Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Purnama Berlalu
Udara malam yang dingin menyelimuti Ibu Kota Kerajaan Angin Langit saat Jian Chen melangkah keluar dari bayang-bayang air terjun kering. Di balik jubah hitamnya, tersembunyi kekayaan yang mampu mengguncang fondasi sekte tingkat menengah mana pun.
Tanpa menunda barang sejenak, ia menggunakan Langkah Hantu Kekosongan. Tubuhnya melebur bersama angin malam, melesat kembali ke Puncak Awan Awan tanpa meninggalkan jejak kaki maupun suara gesekan dedaunan.
Setibanya di gubuk bambu miliknya, Jian Chen melepaskan topeng hantu besi dan meletakkan buntelan kantong penyimpanan serta Cincin Asura di atas ranjang. Ia menyalakan pelita minyak kecil, membiarkan cahaya temaram menerangi wajahnya yang tenang namun menyembunyikan kebuasan tiran.
"Mari kita lihat seberapa besar kekayaan yang ditumpuk oleh sembilan puluh sembilan penguasa kegelapan," gumam Jian Chen.
Dengan jentikan jarinya dan sapuan Niat Pedang, seluruh segel fana pada kantong-kantong itu hancur. Koin emas, gulungan teknik, botol porselen, dan batu spiritual tumpah meruah hingga nyaris menutupi seluruh lantai gubuk.
Setelah memisahkan barang-barang rongsokan untuk dibakar nanti, mata Jian Chen terpaku pada tumpukan Batu Spiritual. Hasil dari sembilan puluh lima petarung, ditambah hadiah utama di Cincin Asura, memberinya total lebih dari lima puluh ribu Batu Spiritual Tingkat Rendah dan delapan ratus Batu Spiritual Tingkat Menengah!
Bagi seorang kultivator di Alam Kondensasi Qi, jumlah ini melampaui akal sehat. Bahkan seorang ahli Pembentukan Fondasi pun akan meneteskan air liur melihat gunungan batu yang memancarkan Qi murni tersebut.
"Dengan pusaran Seni Melahap Surga Primordial yang rakus, lima puluh ribu batu ini seharusnya cukup untuk membawaku menyeberangi jurang pemisah menuju batas akhir fana," ucap Jian Chen, matanya berkilat tajam.
Ia memindahkan seluruh batu spiritual itu ke dalam Cincin Penyimpanan Emas pemberian gurunya. Pedang Penguasa Kosong ia tancapkan ke tanah tepat di sisi ranjangnya.
"Guru mengatakan Pertarungan Enam Sekte akan dimulai dalam lima purnama. Musuh-musuh di sana adalah puncak dari generasi muda seluruh kerajaan. Aku tidak akan meremehkan mereka, namun aku juga tidak akan memberi mereka celah untuk bernapas."
Malam itu, Jian Chen menutup pintu gubuk bambunya rapat-rapat. Ia menyegel dirinya dari dunia luar, memulai masa kultivasi tertutup terpanjangnya semenjak ia bangkit di tubuh ini.
Waktu bergulir layaknya aliran sungai tanpa henti.
Musim gugur yang membawa hawa sejuk berlalu, digantikan oleh musim dingin yang menyelimuti Puncak Awan Awan dengan hamparan salju tebal. Badai salju melolong di luar, namun gubuk bambu reyot itu tidak tersentuh butiran es sedikit pun. Hawa panas dari Qi murni yang terus meletus dari dalam gubuk mencairkan salju dalam jarak sepuluh tombak.
Bulan demi bulan, tumpukan Batu Spiritual di dalam cincin Jian Chen terus menyusut. Di dalam Dantiannya, pusaran hitam kelam bekerja tanpa kenal lelah, mengunyah dan menelan sari pati batu-batu tersebut.
Lautan Qi di meridian Jian Chen yang awalnya berupa gas perak tebal, kini perlahan-lahan mulai berubah wujud. Di bawah tekanan yang amat sangat berat dari teknik Seni Melahap Surga, gas Qi tersebut terkompresi hingga membentuk tetesan-tetesan embun cair yang berkilau.
