NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

​Sinar matahari pagi belum sepenuhnya benderang, namun kesibukan di kediaman Komisaris Polisi Davino sudah mulai terasa sunyi yang damai. Alisa baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah menjalani shift malam yang sangat melelahkan di rumah sakit. Sebagai seorang dokter, dedikasinya sering kali menuntut waktu istirahatnya, namun memikirkan ia akan pulang ke pelukan suaminya selalu menjadi penawar lelah yang paling ampuh.

​Langkah kaki Alisa terasa berat saat menaiki tangga menuju kamar utama. Tubuhnya terasa lengket dan pikirannya hanya tertuju pada air hangat yang bisa merilekskan otot-ototnya yang tegang. Di dalam kamar, ia tidak melihat sosok Vino. Ia berasumsi suaminya mungkin sedang berada di kantor atau sedang lari pagi seperti rutinitas biasanya.

​Tanpa membuang waktu, Alisa meletakkan tasnya dan langsung menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan uap hangat memenuhi ruangan kecil itu. Di bawah kucuran air, ia memejamkan mata, membiarkan segala kepenatan dari rumah sakit luruh bersama air. Ia menghabiskan waktu cukup lama, menikmati sensasi tenang yang jarang ia dapatkan.

​Namun, kecerobohan terjadi karena faktor kelelahan. Saat ia mematikan air dan hendak meraih pakaian ganti, ia baru menyadari bahwa ia masuk ke kamar mandi hanya dengan membawa diri. Lemari pakaian ada di luar, dan ia lupa menyiapkan baju di gantungan kamar mandi.

​"Duh, Alisa... efek kurang tidur nih," gumamnya pelan pada diri sendiri.

​Ia melirik ke arah pintu. Suasana di luar tampak hening. Ia yakin Vino belum kembali. Dengan sedikit ragu namun merasa aman karena ini adalah wilayah pribadinya, Alisa melilitkan handuk putih bersih yang hanya menutupi dari dada hingga paha atasnya. Ia membuka pintu kamar mandi perlahan, membiarkan uap panas keluar terlebih dahulu, lalu melangkah keluar dengan rambut yang masih basah dan meneteskan sisa air di bahunya.

​Tepat saat ia melangkah menuju walk-in closet, pintu kamar utama terbuka.

​Vino masuk dengan napas yang masih sedikit memburu. Ia baru saja selesai melakukan latihan fisik intens di gym pribadi lantai bawah. Kaos singlet hitam yang ia kenakan basah oleh keringat, menonjolkan otot-otot lengannya yang kokoh. Handuk kecil tersampir di lehernya, dan ia sedang menyeka dahi saat pandangannya terpaku pada satu titik.

​Waktu seolah berhenti.

​Alisa mematung di tengah ruangan. Kulitnya yang putih tampak kemerahan terkena uap air hangat, butiran air masih mengalir di leher dan tulang selangkanya. Penampilannya yang sangat alami—tanpa make-up, hanya berbalut handuk yang tampak rapuh—membuat jantung Vino berdegup kencang dengan irama yang berbeda dari saat ia lari di treadmill tadi.

​"Alisa..." suara Vino terdengar berat dan serak.

​Alisa tersentak, wajahnya langsung memerah padam. "V-Vino? Aku pikir kamu belum pulang!" Ia secara refleks merapatkan lilitan handuknya, namun justru gerakan itu membuat Vino semakin tidak bisa mengalihkan pandangan.

​Vino menutup pintu kamar di belakangnya tanpa melepaskan kontak mata. Ia berjalan mendekat perlahan, langkahnya mantap namun lembut. Ada pancaran keinginan yang sangat dalam di matanya. Sudah cukup lama mereka menikah, namun kesibukan masing-masing sering kali membuat momen intim seperti ini tertunda. Vino telah menahan rasa rindu yang luar biasa pada istrinya, dan pemandangan di depannya adalah pemicu yang tak terbendung.

​"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Vino saat jarak mereka tinggal beberapa senti.

​Alisa bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh Vino yang baru selesai berolahraga. Aroma maskulin suaminya yang bercampur keringat justru terasa sangat menggoda di hidungnya. Rasa malu Alisa perlahan berganti dengan debaran jantung yang searah dengan Vino.

​Vino mengulurkan tangan, menyentuh pipi Alisa yang hangat dengan punggung jarinya, lalu turun ke bahunya yang lembap. "Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu," lanjut Vino, kini tangannya berada di tengkuk Alisa, menariknya perlahan agar wajah mereka sejajar.

​Alisa tidak menolak. Ia justru menyandarkan tangannya di dada Vino yang bidang, merasakan detak jantung suaminya yang liar. "Vino, aku belum pakai baju..." bisiknya lirih, namun nada suaranya tidak mengandung penolakan.

