NovelToon NovelToon
"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.

Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.

Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : MAKANAN KESUKAAN YANG TERLUPAKAN

Matahari mulai bergeser ke arah barat, memberikan warna keemasan pada gedung-gedung tinggi di pusat kota Medan. Reza berdiri di depan kantor UMKM Connect dengan jas yang sedikit kusut namun wajahnya penuh dengan senyum rahasia. Dia telah merencanakan sesuatu yang spesial untuk Rania setelah semua kesulitan yang mereka lalui – sebuah malam makan yang akan membawa mereka kembali pada kenangan indah masa kuliah yang terlupakan.

“Siap untuk pulang?” tanya Reza dengan suara ceria ketika Rania keluar dari kantor dengan tas kerja di tangan. Wajahnya tampak sedikit lelah setelah hari yang penuh dengan pertemuan dan pekerjaan teknis, namun matanya langsung bersinar melihat senyum di wajah Reza.

“Siap sekali,” jawab Rania dengan senyum lembut. “Kau terlihat seperti punya sesuatu yang sedang kamu sembunyikan. Apa kamu merencanakan sesuatu?”

Reza hanya tersenyum dan mengajak Rania ke arah mobilnya yang sudah siap menyambut mereka. “Cukup ikuti saja aku. Kamu pasti akan suka dengan apa yang aku persiapkan.”

Perjalanan menuju tujuan mereka tidak terlalu jauh dari kantor, hanya sekitar sepuluh menit berkendara melalui jalan-jalan raya Medan yang mulai ramai dengan aktivitas sore hari. Rania melihat ke luar jendela dengan rasa penasaran, mencoba menebak ke mana mereka akan pergi. Namun, setiap jalan yang mereka lewati tampak begitu akrab namun juga memberikan kesan baru.

“Aku rasa aku tahu tempat yang kamu maksud,” ucap Rania dengan suara penuh kegembiraan ketika mobil mulai memasuki kawasan Kesawan yang dikenal dengan rumah makan khas Medan-nya. “Jangan bilang kamu akan membawaku ke sana!”

Reza tertawa lembut dan mengangguk. “Benar sekali. Aku tahu kamu sudah lama tidak kesana, dan aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali mengunjunginya.”

Mereka berhenti di depan rumah makan tua bernama “Rumah Makan Cita Rasa Asli” yang berdiri kokoh di sudut jalan sejak puluhan tahun yang lalu. Tampilan luar rumah makan masih sama seperti dulu – pintu kayu berwarna merah tua, jendela dengan gerabah hias khas Medan, dan papan nama kayu yang sudah mulai memudar namun tetap terbaca jelas.

“Wow… sudah begitu lama aku tidak datang ke sini,” bisik Rania dengan mata yang berkaca-kaca melihat tempat yang pernah menjadi favorit mereka saat kuliah. “Kita sering makan malam di sini setelah berlama-lama di perpustakaan atau ruang laboratorium.”

Reza membuka pintu mobil untuk Rania dengan senyum hangat. “Aku tahu. Dan aku juga tahu bahwa ada beberapa makanan kesukaan kamu yang mungkin sudah kamu lupakan selama ini.”

Mereka memasuki rumah makan yang suasana dalamnya masih sama seperti dulu – meja kayu yang sudah aus namun tetap kokoh, kursi besi bergaya kolonial, dan aroma rempah-rempah khas Medan yang langsung menyambut mereka begitu memasuki pintu. Pemilik rumah makan, Pak Sutiono, segera menyambut mereka dengan senyum lebar yang penuh kenangan.

“Reza! Rania! Sudah lama sekali tidak melihat kalian berdua datang ke sini!” teriak Pak Sutiono dengan suara yang penuh kegembiraan. Dia segera mendekat dan memberikan pelukan erat pada keduanya. “Kalian pasti sudah menjadi orang sukses ya sekarang. Aku sering mendengar tentang proyek kalian yang membantu banyak usaha kecil di Medan.”

Rania tersenyum dan menjawab dengan rasa syukur. “Terima kasih banyak Pak Sutiono. Semua ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan dari orang-orang baik seperti Anda yang selalu memberikan semangat pada kami saat kuliah.”

Pak Sutiono mengajak mereka ke meja khusus yang dulu selalu mereka tempati saat kuliah – meja kecil di sudut ruangan yang menghadap ke taman belakang rumah makan. Di sana, beberapa tanaman hias masih tumbuh subur seperti dulu, dan suara kicau burung memberikan nuansa yang lebih tenang dan nyaman.