Mengubah Qi dari gas menjadi cair adalah pertanda mutlak bahwa seorang kultivator telah mencapai batas tertinggi dari Kondensasi Qi, dan menjejakkan sebelah kakinya di gerbang Pembentukan Fondasi.
Ketika salju mencair dan kuncup-kuncup bunga persik mulai bermekaran menandakan datangnya musim semi, gubuk bambu yang telah tertutup rapat selama lima purnama penuh akhirnya berderit terbuka.
Sesosok pemuda melangkah keluar, menghirup dalam-dalam udara pagi yang segar.
Rambut hitamnya kini tumbuh lebih panjang, diikat longgar di belakang lehernya. Tubuhnya sedikit lebih tinggi, dengan postur yang seolah diukir dari batu giok purba. Tidak ada aura menekan yang memancar darinya. Tidak ada Niat Membunuh yang meluap-luap. Ia terlihat begitu menyatu dengan alam sekitarnya, layaknya seorang pemuda fana biasa yang tak pernah mempelajari ilmu bela diri.
Namun, hanya mereka yang memiliki mata setajam dewa yang bisa melihat bahwa di balik ketenangan air telaga itu, tertidur seekor naga tiran yang siap membelah lautan.
"Kondensasi Qi Tingkat Sembilan Puncak. Setengah langkah menuju Pembentukan Fondasi," Jian Chen menggumam pelan.
Ia menatap telapak tangannya. Meskipun wujud fisiknya tampak ramping, tenaga murni yang mengalir di balik dagingnya kini telah melampaui delapan belas ribu kilogram. Jika ia mengayunkan Pedang Penguasa Kosong saat ini, berat delapan ratus kilogram dari pedang itu tidak ubahnya seperti mengayunkan sebatang ranting bambu.
WUSSH!
Angin berhembus, dan sosok Feng Wuya muncul dari balik pepohonan persik, menenggak arak dari labu kuning usangnya. Ia menatap murid pribadinya dari atas ke bawah. Mata tua itu menyipit, mencoba menembus pertahanan aura Jian Chen, namun ia hanya mendapati kehampaan.
"Kau benar-benar menelan semua batu spiritual itu, Bocah?" tanya Feng Wuya dengan nada tak percaya. "Bahkan siluman gunung pun akan meledak perutnya. Tapi melihatmu berdiri di sini tanpa satu pun meridian yang retak... aku benar-benar memungut iblis kecil."
"Guru," Jian Chen menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. "Apakah waktunya telah tiba?"
Feng Wuya mengangguk, raut wajahnya yang biasa jenaka kini berubah serius. "Hari ini, matahari sedang tinggi. Seluruh perwakilan dari Akademi Angin Langit telah berkumpul di Alun-Alun Utama kampus pelataran dalam. Tiga puluh murid elit teratas akan diberangkatkan menuju Reruntuhan Kuno Hutan Kematian."
Pria tua itu menatap mata Jian Chen lekat-lekat. "Lembah Pedang Es dan Sekte Awan Biru telah menyiapkan murid-murid paling jenius mereka yang semuanya berada di Tingkat Sembilan Puncak. Beberapa dari mereka bahkan memiliki garis keturunan warisan klan kuno. Kau adalah andalan rahasiaku. Jika kau berpapasan dengan mereka di dalam sana..."
"Hanya akan ada mayat yang tertinggal," Jian Chen menyelesaikan kalimat gurunya dengan suara datar yang membawa keyakinan mutlak.
Feng Wuya tertawa puas, tawanya menggetarkan daun-daun persik yang berguguran. "Bagus! Bawakan Buah Inti Dewa itu padaku, dan aku akan memberimu hadiah yang jauh melampaui tumpukan batu fana!"
"Aku akan menagih janji itu, Guru."
