Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Duke di Perjamuan
Kediaman Keluarga Lin malam ini bukanlah sekadar tempat perjamuan; ini adalah panggung teater politik yang dirancang dengan kesempurnaan dan ketelitian tinggi oleh sang putra mahkota.
Lampu-lampu lampion berbahan sutra naga terbang melayang di udara, ditenagai oleh formasi pengumpul Qi kelas menengah yang memancarkan cahaya keemasan nan hangat. Ratusan meja giok putih tersusun rapi di halaman utama, di atasnya terhidang buah-buahan spiritual yang memancarkan kabut tipis dan kendi-kendi anggur esensi berusia ratusan tahun. Alunan musik dari kecapi zither mengalun, dimainkan oleh para kultivator wanita yang kecantikannya mampu meruntuhkan kota kecil.
Namun, di balik keindahan dan tawa renyah yang menggema, udara dipenuhi dengan aroma amis dari ambisi dan kelicikan.
Di kursi kehormatan tertinggi, duduk sang Pangeran Mahkota Kekaisaran Yan. Pria muda dengan jubah bermotif naga emas itu memutar gelas anggurnya dengan santai, matanya yang tajam mengamati lautan manusia di bawahnya seperti seorang gembala yang menilai domba-dombanya. Di sekelilingnya, para pejabat kekaisaran—dari menteri hingga jenderal militer—duduk dengan postur tubuh yang kaku, selalu memastikan senyum mereka tidak terlalu lebar namun tidak terlalu pelit.
Malam ini adalah perayaan pengangkatan Menteri Agung Lin yang baru. Sebuah deklarasi kekuasaan faksi Pangeran Mahkota. Dan di tengah pusaran kekuasaan itu, sebuah pertunjukan kecil yang kejam sedang dipersiapkan untuk memuaskan ego mereka yang menang, dan menghancurkan sisa-sisa martabat mereka yang kalah.
Di salah satu meja yang letaknya strategis di tengah, Wu Shan duduk dengan dada membusung. Sebagai pewaris Keluarga Wu, seorang pemuda dengan wajah tampan namun memancarkan arogansi yang dangkal, dia merasa malam ini adalah malamnya.
Di sampingnya, duduk Lin Huyan. Putri dari sang Menteri Agung baru itu memiliki kecantikan yang memabukkan—kulit seputih porselen, bibir merah darah, dan mata rubah yang selalu menyiratkan undangan sekaligus ancaman. Dia menyandarkan tubuhnya perlahan ke arah Wu Shan, menyapu lengan pemuda itu dengan ujung jubah sutranya.
"Tuan Muda Wu," bisik Lin Huyan, suaranya semanis madu namun mengandung bisa yang menipu. "Kau berjanji kepadaku kemarin. Jika kau benar-benar ingin keluarga Lin mempertimbangkan aliansi pernikahan denganmu, kau harus membuktikan bahwa kau telah memutuskan ikatan dengan masa lalu yang memalukan itu. Lihatlah dia..."
Lin Huyan melirik ke arah sebuah meja di sudut yang jauh dari pusat perhatian.
Di sana duduk Qin Wuyan, seorang gadis dengan gaun sederhana berwarna biru pudar. Berbeda dengan wanita lain yang berlomba-lomba memamerkan perhiasan mewah, wajah Wuyan memancarkan kecantikan murni yang tak tertandingi. Matanya jernih dan bulat, memancarkan kebaikan hati dan kepolosan alami—sebuah kontras yang menyedihkan di tengah sarang ular berbisa ini. Gadis yang terkenal akan kelembutannya itu masih sesekali mencuri pandang ke arah Wu Shan dengan sedikit senyum dan harapan di matanya, sama sekali tidak menyadari niat jahat yang sedang diarahkan padanya.
Di sampingnya duduk ayahnya, Qin Han—mantan Menteri Agung yang kini hanya memiliki gelar pejabat kelas tiga setelah disingkirkan oleh Pangeran Mahkota. Pria paruh baya itu duduk dalam diam, mencoba menelan penghinaan dari tatapan merendahkan yang dilemparkan oleh para pejabat lain yang dulu menjilat telapak kakinya.