“Silakan duduk saja ya,” ucap Pak Sutiono dengan ramah. “Aku akan segera menyajikan makanan kesukaan kalian yang dulu selalu kalian pesan setiap kali datang ke sini.”

Rania melihat ke arah Reza dengan ekspresi terkejut. “Kau sudah memesan makanan sebelum datang?”

Reza hanya tersenyum dan mengangguk. “Aku sudah menghubungi Pak Sutiono beberapa hari yang lalu dan memesan semua makanan kesukaan kamu yang dulu selalu kamu pesan. Aku tahu kamu sudah lama tidak menikmatinya.”

Sebelum Rania bisa berkata apa-apa, pelayan sudah mulai membawa hidangan satu per satu ke atas meja. Pertama datang Bubur Pedas Medan yang aroma khasnya langsung menggugah selera – bubur dengan kuah berwarna merah kecoklatan dari cabai dan rempah-rempah, di atasnya terdapat irisan telur pindang, udang, dan kerupuk udang yang masih renyah.

“Bubur Pedas favorit kamu!” ucap Reza dengan senyum ceria melihat wajah Rania yang penuh kegembiraan. “Kamu selalu bilang bahwa bubur pedas dari sini adalah yang paling enak di seluruh Medan.”

Rania mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Ya… aku benar-benar sudah terlupakan rasanya. Saat kuliah, kita sering makan bubur pedas ini saat larut malam setelah bekerja di proyek kita.”

Selanjutnya datang Sate Padang dengan tusukannya yang panjang dan daging yang sudah empuk meresap bumbu, disajikan bersama dengan lontong, kacang panjang, dan saus kacang yang kental dan gurih. Di sampingnya terdapat Gulai Kambing dengan daging kambing yang empuk dan kuah yang kaya rasa rempah-rempah khas Sumatera Barat.

“Dan ini sate padang dan gulai kambing yang kamu selalu pesan ketika ada acara khusus,” lanjut Reza dengan suara penuh nostalgia. “Kamu bilang bahwa makanan ini selalu memberikan kamu energi tambahan untuk menghadapi tantangan baru.”

Tidak lama kemudian, hidangan lain datang satu per satu – Lontong Medan dengan sayur labu siam, tahu, tempe, dan bumbu kuning yang khas; Bika Ambon yang lembut dan manis dengan aroma gula merah yang khas; hingga Es Cendol Durian yang menjadi favorit Rania untuk hidangan penutup.

“Semua makanan kesukaan kamu yang sudah kamu terlupakan selama ini,” ucap Reza dengan suara penuh kasih sayang. “Aku tahu kamu begitu sibuk dengan proyek dan pekerjaan sehingga kamu jarang memiliki waktu untuk menikmati makanan yang sebenarnya kamu sukai.”

Rania merasa hatinya menjadi hangat mendengar kata-kata Reza. Selama ini dia memang begitu fokus pada pekerjaan dan membantu orang lain sehingga dia hampir melupakan hal-hal kecil yang dulu membuatnya bahagia – seperti menikmati makanan kesukaan di rumah makan tua yang pernah menjadi tempat perlindungan mereka saat kuliah.

“Terima kasih, Reza,” ucap Rania dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan melakukan semua ini untukku. Ini adalah kejutan terbaik yang pernah aku terima.”

Mereka mulai menikmati makan malam mereka dengan penuh rasa syukur. Setiap suapan makanan membawa mereka kembali pada kenangan indah masa kuliah – tentang bagaimana mereka sering berlari ke rumah makan ini setelah kelas untuk menghindari antrian panjang, tentang bagaimana mereka sering berbagi satu porsi makanan karena uang mereka terbatas, dan tentang bagaimana mereka selalu berbagi cerita dan impian mereka di meja kecil yang sama seperti sekarang.

“Kau masih ingat saat kita hanya punya uang cukup untuk memesan satu porsi bubur pedas dan kita harus berbagi?” tanya Reza dengan senyum lucu. “Kamu selalu memberikan bagian udang yang lebih banyak padaku karena bilang bahwa aku perlu energi lebih banyak untuk bekerja di proyek kita.”

Rania tertawa lembut mendengarnya. “Dan kau selalu memberikan bagian telur pindang padaku karena tahu bahwa itu adalah bagian favoritku. Kita memang selalu saling mengutamakan satu sama lain sejak dulu.”

