Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di kediaman perdana mentri, Tuan Lu duduk di meja kerjanya dan terlihat bahunya bergetar naik turun, Tuan Lu terisak saat membaca surat yang di kirim oleh putrinya.
Tuan Lu menangis antara sedih dan bahagia yang bercampur jadi satu, Tuan Lu sedih karna putrinya memutuskan untuk tetap tinggal di kerajaan timur, dengan alasan ingin sekolah beladiri di sana, dan bahagia karna putrinya baik baik saja, bahkan memiliki keluarga angkat yang sangat menyayanginya.
''Mingyu, apa kamu sudah tidak mau sama Ayah lagi?'' gumam Tuan Lu sembari terkekeh kecil.
Saat ini Tuan Lu hanya bisa pasrah menerima keputusan putrinya, Tuan Lu akan mendukung apapun yang ingin di lakukan oleh Mingyu, asalkan putrinya baik baik saja.
''Tuan besar''
Tuan Lu mengangkat kepalanya, dan melihat wajah panik pelayan setia putrinya.
''Xiao Fei, ada apa?'' tanya Tuan Lu.
Xiao Fei perlahan berjalan ke arah majikannya, dan berhenti di sebrang meja kerjanya.
''Hiks,, Tuan besar, benarkah Nona tidak akan kembali?'' tanya Xiao Fei sembari meletakkan surat dari Lu Mingyu di atas meja.
Tuan Lu menganggukkan kepalanya.
''Karna putriku merasa nyaman tinggal di sana, jadi aku hanya bisa menerimanya'' ucap Tuan Lu.
Melihat Tuannya yang pasrah, jadi Xiao Fei juga hanya bisa mengikutinya, lagi pula kalau Nonanya kembali juga untuk apa, pria yang berstatus suaminya pasti juga akan mencampakkan Nonanya, karna cinta pertamanya sudah kembali.
Beberapa hari kemudian, orang orang yang sedang berlalu lalang di pasar ibu kota di buat kaget, saat melihat Jendral Rong dan beberapa bawahannya lewat menggunakan kudanya masing masing, karna sejak istrinya meninggal Jendral Rong belum pernah kembali ke Ibu Kota.
Di antara orang orang yang berlalu lalang, terlihat Xiao Fei menatap kesal pada Jendral Rong, menurutnya Jendral Rong yang menjadi penyebab Nonanya nekat pergi ke kerajaan timur dan kini Nonanya malah memilih tinggal di sana.
''Pasti Jendral Rong kembali ke Ibu kota untuk menemui Nona Gu Nian'' tuduh Xiao Fei dengan kesal.
Han Bing yang berada di belakang Jendral Rong, tidak sengaja melihat keberadaan Xiao Fei, dan yang membuat Han Bing penasaran, adalah expresi kesal yang tercetak jelas di wajahnya Xiao Fei.
"Kenapa dengan wanita itu?, apa ada yang membuatnya kesal " batin Han Bing.
Beberapa saat kemudian Jendral Rong sudah sampai di tempat tujuannya saat pergi ke Ibu kota, ya itu istana Ibu suri.
''Kembalilah ke rumahku, aku akan masuk sendiri'' perintah Jendral Rong.
''Baik Pangeran'' sahut Han Bing.
Jendral Rong lalu melangkah masuk ke dalam istana Ibu suri sendirian, dan saàt sampai di dalam ternyata Ibu suri sudah menunggunya.
''Salam hormat untuk Ibu suri'' ucap Jendral Rong dengan sopan.
Ibu Suri mengulum senyum, lalu mengambil cangkir teh yang di bawa oleh pelayan setianya. ''Ternyata kamu masih sudi menemui wanita tua ini'' sindiri Ibu Suri sembari menyesap teh.
Jendral Rong diam saja tidak menggubris sindiran Ibunya.
''Bagaimana kabar Ibu?'' tanya Jendral Rong.
''Seperti yang kamu lihat, Ibumu ini masih hidup'' sahut Ibu Suri ketus.
Jendral Rong menghela nafasnya, dia paham kalau Ibunya sedang kesal dengannya, lalu Jendral Rong berjalan mendekat dan memijit bahu sang Ibu.
''Maafkan Cheng, karna sudah membuat Ibu marah'' ucap Jendral Rong, walaupun nada bicaranya datar, namun terdengar sangat tulus.
Ibu Suri tersenyum sembari mengusap punggung tangan Jendral Rong.
''Iya ya, Ibu memaafkanmu'' ucap Ibu Suri.
''Terimakasih Ibu''
''Cheng, kemarin wanita itu ke sini'' ujar Ibu Suri.
Jendral Rong yang sedang memijit bahu Ibu Suri seketika berhenti, namun hanya sebentar lalu dia melanjutkannya kembali.
''Untuk apa dia ke sini?'' tanyanya.
''Hanya untuk memberikan hadiah buat Ibu'' jawab Ibu Suri.
Jendral Rong diam saja, dan tidak ada niatan untuk bertanya lebih dalam tentang kedatangan Gu Nian ke istana Ibunya.
''Cheng, duduklah'' pinta Ibu Suri.
