Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Transmisi Jiwa
Della menutup wajahnya dengan kedua tangan, tapi rasa perih itu tidak berkurang.
Di bawah telapak tangannya, ia bisa merasakan permukaan keras yang dingin dan halus menonjol dari kelopak matanya. Bukan lagi bola mata yang lunak, melainkan kaca.
"Del! Jangan dilihat! Tutup mata loe!" Geri berteriak panik sambil mencoba meraih wajah Della.
"Gue nggak bisa nutup mata, Ger!" Della menjerit frustasi. Suaranya kini memiliki gema logam, seolah-olah pita suaranya tergesek kabel kopling yang kering. "Gue... gue bisa liat semuanya. Gue bisa liat masa lalu loe, gue bisa liat apa yang bakal loe omongin setelah ini!"
Sasha mundur selangkah, menutupi mulutnya agar tidak muntah.
Di bawah sinar bulan yang temaram di pinggiran Cisaat, ia melihat pemandangan yang akan menghantuinya seumur hidup: Dari lubang mata Della, dua buah cermin kecil berbentuk oval berputar perlahan, memantulkan cahaya dari segala arah.
"Kita harus pergi dari sini. Puing-puing itu... gerak lagi!" Geri menunjuk ke arah reruntuhan gudang.
Benar saja, tongkat perak milik Sang Kurator yang tertancap di reruntuhan mulai memancarkan denyut cahaya merah.
Puing-puing mesin motor tua di bawahnya mulai merayap dan menyatu, membentuk sesosok makhluk mekanis yang cacat, menyerupai laba-laba raksasa yang terbuat dari sasis dan knalpot karatan.
Della segera naik ke atas Scoopy-nya. Ia tidak lagi melihat jalan dengan matanya, melainkan melalui proyeksi yang muncul di kepalanya dari kedua spion motornya.
"Naik, Ger! Sasha, pegangan yang kencang!"
Kali ini, begitu mesin dinyalakan, tidak ada suara knalpot. Yang terdengar adalah suara nafas berat seorang wanita dan isakan tangis pria tua yang menyatu dalam irama mesin.
Motor itu melesat.
Della tidak memutar stang dengan tangan sepenuhnya, tapi motor itu berbelok sendiri mengikuti "jalur cahaya" yang hanya bisa dilihat oleh Della.
Saat mereka memacu motor di Jalur Lingkar Selatan yang sepi, horor sebenarnya dimulai.
Della menyadari bahwa dengan dua mata spion itu, ia bisa melihat "Transmisi Jiwa" di jalanan.
Ia melihat setiap motor yang lewat bukan sebagai kendaraan, melainkan sebagai penjara.
Di dalam setiap lampu depan motor yang berpapasan, ia melihat wajah-wajah orang yang pernah hilang di jalanan Sukabumi.
Mereka terjepit di antara kabel-kabel, mata mereka menjadi bohlam, dan teriakan mereka menjadi suara klakson.
"Ger, motor-motor itu... mereka semua hidup!" Della berteriak di tengah angin.
"Jangan fokus ke sana, Del! Fokus ke jalan!" Geri mencoba menenangkan, meski tangannya sendiri gemetar hebat.
Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan. Sebuah motor sport hitam tanpa pengendara melaju dengan kecepatan yang mustahil. Motor itu tidak memiliki plat nomor, dan di bagian tangki nya, terdapat lubang besar yang berdenyut seperti paru-paru.
Itu adalah Kurir Sang Kolektor.
"Dia mau Mata Kanan loe, Del!" Geri melihat ke belakang. "Dia makin deket!"
Motor sport hitam itu menabrak bagian belakang Scoopy Della.
BRAKK!
Benturan itu membuat Della merasakan sakit yang luar biasa di pinggangnya, seolah tulang punggungnya sendiri yang ditabrak besi.
Di saat yang sama, spion kanan Della Mata Kanan bergetar hebat dan mulai membisikkan ramalan kematian.
"Sepuluh detik lagi... ban depan akan pecah... lima detik lagi... kegelapan akan menelan kalian..."
"NGGAK! GUE NGGAK MAU DENGER!" Della memaksakan kehendaknya. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, dan darahnya yang berwarna keperakan menetes ke stang motor.
Seketika, kedua spion motor itu berhenti berputar di mata Della. Sebagai gantinya, jarum speedometer di motornya melesat melewati angka 140 km/jam, padahal mesin Scoopy itu secara logika tidak akan sanggup mencapainya.
Della melihat sebuah celah sempit di antara dua truk besar di depan. Logikanya bilang mereka tidak akan muat, tapi Mata Kiri menunjukkan bahwa di masa lalu, celah itu pernah lebih lebar.
Della "menarik" realita masa lalu itu ke masa sekarang.
SREEEEET!
Scoopy itu menembus celah truk seolah-olah mereka adalah hantu yang tidak memiliki massa fisik. Motor sport hitam yang mengejar mereka tidak bisa mengerem dan menghantam bagian belakang truk dengan ledakan api berwarna ungu.
Mereka sampai di depan sebuah bengkel kecil yang sudah tutup di daerah baros.
Della turun dari motor dan langsung jatuh tersungkur. Matanya kedua cermin itu kini meredup dan perlahan masuk kembali ke dalam rongga matanya, berganti dengan mata manusia aslinya yang kini memerah karena pecahnya pembuluh darah.
"Del! Loe balik!" Sasha memeluk Della sambil terisak.
Della terengah-engah, melihat tangannya yang kini dipenuhi bekas oli hitam yang tidak bisa dihapus. "Dia belum berhenti, Ger. Tadi itu cuma kurir kecil. Sang Kolektor... dia sekarang tahu kalau gue bisa manipulasi waktu pake spion ini."
