AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 35
Wira dan Audrey sudah mandi bergantian. Kini mereka bersiap untuk keluar cari makan. Kebetulan Audrey sedang ingin makan makanan jepang. Entah ramen atau pun Sushi, yang jelas dua-duanya favorit Audrey.
Keluar dari kamar, Wira langsung menggenggam tangan Audrey. Seolah ingin menunjukkan pada semua penghuni mansion bahwa hubungan mereka sudah naik level.
"Kak, kita pamit dulu sama Ayah dan Bunda." Ucap Audrey mengingatkan, sebab dirumahnya semua anggota selalu pamit ke satu sama lain jika akan keluar rumah. Bukan sekedar komunikasi antar keluarga, tapi didalam 'pamit' itu tersisip doa agar mereka yang keluar rumah selalu kembali kerumah dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun.
Berbeda dengan Wira yang bisa dihitung jari melakukan hal tersebut. Atau bahkan sudah tidak pernah.
Wira tak menjawab, tapi mengikuti langkah Audrey mencari keberadaan orang tuanya.
Tok. Tok.
Audrey mengetuk ruang kerja Ayah Bimasena.
"Masuk," Suara berat terdengar dari dalam ruangan. Memang jam-jam segini Ayah selalu menghabiskan waktu nya di ruang kerja sampai menjelang makan malam.
Cklek.
Audrey menggerakkan handle, perlahan pintu terbuka.
"Eh, ada apa, sayang ?" tanya Ayah dengan wajah sumringah saat melihat Audrey dari balik meja kerjanya.
"Aku mau pamit keluar sebentar, Yah. Cari makan sama Kak Wira. Ayah mau titip apa ?" Tanya Audrey dengan nada seperhatian itu membuat hati Ayah tiba-tiba terasa hangat. Sudah lama tidak ada yang bertanya seperti ini. Menanyakan Ayah mau makan apa ? Ayah mau beli apa ? Atau, Ayah sedang apa ?Tidak ada. Tidak pernah ada meski Ayah sudah melanjutkan hidup dengan istri baru nya.
Ayah membuka kaca mata bacanya, lalu berjalan menghampiri Audrey dan Wira yang berdiri di ambang pintu. Wira sendiri memalingkan wajah, melihat ke sisi lain. Bukan karena benci apalagi sampai tidak mau melihat wajah Ayahnya. Wira hanya tidak tau cara bersikap 'manis' pada orang lain selain pada istrinya sendiri.
Plak.
Tiba-tiba Wira menepis tangan Ayah ketika Ayah hendak membelai kepala menantu nya.
"KAK ?!" ucap Audrey dengan penuh penekanan dan memberikan tatapan tajam pada suaminya.
"Astaga. Pelit sekali. Ayah cuma mau mengusap kepala menantu kesayangan Ayah," Ayah membela diri. Tapi Wira tidak perduli.
"Tidak perlu. Tidak boleh ada kontak fisik dengan istri ku selain jabat tangan! Sudah, kami mau pergi. Kalau tidak mau titip, nanti kami bawakan saja makanan yang Ayah suka. Ayo sayang," Wira menyeret Audrey keluar dari ruangan sang Ayah. Bukan menyeret dalam arti buruk, hanya memaksa Audrey mengikuti langkahnya dengan sedikit menarik genggaman tangannya.
"Kak, mau kemana ?"
Saat Wira dan Audrey berjalan menuju pintu keluar, Shena tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Kenapa ?"
Bukan Wira yang menjawab, tapi Audrey.
"Kak, sebentar lagi makan malam. Kenapa mau pergi ?" tanya Shena pada Wira, sengaja mengacuhkan Audrey seolah Audrey tak terlihat di matanya.
'Oh, nyari gara-gara rupanya!' batin Audrey. Perang telah dimulai.
"Kak, ayo...laper nih, capek digempur terus tapi nggak di kasih makan,"
Srett! Ada rasa perih saat mendengar kata-kata Audrey, tetapi Shena paksa untuk tetap tegar.
"Kami mau pergi makan malam. Ayo, sayang." Wira melingkarkan tangan dipinggang Audrey.
Tanpa kata-kata lagi Wira dan Audrey meninggalkan Mansion. Namun sebelum benar-benar pergi, masih sempat Audrey lihat lirikan tajam Shena saat Audrey melintas dihadapan wanita itu.