"Jika kau tidak berani membuang sampah itu malam ini," lanjut Lin Huyan, nada suaranya berubah sedingin es di telinga Wu Shan, "maka jangan harap aku akan menatapmu. Keluarga Lin tidak membutuhkan menantu yang pengecut."
Ego Wu Shan, yang sudah rapuh dan digelembungkan oleh arak spiritual, tersulut seketika. Pemuda itu menggebrak meja giok di depannya hingga retak. Suara retakan itu menghentikan alunan musik dan menarik perhatian ratusan pasang mata di halaman tersebut.
Wu Shan berdiri, melangkah ke tengah ruangan dengan dagu terangkat. Dia menatap lurus ke arah sudut tempat keluarga Qin duduk.
"Patriark Qin Han! Qin Wuyan!" Suara Wu Shan menggema, diperkuat oleh energi spiritual tingkat Pembentukan Qi miliknya. "Hari ini, di hadapan Yang Mulia Pangeran Mahkota dan para pejabat kekaisaran, aku, Wu Shan, pewaris Keluarga Wu, secara resmi membatalkan pertunanganku dengan putri Keluarga Qin!"
Keheningan sesaat menyelimuti kediaman Lin. Bukan karena mereka terkejut—sebagian besar politikus busuk di ruangan itu sudah tahu drama ini akan terjadi—melainkan karena antisipasi akan kehancuran mental yang akan menyusul.
Tak lama, keheningan itu pecah oleh gelombang tawa tertahan dan bisikan berbisa dari para pejabat dan tamu yang dengan sengaja tidak mengecilkan volume suara mereka.
"Akhirnya dia sadar. Membawa gelar tunangan dari keluarga paria itu hanya akan menjadi aib bagi Keluarga Duke Wu," cibir seorang pejabat gemuk dari kementerian keuangan, menuangkan anggur ke gelasnya dengan santai.
"Benar sekali. Lihatlah Keluarga Qin sekarang, bahkan Qin Han tidak punya cukup batu spiritual untuk membeli jubah yang layak untuk putrinya. Gaun usang itu... sungguh merusak pemandangan di pesta seindah ini," timpal seorang nyonya bangsawan sambil menutupi senyum mengejeknya dengan kipas sutra.
"Gadis malang nan polos itu," seorang jenderal muda ikut tertawa merendahkan, menatap Qin Wuyan dengan pandangan jijik campur iba palsu. "Dia pikir hanya karena dia cantik dan baik hati, keluarga Duke akan tetap memungutnya? Di dunia kultivasi kita, kecantikan tanpa kekuatan dan bekingan hanyalah budak mainan untuk yang berkuasa. Setidaknya Tuan Muda Wu cukup cerdas untuk membuang beban tak berguna itu sebelum keluarga Wu ikut terseret."
Kata-kata itu terbang seperti panah-panah beracun tak kasatmata, menusuk telinga Qin Han dan mengoyak hati Qin Wuyan. Pangeran Mahkota menghentikan putaran gelasnya, senyum tipis yang merendahkan dan penuh kemenangan terbentuk di bibirnya saat melihat anjing-anjing peliharaannya menggonggong.
Wajah Qin Han memerah, urat-urat di pelipisnya menonjol. Sebagai kultivator Ranah Kuno tahap awal, tekanan auranya secara refleks sedikit bocor, membuat meja di depannya bergetar hebat hingga piring-piring giok retak.
"Wu Shan..." geram Qin Han, suaranya berat dan penuh tekanan, berusaha keras menahan diri agar tidak membantai bocah itu. "Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Pertunangan ini ditetapkan oleh kakekmu dan Ayahku sendiri saat keluargamu masih belum memiliki pijakan kuat di ibukota! Wuyan telah menunggumu dengan tulus! Ini adalah janji darah!"
