalam.
Ini adalah celah yang sempurna.
"Rencana yang sangat luar biasa, Kanda Pangeran. Kecerdasan militer Kanda memang tak ada duanya di seluruh Jawadwipa," puji Pregiwa, membiarkan matanya melebar memancarkan kekaguman palsu. "Kavaleri 'Sayap Elang Hitam' pasti akan membuat gemetar musuh mana pun yang berani menatap panji Swantipura."
Jayantaka membusungkan dadanya, sepenuhnya termakan oleh manipulasi pualam tersebut.
"Namun..." Pregiwa sengaja menggantung kalimatnya, menurunkan nada suaranya menjadi sedikit lebih pelan dan cemas, menarik suaminya masuk ke dalam jaring yang sedang ia pintal. Ia menundukkan wajahnya sedikit, memancarkan aura seorang istri yang khawatir akan keselamatan suaminya.
"Namun apa, Permaisuriku?" tanya Jayantaka, alisnya bertaut sedikit.
"Hamba hanyalah seorang wanita yang tidak mengerti banyak tentang urusan perang," ucap Pregiwa merendah, sebuah kebohongan yang sangat ironis mengingat ia dibesarkan di lutut Arjuna. "Tetapi, hamba belajar satu hal dari hancurnya pertahanan Amarta di malam Tegal Kurusetra itu. Pedang yang sangat tajam, kavaleri yang sangat hebat, tidak akan berarti apa-apa jika mata yang mengawasi malam telah dibutakan."
Jayantaka terdiam. Kalimat itu menembus ego lelakinya dan menyentuh sisi logikanya. "Maksudmu... jaringan telik sandi (mata-mata) kita?"
Pregiwa mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam mata biru es Jayantaka dengan tatapan yang dipenuhi ketulusan mematikan. "Kemarin Kanda bercerita bahwa serangan malam Adipati Karna adalah sebuah kejutan total. Mengapa telik sandi Swantipura yang ditempatkan di selatan tidak mampu mengendusnya? Mengapa mereka tidak memberikan peringatan kepada kavaleri Kanda agar bersiap?"
"Para telik sandi itu melapor pada Senopati Argakusuma," jawab Jayantaka, mulai terlihat tidak nyaman. Argakusuma adalah salah satu bangsawan muda kesayangannya yang selalu menemaninya minum anggur. "Dia bilang badai pasir Kurusetra menghalangi burung-burung pengirim pesan untuk terbang."
Pregiwa menahan keinginannya untuk mendengus jijik. Alasan yang sangat konyol dan kekanak-kanakan. Namun ia tidak membantahnya secara langsung. Sebaliknya, ia menuntun pikiran Jayantaka agar pria itu merasa bahwa ia sendirilah yang menemukan kejanggalan tersebut.
"Ah, badai pasir. Tentu saja, alam memang tak bisa ditebak," desah Pregiwa lembut. Ia berdiri, membenahi kerah jubah tidur suaminya dengan penuh perhatian. "Hamba hanya khawatir, Kanda. Kanda sedang membangun pasukan yang sangat besar, dan harta keraton sedang melimpah. Di saat seperti ini, banyak serigala berbulu domba yang mengincar Kanda. Senopati Argakusuma adalah bangsawan yang baik dan sangat menyenangkan di meja perjamuan. Namun... apakah seorang pria yang tangannya terlalu bersih dan jubahnya selalu wangi, sanggup menggali rahasia-rahasia kotor di dalam lumpur kegelapan?"