Jendral Rong dengan patuh duduk di kursi yang ada di depan sang Ibu.
''Cheng, bolehkah Ibu bertanya sesuatu padamu?'' tanya Ibu Suri, yang di angguki oleh Jendral Rong.
''Gu Nian sudah kembali, apa kamu akan menikahinya?, seperti harapanmu selama ini'' tanya Ibu Suri to the point.
Jendral Rong terdiam mendengar pertanyaan sang Ibu, dulu dirinya memang selalu berharap bisa menikah dengan Gu Nian jika dia sudah kembali ke Kaisaran, namun sejak Mingyu meninggal entah harapan yang menggebu gebu itu tiba tiba tidak lagi ia rasakan, dan anehnya lagi saat bertemu dengan Gu Nian kemarin, tidak ada apapun lagi yang di rasakannya di hatinya terhadapa Gu Nian.
"Bu, istriku baru saja meninggal, menurutku itu tidak baik kalau aku menikah lagi sekarang" ucap Jendral Rong.
Ibu Suri dan pelayannya saling tatap dengan tersenyum, saat mendengar perkataan Jendral Rong.
''Jadi kamu akan tetap menikah dengan Gu Nian?'' tanya Ibu Suri.
''Cheng tidak tahu'' jawab Jendral Rong datar.
Karna tidak ingin pertanyaan Ibu Suri tentang Gu Nian semakin panjang, Jendral Rong memilih bangkit dan berpamitan.
''Ibu, kalau tidak hal yang ingin Ibu tanyakan, Cheng mohon pamit, karna masih ada urusan" pamit Jendral Rong.
Ibu Suri menganggukkan kepalanya, dia paham kalau putranya sepertinya tidak ingin membahas prihal Gu Nian.
"Iya pergilah"
Jendral Rong langsung bergegas pergi meninggalkan istana Ibu Suri.
Sedangkan di kerjaan timur, Qin Lu yang sudah resmi masuk ke sekolah kerajaan, dia di tempatkan satu kelas dengan anak anak para pejabat dan beberapa anggota keluarga kerjaan.
Qin Lu duduk di deretan kursi paling belakang, dan kebetulan murid yang duduk di depannya, adalah adik bungsu Pangeran Duan ya itu Pangeran Ke empat, dan kursi di samping Qin Lu adalah putri perdana mentri yang bernama Zi Zi.
Setelah kelas usai Qin Lu langsung merebahkan kepalanya di atas meja dan terlelap, karna sejak tadi dia sudah menahan kantuknya.
''Lu Lu'' panggil Zi Zi sembari menggoyangkan lengan Qin Lu.
Qin Lu membuka matanya sedikit. ''Nona Zi Zi, ada apa?'' tanyanya dengan suara serak.
''Ayo ke lapangan, nanti kita telat'' ajak Zi Zi.
''Ngapain ke lapangan?'' tanya Qin Lu dengan kening mengerut.
''Tentu latihan memanah, ayo cepa bangun'' ajak Zi Zi menarik tangan Qin Lu agar bangun.
''Iya ya sabar''
Di sepanjang lorong menuju lapangan, Zi Zi terus menarik tangan Qin Lu.
''Lu Lu ayo cepat, kita jangan samapi telat, pelatih kita itu Pengawal Zu'' ucap Zi Zi.
''Memangnya kenapa kalau pelatih kita Pengawal Zu?'' tanya Qin Lu dengan malas.
''Tentu kita akan di awasi langsung oleh Pangeran Duan'' jawab Zi Zi.
''Apa!!'' pekik Qin Lu terkejut.
Zi Zi terkekeh melihat keterkejutan Qin Lu.
''Kalau kita telat, kita pasti akan di hukum'' jelas Zi Zi.
"Kenapa harus Pangeran Duan?" gumam Qin Lu.
"Tentu karna dia pemilik sekolahan ini" bukan Zi Zi yang menyahut, melainkan Pangeran ke empat, yang sejak tadi berjalan di belakang mereka.
''Whatt!!'' pekik Qin Lu semakin terkejut.
''Sudah tidak usah terkejut seperti itu, sebaiknya kita cepat ke lapangan'' ucap Zi Zi menarik kembali lengan Qin Lu yang terlihat depresi.
"Ah,, aku pikir setelah berhasil membantu Gu Nian pergi, aku tidak ingin berurusan dengan Pangeran Duan lagi, tapi apa?, sekarang aku malah masuk ke sekolahan miliknya'' batin Qin Lu menyesal.
"Mingyu kamu memang bodoh, kenapa tidak cari tahu dulu sih, main masuk sekolah saja" batin Qin Lu menggerutu.
Sebenarnya tujuan awal Qin Lu masuk ke sekolah kerajaan hanya untuk mencari hiburan saja, karna Qin Lu berpikir kehidupan di sekolah zaman dulu atau di zaman moderen pasti tidak ada bedanya.
dulu saja sering nyindir nyindir karna merasa dekat dgn JendrAl rong
sekarang tau kan udah kena imbasnya
selain jendral rong
pengawal hanbin dan Xiao Fei harus bisa main senjata pintol juga🤔🤔
dari namanya itu adalah negara barat
William dan eleanor