NovelToon NovelToon
Hush, My Love

Hush, My Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pagi itu, St. Jude’s Academy tampak lebih meriah dari biasanya. Spanduk besar bertuliskan ucapan selamat atas kemenangan tim olimpiade matematika terpampang di aula utama.

Nama Luciano Russo tercetak dengan huruf emas yang berkilau, menegaskan dominasinya sebagai jenius kebanggaan sekolah. Seluruh gedung seolah bergetar oleh pujian dan tepuk tangan, merayakan sang pangeran yang baru saja pulang membawa piala.

Namun, di dalam kelas sejarah yang tenang, atmosfernya justru terasa kontras.

Luciano duduk di singgasananya di bangku paling depan. Tidak ada raut bangga yang berlebihan di wajahnya. Ia tampak seperti biasa—dingin, kaku, dan efisien. Saat Paris melangkah masuk ke kelas, tidak ada tatapan cinta yang menyambutnya. Luciano bahkan tidak menoleh satu inci pun.

Bagi mata publik, Paris Desmon hanyalah satu lagi siswi yang kebetulan berada di ruangan yang sama dengan sang juara.

Paris duduk di bangku tengahnya, meletakkan tasnya dengan tenang. Ia sudah terbiasa dengan sandiwara ini. Ia tahu bahwa di balik punggung tegak itu, ada seorang pria yang tiap malam mengiriminya pesan-pesan manis. Baginya, keheningan Luciano di kelas adalah bentuk pengorbanan demi menjaga rahasia mereka. Ia merasa seperti pemegang kunci dari sebuah brankas berharga yang tidak boleh diketahui siapa pun.

"Hebat sekali, ya?" bisik Delaney, matanya berbinar menatap punggung Luciano. "Dia baru saja mengalahkan jenius-jenius dari seluruh negara, tapi ekspresinya masih seperti orang yang sedang mengantre kopi. Benar-benar tidak punya emosi."

Paris hanya tersenyum tipis, menyimpan rasa bangganya di balik bibir yang rapat.

Di barisan depan, Max sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Ia tertawa lebar, sesekali menyenggol bahu Luciano dengan akrab. "Kita harus merayakannya, Lucian! Malam ini, di klub biasa. Semua orang ingin bersulang untuk sang juara."

"Aku punya banyak tugas yang tertunda," jawab Luciano datar, matanya tertuju pada buku teks di depannya.

Max tertawa, lalu beralih ke Kay yang sejak tadi hanya diam menatap jendela, seolah pemandangan gedung-gedung New York jauh lebih menarik daripada kemenangan sahabatnya.

"Bagaimana denganmu, Kay? Kau ikut, kan? Jangan bilang kau mau balapan lagi."

Kay tidak menoleh. Ia menyandarkan punggungnya, menyilangkan tangan di dada dengan gaya angkuh yang natural. "Aku tidak tertarik merayakan kemenangan yang dibangun di atas kepalsuan," ucap Kay, suaranya rendah namun tajam, memotong keceriaan Max.

"Kepalsuan? Apa maksudmu?" Max mengernyitkan dahi.

Kay akhirnya memutar kursinya, tatapannya menyapu seluruh kelas dengan rasa muak yang tak disembunyikan. "Dunia ini lucu, bukan? Kita merayakan seseorang yang pintar menghitung angka, tapi tidak tahu cara menghargai manusia. Terutama wanita."

Suasana di sekitar mereka mendadak tegang. Beberapa siswa yang duduk di dekat mereka mulai berbisik-bisik.

"Dunia ini penuh dengan perempuan murahan yang rela memberikan apa saja hanya untuk sedikit perhatian dari orang-orang seperti kita," lanjut Kay dengan suara yang sedikit lebih keras.

"Dan yang lebih menyedihkan adalah pria yang merasa bangga setelah merusak mereka."

Kata-kata itu seperti tamparan di tengah ruangan yang sunyi. Paris, yang duduk di baris tengah, merasa jantungnya berdenyut kencang. Ia tidak tahu secara spesifik siapa yang dimaksud Kay, namun nada bicaranya yang penuh kebencian membuat bulu kuduknya berdiri.

Perempuan murahan? Paris membatin. Kenapa Kay selalu bicara sekejam itu?

Getaran di saku rok Paris membuyarkan pikirannya. Ia melirik ke bawah meja. Satu pesan baru dari Mine.

Mine: Tutup kuping saja, babe. Abaikan Kay. Dia sedang dalam suasana hati yang sangat buruk karena masalah keluarganya. Jangan biarkan dia merusak harimu.

Paris menghela napas lega. Ia tersenyum kecil, merasa terlindungi oleh perhatian Luciano. Di matanya, Luciano adalah pelindung yang bijaksana—pria yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara secara pribadi untuk menenangkannya. Ia menganggap kejengkelan Kay hanyalah luapan emosi dari seorang anak kaya yang iri pada kesuksesan sahabatnya.

Sayang sekali Luciano harus punya teman seperti Kay, pikir Paris. Berbeda sekali dengan Max yang selalu mencoba mencairkan suasana.

Paris kemudian memberanikan diri untuk mendongak, melihat ke arah barisan depan. Ia ingin memberikan tatapan penyemangat rahasia untuk Luciano. Namun, bukannya bertemu dengan mata sang kekasih, matanya justru bertabrakan dengan mata Kay.

Kay sedang memperhatikannya.