Mereka berbagi cerita tentang berbagai momen lucu dan menyentuhkan selama masa kuliah. Ada cerita tentang bagaimana mereka hampir terbawa arus sungai ketika mencoba mengambil sampel air untuk proyek penelitian, tentang bagaimana mereka terlambat masuk kelas karena terlalu fokus mengerjakan proyek di rumah makan ini, hingga cerita tentang bagaimana mereka pertama kali menyatakan bahwa mereka ingin membuat sesuatu yang bisa membantu banyak orang.

“Kau tahu tidak, saat itu aku benar-benar tidak yakin apakah kita akan bisa mewujudkan impian kita,” ucap Reza dengan suara pelan sambil melihat ke arah taman belakang yang sudah mulai diterangi lampu malam. “Namun setiap kali kita makan di sini dan berbagi cerita, aku merasa bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk kita capai bersama.”

Rania mengangguk dengan penuh kesadaran. “Aku juga merasa begitu. Rumah makan ini seperti menjadi tempat perlindungan kita saat kita merasa lelah atau tidak yakin dengan apa yang kita lakukan. Aroma makanan dan suasana yang hangat selalu membuat kita merasa kuat kembali.”

Pak Sutiono datang kembali ke meja mereka dengan senyum hangat setelah mereka selesai makan sebagian besar hidangan. “Bagaimana rasanya? Masih sama seperti dulu kan?”

“Masih sama enaknya bahkan mungkin lebih enak lagi Pak!” jawab Rania dengan senyum lebar. “Terima kasih banyak sudah tetap menjaga cita rasa asli dari makanan-makanan ini. Mereka bukan hanya makanan untukku, tapi juga kenangan yang berharga.”

Pak Sutiono tersenyum dan menjawab dengan penuh bangga. “Kita selalu menjaga resep dan cara memasaknya seperti dulu, karena kita tahu bahwa makanan ini bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang cerita dan kenangan yang ada di dalamnya. Banyak pelanggan yang seperti kalian – datang kembali setelah bertahun-tahun dan merasa seperti kembali ke masa muda mereka.”

Setelah Pak Sutiono pergi, mereka melanjutkan percakapan mereka dengan lebih dalam. Reza mulai bercerita tentang bagaimana dia selalu mengingat makanan kesukaan Rania dan bagaimana dia sering datang ke rumah makan ini sendirian setelah mereka berpisah selama sepuluh tahun yang lalu.

“Saat kamu pergi dan aku harus melanjutkan studi di Jakarta, aku sering datang ke sini sendirian dan memesan makanan kesukaan kamu,” cerita Reza dengan suara penuh nostalgia. “Setiap kali aku menikmatinya, aku merasa bahwa kamu masih ada di sisiku dan kita masih bekerja sama seperti dulu.”

Rania merasa air matanya hampir keluar mendengarnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Reza juga merindukan masa lalu mereka dan bahwa makanan kesukaan mereka menjadi jembatan yang menghubungkan mereka meskipun berada jauh.

“Dan ketika kita bertemu lagi dan mulai bekerja sama kembali,” lanjut Reza dengan suara yang semakin lembut, “aku tahu bahwa waktu yang tepat sudah datang untuk membawa kamu kembali ke sini dan menikmati makanan kesukaan kamu yang sudah kamu terlupakan selama ini.”

Mereka kemudian mulai berbicara tentang masa depan mereka – tentang rencana mereka untuk memperluas proyek UMKM Connect ke seluruh Indonesia, tentang bagaimana mereka ingin membuat program pelatihan untuk pemuda di daerah terpencil, hingga tentang impian mereka untuk membuat rumah makan seperti ini sebagai tempat berkumpul bagi para pelaku usaha kecil untuk berbagi cerita dan ide.

“Kita bisa membuat bagian khusus di setiap cabang UMKM Connect untuk menyediakan makanan khas daerah setempat,” usulkan Rania dengan mata yang bersinar. “Sehingga setiap orang yang datang tidak hanya mendapatkan bantuan teknologi, tapi juga bisa menikmati makanan khas yang membuat mereka merasa dekat dengan rumah.”

Reza mengangguk dengan penuh kesepakatan. “Itu adalah ide yang luar biasa. Makanan memang memiliki kekuatan untuk menghubungkan orang dan membawa mereka kembali pada kenangan indah. Kita bisa membuatnya menjadi bagian penting dari proyek kita – bukan hanya membantu usaha kecil secara ekonomi, tapi juga melestarikan budaya dan cita rasa lokal.”

Mereka menyelesaikan makan malam mereka dengan menikmati bika ambon dan es cendol durian yang sudah menjadi simbol kenangan mereka. Setiap suapan makanan memberikan rasa manis dan kepuasan yang tidak hanya datang dari rasa makanan itu sendiri, tapi juga dari kebahagiaan bisa bersama orang yang dicintai dan berbagi kenangan indah.

