Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Terbangkitnya Yǐng dan Fēng
Darah menetes dari sudut mulut Gu Yanqing, merah kehitaman di cahaya pagi yang meredup. Tubuh tua itu berlutut di batu meditasi, tongkat kayunya patah di tangan, empat kristal di punggungnya berputar liar—tapi terlalu lambat. Terlalu lemah .
"Kakek!" teriak Fengyin, suaranya pecah. Dia berlari dari tempat persembunyiannya di mulut gua, melupakan perintah, melupakan segalanya kecuali tubuh yang jatuh di depannya.
Xie Wuyou berdiri di atas mereka, bayangan-bayangan yang diciptakannya masih merayap di dinding gua seperti ular-ular hitam. Enam kristal di punggungnya berputar dengan sempurna, tanpa ampun, tanpa lelah .
"Sentimental," kata Xie Wuyou, suaranya datar seperti pengumuman kematian. "Gu Yanqing selalu sentimental. Melindungi anak kecil yang bahkan bukan darahnya. Mati untuk orang yang bahkan tidak akan mengingatnya dengan benar."
Dia mengangkat tangan, dan Yǐng—kristal hitam yang memakan cahaya—bersinar terang.
"Tapi itu adalah cara yang tepat untuk berakhir," lanjut Xie Wuyou. "Dia selalu berpikir pengorbanan adalah jawaban. Bahwa dengan memberikan dirinya, dia bisa mengubah dunia. Tapi dunia tidak berubah, Gu Yanqing. Dunia hanya... terus berputar. Dan aku terus hidup."
Fengyin memeluk tubuh kakeknya—tubuh yang terlalu ringan, terlalu kosong . Jantung Gu Yanqing masih berdetak, tapi lemah. Sangat lemah. Seperti lilin di tengah badai.
"Fengyin..." bisik Gu Yanqing, suaranya hampir tidak terdengar. *"Lari. Gunung... ada jalur rahasia di belakang altar. Aku... aku menunjukkan padamu sekali. Ingat?"
"Aku ingat," kata Fengyin, tapi dia tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Sesuatu di dalamnya—sesuatu yang telah tumbuh selama tiga belas tahun, yang telah dibekukan oleh disiplin dan latihan—mulai meleleh . *"Tapi aku tidak akan meninggalkanmu."
"Kamu harus..." Gu Yanqing batuk, darah mengenai tangan Fengyin. Panas. Terlalu panas. *"...kamu harus hidup. Itu... itu yang terpenting."
Xie Wuyou tertawa, tertawa pendek yang tidak ada humor. "Manis. Sangat manis. Tapi tidak perlu diputuskan, anak kecil. Kalian berdua akan mati hari ini. Gu Yanqing karena usia dan cederanya. Dan kamu..." dia menatap Fengyin, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang hampir seperti... pengenalan . "...kamu karena aku ingin melihat apa yang ada di dalammu. Apa yang membuat Gu Yanqing rela mati."
Dia menggerakkan tangan, dan bayangan dari Yǐng merambat ke arah Fengyin. Tidak cepat—tidak perlu cepat. Seolah-olah Xie Wuyou ingin menikmati momen ini. Ingin melihat ketakutan .
Tapi Fengyin tidak takut.
Sesuatu yang lain menggantikan ketakutan. Sesuatu yang lebih tua, lebih dalam . Sesuatu yang telah ada sejak malam di Kampung Awan Kasih, sejak api, sejak darah, sejak sumpah yang dibuat di bawah pohon suci yang hancur.
Amarah .
Bukan amarah yang membara—tapi amarah yang membeku . Yang dingin. Yang jelas . Yang melihat segalanya dengan tajam dan tahu persis apa yang harus dilakukan.
Fengyin berdiri. Perlahan, meletakkan tubuh Gu Yanqing di tanah dengan lembut. Kemudian berbalik, menghadapi Xie Wuyou, dengan tangan kosong dan tubuh yang belum matang dan jiwa yang... meledak .
"Kamu mengambil keluargaku," kata Fengyin, suaranya tidak tinggi, tidak keras. Tapi menggema . Seolah-olah bukan hanya dia yang berbicara, tapi sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang baru saja terbangun . "Kamu mengambil desaku. Kamu mengambil kakekku. Dan sekarang..." dia melangkah maju, satu langkah, "...kamu ingin mengambil segalanya yang tersisa."
