NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Abu Tiga Nyawa di Atas Salju

​Angin di dasar Air Terjun Beku melolong layaknya roh penasaran, namun tidak mampu meredam keheningan mencekam yang baru saja tercipta.

​Bercak darah segar yang menyiprat di dinding es perlahan membeku, berubah warna menjadi merah gelap yang kontras dengan putihnya dunia di sekitar mereka. Kematian antek pertama terjadi begitu cepat, bahkan kepingan salju yang terhempas ke udara belum sepenuhnya menyentuh tanah.

​"Satu," hitung Shen Yuan pelan. Suaranya tidak lebih keras dari desiran angin, namun terdengar seperti vonis dewa maut di telinga dua orang yang tersisa. "Sisa dua."

​Waktu seolah kembali berdetak.

​Antek kedua yang berdiri di sisi kanan Gou San menjerit tertahan. Wajahnya kehilangan seluruh rona kehidupan. Insting bertahannya mengambil alih akal sehatnya. Ia membuang goloknya ke atas salju, memutar tubuhnya, dan berlari sekuat tenaga menuju celah sempit di antara tebing es. Ia tidak peduli pada hadiah dari Tuan Muda Lin Hai. Ia hanya ingin hidup.

​Shen Yuan menatap punggung yang berlari menjauh itu dengan tatapan sedingin danau beku.

​"Kau datang membawa golok, namun pergi meninggalkan punggung," gumam Shen Yuan datar. "Di dunia kultivasi, kebodohan semacam itu tidak bisa dimaafkan."

​Ia tidak membuang waktu. Qi emas gelap bergejolak di dalam Dantian-nya, mengalir deras ke meridian kakinya.

​Langkah Penghancur Bayangan.

​BOOM!

​Salju di bawah kaki Shen Yuan kembali meledak, meninggalkan kawah kecil sedalam satu jengkal. Tubuhnya melesat membelah udara dingin bagaikan anak panah hitam. Kecepatan kultivator Lapisan Kelima yang didorong oleh modifikasi teknik gerakan liar sama sekali bukan tandingan pelarian panik seorang murid Lapisan Ketiga.

​Dalam tiga tarikan napas, bayangan Shen Yuan telah menyusul tepat di belakang si antek.

​Tanpa ragu, Shen Yuan mengayunkan sabit pemotong rumput di tangan kanannya. Besi murah itu tidak tajam, namun saat dilapisi oleh Qi yang padat dan berat, sebuah ranting kering pun bisa membelah batu.

​Slaassh!

​Sabit itu menyayat udara dan merobek tengkuk si antek dengan presisi yang mengerikan. Tidak ada perlawanan. Langkah pemuda itu terhenti seketika. Tubuhnya menegang sebelum akhirnya ambruk ke depan, mewarnai hamparan salju perawan dengan bunga mawar merah yang mekar terlalu cepat.

​"Dua," ucap Shen Yuan pelan, mengibaskan sisa darah dari mata sabitnya. "Sisa satu."

​Ia memutar tubuhnya perlahan, berjalan kembali menuju Gou San yang kini berdiri mematung di tengah cekungan.

​Gou San tidak lari. Sebagai pembunuh bayaran tingkat rendah yang sering keluar masuk hutan, Gou San tahu bahwa menunjukkan punggung pada pemangsa yang lebih cepat adalah cara tercepat menuju alam baka. Ia memegang gagang pedang besinya dengan kedua tangan, buku-buku jarinya memutih, mencoba menstabilkan gemetar di lengannya.

​"Kau... kau monster sialan," geram Gou San, suaranya serak bercampur ketakutan yang mulai bermutasi menjadi keputusasaan. "Menyembunyikan kultivasi Lapisan Kelima dan berpura-pura menjadi anjing pelayan selama tiga tahun... Siapa kau sebenarnya?! Mata-mata sekte lain?!"

​Shen Yuan tidak menjawab. Ia terus melangkah maju dengan ritme yang konstan. Sabit kecil di tangannya diarahkan ke bawah, tidak menunjukkan kuda-kuda bela diri apa pun. Ini justru membuat Gou San semakin tertekan. Tekanan mental dari musuh yang tidak terbaca jauh lebih mematikan daripada pedang yang terhunus.

​"Jangan sombong hanya karena kau memiliki ranah yang lebih tinggi, Bocah!" Gou San meraung, memaksa seluruh Qi Lapisan Keempatnya meledak. Urat-urat di pelipisnya menonjol. "Kau mungkin kuat, tapi kau tidak punya pengalaman membunuh!"

​Gou San menerjang maju. Pedang besinya diayunkan dengan liar, menebas udara dengan lintasan yang mematikan. Itu adalah Seni Pedang Serigala Liar, teknik tingkat rendah yang mengorbankan pertahanan demi serangan bertubi-tubi yang brutal.

​Tiga tebasan meluncur ke arah leher, dada, dan pinggang Shen Yuan secara bersamaan.