Jian Chen memutar tubuhnya. Ia melilitkan Pedang Penguasa Kosong yang terbalut kain rami di punggungnya. Dengan satu hentakan kaki yang tak bersuara, sosoknya melesat menuruni Puncak Awan Awan menuju pelataran dalam akademi, meninggalkan Feng Wuya yang menatap kepergiannya dengan senyum penuh penantian.
Alun-Alun Utama Akademi Angin Langit disesaki oleh ribuan murid pelataran luar dan dalam yang datang untuk melepas para pahlawan mereka. Tiga puluh pemuda dan pemudi berdiri tegak di tengah alun-alun, memancarkan aura luar biasa yang menjadi puncak kebanggaan akademi.
Di barisan terdepan, berdiri seorang pemuda gagah berseragam putih perak. Pedang panjang berukir naga tergantung di pinggangnya, dan matanya memancarkan keangkuhan seorang raja. Ia adalah Chu Tian, Murid Inti Peringkat Pertama. Tingkat kultivasinya telah mencapai puncak Tingkat Sembilan, hanya terpisah setebal sehelai kertas dari Alam Pembentukan Fondasi.
Di sampingnya berdiri Yan Ting, yang lengan kanannya telah sembuh sepenuhnya berkat pil pusaka, meskipun tatapannya masih menyimpan bayang-bayang ketakutan setiap kali mengingat kejadian di depan Paviliun Kitab Suci lima purnama yang lalu.
Penatua Zhao, sang pemimpin ekspedisi, berdiri di atas mimbar batu, menghitung jumlah peserta.
"Dua puluh sembilan murid telah hadir. Kita masih menunggu satu orang lagi," suara Penatua Zhao bergema, sedikit diliputi keraguan.
Chu Tian mengerutkan keningnya dengan kesal. "Penatua Zhao, siapa yang berani membuat seluruh barisan elit akademi menunggu? Waktu adalah emas. Perjalanan menuju Reruntuhan Kuno memakan waktu tujuh hari menggunakan elang tunggangan. Jika ia takut mati, tinggalkan saja dia!"
Banyak murid di barisan elit mengangguk setuju. Mereka adalah penguasa generasi muda; menunggu seseorang adalah penghinaan bagi harga diri mereka.
Namun, sebelum Penatua Zhao sempat menjawab, suara langkah kaki yang pelan dan berirama terdengar menapaki tangga batu alun-alun.
Tap... Tap... Tap...
Seluruh mata menoleh. Sesosok pemuda berjubah hitam dengan rambut terikat longgar berjalan menembus kerumunan yang perlahan menyibak memberinya jalan. Di punggungnya, sebongkah benda raksasa terbalut kain rami menonjol secara mencolok.
Wajahnya tenang, matanya segelap malam, dan langkahnya seolah menyatu dengan hembusan angin.
Mata Yan Ting seketika membelalak lebar, keringat dingin langsung membanjiri dahinya. Ia mundur setengah langkah tanpa sadar, menabrak murid di belakangnya. "D-Dia..."
Chu Tian menyipitkan matanya, memindai pemuda berjubah hitam itu. "Tidak ada fluktuasi Qi. Seperti manusia fana. Siapa gelandangan ini?"
Jian Chen tidak mempedulikan tatapan bertanya, merendahkan, maupun ketakutan dari sekitarnya. Ia berjalan lurus ke arah mimbar batu, menatap Penatua Zhao.
"Jian Chen dari Puncak Awan Awan, melapor," ucapnya pelan.
Mendengar nama "Puncak Awan Awan", raut wajah Chu Tian dan para murid elit lainnya seketika berubah. Mereka tahu bahwa itu adalah wilayah terlarang milik Tetua Tertinggi yang legendaris, tempat yang tak boleh diinjak oleh murid mana pun.
Jian Chen melangkah masuk ke dalam barisan tiga puluh orang tersebut. Tatapan matanya yang dingin menyapu satu per satu wajah para "jenius" di sekitarnya, layaknya seekor elang yang sedang menghitung jumlah kawanan merpati.
Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.