"Janji darah?" Wu Shan tertawa, tawa yang melengking dan kasar, memotong ucapan Qin Han. "Itu adalah masa lalu! Lihatlah keluargamu sekarang, Patriark Qin! Ayahku, Duke Wu Xuan, masih menjadi pilar kekaisaran, sementara kau? Kau hanyalah pejabat rendahan kelas tiga! Seekor anjing tua yang kini kehilangan giginya! Keluarga Qin saat ini sama sekali tidak pantas, tidak memiliki kualifikasi sedikit pun untuk bersanding dengan Keluarga Wu! Menikahi putrimu yang tidak berguna ini hanya akan menodai kemuliaan garis keturunan kami!"
Penghinaan itu terlalu telanjang, terlalu brutal. Menghina seorang mantan menteri dan kultivator Ranah Kuno di depan umum oleh seorang bocah yang baru saja menembus Ranah Jiwa adalah tamparan keras di wajah.
Qin Wuyan tidak tahan lagi. Gadis yang biasanya lembut, penurut, dan selalu memandang dunia dengan kebaikan itu kini berdiri dengan seluruh tubuh bergetar hebat. Hatinya yang murni dan tulus, yang selama ini percaya bahwa Wu Shan akan menepati janji masa kecil mereka di bawah pohon persik spiritual, hancur berkeping-keping.
Tatapannya yang polos meredup, digantikan oleh kekosongan yang perlahan diisi oleh ketidakpercayaan. Air mata penghinaan dan rasa sakit yang teramat sangat mengubah kepolosannya menjadi niat kebencian yang murni.
"Wu Shan... kau.... beraninya kau menghina keluargaku!" teriak Qin Wuyan, suaranya pecah oleh keputusasaan dan kemarahan.
Tanpa mempedulikan perbedaan kekuatan dan kodratnya yang lemah lembut, Qin Wuyan memadatkan energi spiritual di telapak tangannya dan melesat maju. Kecepatannya membelah udara, menargetkan dada pemuda sombong itu dengan niat menghancurkan apa pun yang menghancurkan hatinya.
Namun, Wu Shan telah bersiap. Dengan senyum mengejek, dia menyalurkan energinya, mengayunkan tangannya dengan keras untuk menangkis serangan gadis yang sedang dikuasai amarah dan keputusasaan itu.
BAM!
Dua energi berbenturan, namun fondasi Qin Wuyan yang goyah karena emosi kalah telak. Tangan Wu Shan menghantam bahu gadis malang itu dengan kekuatan penuh.
Qin Wuyan terlempar ke belakang, punggungnya menghantam pilar batu giok dengan keras. Dia jatuh ke lantai, memuntahkan seteguk darah segar yang menodai gaun birunya menjadi merah gelap. Gadis yang polos itu kini meringkuk, terbatuk darah dengan pandangan yang perlahan menjadi dingin dan mati rasa terhadap dunia.
"Wuyan!" Qin Han berteriak.
Kesabaran pria itu hancur berkeping-keping. Politik, status, hinaan para pejabat, bahkan keberadaan Pangeran Mahkota—semuanya lenyap dari pikirannya saat melihat putri tunggalnya yang berharga dan baik hati dilukai secara keji oleh seorang bocah arogan. Aura Ranah Kuno tahap awal meledak dari tubuh Qin Han seperti badai topan. Angin puyuh energi menyapu halaman, menerbangkan meja-meja giok dan membuat para kultivator tingkat rendah jatuh berlutut memuntahkan darah, memaksa para pejabat yang tadi tertawa kini terdiam kaku.
"Kau berani melukai putriku, bocah tengik?! Mati!"
Qin Han mengayunkan tangannya dari kejauhan. Sebuah cetakan telapak tangan raksasa yang terbuat dari esensi murni terbentuk di udara, melesat dengan kecepatan kilat menuju Wu Shan.
Wu Shan yang tadinya tersenyum sombong kini memucat pasi. Kematian menatapnya tepat di depan mata. Dia tidak bisa bergerak; tekanan Ranah Kuno mengunci setiap inci tubuhnya. Lin Huyan yang berada tak jauh darinya menjerit dan melangkah mundur, sama sekali tidak berniat membantu pion yang sudah tidak berguna baginya.
BRAKKK!
