Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
“S-Shen Yuexi?”
Gadis itu berdiri di ambang pintu, dia melangkah masuk menuju ranjang, terlukis di wajahnya penuh welas asih, lembut berbinar. Sementara tabir lampu menerangi ruangan, sinar terpatri langsung ke tatapan jelita yang sejuk menyayu. Walau senyumannya manis, Xiao Han cukup dibuat terkejut.
“Hehh ...” Jari lentik Shen Yuexi menenteng tote-bag, tas, hadiah ulang tahun pemberian Xiao Han. “Kenapa terkejut begitu sih, Han?”
Xiao Han membelalak, dia lupa dengan misi yang sistem berikan. “Harusnya aku yang bertanya!” katanya, cepat membentak. “Bagaimana sekolahmu? Kenapa kau ke Beijing?”
“Tenang saja, aku izin sakit untuk menjengukmu.” Saat mencapai kasur, Shen Yuexi duduk di tepi ranjang pasien. “Apa aku yang datang lebih awal lagi?”
Xiao Han menghela napas, bukan kali pertama Shen Yuexi datang mengulur tangan lebih dulu dari yang lain, dan entah bagaimana caranya, gadis itu selalu tahu inti permasalahan yang dirinya hadapi.
Teman masa kecil. Gadis yang disukai Xiao Han. Shen Yuexi. Berambut pirang panjang, dengan semburat warna coklat favoritnya pada setiap pakaian yang ia kenakan.
“Hahhh ... dari kita masih kecil ... kau yang selalu datang lebih dulu dari yang lain.” Xiao Han menepi ke sudut ranjang, bersandar pada pembatas kasur.
“Kau tak perlu memaksakan diri seperti itu, kita bukan anak kecil lagi, aku bisa mengurusi diriku sendi— ADADADADAHHH!” Shen Yuexi mencengkram kuat kaki Xiao Han yang cidera. “Sakit ... YUE ...!
Pipi Shen Yuexi mengembang, besar membulat. “Hentikan nada bicaramu yang seperti itu,” katanya sinis. “Aku ke sini karena aku ingin.” Cengkraman tangannya melemas, lalu dilepas, Xiao Han menghela napas lega.
“Ibumu akan datang, katanya kau memblokir WhatsApp-nya lagi?” lanjut Shen Yuexi. “Kau itu selalu saja melarikan diri dari kami ...” Ia membuka tote-bag. “Percayalah pada kami Han, walau hanya menemanimu sebentar waktu.”
Untuk sesaat, kalimat Shen Yuexi membuat Xiao Han mematung. Percaya. Sepenggal diksi itu terlontar masuk ke dalam kepalanya, tanpa sadar, irisnya yang lirih menatap mini hand-bag milik Shen Yuexi.
“Yue ... kau masih memakainya?” gumam Xiao Han. “Seharusnya kau sudah mengganti tasm— ADADADADAHHH!” Shen Yuexi mencengkram kaki cidera Xiao Han lagi, kali ini lebih kuat. “S-SAKIT ... YUE ... AMPUN ...!”
“Kamu ingin aku membuang tas pemberianmu satu-satunya ini?” Alis Shen Yuexi bertaut. “Kamu membenciku?”
“L-LEPASKAN DULU TANGANMU!” Xiao Han meringis. “B-BUKAN MAKSUDKU BEGITU!”
“Jangan berteriak di rumah sakit, bodoh!” Balas Shen Yuexi, tangan yang mencekik dilepaskan.
“Aduhhh kakiku ...” Xiao Han mengelus perban di kakinya, tanpa menekan. “... Kau tahu, ini bukan soal benci atau tidak, seharusnya aku memberimu hadiah ulang tahun yang lebih layak.”
“Apapun yang kau beri, akan aku pakai.” Shen Yuexi kembali merogoh tas, mengeluarkan beberapa camilan. “Ini untukmu ... kau harus sembuh ...”
Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan kain dan botol termos. Xiao Han hanya menilik gerak-gerik teman masa kecilnya itu. Pikirnya, apa yang akan dilakukan Shen Yuexi?
Kemudian, gadis itu mendekati meja di samping ranjang, menuangkan air dalam botol tumbler berbahan stainless steel. Uap panas menyeruak di saat air mengalir keluar. Tak hanya itu, setelahnya dia mencampur air minum yang dingin di atas meja.
Xiao Han hanya menatapnya, dirinya tahu, jika dia bertanya hanya akan dicekik kakinya lagi.
Ding!
[ Sistem Kepelatihan : Xiao Han — Trainee ]
[ Trainee : Talent Eye — 3 Skill Sisa |Terkunci| ]
Sistem itu kembali muncul dengan nada khasnya, Xiao Han lupa. Bahwa hidupnya telah berubah arah tuju semenjak layar itu muncul.
[ Talent Eye |Activated| ]
Dalam sekejap, pandangan Xiao Han membiru, timbul angka-angka melayang seperti data komputer dari matanya.
...***...
...PoV Xiao Han...
...***...
Aku terdiam, sistem mendadak muncul ketika aku menatap teman masa kecilku sedang melakukan sesuatu.