​"Kamu tidak butuh itu sekarang," jawab Vino sebelum akhirnya menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang penuh kerinduan dan gairah yang tertahan.

​Ciuman itu awalnya lembut, seolah Vino takut akan menyakiti istrinya, namun dengan cepat berubah menjadi dalam dan menuntut. Alisa membalasnya dengan sama intensnya, melingkarkan lengannya di leher Vino, membiarkan handuk yang ia kenakan sedikit melonggar. Vino mengangkat tubuh Alisa dengan mudah, membawanya menuju tempat tidur besar yang menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka.

​Di bawah temaram lampu kamar yang belum sempat dimatikan, segalanya mengalir dengan begitu romantis. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi seragam polisi atau jas dokter yang membatasi. Hanya ada Vino dan Alisa, dua jiwa yang akhirnya menyatu dalam komitmen lahir dan batin yang paling suci. Vino memperlakukan Alisa dengan sangat lembut, setiap sentuhannya adalah bentuk pemujaan dan janji untuk selalu melindungi. Malam yang dingin di luar sana sama sekali tak terasa di dalam kamar yang penuh dengan kehangatan cinta itu.

​Siang pun tiba, cahaya matahari yang lebih terang mulai menyelinap di sela-sela gorden. Alisa terbangun dengan perasaan yang luar biasa tenang. Ia merasakan lengan kokoh melingkar di pinggangnya. Saat ia menoleh, ia mendapati Vino sudah terjaga, menatapnya dengan senyum paling tulus yang pernah Alisa lihat.

​"Selamat siang, Nyonya Davino," bisik Vino sembari mengecup kening istrinya.

​Alisa tersenyum malu, menyembunyikan wajahnya di dada Vino. "Selamat siang, Pak Komisaris."

​"Tidurmu nyenyak?"

​"Sangat nyenyak. Tapi badanku sedikit pegal," goda Alisa dengan tawa kecil.

​Vino terkekeh, lalu ia bangkit dari tempat tidur dan tiba-tiba menggendong Alisa ala bridal style. Alisa menjerit kecil karena terkejut. "Vino! Mau ke mana?"

​"Membersihkan diri. Kita harus bersiap, tapi aku ingin menghabiskan sedikit waktu lagi bersamamu sebelum kita kembali ke dunia luar," ujar Vino sembari berjalan menuju kamar mandi.

​Di dalam kamar mandi yang luas, Vino menyalakan bathtub dan juga shower. Suasana siang itu menjadi kelanjutan dari keintiman mereka. Di bawah kucuran air, mereka mandi bersama, saling membantu menyabuni punggung, diselingi tawa dan kecupan-kecupan kecil yang romantis. Tidak ada lagi rasa canggung, yang ada hanyalah kenyamanan yang mendalam sebagai suami istri.

​Vino memeluk Alisa dari belakang di bawah shower, membiarkan air hangat membasahi mereka berdua. "Terima kasih sudah menjadi istriku, Alisa. Aku berjanji akan selalu membuatmu merasa dicintai seperti ini setiap hari."

​Alisa berbalik, menangkup wajah suaminya, dan mencium bibirnya singkat. "Aku juga, Vino. Aku mencintaimu."

​Siang itu menjadi awal baru bagi mereka. Sebuah babak di mana cinta mereka bukan lagi sekadar janji di atas kertas, melainkan ikatan batin yang telah tersegel sempurna.

​Satu jam kemudian, keduanya sudah tampak rapi. Vino mengenakan kemeja kerjanya, sementara Alisa sudah bersiap dengan pakaian santai karena hari ini ia mendapat jatah libur setelah shift malam panjangnya.

​Sambil menikmati sarapan simpel berupa roti bakar, Vino teringat sesuatu. "Oh ya, kemarin aku bicara dengan Alvin."

​Alisa menaikkan alisnya. "Soal apa? Kasus lagi?"

​"Bukan. Aku menasehatinya untuk segera menikah. Dia terlalu kaku, Al. Aku takut dia lupa kalau dia juga manusia yang butuh kasih sayang," cerita Vino sembari mengoles selai.

​Alisa tertawa. "Wah, kamu jadi mak comblang sekarang? Terus tanggapannya gimana?"

​"Dia diam saja, tapi aku tahu dia sedang memikirkan seseorang. Kamu tahu kan, dia sempat minta nomor Dokter Fani kemarin?"

​Alisa hampir tersedak kopinya. "Serius? Si kaku Alvin minta nomor Fani? Ini berita besar! Fani itu paling anti sama polisi yang menurutnya sok mengatur."

​Vino tersenyum penuh arti. "Justru itu. Batu bertemu api. Kita lihat saja siapa yang akan meleleh duluan."

​Keduanya tertawa bersama, menikmati kebahagiaan mereka sendiri sembari mendoakan agar sang adik, Alvin, segera menemukan kebahagiaan yang sama seperti yang mereka rasakan siang ini.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!