Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Seno
"Sebenarnya, sakit apa yang di derita Seno Mbah?" Tanya Bu Santi walaupun jelas apa yang dia lihat saat Sanur mengobati Seno, semuanya yang terjadi di luar akal sehat.
"Kekuatan hitam sedang mengelilingi anakmu itu." Kata Mbah Sanur.
"Kekuatan hitam Mbah?"
"Iya, sepertinya dia tidak akan berhenti sebelum apa yang dia inginkan tercapai." Kata Mbah Sanur melanjutkan sambil menatap bara kemenyan yang mulai meredup. "Seseorang di desa ini sedang mengirimkan teluh, memainkan ilmu hitam yang sangat tua untuk menghancurkan hidup Seno. Dan sepertinya, orang itu tidak akan berhenti sampai nyawa Seno benar-benar lepas dari raganya."
Bu Ranti dan Pak Sugeng tersentak, wajah mereka pucat pasi mendengar kenyataan itu.
"Astaghfirullah, Mbah... siapa yang setega itu?" isak Bu Ranti sambil memeluk suaminya.
"Apa salah anakku, Mbah? Seno memang nakal, tapi dia bukan penjahat. Kenapa ada yang tega melakukan hal sekeji ini padanya?" sahut Bu Ranti dengan nada suara yang bergetar antara amarah dan kesedihan yang mendalam.
Mbah Sanur hanya menghela napas panjang, matanya melirik ke arah jendela yang tertutup rapat namun terasa seolah ada yang sedang mengintip dari balik kegelapan.
"Mbah, tolong obati Seno Mbah." Pinta Bu Ranti.
"Akan aku usahakan." Kata Mbah Seno.
Mbah Sanur terdiam sejenak, tangannya yang keriput perlahan menaburkan sisa serbuk kemenyan ke atas bara, menciptakan asap kelabu yang memutar-mutar di udara. Di atas tikar pandan, Seno kini terbaring tak berdaya. Napasnya pendek-pendek. Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, Seno sedang tidak beristirahat dengan benar. Karena saat ini dia justru sedang terjebak dalam ruang gelap memorinya yang paling kejadian itu.
Dalam tidurnya, Seno merasa dirinya kembali ke malam berdarah itu.
Suasana sawah yang gelap, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin.
Di hadapannya, Aning sudah tidak berdaya. Tubuh gadis itu gemetar hebat, air matanya bercampur dengan lumpur sawah yang mengotori wajah pucatnya. Seno berdiri di sana, menatap Aning dengan pandangan yang gelap dan penuh nafsu, tanpa sedikit pun rasa iba.
Bayangan itu bergerak lambat. Seno melihat dirinya sendiri mulai mendekat, lalu dengan kasar ia mulai menggerayangi tubuh Aning. Dan menikmati setiap isak tangis ketakutan yang keluar dari mulut Aning yang di sumbal.
Rasa sakit Aning justru menjadi bahan bakar kegilaan Seno malam itu.
"Sudahlah, Ning... diam saja," suara Seno dalam mimpi itu terdengar menggema, dingin dan menjijikkan. "Nikmati saja. Permainanku ini jauh lebih bagus dan menggairahkan daripada mereka. Mereka tadi permainannya sangat datar, tidak seru. Kamu harusnya beruntung aku yang terakhir."
Dalam mimpi itu, Seno tertawa sinis sambil terus melakukan aksi kejinya. Ia merasa sangat berkuasa atas tubuh yang sudah hancur martabatnya itu. Ia tidak peduli betapa Aning memohon dengan matanya agar dilepaskan.
Bagi Seno saat itu, Aning hanyalah objek untuk melampiaskan sisi binatangnya.
Namun, suasana mimpi itu mendadak berubah. Langit yang gelap menjadi semerah darah. Saat Seno sedang berada di puncak kenikmatan biadabnya, wajah Aning yang semula menangis tiba-tiba berubah kaku. Matanya melotot putih sempurna, dan lehernya berputar dengan bunyi krak yang sangat nyaring.