Xie Wuyou mengerutkan dahi. Kristal-kristalnya berputar sedikit lebih cepat—tidak karena takut, tapi karena... penasaran .
"Apa yang kamu lakukan, anak kecil?"
Fengyin tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab. Karena sesuatu sedang terjadi padanya. Sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, tidak bisa dihentikan, tidak bisa dipahami .
Enam titik cahaya di dalam dadanya—yang selama ini hanya berdenyut pelan, yang dilarang untuk dipanggil, yang dikunci —meledak menjadi nyala.
Kristal muncul.
Bukan dari punggung—Dàojiàn-nya belum sepenuhnya terbuka, tubuhnya terlalu muda, terlalu kecil . Tapi dari udara . Dari tanah. Dari api yang tidak ada. Dari air mata yang jatuh.
Enam kristal. Berputar tidak dengan sempurna, tapi dengan keganasan . Dengan kebutuhan . Dengan sesuatu yang lebih tua dari teknik, lebih tua dari disiplin, lebih tua dari pengendalian .
Fēng dan Yǐng—Angin dan Bayangan—adalah yang paling kuat. Yang paling liar . Yang paling hungry .
Mereka meluap.
Angin datang bukan sebagai hembusan—tapi sebagai pisau . Ribuan pisau tak terlihat yang memotong batu, memotoh zirah, memotoh bayangan itu sendiri. Gua bergemuruh, atap mulai runtuh, tapi angin itu tidak peduli. Angin itu hanya mengikuti . Mengikuti keinginan Fengyin untuk menghancurkan, untuk melindungi , untuk membuat semua ini berhenti .
Dan Yǐng—Yǐng datang sebagai kekosongan yang memiliki bentuk . Seolah-olah bayangan-bayangan yang diciptakan Xie Wuyou adalah lilin, dan Yǐng Fengyin adalah api yang memakan mereka. Bukan memerangi mereka—tapi menyerap mereka. Membuat mereka menjadi bagian dari dirinya sendiri. Membuat mereka... tidak ada .
Xie Wuyou berteriak.
Bukan karena sakit—tentu saja tidak, pisau angin bahkan tidak menggores zirahnya, dan Yǐng-nya terlalu kuat untuk diserap begitu saja. Tapi karena terkejut . Karena pengakuan .
"Ini..." dia menatap Fengyin dengan mata yang melebar, yang kehilangan ketenangan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. "Ini bukan Jingjie Universal biasa. Ini adalah... Tiānzé Zhě sejati. Yang dipilih sejak lahir. Yang..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena Fengyin bergerak.
Bukan dengan teknik—tidak ada teknik yang diajarkan Gu Yanqing untuk ini. Bukan dengan strategi—tidak ada pikiran yang cukup cepat untuk merencanakan. Tapi dengan insting . Dengan kebutuhan . Dengan sesuatu yang mengalir dari jiwanya ke kristal-kristalnya tanpa filter, tanpa kendali .
Fēng mengangkatnya ke udara, membawanya ke Xie Wuyou dengan kecepatan yang bahkan mata Dàshī tidak bisa ikuti. Yǐng merangkulnya, membuatnya menjadi satu dengan bayangan-bayangan di gua, membuatnya tidak terlihat bahkan saat dia terlihat.
Dan ketika dia tiba di depan Xie Wuyou—ketika tangannya yang kecil, yang belum terlatih sepenuhnya, yang masih gemetar oleh amarah dan kesedihan—mencapai dada musuhnya...
...dia mendorong .
Bukan dengan otot. Tapi dengan segalanya. Dengan Fēng yang berputar liar di telapak tangannya. Dengan Yǐng yang berdesir di ujung-ujung jarinya. Dengan Shuǐ yang mengalir dari matanya yang berair. Dengan Huǒ yang membara di dadanya yang hancur. Dengan Tǔ yang menopangnya meski dunia runtuh. Dengan Guāng yang... yang bersinar , meski dia tidak mengerti dari mana.
Ledakan itu memisahkan mereka.