Cetakan telapak tangan itu menghantam tubuh Wu Shan. Pemuda itu terlempar ke udara seperti boneka kain yang rusak, tulang rusuknya terdengar patah, dan dia memuntahkan busur darah melintasi halaman sebelum menghantam dinding pembatas hingga hancur berantakan.
Suasana menjadi kacau balau. Pangeran Mahkota akhirnya berdiri, alisnya berkerut. Konflik ini mulai melampaui batas yang ia rencanakan. Membiarkan anjing menggigit anjing adalah hal yang menyenangkan, tapi jika seorang Ranah Kuno mulai membunuh ahli waris Duke secara terang-terangan di ibukota, hukum kekaisaran harus ditegakkan.
Namun, sebelum ada satu pun penjaga kekaisaran yang bisa bergerak, sebelum Qin Han bisa melangkah maju untuk memastikan serangannya, hukum alam di atas kediaman Lin berhenti bekerja.
Gravitasi mendadak lenyap. Udara menjadi seberat timah panas. Alunan musik, suara jeritan ketakutan para pejabat, rintihan kesakitan, dan gemerisik angin—semuanya mati. Keheningan yang turun dari langit bukanlah keheningan fisik, melainkan penindasan jiwa yang menekan.
Di langit malam yang cerah, tepat di atas halaman utama, sebuah suara robekan bergema.
KRAKKK!
SRIIIKKK!
Bukan awan yang terbelah, melainkan ruang itu sendiri. Sebuah retakan hitam pekat yang memancarkan kilauan bintang dimensi terbuka perlahan. Dari dalam celah ruang yang menentang logika itu, aura yang usianya terasa seperti ribuan tahun tumpah ke bawah.
Pangeran Mahkota, yang berada di Ranah Roh puncak, merasakan kakinya gemetar tanpa bisa dikendalikan. Para pejabat kekaisaran yang berada di Ranah Kuno awal kebawah, yang beberapa detik lalu mengolok-olok Keluarga Qin, langsung jatuh telungkup berlutut, lutut dan lengan mereka menempel di tanah seolah ditekan oleh gunung raksasa. Mulut mereka terkunci rapat oleh teror absolut.
"Ini... hukum tingkat suci..." Menteri Agung Lin tergagap, wajahnya sepucat mayat. "Ranah Primordial Suci?! Bagaimana bisa ada monster seperti ini disini?! Dan... aura ini... mengapa terasa sangat tidak asing?"
Dari dalam kegelapan retakan dimensi, sepasang kaki yang dibalut sepatu bot putih melangkah keluar. Lalu, sosok utuh seorang pria turun dari langit, melayang tanpa bantuan alat sihir apa pun, seolah udara itu sendiri yang menopang telapak kakinya.
Wu Shan, yang terkapar di reruntuhan dinding dengan darah membasahi wajahnya, memaksakan matanya terbuka. Meski pandangannya kabur, dia mengenali aura energi itu. Itu adalah teknik pernapasan keluarganya.
"A... Ayah...!" jerit Wu Shan dengan sisa tenaga, suaranya dipenuhi rasa sakit dan kelegaan yang luar biasa.
Jeritan itu meledak seperti petir di benak setiap orang yang hadir.
Ayah?
Patriark Wu? Duke Wu Xuan?
Mata semua orang terbelalak hingga nyaris robek. Pangeran Mahkota menahan napasnya. Qin Han yang sedang dikuasai amarah seketika membeku, amarahnya digantikan oleh teror murni.
Bukankah Duke Wu Xuan sedang dalam pengasingan? Bukankah rumor yang beredar di istana mengatakan bahwa pria tua itu terjebak di Ranah Kuno akhir, dantiannya terluka parah, dan dia hanya menghitung hari menuju kematiannya? Bagaimana mungkin entitas dewa yang baru saja merobek ruang di atas mereka ini adalah pria yang sama?!
Di udara, Wu Xuan menatap ke bawah. Matanya yang berwarna emas kristal menyapu halaman yang berantakan, mengamati putranya yang terkapar menyedihkan, dan gadis berpakaian biru yang memuntahkan darah di sudut lain—gadis yang kepolosannya baru saja direnggut paksa oleh dunia.
