"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syok!
Nyawa Nick nyaris tak tertolong jika terlambat mendapatkan pertolongan medis. Dua peluru di kedua kakinya berhasil di keluarkan. Kini pria itu sudah di pindah ke ruang rawat. Meski sedang sekarat, ia dan beberapa anak buahnya menyusun rencana untuk menuntut balas dendam pada Nero. Sepertinya rencana balas dendamnya akan jauh lebih sulit, mengingat ia tidak akan memanfaatkan Ele.
"Pria itu sangat mengerikan, Tuan. Anda yakin dengan recana ini?"
"Kau meragukan rencanaku?!" Nick menatap tajam anak buahnya itu.
"Maaf, Tuan." Hanya itu yang bisa diucapkan, dari pada berbuntut panjang.
*
Pagi harinya.
Saat pertama kali membuka mata, Ele sangat syok saat menyadari tubuhnya yang dibungkus selimut tidak mengenakan apapun alias tilinjing. Ia melirik ke samping kiri, kedua matanya membulat sempurna saat melihat seorang pria tertelungkup di sampingnya, memperlihatkan punggung lebar dan kokoh yang dipenuhi tato tengkorak mengerikan.
"Si-siapa pria ini. Astaga!" Ele merapatkan selimut dengan perasaan tidak karuan. Ia berusaha mengingat kejadian semalam saat dirinya mabuk. Samar-Samar ia mengingat kalau tadi malam ia mencium dan menarik seorang pria ke ranjang. "Bodoh!" Ia mengumpati dirinya sendiri sembari memukul kepalanya, karena mabuk, ia sampai tidur dengan pria asing. Ia masih belum menyadari kalau pria di sampingnya ini adalah Nero. Pasalnya terakhir berjumpa, Nero tidak memiliki tato di tubuh.
Ele perlahan turun dari ranjang itu. Ia meringis sakit ketika merasakan ngilu dibagian intimnya. "Aww, shhh. Sakit sekali," keluhnya, sembari berusaha berdiri tapi kesulitan.
Pergerakan Ele menganggun tidur Nero. Pria itu menoleh ke samping, segera beranjak dari tempat tidur saat melihat Ele kesulitan berdiri.
"Mau ke mana?" tanya Nero, dengan nada pelan dan lembut.
Kedua mata Ele membola sempurna saat tahu kalau pria yang tidur dengannya adalah Nero. "K-Kau? Jadi ..." Ele menggigit bibir, bagaimana bisa ini terjadi? Ia tidur dengan kekasih orang lain? Gawat!
Nero mengangguk dengan muka bantalnya.
Ele menelan ludah dengan kasar saat melihat pria itu hanya mengenakan boxer memperlihatkan tubuh atletis serta tonjolan di bawah sana yang begitu menggoda.
"Bagaimana bisa ... jadi kita ... aku dan kau ..." suara Ele terbata-bata dan raut wajahnya panik. Ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
Nero tersenyum seraya berjongkok di hadapan Ele. "Kau lupa dengan kejadian tadi malam?"
Ele menggeleng, tentu dia tidak lupa. Dia sadar sepenuhnya saat dirinya merintih kesakitan ketika melepaskan kesuciannya. Tapi, sekarang dia menyesal. "A-aku harus pergi." Ele ingin beranjak berdiri tapi rasa sakit di bawah sana sangat menyiksa.
"Masih sakit?" Nero berdiri lalu membantu Ele merebahkan diri lagi di ranjang yang berantakan itu. "Istirahatlah, jangan banyak gerak."
"Nero, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku dan menghianati Nona Rusia itu?" Pertanyaan Ele membuat bibir Nero berkedut menahan tawa.
"Aku tidak berkhianat. Winters hanya sekretarisku tidak lebih!" jawab Nero tegas.
"Tapi, bagaimana bisa dia hamil?"
"Kau ini bodoh atau apa? Jelas dia bisa hamil karena memiliki suami!" balas Nero. Lama-Lama jengkel menghadapi gadis menyebalkan ini.
"Suami? Jadi dia memiliki suami?!" Kedua mata Ele membola sempurna, sangat syok mendengarnya.
"Kau pikir dia kekasihku, begitu?" Nero memincingkan mata.
"Ti-tidak!" Ele menggeleng, tidak mau mengakui segala praduganya selama ini. Namun, disisi lain perasaannya lega dan tenang setelah mengetahui kebenaran ini.
"Sekarang, kita bahas hubungan kita. Apakah benar kalau selama ini kau berpacaran dengan Nick semata karena ingin melupakan aku?" Nero mengalihkan pembicaraan.
"Hah? Kata siapa?"
"Katamu, tadi malam." Nero menjawab sambil menatap gadis itu lekat.
"Emh ... tidak," bohong Ele, masih gengsi mengakui perasaannya.
"Ayolah, tadi malam kau mencurahkan segala isi hatimu, hingga akhirnya kita bercinta." Ucapan Nero membuat Ele tak berkutik lagi, mau tak mau harus mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya, terlebih lagi pria itu sudah mengambil hal yang paling berharga darinya.
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