Xie Wuyou terbang ke belakang, menembus dinding gua, menembus batu, menembus gunung itu sendiri. Terbang keluar ke udara terbuka, ke cahaya matahari yang menyilaukan, dengan enam kristal yang berputar liar untuk menstabilkan dirinya.
Dan Fengyin—
Fengyin jatuh.
Bukan karena Xie Wuyou menyerang balik—musuh itu terlalu sibuk menyelamatkan diri. Tapi karena dirinya sendiri . Karena tubuhnya. Karena apa yang baru saja dia lakukan.
Enam kristal. Enam elemen. Enam jalur energi yang dibuka serentak, tanpa persiapan, tanpa izin tubuhnya .
Dia merasakannya—merasakan dengan jelas—saat jatuh. Dàojiàn-nya, yang baru saja terbuka sepenuhnya, mulai retak . Bukan metafora. Bukan penggambaran. Retakan nyata, di jalur-jalur energi yang seharusnya mengalir seumur hidup, yang sekarang... hancur. Satu per satu.
Fēng pergi pertama. Bukan mati—tapi terlepas . Kembali ke dunia, ke udara, ke tempat asalnya. Tidak lagi miliknya.
Shuǐ mengikut. Kemudian Huǒ. Kemudian Tǔ. Kemudian Guāng.
Hanya Yǐng yang bertahan. Yang terakhir masuk, yang pertama mengenalinya, yang... paling setia . Atau mungkin yang paling lapar . Karena Yǐng adalah elemen yang paling mengerti kehancuran. Yang paling mengerti kehilangan .
Fengyin mendarat di tanah—tanah gua yang hancur, yang berdebu, yang dingin . Dia tidak merasakan sakit. Tidak lagi. Hanya... kosong . Seolah-olah tubuhnya adalah rumah yang penghuninya baru saja pergi, meninggalkan furnitur dan dinding tapi tanpa jiwa .
Dia merasakan seseorang mendekat. Xie Wuyou, mungkin. Kembali untuk menyelesaikan. Kembali untuk mengambil apa yang tersisa.
Tapi tidak. Yang mendekat adalah... ringan . Terlalu ringan untuk Xie Wuyou. Terlalu kenal .
Gu Yanqing.
Tubuh tua itu merangkak—benar-benar merangkak, kaki kanannya patah, satu tangan menahan luka di perut yang mengeluarkan sesuatu yang tidak seharusnya keluar—tapi masih bergerak. Masih hidup . Masih berusaha .
"Fengyin..." bisiknya, suaranya hampir tidak ada. *"Lihat... lihat aku..."
Fengyin mencoba. Tapi penglihatannya kabur. Dunia menjadi... tipis . Seolah-olah dia melihat dari balik kain basah, dari balik air terjun, dari balik batas antara di sini dan di sana.
"Kekuatanmu..." Gu Yanqing batuk, darah menutupi bibirnya. *"...terlalu besar. Tubuhmu... terlalu kecil. Aku... aku bilang padamu. Aku bilang... jangan panggil... jangan panggil semuanya..."
"Aku tahu," bisik Fengyin. Dia ingin menangis. Tapi air mata juga perlu energi, dan energinya telah pergi. *"Aku tahu, Kakek. Tapi... aku tidak bisa... aku tidak bisa membiarkannya..."
"Aku tahu," kata Gu Yanqing, dan di suaranya ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang hampir seperti... lega . "Aku tahu. Dan aku... aku bangga. Kamu melindungi. Seperti yang kau janjikan. Seperti yang... yang kau pilih."
Dia meraih sesuatu di lehernya—sesuatu yang selalu dipakai, yang tidak pernah ditunjukkan pada Fengyin. Sebuah liontin. Sederhana. Kayu tua dengan ukiran yang hampir terhapus.
"Ini..." Gu Yanqing meletakkannya di tangan Fengyin yang dingin. *"...ini akan menjagamu. Tidak... tidak di sini. Tapi di sana. Di tempat... tempat kamu akan pergi."
"Tempat apa?" tanya Fengyin, tapi dia sudah tahu jawabannya. Sudah merasakannya. Retakan terakhir di Dàojiàn-nya, yang membuat Yǐng juga akhirnya pergi .
Kematian.