Sial ... aku benar-benar lupa.
[ Analisa Data Diri : Shen Yuexi ]
Tunggu! Tunggu! Tunggu!
Apa yang terjadi? Gawat, kalau muncul sekarang ... Shen Yuexi bisa tahu aku punya sistem.
[ Player Analysis ]
...\=~\=~\=~\=~\=...
...Nama: Shen Yuexi...
...Posisi: CB...
...Rating: S...
...Talent: Pematah kaki...
...Speed: 53...
...Shooting: 99...
...Dribbling: -10...
...Stamina: 90...
...Teamwork: 21...
...Potential: F...
...Growth Rate: F...
...\=~\=~\=~\=~\=...
Apa ini?
Kelopak mataku berkedut, layar menampilkan statistik diri yang terasa memang dirinya.
Aku tahu, ini terdengar aneh. Namun, aku tak bisa terkejut lagi akan hal absurd yang kurasakan dari layar itu.
“Han,” suara Shen Yuexi membuatku tersadar. “Kenapa kau melamun, sih?”
Aku mengerjap, seharusnya sistem ini membuatnya kaget.
“Yue ...” kataku lemah.
“Apa?” Shen Yuexi menaikan alis, seakan tidak terjadi apa-apa.
Apa hanya aku yang dapat melihat sistem ini?
Ahh ... persetanlah, jika hanya aku yang dapat melihatnya, lebih baik untuk diriku sendiri.
“Buka bajumu ...” Shen Yuexi menggenggam kain basah. “Kau harus bersih.”
“Hahh ... baiklah, kau cerewet padahal kau bukan kakakku.”
Aku hanya menurut, membuka pakaian pasien, telanjang dada. Tak ada rasa malu yang menyambutku, aku sudah terbiasa dengan sikapnya.
“Jangan mengeluh ..., memangnya dengan kondisi seperti itu kau bisa mandi?”
Shen Yuexi membasuh tubuhku, mengusap dada turun ke perut, kain itu basah tapi hangat meraba kulitku halus.
Sementara data statistik masih kupikirkan di lorong pikiran yang sempit ini. Sistem menganggap Shen Yuexi sebagai pesepak bola, nyatanya dirinya hanya seorang ahli bela diri karate.
Tampilan rating itu ... apa-apaan huruf S di baris data itu?
Sistem bahkan punya selera humor yang buruk.
Seakan dia bilang aku berkaki kaca, dan Shen Yuexi adalah seorang legenda tertinggi di dunia si kulit bundar, mungkin karena tendangannya yang kuat dan tak pernah meleset sekalipun di dunia persilatan.
“Aku ingat kau selalu mengajakku bermain bola.” ucap Shen Yuexi, lanjut membasuh punggungku. “Padahal aku perempuan, tapi kau menangis saat kutendang.”
“L-Lupakan itu Yue.” Aku tergagap di dada.
“Kau juga selalu mengejekku dulu karena bola tak bisa kurebut darimu.” Shen Yuexi menaruh topinya di kakiku.
“Kau selalu bangkit kembali, walau sudah merasakan sakit dari tendanganku,” gumam Shen Yuexi. “Lalu senyummu muncul lagi, menggiring bola dengan riangnya.” Shen Yuexi menghentikan basuhan kain tepat di punggung bahu. “Aku dengar dari dokter, kau tak bisa bermain bola lagi.”
Aku diam.
Diam yang sedikit panjang.
Sakit rasanya mendengar hal itu dari bibir Shen Yuexi sendiri. Hanya dia yang selalu mendukung segala mimpiku yang sulit, hanya dia seorang yang percaya aku akan menggapainya sebagai pemenang.
“Mungkin aku akan dimarahi ibu nanti.” Aku mendongak, menatap pijar lampu di atap ruang. “Karena aku tak mendengarkannya untuk berhenti bermain bola.
“Yue ...” Irisku beralih pandang, menuju gadis yang kusuka, di saat kain basah menuntaskan basuhan yang terakhir. “Aku takkan meninggalkan sepak bola.”
“T-Tapi, kakimu ...”
“Jika tak bisa menjadi pemain,” kataku pelan. “Aku akan menjadi pelatih ...”
Hanya itu yang kubisa, aku tak ingin membuang mimpiku. Karena sepak bola bagai udara yang selalu kuhirup di setiap langkah.
Dia membuatku hidup.
Dalam irama pertandingan di atas tanah yang lapang.
Untuk sesaat, ambang waktu seakan terhenti di ruang yang dingin ini.
Bayang kepalaku melompati garis masa, aku yang berdiri di sisi lapangan, melihat laga tim yang kuasuh sedang berjuang.
Sementara Shen Yuexi tersenyum. Sisi bibir yang dulu selalu aku lihat ketika kecil dulu saat bangkit setelah tendangannya.
“Aku percaya padamu, Han. Jika lelah, bersandarlah padaku, walau hanya sebentar.”
Satu kalimat yang aku dengar dari Shen Yuexi itu ... membuat dadaku sedikit melengang.
Ding!
[ Vision Tactical — Motivasi : 30 ]
Aku lupa, minimal 3 paragraf analisa itu.