Geri melihat ke arah Scoopy krem itu. Di bagian bodinya yang lecet, kini muncul tulisan yang tergores dalam:
"KM 23: TEMPAT JIWA DITUKAR."
"Besok kita harus ke KM 23 jalan raya arah Pelabuhan Ratu," ucap Della lirih. "Itu tempat Kakek Tan bikin perjanjian, Kita harus putus kontraknya sebelum gue bener-bener jadi bagian dari mesin ini."
Della masih terkapar di lantai semen bengkel yang dingin. Nafasnya pendek-pendek, sementara di dalam rongga matanya, ia masih bisa merasakan sisa-sisa rotasi kaca yang menyakitkan. Perlahan, penglihatan fisiknya kembali, namun dunianya kini terbelah dua: mata kanan melihat segalanya sedikit lebih cepat (masa depan beberapa detik kedepan), sementara mata kiri melihat sisa-sisa bayangan masa lalu yang tertinggal di udara.
"Del, minum dulu," Geri menyodorkan botol air mineral. Tangannya yang sempat terkena cairan perak kini tampak memiliki gurat-gurat hitam seperti kabel yang tertanam di bawah kulit.
Della meminum air itu dengan rakus, lalu menatap motornya.
Scoopy itu tampak "puas".
Mesinnya mendesis pelan, mengeluarkan uap tipis yang membentuk siluet tangan seorang wanita yang sedang membelai kepala Della.
"Lo serius soal KM 23?" tanya Geri sambil memeriksa goresan di body motor. "Itu jalur maut, Del. Tanjakan Cikidang atau jalur utama, dua-duanya 'basah' kalau malam."
"Kakek ninggalin koordinat itu di memori spion tadi, Ger," Della berdiri dengan kaki yang masih gemetar. "Di sana bukan cuma tempat perjanjian. Di sana ada 'Gudang Transit'. Tempat semua jiwa yang dicuri sebelum dikirim ke Sang Kolektor. Bibi Mei juga pernah ditahan di sana sebelum Kakek berhasil 'mencurinya' balik ke dalam spion."
Sasha yang sedang duduk di bangku kayu pojok bengkel tiba-tiba berdiri. "Tunggu... kalau Bibi Mei dicuri balik, berarti ada sesuatu yang ditinggalkan sebagai penggantinya di sana, kan?"
Della terdiam, Ia melihat ke arah spion kanannya.
Di dalam pantulan hitamnya, ia melihat sebuah peti besi tua yang terkubur di bawah aspal KM 23. Di dalam peti itu, ada suara asli Bibi Mei yang terus berteriak tanpa henti, memanggil siapa pun yang lewat untuk bertukar nasib.
"Kakek nuker suara Bibi Mei dengan 'keberuntungan' motor ini," bisik Della. "Dan setiap kali motor ini menyelamatkan kita, suara itu semakin kencang manggil di KM 23. Itu alasannya kenapa jalur itu sering makan korban. Mereka tertarik sama suara itu."
Malam itu, mereka tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka tahu, Sang Kolektor sudah menandai aroma tubuh mereka. Geri mulai melakukan modifikasi nekat pada Scoopy Della.
"Kalau motor ini butuh emosi, gue bakal kasih pengapian yang lebih stabil," Geri membongkar bagian kelistrikan. Ia mengambil kabel-kabel tembaga tua milik ayahnya dan melilitkannya dengan kain yang sudah dibasahi air garam metode kuno untuk menahan energi statis gaib.
Della sendiri duduk di samping motor, memegang sisir perak. Ia mencoba melakukan komunikasi dengan Bibi Mei tanpa menggunakan mata spionnya.
"Bi," panggilnya lirih. "Kalau nanti di KM 23 saya harus memilih... tolong jangan biarkan teman-teman saya yang jadi bayarannya."
Spion kiri motor itu mendadak hangat.
Sebuah tulisan muncul di permukaan kacanya, tertulis dengan embun napas manusia: "Gunakan rantai. Jangan biarkan roda menyentuh bayangan hitam."
🌸🌸🌸🌸🌸
Tepat jam tiga pagi, saat kabut Sukabumi sedang tebal-tebalnya, mereka berangkat. Della mengendarai Scoopy-nya, sementara Geri membonceng Sasha menggunakan motor trail-nya yang sudah dimodifikasi dengan "pagar" kawat tembaga di sekeliling mesin.
Begitu mereka keluar dari batas kota Baros dan memasuki jalur menuju arah selatan, lampu-lampu jalan mulai berkedip dalam pola yang sama dengan denyut nadi Della.
Di setiap kilometer yang mereka lewati, Della melihat angka di patok jalan berubah menjadi warna merah.
KM 15...
KM 18...
KM 21...
Hawa dingin mulai menusuk tulang. Di spion kanan (Mata Kanan), Della melihat bayangan dirinya sendiri versi yang lebih gelap sedang berdiri di pinggir jalan KM 23, memegang sebuah palu besar, siap menghantam roda depannya.
"Ger! Siap-siap! Di depan ada 'Diri Gue' yang lain!" teriak Della lewat intercom.
"Tetap gas, Del! Jangan lihat matanya!" balas Geri.
Namun, saat mereka tepat berada di titik KM 23, aspal di bawah roda mereka mendadak berubah menjadi cair. Motor Scoopy Della tidak lagi melaju di atas aspal, melainkan tenggelam ke dalam genangan oli hitam yang dipenuhi oleh ribuan tangan-tangan manusia yang mencoba menarik mereka ke bawah.