‘Ah, sial,’ monolog Wu Xuan di dalam kepalanya. ‘Aku terlambat beberapa detik. Drama bodoh ini sudah mencapai klimaks. Kalau tahu begini, aku akan merobek ruang saat anak ini baru membuka mulutnya. Sekarang semuanya sudah berantakan, dan anakku terlihat seperti badut yang baru saja diinjak gajah. Mengapa dari semua transmigrasi, aku harus mewarisi produk genetika yang gagal secara intelektual ini?’
Meski di dalam hatinya dia mengeluh panjang lebar, wajah Wu Xuan tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun. Senyum tenang yang mematikan itu terukir di wajahnya.
Dia perlahan turun, hingga kakinya menyentuh lantai halaman utama. Saat dia mendarat, tekanan auranya ditarik kembali ke dalam tubuhnya, membiarkan orang-orang untuk akhirnya bisa bernapas.
Namun, ketika mereka mengangkat kepala dan melihat dengan jelas sosok yang berdiri di sana, keterkejutan gelombang kedua menghantam mereka.
Pria di hadapan mereka bukanlah kakek tua yang keriput. Dia adalah perwujudan dari ketampanan surgawi yang melampaui logika. Rambut putih panjangnya mengalir seperti cahaya bulan, kontras dengan wajahnya yang muda, tajam, dan terpahat sempurna. Jubah esensi spiritualnya berkibar pelan tanpa angin. Dia jauh lebih tampan, jauh lebih agung daripada pemuda manapun di kekaisaran, termasuk Pangeran Mahkota sendiri.
Di deretan kursi VIP wanita, ibu Wu Shan—istri dari Wu Xuan—duduk membeku. Wanita yang sebenarnya berusia tiga ratus tahun namun mempertahankan penampilan mempesona layaknya wanita berusia empat puluhan itu tidak berkedip. Matanya yang indah menatap pria di bawah sana. Dia ingat bagaimana suaminya menua, bagaimana hubungan mereka memburuk hingga menjadi es karena pengkhianatan dan keegoisan masa lalu. Tapi pria yang berdiri di sana saat ini... memancarkan karisma dominan yang belum pernah ia lihat bahkan saat mereka pertama kali bertemu. Jantung wanita itu berdegup kencang, sebuah perasaan aneh dan berbahaya tiba-tiba merayap di dadanya.
Bukan hanya dia. Para gadis di pesta itu, dari putri pejabat hingga kultivator jenius dari berbagai sekte dan keluarga, menatap tanpa bisa mengalihkan pandangan. Mata emas kristal Wu Xuan tampak seperti jurang maut yang indah; siapa pun yang menatapnya pasti ingin menjatuhkan diri ke dalamnya.
"Ayah...!" Wu Shan merintih, merangkak susah payah. Matanya memancarkan kedengkian saat dia menunjuk ke arah Qin Han. "Ayah... Qin Han... anjing tua itu berani menyerangku... dia mencoba membunuhku karena aku membatalkan pertunangan dengan putrinya! Bunuh dia, Ayah! Hancurkan keluarga Qin!"
Pengaduan khas dari karakter batu loncatan. Wu Xuan menghela napas tipis yang tak kentara. Dia benar-benar ingin menendang kepala putranya saat itu juga.
Namun, Wu Xuan tidak melakukan itu. Dia melirik Wu Shan sejenak, tatapannya begitu dingin hingga membuat Wu Shan seketika menutup mulutnya, merasakan bahwa ada yang salah dengan ayahnya.
Wu Xuan lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
Seketika, seluruh pejabat di halaman tersebut bangkit berdiri. Mereka membuang semua rasa gengsi, martabat, dan kesombongan yang beberapa saat lalu mereka gunakan untuk menghina Keluarga Qin. Hukum dunia ini sangat sederhana: kebenaran berada di tangan mereka yang memiliki kepalan paling keras. Di hadapan seorang Primordial Suci, jabatan politik adalah ilusi.
"Salam hormat, Duke Wu Xuan!"
