Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Aliansi Yang Berbahaya
Keputusan itu sudah terucap, dan begitu kata “baik” keluar dari bibir Lisa, suasana di dalam ruangan seolah berubah menjadi lebih dalam dan lebih serius, bukan lagi sekadar percakapan antara dua orang asing yang saling penasaran, melainkan awal dari sebuah hubungan yang tidak memiliki definisi jelas, sesuatu yang berada di antara kerja sama, permainan kekuasaan, dan kemungkinan konflik yang bisa muncul kapan saja jika salah satu dari mereka melangkah terlalu jauh.
Lisa berdiri dengan tenang di dekat mejanya, menatap Devan tanpa menunjukkan keraguan, meskipun di dalam pikirannya ia sudah mulai menghitung ulang semua kemungkinan yang bisa terjadi setelah ini, karena ia tahu bahwa menerima seseorang seperti Devan ke dalam rencananya bukanlah keputusan kecil, dan tidak ada jalan untuk kembali setelah ini, lalu dengan nada yang tetap terkendali ia berkata, “Kalau begitu kita harus menetapkan batasan,” yang langsung membuat Devan sedikit mengangkat alisnya seolah tertarik dengan arah pembicaraan tersebut.
“Batasan seperti apa?” tanya Devan dengan suara rendah.
Lisa berjalan perlahan mendekat, lalu berhenti dengan jarak yang cukup untuk tetap menjaga kendali, sebelum menjawab dengan jelas, “Kamu tidak ikut campur tanpa izinku, kamu tidak mengambil keputusan atas namaku, dan yang paling penting… kamu tidak mengganggu rencanaku,” setiap kata diucapkan dengan tekanan yang halus namun tegas, menunjukkan bahwa meskipun ia menerima kerja sama ini, ia tetap menjadi pihak yang memegang kendali atas permainannya sendiri.
Devan mendengarkan tanpa memotong, matanya tetap tertuju pada Lisa, lalu setelah beberapa detik ia berkata dengan tenang, “Dan sebagai gantinya?” seolah ia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa imbalan yang jelas, membuat Lisa langsung menjawab tanpa ragu, “Aku akan memberimu cukup informasi untuk tetap tertarik, tapi tidak cukup untuk membuatmu mengendalikan semuanya,” sebuah jawaban yang terdengar seperti kompromi, tetapi sebenarnya adalah cara Lisa untuk tetap menjaga jarak dan kekuasaan.
Devan tersenyum tipis, sebuah reaksi yang jarang terlihat darinya, lalu ia mengangguk pelan dan berkata, “Adil,” sebelum menambahkan dengan nada yang sedikit lebih dalam, “untuk sekarang,” kalimat terakhir itu tidak terdengar seperti ancaman, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa kesepakatan ini bisa berubah kapan saja tergantung situasi, dan Lisa memahami itu dengan sangat jelas.
Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena masing-masing sedang menyusun langkah berikutnya di dalam kepala mereka, hingga akhirnya Lisa memecah keheningan dengan berkata, “Kalau begitu, kamu sudah dapat apa yang kamu mau, sekarang kamu bisa pergi,” nada suaranya kembali ringan, seolah mencoba mengakhiri percakapan dengan cara yang sederhana, namun Devan tidak langsung bergerak, ia justru menatap Lisa lebih lama sebelum berkata, “Belum,” membuat Lisa sedikit mengernyit karena jelas ia tidak menyukai hal yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Apa lagi?” tanya Lisa dengan nada yang masih tenang.
Devan melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka semakin sempit, lalu berkata dengan suara rendah, “Aku ingin tahu siapa targetmu,” sebuah pertanyaan yang langsung menyentuh inti dari rencana Lisa, membuat suasana kembali menegang karena ini adalah informasi yang tidak bisa ia berikan begitu saja, bahkan kepada seseorang yang baru saja ia ajak bekerja sama.
