Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Jam makan siang Satria menemani Irene untuk pergi ke perusahaan Nathan. Irene ingin mengajak Kakaknya itu untuk makan siang bersama.
"Kamu yakin Kakakmu ada di perusahaan?" tanya Satria ragu.
Sebagai seorang CEO di perusahaan Satria tahu jika sewaktu-sewaktu bisa saja Nathan tidak ada di tempat jika mereka ingin bertemu.
"Aku tidak tahu, tapi Kita pergi dulu saja kesana ya Sayang." bujuk Irene sambil bergelayut manja pada Satria.
.
.
Sampai di perusahaan Nathan, ternyata benar dugaan Satria jika Nathan sudah keluar dari kantor sedari jam sebelum istirahat.
Tak hilang akal Irene tentu saja mencari keberadaan Bram, Asisten Kakaknya itu.
Tanpa mengetuk pintu, Irene masuk ke dalam ruangan Bram yang ada di sebelah ruangan Nathan. Bram sendiri yang sedang menerima panggilan mengangkat satu tangannya pada Irene agar Dia tidak bertanya lebih dulu sekarang.
"Ada apa Nona kemari?" tanya Bram setelah selesai dengan panggilannya.
Bram mempersilahkan Irene juga Satria untuk duduk.
"Kak Nathan pergi kemana? Kenapa Kamu gak ikut dengan Kakak?" tanya Irene beruntun.
Bram menghela nafas kasar, Irene sama sekali tidak berubah. Dia masih saja seposesif ini pada Nathan padahal sudah memiliki Suami sekarang.
"Bos ada urusan di luar." jawab Bram sambil melirik sejenak pada Satria.
"Urusan Bos dengan mantan istri adik iparnya sendiri." batin Bram
"Urusan apa?"
"Urusan pekerjaan." jawab Bram.
Irene sudah ingin kembali mengajukan pertanyaan tapi Satria menggenggam satu tangannya.
"Sudah Irene, lebih baik Kita pergi berdua saja. Nanti Kamu telat makan siang." bujuk Satria.
"Yang dikatakan suamimu benar Nona. Lain kali kalau ingin bertemu Bos, Anda bisa menghubunginya dulu." tutur Bram mengingatkan.
Mau tidak mau Irene mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Mereka pun pergi dari ruangan Bram.
"Bos, Bos. Jatuh cinta sama mantan adik ipar sendiri." gumam Bram.
.
.
Saat mobil Satria keluar dari perusahaan. Satria tidak sengaja melihat pemandangan yang menarik perhatiannya.
"Bukankah itu."
"Sayang, Sayang." panggilan Irene yang cukup keras membuat Satria langsung menoleh pada istrinya.
"Ada apa Sayang?" tanya Satria.
"Kamu lagi lihat apa sih?" Irene memperhatikan tempat yang tadi dilihat oleh Satria.
"Engga Sayang, Aku gak lihat apa-apa." jawab Satria dusta.
Padahal tadi dirinya sedang melihat Nathan bersama dengan Vania mantan istrinya juga Resa putranya. Satria melirik sekilas pada tempat itu tapi ketiganya sudah tidak ada disana.
.
.
"Gimana menurut Kamu?" tanya Nathan.
Kini mereka sudah sampai di rumah Vania. Nathan kembali ingin meminta makan di rumah Vania.
"Tempatnya cocok, tapi kalau boleh tahu berapa harga sewanya?"
Vania tentu harus bertanya lebih dulu hal ini. Lokasi strategis terutama di tengah pusat Kota, tidak mungkin harga sewanya murah. Vania harus memperhitungkan semuanya dengan baik dan sempurna.
Nathan sudah berfikir ingin mengusili Vania setelah melihat ekspresi penasaran di wajah Vania.
"Mendekatlah." pinta Nathan yang mencondongkan tubuhnya.
Vania justru menghindar dan menggeser duduknya yang berdampingan dengan Nathan di meja makan.
Sreett
Tahu Vania akan menjauh, Nathan justru menarik kursi yang Vania duduki untuk mendekat padanya.
"Nathan." Vania menggeram dengan nada tertahan.
Untung Resa sedang tidur siang saat mereka sampai dirumah. Jika tidak Resa akan melihat tingkah Nathan yang selalu menggodanya.
"Katanya Kamu mau tahu harga sewa tempat itu."
"Ya cepat katakan berapa harganya." ucap Vania buru-buru karena merasa gugup berdekatan sedekat ini dengan Nathan.
Nathan membisikan kalimat yang membuat kedua mata Vania membola. Dengan sekuat tenaga Vania memukul bahu Nathan keras.
PLAK
"Awwss, Vania." Nathan mengusap bahunya yang dipukul lumayan kencang oleh Vania.
"Kamu bercanda terus sih." kesal Vania tapi Dia juga membantu mengusap bahu Nathan yang di pukulnya.
"Aku gak bercanda Vania, Aku serius." kukuh Nathan.
Vania melihat ke arah mata Nathan dan berusaha mencari kebohongan di mata Nathan. Tapi yang Vania lihat justru ketulusan dan keseriusan yang sesuai dengan apa yang di ucapkan Nathan.
"Tapi Nathan, Aku."
"Jadilah istriKu Vania, Aku sungguh-sungguh."
.
.
......................