Bukan akhir. Bukan kehancuran total. Tapi... transisi . Sesuatu yang diajarkan Gu Yanqing, sesuatu yang selalu ada di tepi pengajaran Wǔshū: bahwa jiwa tidak hancur. Bahwa energi tidak hilang. Bahwa sesuatu selalu tersisa.
"Yuèyǐng Pèi..." bisik Gu Yanqing, suaranya semakin jauh, seolah-olah berbicara dari dasar sumur. *"...akan menunggumu. Aku... aku akan menunggumu. Di sana. Di dalam... di dalam bayangan yang menjadi cahaya..."
Tangan tua itu menutupi tangan muda yang dingin. Sesaat. Dua detak jantung yang tidak selaras—satu terlalu cepat dalam kepanikan, satu terlalu lambat dalam kehancuran.
Kemudian, Gu Yanqing berhenti.
Bukan mati—tidak sepenuhnya. Fengyin bisa merasakannya. Jiwa kakeknya, yang selama ini begitu kuat, begitu nyata , mulai melepas . Melepas dari tubuh yang rusak. Melepas dari dunia ini. Melepas ke... tempat lain.
Dan Fengyin mengikut.
Bukan karena ingin. Tapi karena harus . Karena tubuhnya telah hancur. Karena Dàojiàn-nya telah retak. Karena keenam elemen, yang baru saja dipanggil dengan begitu liar, telah mengambil harga mereka.
Dia merasakan dirinya menipis. Menyebar. Menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar—angin yang bertiup, air yang mengalir, api yang berkobar, tanah yang menopang, cahaya yang menerangi, bayangan yang... yang menunggu .
Dan di tengah penyebaran itu, di tengah kehilangan diri , dia merasakan sesuatu yang menahan. Sesuatu yang mengikat .
Yuèyǐng Pèi. Liontin kayu tua yang diberikan Gu Yanqing. Yang hangat meski seharusnya dingin. Yang berdenyut meski seharusnya mati. Yang... menyimpan .
Menyimpan bagian dari dirinya. Bagian yang tidak siap pergi. Bagian yang masih punya tugas . Yang masih punya janji .
Dia merasakan benih. Benih yang tertanam dalam liontin. Benih yang akan tumbuh. Yang akan menunggu .
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun untuk mencari tubuh baru. Untuk berkumpul kembali. Untuk kembali .
Dan kemudian—kemudian—cerita akan berlanjut.
Tapi untuk sekarang, di gua yang hancur di Gunung Puncak Angin, dua tubuh terbaring. Dua jiwa melepas. Dua kehidupan yang berakhir.
Satu dengan nama Gu Yanqing. Satu dengan nama Chen Fengyin.
Keduanya, dalam cara mereka sendiri, melindungi .
Di luar, di lereng gunung, Xie Wuyou berdiri dengan enam kristal yang berputar tidak stabil. Menatap ke arah gua yang runtuh. Menatap ke arah di mana sesuatu yang salah baru saja terjadi.
Sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Sesuatu yang... mengancam .
"Tiānzé Zhě," bisiknya, dan untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, suaranya gemetar. "Yang sejati. Yang bisa... yang bisa melukai aku."
Dia menatap tangannya—tangan yang, meski dilindungi oleh enam elemen, masih berdarah. Masih sakit . Dari sentuhan anak laki-laki berusia delapan belas tahun yang belum matang.
"Tapi dia mati," kata Xie Wuyou pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan. *"Tubuhnya hancur. Dàojiàn-nya retak. Dia tidak bisa... dia tidak bisa kembali."
Tapi dia tahu. Di dalam, di tempat yang bahkan enam elemen tidak bisa sentuh, dia tahu .
Tiānzé Zhě tidak mati seperti orang lain. Mereka melepas . Mereka menunggu . Mereka kembali .
Dan ketika Chen Fengyin kembali—ketika dia matang, ketika dia siap—dia akan datang untuk mengambil semuanya yang diambil darinya.
Keluarga. Desa. Guru. Kekuatan. Kehidupan .
Xie Wuyou berbalik. Berjalan pergi dari gunung ini, dari gua ini, dari kenangan ini. Dengan luka yang belum pernah dimiliki sejak pengkhianatan tiga puluh tahun lalu.
Dengan takut .
(Bersambung...)