Lisa tidak langsung menjawab, ia justru menatap Devan dengan lebih dalam, mencoba memastikan apakah pria ini benar-benar siap mendengar jawaban yang sebenarnya, lalu akhirnya ia berkata dengan nada yang lebih pelan namun jelas, “Seseorang yang pernah menghancurkan hidupku,” kalimat itu singkat, tetapi cukup untuk memberikan gambaran tanpa membuka terlalu banyak detail.
Devan tidak terlihat terkejut, justru sebaliknya ia tampak semakin tertarik, lalu ia bertanya lagi, “Lebih dari satu?” dan Lisa langsung menjawab tanpa ragu, “Dua,” kemudian menambahkan dengan sedikit jeda, “dan keduanya sangat dekat denganku,” yang membuat mata Devan sedikit menyempit, bukan karena kaget, tetapi karena ia mulai memahami kompleksitas situasi yang sedang dihadapi Lisa.
“Pacar?” tanya Devan dengan nada datar.
Lisa tersenyum tipis.
“Lebih buruk,” jawabnya pelan.
Devan tidak bertanya lebih jauh, seolah ia sudah cukup mengerti bahwa ini bukan sesuatu yang sederhana, lalu ia mengangguk pelan dan berkata, “Baik, aku tidak akan bertanya lagi untuk sekarang,” yang membuat Lisa sedikit terkejut karena ia tidak menyangka Devan akan mundur secepat itu dari pertanyaan yang begitu penting.
Namun sebelum Lisa sempat mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba bergetar di tangannya, dan saat ia melihat layar, nama yang muncul langsung membuat suasana di dalam dirinya berubah.
Clara.
Lisa menatap layar itu beberapa detik, lalu tanpa mengalihkan pandangan dari Devan, ia mengangkat panggilan tersebut, seolah ingin menunjukkan sesuatu secara tidak langsung.
“Halo, Clara,” ucap Lisa dengan suara yang kembali lembut.
Di seberang sana, suara Clara terdengar ceria seperti biasa, “Lisa, kamu lagi sibuk? Aku tadi lewat dekat kantor kamu, jadi kepikiran mau ketemu.”
Lisa melirik Devan sekilas sebelum menjawab, “Kebetulan aku memang masih di sini.”
“Serius? Wah, aku naik ke atas ya,” kata Clara dengan antusias.
Lisa tersenyum tipis.
“Iya, aku tunggu,” jawabnya singkat sebelum menutup telepon.
Setelah itu, ia menatap Devan kembali.
“Sepertinya kamu harus pergi sekarang,” katanya dengan nada santai.
Namun Devan tidak langsung bergerak.
“Dia salah satu dari mereka?” tanyanya langsung.
Lisa terdiam sejenak.
Lalu…
Ia mengangguk pelan.
“Iya.”
Jawaban itu membuat suasana kembali berubah.
Devan menatap Lisa beberapa detik lebih lama, lalu akhirnya berkata dengan nada yang lebih rendah, “Kalau begitu… aku akan tetap di sini.”
Lisa mengernyit.
“Untuk apa?”
Devan menjawab dengan tenang, “Aku ingin melihat bagaimana kamu bermain.”
Kalimat itu membuat Lisa sedikit tersenyum.
Senyuman yang penuh arti.
“Baik,” katanya pelan.
Beberapa menit kemudian…
Pintu diketuk.
Dan tanpa menunggu lama, pintu terbuka.
Clara masuk dengan senyum cerah, langkahnya ringan, seolah tidak membawa beban apa pun di dunia ini.
Namun saat matanya bertemu dengan sosok pria yang berdiri di dalam ruangan…
Langkahnya terhenti.
Ekspresinya berubah.
Hanya sesaat.
Namun cukup jelas.
“Lisa…” katanya pelan, lalu melirik ke arah Devan, “ini…?”
Lisa berdiri dengan tenang.
Lalu menjawab dengan nada santai yang seolah tidak memiliki arti apa-apa.
“Teman.”
Namun di balik satu kata itu…
Permainan yang lebih besar baru saja dimulai.
Dan kali ini…
Bukan hanya Arvin dan Clara yang akan terjebak.
Tetapi juga seseorang yang mungkin tidak pernah mereka perhitungkan sebelumnya. 🔥