“Sekarang aku mengerti mengapa kamu mengajakku ke sini,” ucap Rania dengan suara penuh rasa syukur. “Kamu tidak hanya ingin aku menikmati makanan kesukaan ku yang terlupakan, tapi juga ingin mengingatkanku akan pentingnya merenungkan masa lalu dan menghargai setiap langkah yang telah kita lalui bersama.”

Reza mengambil tangan Rania dengan lembut dan menjawab: “Kamu selalu begitu fokus pada masa depan dan membantu orang lain sehingga kamu sering melupakan diri sendiri. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu juga berhak bahagia dan menikmati hal-hal kecil yang membuatmu bahagia.”

Mereka membayar makanan dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Sutiono yang sudah begitu baik kepada mereka selama ini. Sebelum pergi, Pak Sutiono memberikan mereka kotak kecil berisi bika ambon yang sudah dipotong-potong.

“Ini untuk kamu berdua,” ucap Pak Sutiono dengan senyum hangat. “Semoga selalu sukses dengan proyek kalian dan jangan lupa untuk sering datang kembali ya. Rumah makan ini akan selalu menjadi rumah bagi kalian berdua.”

Mereka berterima kasih kembali dan keluar dari rumah makan dengan hati yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Malam udara sudah mulai dingin, namun hati mereka terasa hangat karena kebahagiaan dan kenangan yang baru saja mereka bagikan.

Mereka berjalan perlahan menuju mobil sambil menikmati pemandangan malam kota Medan yang semakin ramai dengan lampu-lampu yang berkedip-kedip. Rania merasa sangat bersyukur memiliki seseorang seperti Reza dalam hidupnya – seseorang yang tidak hanya menjadi rekan kerja yang hebat, tapi juga seseorang yang selalu memperhatikan perasaan dan kebutuhannya.

“Kau tahu tidak, Reza?” ucap Rania dengan suara lembut sambil melihat ke arah langit yang penuh bintang. “Makan malam ini adalah yang terbaik yang pernah aku alami dalam hidupku. Bukan hanya karena makanan yang lezat, tapi karena aku bisa menikmatinya bersama orang yang paling aku sayangi.”

Reza memutar badan dan melihat ke arah Rania dengan mata yang penuh kasih sayang. “Aku juga merasa begitu, Rania. Kamu adalah orang terpenting dalam hidupku, dan aku akan selalu melakukan segala yang aku bisa untuk membuatmu bahagia.”

Mereka berdiri sejenak di depan mobil, melihat ke arah langit yang indah. Rania merasa bahwa semua kesulitan dan tantangan yang mereka lalui selama ini seolah menjadi kecil ketika dibandingkan dengan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh dengan tantangan, namun dengan dukungan satu sama lain dan kenangan indah yang selalu mereka bawa bersama, mereka merasa bahwa tidak ada yang tidak bisa mereka capai.

“Mari kita pulang,” ucap Reza dengan senyum lembut. “Besok kita akan kembali bekerja dengan penuh semangat untuk mewujudkan impian kita. Tapi malam ini, mari kita nikmati kebahagiaan yang kita miliki bersama.”

Mereka masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanan pulang. Di jalan, mereka berbagi cerita dan candaan seperti dulu saat kuliah, merasa bahwa mereka telah menemukan kembali bagian dari diri mereka yang mungkin sudah terlupakan selama ini. Makanan kesukaan yang mereka nikmati malam ini tidak hanya memenuhi perut mereka, tapi juga memenuhi hati mereka dengan kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terbatas.

Ketika sampai di rumah Rania, Reza mengantarnya sampai ke pintu depan rumah. Sebelum masuk, Rania berbalik dan memberikan pelukan erat pada Reza.

“Terima kasih untuk malam ini, Reza,” ucap Rania dengan suara penuh emosi. “Aku tidak bisa lebih bahagia memiliki seseorang seperti kamu dalam hidupku.”

Reza memeluknya kembali dengan erat dan menjawab: “Selalu ada untukmu, Rania. Selamanya.”

Mereka saling melihat dengan mata yang penuh kasih sayang dan kebahagiaan. Di langit malam yang penuh bintang, mereka tahu bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari semua kesuksesan yang mereka raih – sebuah hubungan yang kuat dan cinta yang tulus yang akan selalu membawa mereka kembali pada apa yang benar dan penting dalam hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!