Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI YANG TAK TERLUPAKAN
Beberapa minggu setelah percakapan di ruang dosen itu, kehidupan Ana kembali dipenuhi satu topik utama dalam hidupnya: skripsi.
Hari-harinya sekarang lebih banyak dihabiskan di perpustakaan, di kamar kos, atau sesekali di ruang dosen untuk bimbingan terakhir. Hubungannya dengan Adi tidak berubah di depan orang lain. Mereka tetap terlihat seperti dosen pembimbing dan mahasiswa biasa.
Namun di antara mereka berdua, ada sesuatu yang berbeda; tatapan yang sedikit lebih lama. Senyum kecil yang hanya mereka pahami. Dan kadang pesan singkat yang muncul di ponsel Ana larut malam. Tetapi skripsi tetap menjadi prioritas utama. Ana tahu satu hal dengan sangat jelas: ia tidak boleh membuat kesalahan. Bukan hanya karena ini menentukan kelulusannya. Tapi juga karena Adi.
Ia tahu dosen pembimbingnya adalah seseorang yang perfeksionis. Adi jarang memuji sesuatu secara berlebihan. Bahkan ketika hasilnya sudah bagus, ia tetap menemukan hal-hal kecil yang harus diperbaiki. Justru karena itulah yang membuat Ana ingin melakukan yang terbaik.
Dengan hubungannya yang semakin dekat dengan Adi, meskipun belum ada ikrar resmi, Ana merasa ingin membuktikan kepada Adi dan kepada dirinnya sendiri, bahwa dia memang pantas untuk berada di samping Adi jika nantinya mereka benar-benar bersama. Ia tidak ingin mengecewakan dirinya sendiri dan juga Adi dengan tidak melakukan semuanya secara maksimal.
Suatu sore di perpustakaan, Ana akhirnya menutup laptopnya dengan napas panjang.Bab terakhir selesai.
Ia membaca kembali halaman kesimpulan yang baru saja ia tulis. Beberapa kalimat masih terasa berat, tapi secara keseluruhan semuanya sudah jauh lebih rapi dibandingkan beberapa minggu lalu.
Ana tersenyum kecil.
“Akhirnya…”
Malam itu ia mengirim file revisi terakhir kepada Adi. Balasannya datang sekitar satu jam kemudian.
“Besok kita cek terakhir. Kalau sudah oke, kamu bisa daftar sidang.”
Jantung Ana berdetak sedikit lebih cepat membaca pesan itu. Sidang. Akhirnya kata itu benar-benar terasa nyata.
Keesokan harinya mereka bertemu di ruang dosen, Adi membaca skripsinya cukup lama. Ana duduk di kursi di depannya sambil menunggu dengan gugup, meskipun berusaha terlihat santai. Beberapa kali Adi memberi tanda pada bagian tertentu. Ana menelan ludah pelan. Akhirnya Adi menutup halaman terakhir. Lalu ia menatap Ana.
“Bagus.”
Hanya satu kata. Namun itu cukup membuat bahu Ana terasa lebih ringan.
“Beberapa bagian kecil kamu rapikan lagi, tapi secara keseluruhan ini sudah siap sidang.”
Ana hampir tidak percaya.
“Serius, mas?”
Adi mengangguk.
“Kamu kerja bagus, Ana, Saya tau kamu bekerja keras”
Kalimat pujian adalah sesuatu yang jarang sekali keluar dari mulut Adi. Oleh karenanya, pujian itu terasa jauh lebih berarti bagi Ana dibandingkan pujian siapa pun.
Beberapa hari kemudian, Ana akhirnya mendaftar ujian skripsi. Jadwal sidang keluar seminggu setelahnya. Hari Senin. Jam sembilan pagi.
Ana menatap kertas jadwal itu beberapa detik lebih lama. Namanya tercetak di sana, di bawahnya tercantum tiga penguji. Salah satunya: Adi Pratama.
Ana menghela napas pelan. Meskipun Adi adalah dosen pembimbingnya, ia tahu satu hal di ruang sidang nanti, Adi bukan lagi “Mas”-nya yang bisa dia panggil dengan manja membantu proses sidang ini. Ia adalah dosen penguji. Dan semua orang tahu betapa perfeksionisnya Adi ketika menguji mahasiswa.
*
Hari ujian akhirnya tiba.
Pagi itu Ana bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan pakaian formal yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari lalu. Rambutnya disisir rapi, makeup tipis membuat wajahnya terlihat lebih segar meskipun sebenarnya ia hampir tidak bisa tidur semalam. Perutnya terasa sedikit mual. Gugup.
Di jalan menuju fakultas, Ana menarik napas panjang berkali-kali. Tangannya memegang map skripsi yang sudah rapi. Jantungnya berdetak cepat, bukan hanya karena gugup, tapi juga karena ia tahu… ia akan berhadapan langsung dengan Adi, dosen pembimbing sekaligus penguji yang terkenal perfeksionis. Namun Ia sadar, bahwa sudah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan. Setiap malam di perpustakaan, setiap revisi dengan Adi, setiap koreksi kecil yang diberikan—semua menumpuk menjadi satu tujuan: lulus dengan hasil terbaik.