Tatapan Kay tidak seperti biasanya. Jika biasanya matanya penuh ejekan, kali ini matanya tampak tajam, dingin, dan sarat akan kekecewaan yang mendalam. Seolah-olah Kay sedang melihat sesuatu yang sudah hancur berkeping-keping. Paris segera mengalihkan pandangannya, merasa terintimidasi oleh intensitas tersebut.

Dasar mulut pedas, rutuk Paris dalam hati. Kenapa dia menatapku seolah aku telah melakukan kesalahan besar?

Di depan, Kay merasakan dadanya sesak. Ia melihat senyum di wajah Paris setelah gadis itu memeriksa ponselnya. Ia tahu Luciano baru saja mengirimkan "obat penawar" melalui pesan singkat.

"Kau benar-benar luar biasa, Luciano," bisik Kay, cukup pelan agar hanya didengar oleh dua sahabatnya.

"Kau memberinya racun di kantin bersama Max, lalu kau memberinya penawar di kelas lewat pesan singkat. Kau benar-benar menganggap ini semua adalah permainan simulasi, bukan?"

Luciano akhirnya menoleh ke arah Kay. Matanya yang dingin bertemu dengan mata Kay yang membara. "Aku melakukan apa yang perlu kulakukan untuk menjaga semuanya tetap stabil, Kay. Jangan mengacaukan rencanaku."

"Rencana?" Kay tertawa getir. "Meniduri seorang gadis dan menceritakannya pada psikopat seperti Max adalah rencana bagimu? Kau baru saja menghancurkan hidup seseorang, Lucian. Dan kau bahkan tidak merasa bersalah."

"Dia bahagia," jawab Luciano pendek, merujuk pada Paris yang tampak tenang di bangkunya.

"Dia bahagia karena dia tidak tahu siapa kau sebenarnya," balas Kay tajam. "Dan jika kau tidak segera mengakhiri sandiwara menjijikkan ini, aku bersumpah, bukan keluargamu yang akan menghancurkanmu, tapi aku."

Max, yang sejak tadi hanya menonton dengan senyum miring, menepuk bahu Kay. "Tenanglah, Kay. Jangan jadi pahlawan kesiangan. Luciano sudah mendapatkan apa yang dia cari. Sekarang tinggal menunggu waktu sampai dia bosan."

Kay menepis tangan Max dengan kasar. Ia berdiri saat guru sejarah masuk ke kelas, namun sebelum ia duduk kembali, ia sempat melirik ke arah Paris sekali lagi.

Dalam pikiran Kay, Paris kini adalah sosok tragis—seorang gadis yang kesuciannya telah direnggut dan dijadikan bahan bualan oleh pria yang paling ia percayai.

Kay percaya pada kebohongan Luciano seutuhnya. Ia merasa muak karena ia tahu kebenaran palsu itu, namun ia juga merasa terikat oleh kesetiakawanan yang kini terasa seperti rantai yang mencekik lehernya sendiri.

Pelajaran dimulai, namun bagi Paris, Luciano, dan Kay, papan tulis itu hanya berisi bayangan-bayangan dari kebohongan yang semakin besar. Paris tetap dengan cintanya yang tulus, Luciano dengan eksperimennya yang mulai kehilangan arah, dan Kay dengan amarahnya yang siap meledak kapan saja.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Pria Sejati hrs sperti ini, cukup 1, Selamanya 👍👍👍
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Yeee, Akhirx, Resmi Smua, Bareng 🥳🥳🥳
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Ikut happy utk 2 pasangan ini ❤️🤗😘
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Skrng, Mreka berdua, manis mlulu, auto diabetes ini 🤭🤭🤭
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Kini saatnya Arthur yg berjuang utk Cinta ny 🙈🙈🙈
ros 🍂: Nah benar Kak 🤭😍
total 1 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Kn adem klo liat gini ❤️🤗😘 ... Apa otw dresmikn aja y, biar gk kburu 🙈🙈🙈
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mommy Paris, itu Putra mu udh 'nakal' 🙈🙈🙈
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade ❤️🤗😘 ... Lnjt Arthur 🤭👍🥳
total 6 replies
Sany Indah
berharap Paris sama Kay meski bermulut pedas tp cintanya ke Paris tulus
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
hi hi licik demi honey, gk pa² deh 🤭🤭🤭
ros 🍂: Hahaha🤣🥰
total 3 replies
winpar
sdih bgt kisah mereka😥
winpar
Thor ceritanya bikin mewekkkk😥😥
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍
ros 🍂: Ashiaapp 🤭🥰
total 1 replies
Sany Indah
ceritanya menarik
ros 🍂: ma'aciww 🥰
total 1 replies
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Klo Jodoh, pasti ada jalan ny 😔😔😔
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Iya, Ade ❤️🤗😘
total 2 replies
winpar
akhirnya nana bertemu jg 🥰😍
winpar
thot knp hri ini upnya dikit bgt. pdhl ceritanya seru bgt?
ros 🍂: Maaf ya kak, Sedang kurang sehat, hehehe🙏
total 1 replies
winpar
smngt thorrrr💪💪💪💪 ceritamu selalu bgus
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
waw bgmnakh klnjutanya????
winpar
selalu happy akhir ceritanya 😍🥰
ros 🍂: iya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
winpar
ceritanya bgus bangettt😍🥰
ros 🍂: ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
winpar
mkin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!