Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Di Mansion Dominic yang megah di New York, suasana ruang keluarga utama berubah menjadi medan perang kata-kata. Ketegangan memuncak hingga ke titik didih. Alexander Dominic, ayah Archello, berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada. Matanya yang biasanya tenang kini memancarkan api otoritas yang tak tergoyahkan.
"Batalkan pertunangan itu!" suara Alexander menggelegar, memotong isak tangis palsu Beatrice. "Aku setuju Archello kembali pada kekasihnya. Aku setuju dia menikah dengan Lyodra."
Beatrice, ibu Archello, terlonjak dari kursinya. Wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu. "Apa kau gila, Alexander?! Seluruh dunia sudah tahu tentang kehamilan Oliver! Anak kita menghamili gadis itu, dan kau malah menyuruhnya lari ke pelukan wanita yang sudah menghilang selama empat tahun?"
Alexander mendengus kasar, menatap istrinya dengan pandangan meremehkan. "Tidak. Aku tidak percaya pada rumor sampah itu. Apa kau tidak mengenal anakmu sendiri, Beatrice? Archello adalah pria yang kaku, dingin, dan sangat menjaga kehormatannya. Dia tidak akan menyentuh wanita mana pun saat hatinya masih terkunci untuk orang lain. Ini adalah jebakan Cavanaugh, dan kau memakannya mentah-mentah!"
Nenek tertua yang duduk di kursi kebesarannya terdiam, matanya yang tajam mengamati perdebatan itu. Ia melihat keteguhan di mata putranya, Alexander. Setelah keheningan yang mencekam, ia akhirnya mengetukkan tongkat kayunya ke lantai.
Tok! Tok!
"Jika itu maumu, Alexander," suara nenek itu kembali terdengar, dingin namun kali ini memberikan celah. "Panggil Archello kemari. Bawa gadis Taylor itu ke hadapanku. Jika dia memang layak menjadi bagian dari Dominic, aku ingin melihatnya sendiri. Nikahkan mereka secepatnya jika kau berani menjamin bahwa nama baik keluarga ini tidak akan hancur karena skandal Oliver."
Alexander tidak menunggu perintah kedua. Ia tahu ini adalah kesempatan satu-satunya untuk menyelamatkan jiwa putranya. Tanpa memedulikan protes Beatrice yang histeris, Alexander langsung merogoh ponselnya dan menghubungi nomor Archello.
Di Chicago, Archello masih bersimpuh di pelukan Lyodra saat ponselnya bergetar. Ia sempat ragu untuk mengangkatnya, takut itu adalah ancaman maut lainnya dari sang nenek. Namun, saat melihat nama "Daddy" di layar, Archello menggeser tombol hijau dengan tangan gemetar.
"Dad?" bisik Archello, suaranya masih serak.
"Archello, dengarkan Daddy," suara Alexander terdengar mantap dan penuh perlindungan. "Bawa Lyodra pulang ke New York sekarang juga. Daddy sudah menyiapkan segalanya. Aku sudah bicara pada Nenek dan Mom-mu. Mereka setuju... kita akan melangsungkan pernikahanmu dengan Lyodra secepat mungkin."
Archello tertegun. Ia seolah tidak percaya pada pendengarannya. "Tapi... bagaimana dengan rumor Oliver? Nenek tadi bilang..."
"Biarkan Daddy yang mengurus kotoran Cavanaugh itu. Fokusmu sekarang adalah membawa istrimu pulang. Jangan buang waktu, jemput kebahagiaanmu, Son."
Archello menutup telepon dengan perasaan yang meledak-ledak. Ia segera memegang kedua bahu Lyodra dan menatapnya dengan binar mata yang sudah lama hilang. Sebuah senyum lebar—senyum pertama yang benar-benar nyata dalam empat tahun—terukir di wajahnya yang tampan.
"Ay! Daddy sudah menyiapkan pernikahan kita, sayang!" seru Archello, suaranya bergetar karena kegembiraan yang luar biasa. "Nenek dan Mommy sudah setuju! Kita akan menikah!"
Lyodra ternganga, matanya membelalak tak percaya. "Benarkah, Ello? Tapi... mana mungkin? Baru saja mereka mengancammu, dan berita tentang Oliver..."
"Hssssttt..." Archello meletakkan jari telunjuknya di bibir Lyodra, lalu menariknya kembali ke dalam pelukan yang sangat erat. "Jangan pikirkan itu lagi. Daddy yang menjamin semuanya. Kita akan menikah, Ly. Aku akan langsung memintamu pada Daddy-mu malam ini juga, dan kita akan langsung berangkat ke New York."
Archello segera menarik Lyodra keluar kamar, menuju ruang tamu di mana ayah Lyodra dan Edric masih duduk dengan wajah cemas. Tanpa basa-basi, Archello kembali bersujud di depan ayah Lyodra.
"Paman, aku memohon izinmu untuk membawa Lyodra ke New York malam ini juga. Ayahku sudah memberikan restunya, dan kami akan segera menikah. Aku berjanji akan menjaganya dengan seluruh hidupku," ucap Archello dengan penuh wibawa.
Ayah Lyodra menatap Archello, lalu menatap putrinya yang tampak bercahaya meski sisa air mata masih ada di pipinya. Ia menyadari bahwa memisahkan mereka hanya akan menambah penderitaan. "Pergilah, Archello. Bawa dia. Jika memang New York adalah tempat kalian harus bersatu, maka pergilah dengan restuku."
Edric ikut tersenyum, meski ada sedikit rasa sedih karena harus berpisah lagi dengan kakaknya. "Jaga Kak Lyodra, Ello. Jika kau menyakitinya lagi, aku sendiri yang akan menjemputnya pulang."
"Tidak akan pernah, Ed," jawab Archello mantap.
Malam itu juga, di bawah langit Chicago yang dingin, Archello dan Lyodra bersiap menuju bandara. Archello menggandeng tangan Lyodra dengan sangat posesif, seolah tidak ingin ada satu detik pun yang terlewat tanpa menyentuh wanitanya.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan harapan yang membumbung tinggi, tanpa menyadari bahwa di balik "persetujuan" keluarga besar Dominic, ada badai yang sedang disiapkan oleh keluarga Cavanaugh yang merasa terhina.
"Kita akan benar-benar bahagia, kan, Ello?" tanya Lyodra saat mereka berada di perjalanan menuju bandara.
Archello mencium punggung tangan Lyodra dengan lembut. "Aku akan memastikan itu, sayang. Tidak akan ada lagi air mata, tidak akan ada lagi perpisahan."
Namun, di dalam hatinya yang terdalam, Archello tahu bahwa perjalanan ke New York kali ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan perjalanan menuju medan perang terakhir demi cinta sejatinya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