Di depan gedung fakultas, beberapa mahasiswa lain juga terlihat menunggu giliran sidang mereka. Ana memegang map berisi skripsinya. Tangannya sedikit dingin. Ketika pintu ruang sidang akhirnya dibuka, seorang dosen memanggil namanya.
Sesampainya di ruang sidang, suasana lebih tegang dari yang ia bayangkan. Mahasiswa lain juga terlihat cemas, beberapa tampak sibuk menyiapkan catatan mereka. Ketika namanya dipanggil, Ana berdiri perlahan. Langkahnya terasa berat, tapi ia mencoba menampilkan sikap tenang.
“Ana, silakan masuk.”
Ana berdiri perlahan. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Begitu masuk ke dalam ruangan, ia melihat tiga dosen sudah duduk di meja penguji. Dan di tengah mereka…
Adi.
Wajahnya kembali seperti yang dikenal semua mahasiswa. Tenang. Serius. Dan dingin. Tidak ada senyum kecil seperti biasanya. Tidak ada tatapan yang terlalu lama. Di ruangan itu, ia benar-benar hanya seorang dosen penguji.
Ana menelan ludah pelan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai membuka presentasinya. Di dalam hatinya hanya ada satu keinginan; Ia ingin membuktikan sesuatu. Bukan hanya kepada Adi, bukan hanya kepada dirinya sendiri tapi juga kepada para dosen penguji lainnya.
Ia ingin semua orang tau, bahwa dosen pembimbingnya itu tidak salah mempercayainya. Bahwa ia mampu menyelesaikan skripsi yang benar-benar layak. Dan ketika presentasi dimulai, suara Ana yang semula sedikit gugup perlahan menjadi lebih tenang.
Karena ia tahu…
Ini adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Dan ia tidak akan mengecewakan siapa pun.
Di ruang sidang itu, Adi duduk di tengah meja penguji, menatap Ana dengan ekspresi serius. Ia terlihat tidak banyak tersenyum. Tidak ada celah bagi kesalahan. Ana menelan ludah dan membuka presentasinya. Awalnya, suaranya sedikit gemetar. Setiap slide yang ia jelaskan, setiap argumen yang ia sampaikan, terasa seperti diukur dengan ketelitian Adi. Beberapa pertanyaan datang dari penguji lain, tapi Ana menjawab dengan tenang. Namun begitu Adi mulai mengajukan pertanyaan, jantung Ana langsung berdegup lebih kencang.
“Bagaimana kamu menjelaskan temuan yang bertentangan dengan hipotesis awalmu?” Adi menatapnya tajam, matanya seolah menembus ke inti pemahaman Ana.
Ana menelan ludah. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.
“Hipotesis awal memang menunjukkan kemungkinan tertentu, Pak. Namun data yang dikumpulkan menunjukkan tren yang sedikit berbeda. Dari situ, aku menyesuaikan analisis dengan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal, termasuk…,” suaranya mulai lebih mantap.
Pertanyaan demi pertanyaan datang. Setiap kali Adi bertanya, Ana merasa sedikit tertekan, tapi juga justru semakin fokus. Ada rasa gugup, tapi juga tekad yang membara: ia tidak ingin mengecewakan Adi.
Setelah hampir satu jam, sidang selesai.
Ana duduk kembali di kursinya, napasnya terengah, tapi rasa lega mulai muncul. Ia menatap Adi sekilas. Senyumnya tipis, tapi masih terlihat serius.
Beberapa menit kemudian, pengumuman nilai datang. Ana menunggu dengan jantung berdebar. Ketika dosen sekretaris membacakan namanya dan menyebutkan…
“Nilai: A”
Ana tidak bisa menahan senyum lebar. Tetesan lega dan kebahagiaan memenuhi dadanya. Ia berhasil. Kerja kerasnya selama berbulan-bulan membuahkan hasil. Adi menatapnya dari meja penguji. Untuk pertama kalinya, senyumnya muncul—tipis, tapi hangat.
“Bagus, An,” katanya singkat.
Tidak perlu kata-kata lebih banyak. Ana tahu, pujian itu datang dari hati seorang dosen yang perfeksionis dan jarang memuji. Ana menghela napas panjang, senyumannya semakin lebar. Seluruh rasa gugup, cemas, dan tegang beberapa minggu terakhir terasa hilang.
Ia berhasil membuktikan dirinya—bukan hanya pada dosen-dosennya, tapi juga pada diri sendiri. Hari itu, Ana pulang dari kampus dengan perasaan yang ringan, bangga, dan bahagia. Nilai A itu bukan sekadar angka, tapi simbol dari perjuangan, ketekunan, dan keberhasilannya menghadapi segala tekanan—termasuk tekanan dari Adi yang killer sekaligus… istimewa di matanya.
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