Ratusan orang menunduk, meneriakkan salam yang menggema membelah malam. Bahkan Menteri Agung Lin, pemilik rumah ini, menunduk dengan keringat dingin membasahi punggungnya. Pilihan termudah dalam hidup adalah menyembah orang kuat, dan tidak ada yang lebih ahli dalam hal itu selain para politisi kekaisaran.
Pangeran Mahkota merapikan jubahnya. Dia melangkah maju dengan cepat, menyembunyikan keterkejutannya dengan senyum diplomatik yang sempurna. Dia menangkupkan kedua tangannya, memberikan salam yang seharusnya hanya diberikan kepada kaisar.
"Salam Duke Wu Xuan," ucap Pangeran Mahkota dengan nada hormat namun berusaha mempertahankan otoritasnya. "Kekaisaran Yan benar-benar diberkati malam ini. Berita tentang terobosan Anda menuju Ranah Primordial Suci adalah berkah bagi seluruh negeri. Saya, mewakili keluarga kekaisaran, mengucapkan selamat. Insiden malam ini... hanyalah kesalahpahaman kecil antara generasi muda."
Pangeran Mahkota mencoba merekrutnya di tempat. Mengikat seorang Primordial Suci ke faksi Pangeran Mahkota akan menjamin tahtanya tak akan pernah bisa digoyahkan.
Wu Xuan menatap Pangeran Mahkota, senyumnya tidak berubah. Dia tahu persis permainan apa yang sedang dimainkan pemuda itu.
Kemudian, matanya beralih ke Qin Han. Mantan Menteri Agung itu masih berdiri di depan putrinya yang terluka, tubuhnya bergetar hebat. Dia tahu, di hadapan seorang Primordial Suci, dia bahkan tidak punya hak untuk mati dengan tenang. Qin Han memejamkan matanya, bersiap menerima kehancuran total untuk dirinya dan putrinya karena telah melukai putra sang Duke.
Wu Xuan memiringkan kepalanya sedikit. Rencananya sudah tersusun rapi di dalam otaknya yang dingin dan rasional. Menghukum keluarga Qin sesuai keinginan putranya yang bodoh hanya akan memicu kebencian protagonis di masa depan dan menyia-nyiakan pion yang bagus. Menghancurkan keluarga Lin sekarang akan menampar wajah keluarga kekaisaran terlalu cepat.
Sebelum dia sempat membuka mulutnya untuk mengeluarkan kalimat yang akan membalikkan seluruh dinamika politik ibukota, suara tanpa emosi kembali bergema di tengkoraknya.
[Ding!]
[Sistem Random Aktif!]
[Mendeteksi persimpangan takdir yang krusial. Memanipulasi nasib antagonis wanita (Qin Wuyan) akan mengubah alur dunia secara drastis.]
[Pilihan Diberikan pada Host:]
[1. Lawan dan Tundukkan Patriark Qin Han. Bertindak seperti Patriark arogan pada umumnya dan hancurkan Keluarga Qin sepenuhnya.]
> Hadiah: 10 Artefak Kuno.
[2. Tolak keinginan putramu. Lamar Qin Wuyan dan jadikan dia Istri Utamamu malam ini juga di depan semua orang.]
> Hadiah: 10 Pil Primordial dan Membuka 1 Akar Spiritual Terkunci.
Senyum di wajah tampan Wu Xuan sedikit bergetar. Matanya yang berwarna emas kristal menatap layar sistem tak kasat mata di depannya dengan tatapan kosong selama sepersekian detik.
‘Sistem,’ bisik Wu Xuan dalam hati, nadanya sangat tenang, namun memendam niat membunuh yang bisa membekukan neraka. ‘Kau memintaku untuk melamar seorang wanita 22 tahun yang usianya sama dengan anakku?, yang juga merupakan calon villainess dimasa depan... dan menjadikannya istri utamaku di depan istri asliku yang sedang duduk menonton di sana?’
Wu Xuan perlahan menutup matanya, menghela napas panjang di tengah keheningan mencekam yang menunggu titahnya.
Dunia ini, pikirnya, benar-benar memiliki selera humor yang sangat kelam.
Bersambung...