Bibit calon perebut suami orang itu nampak sangat marah. Tapi Audrey tidak perduli.
'Tunggu saja, Audrey. Pembalasanku akan sangat menyakitkan!' ucap Shena dalam hati.
Di mobil...
"Wah, mobilnya jauh lebih nyaman dari yang kemarin," Mata Audrey berkeliling, memandang setiap sudut kabin. Aroma mobil baru yang khas, segar dan juga menenangkan. Aroma dari perpaduan material premium berkualitas tinggi.
Wira hanya membalas dengan senyuman. Dia ikut senang melihat Audrey senang. Apapun demi kenyamanan sang istri, Wira akan lakukan.
🏵️
"Shen, kamu ngapain bengong disitu ?" Bunda menepuk bahu Shena yang masih berdiri di tempat sama meskipun Audrey dan Wira sudah beberapa menit lalu meninggalkan Mansion.
"Bun, aku mau pindah kamar." Shena menoleh ke Bunda Santi.
"Pindah kamar gimana maksud kamu ?"
Shena berjalan ke meja makan, menuang air di gelas kemudian meneguknya sampai tandas. Wanita itu menarik nafas panjang, mencoba menguasai dirinya.
"Aku mau pindah ke depan kamar Kak Wira." Shena menatap Bunda, suaranya tenang penuh keyakinan.
"Untuk apa pindah ke kamar yang lebuh kecil dari kamar kamu yang sekarang ?" Bunda membalas tatapan Shena dengan tatapan datar tapi menyimpan banyak hal yang belum terucap.
"Ya, aku.....cuma bosan. Pengen suasana baru, Bun."
"Shen, kamu jangan macam-macam ya, Bunda memang nggak suka sama Istri kakak mu, tapi Bunda nggak mau sampai kamu melakukan hal yang diluar batas." Suara Bunda pelan, nyaris berbisik. "Ceritakan pada Bunda rencana kamu sampai kamu mau pindah kamar segala ?!"
Pertanyaan itu menohok. Shena menarik nafas panjang lagi, mencoba menjawab sejujur mungkin.
"Bun, Audrey itu licik. Dia sengaja membuat Kak Wira menjauhi ku. Di kantor juga Kak Wira sama sekali nggak melihat ku sebagai adiknya."
Bunda tidak bereaksi. Matanya menatap lurus, tapi perlahan berubah kelam.
Shena melanjutkan, lebih pelan. "Aku cuma ingin menyadarkan Kak Wira. Dia harus tau kalau Audrey itu rubah licik yang coba memisahkan adik dengan kakaknya sendiri."
Wajah Bunda makin gelap. Ia menghela nafas panjang, lalu menatap putri nya tajam.
"Kamu sadar nggak......kamu itu berlebihan!"
Shena mengerutkan dahi. "Maksud Bunda ?"
"Kamu itu ingin menyadarkan Kakak mu atau sebenarnya ada hal lain yang......kamu sembunyikan dari Bunda ?! Jangan bilang kalau kamu punya perasaan yang berbeda pada Kakak mu sendiri. Kamu cemburu, kan ?"
Shena tercekat. Tak siap mendengar penilaian sekeras itu dari mulut Bunda nya sendiri.
"Ng-nggak, Bun. Bu-bukan begitu maksudku. Ng-nggak mungkin aku punya perasaan lain terhadap kakakku sendiri, aku cuma...."
Kalimat Shena menggantung. Dadanya kian sesak. Karena sejujurnya, ucapan Bunda seratus persen benar.
Bunda Santi menatap Shena lebih dalam. Nadanya tetap lembut, tapi setiap katanya seperti pisau yang menyayat perlahan.
"Jangan melangkah sejauh itu, Shen. Meski hanya kakak tiri mu, tapi Bunda sudah menganggap Wira seperti putra kandung Bunda sendiri. Tidak mungkin Bunda bisa merestui kamu menikah dengan kakakmu sendiri."
Shena menunduk. Rasa malu menyusup pelan.
"Bagiku Kak Wira bukan kakak. Di mataku Kak Wira itu laki-laki dewasa yang aku.....suka." Bisik Shena, suaranya terdengar ragu.
Bunda menghela nafas panjang, nadanya penuh kekecewaan yang sulit disembunyikan.
"Tidak, Shena. Jangan lanjutkan perasaan mu itu!"
Shena terdiam. Tak tau harus berkata apa.