Tangan Aning yang semula lemah, tiba-tiba mencengkeram bahu Seno dengan kuku-kuku yang menghitam dan tajam.
"Kau Senang Seno?" bisik suara itu tepat di telinga Seno, membawa hawa sedingin es.
Di ruang tengah, tubuh Seno yang sedang terbaring mulai kejang-kejang. Mulutnya menganga, mengeluarkan suara rintihan tertahan yang menyeramkan. Keringat dingin mengucur deras, membasahi bajunya yang sudah lusuh. Pak Sugeng dan Bu Ranti yang melihat hal itu hanya bisa menangis ketakutan, tidak tahu bahwa anak yang mereka bela mati-matian adalah seorang monster yang sedang dihantui oleh dosanya sendiri.
Mbah Sanur yang melihat kegelisahan Seno memejamkan mata rapat-rapat. perlahan mengulurkan tangannya, meletakkannya tepat di atas dahi Seno yang masih basah oleh keringat dingin. Bibirnya kembali bergerak, merapalkan mantra penenang sukma.
Seketika, kejang-kejang di tubuh Seno mereda. Napasnya yang tadi tersengal-sengal kini berubah menjadi teratur, meski wajahnya tetap pucat bak mayat.
Bayangan mengerikan tentang Aning di dalam mimpinya seolah ditarik paksa oleh kekuatan Mbah Sanur, menyisakan kekosongan yang membuat Seno tertidur jauh lebih dalam.
Dia merapikan bungkusan kain hitamnya dan berdiri perlahan.
Jarum jam di dinding rumah Pak Sugeng sudah hampir menunjuk ke angka dua belas malam.
"Sudah tenang sekarang. Dia tidak akan bermimpi buruk untuk malam ini," ucap Mbah Sanur dengan suara parau.
"Mbah mau pulang sekarang? Ini sudah tengah malam, Mbah. Bahaya di jalan," ujar Pak Sugeng dengan nada khawatir sekaligus berharap sang dukun tetap tinggal untuk berjaga.
Mbah Sanur menggeleng pelan.
"Aku harus pulang. Ada hal yang harus aku persiapkan di rumah. Besok malam, tepat saat Magrib kembali datang, aku akan ke sini lagi. Pengobatan ini belum selesai. Arwah itu hanya mundur, bukan menyerah."
Mbah Sanur menatap Pak Sugeng dan Bu Ranti dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jaga anakmu baik-baik. Jangan biarkan lampu di ruangan ini mati sedikit pun. Dan ingat, jika dia mengigau lagi, jangan sekali-kali kalian menjawab panggilannya."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Mbah Sanur melangkah keluar menembus kegelapan malam desa yang sunyi. Pak Sugeng mengunci pintu dengan tangan gemetar, sementara Bu Ranti terduduk lemas di samping Seno.
Saat Mbah Sanur melewati kerimbunan pohon bambu di pinggir desa. Hawa dingin yang menusuk mulai merayap di tengkuknya.
Mbah Sanur menghentikan langkah. Ia memejamkan mata, merasakan getaran ganjil di sekelilingnya.
"Sapa kowe? Wani-wanine ngetutke aku." teriaknya dengan suara parau yang menggema di kegelapan.
Namun, tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang semakin kencang.
"Metuo! Ojo dadi pengecut ndelik ing mburiku!" bentak Mbah Sanur lagi dengan berani meskipun dia tahu yang mengikutinya bukanlah manusia.
Tiba-tiba, tanpa ada peringatan, tubuh Mbah Sanur tersentak hebat. Seolah ada tangan yang tak kasat mata mencengkeram lehernya dan merenggutnya ke atas.
Kakinya tak lagi berpijak di tanah, dia melayang tinggi ke udara dengan posisi tubuh yang kaku.
Ugh!
Leher Mbah Sanur terasa tercekik dengan sangat kuat. Tekanannya begitu dahsyat hingga matanya melotot dan urat-urat di keningnya menegang. Ia mencoba merapalkan mantra, namun mulutnya hanya bisa menganga tanpa suara.