​Di mata Shen Yuan, gerakan itu cepat, jauh lebih cepat dan terstruktur daripada terjangan Ular Es Sisik Besi. Ia melangkah mundur setengah inci, mencoba menghindari tebasan pertama. Namun, Gou San tiba-tiba mengubah arah pedangnya di tengah jalan, sebuah trik kotor dari pengalaman jalanan.

​Sreett!

​Ujung pedang Gou San merobek lengan baju rami Shen Yuan, meninggalkan goresan tipis yang mengeluarkan garis darah di lengan kirinya.

​Rasa perih menyengat kulit Shen Yuan. Matanya menyipit. Evaluasi Gou San tepat. Shen Yuan memiliki kekuatan, kecepatan, dan refleks, namun ia buta akan trik pertarungan jarak dekat antar manusia. Jika Gou San berada di Lapisan Kelima yang sama dengannya, goresan tadi mungkin sudah memutuskan lengannya.

​"Mati kau!" Gou San melihat secercah harapan saat pedangnya merasakan darah. Ia mengayunkan pedangnya lagi, kali ini mengincar jantung.

​Namun, harapan itu dihancurkan dalam kedipan mata.

​Shen Yuan tidak mundur lagi. Ia membiarkan pedang itu meluncur ke arah dadanya, namun pada detik terakhir, ia mengangkat tangan kanannya. Sabit pemotong rumput beradu langsung dengan pedang besi besar milik Gou San.

​TRANG! KRAAK!

​Suara besi beradu memekakkan telinga. Sabit murah di tangan Shen Yuan hancur berkeping-keping karena tidak sanggup menahan benturan energi. Namun, hancurnya senjata itu sudah ada dalam perhitungan Shen Yuan.

​Bilah pedang Gou San terhenti di udara, tertahan oleh sisa gagang kayu sabit dan Qi emas gelap yang melilit tangan kanan Shen Yuan. Sebelum Gou San sempat menarik pedangnya kembali, Shen Yuan mengambil satu langkah ke depan, meniadakan jarak di antara mereka.

​Bahu kiri Shen Yuan menyentuh dada Gou San.

​"Kau benar. Aku tidak punya pengalaman bertarung," bisik Shen Yuan tepat di telinga Gou San, suaranya sedingin es di Air Terjun Beku. "Tapi membunuh... tidak selalu butuh seni."

​Tangan kiri Shen Yuan yang kosong melesat bagai hantu, menghantam ulu hati Gou San dengan telapak tangan terbuka. Seluruh tenaga Lapisan Kelima dan energi purba dari benih hitam dipusatkan pada satu titik tersebut.

​BUMM!

​Gou San membelalakkan matanya lebar-lebar. Mulutnya terbuka seolah ingin berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya terlempar ke belakang sejauh dua tombak, menghantam pilar es hingga retak, lalu jatuh merosot ke atas salju.

​Gou San terbatuk hebat, memuntahkan gumpalan darah kental bercampur serpihan organ dalamnya yang telah hancur lebur oleh hantaman Qi yang sangat berat. Matanya mulai kehilangan cahaya, menatap langit kelabu dengan ketidakpercayaan yang absolut. Ia, Si Anjing Liar, mati di tangan seorang pelayan yang memukulnya layaknya memukul nyamuk.

​Shen Yuan berdiri diam di tengah cekungan. Napasnya sedikit memburu. Tiga nyawa telah ia cabut hari ini. Ia melihat tangannya sendiri, menatap garis darah tipis di lengannya. Rasa sakit ini adalah guru terbaiknya. Ia tahu ia tidak boleh meremehkan siapa pun lagi di masa depan.

​Namun, masalah sesungguhnya baru saja dimulai.

​Shen Yuan mengalihkan pandangannya pada tiga mayat yang tergeletak di atas salju merah.

​Hukum pertama bertahan hidup di dunia kultivasi: Jangan pernah meninggalkan jejak yang bisa dibaca oleh musuh.

​Keluarga Lin pasti akan mengirim orang untuk mencari tahu jika Gou San tidak kembali besok pagi. Jika mereka menemukan mayat-mayat ini, jejak pukulan di dada Gou San dan hancurnya kepala antek pertama akan langsung mengundang para Tetua Sekte untuk turun tangan. Mereka akan mencari siapa praktisi misterius di Puncak Pedang Patah yang memiliki kekuatan sebesar ini. Identitasnya akan terbongkar, dan ia akan diburu sebelum sayapnya sempat tumbuh.

​"Mereka harus hilang. Sepenuhnya," gumam Shen Yuan.

​Ia berjalan mendekati mayat Gou San. Ragu sesaat melintas di matanya. Merampas energi dari binatang buas seperti Ular Es adalah hal yang wajar. Namun, menggunakan Kitab Penelan Surga untuk melahap esensi manusia... itu adalah tindakan mutlak dari Aliran Sesat (Demonic Path). Jika ada yang melihatnya melakukan ini, ia akan dipancung oleh seluruh sekte aliran lurus di benua ini.

​Tetapi angin musim dingin menyadarkannya. Simpati dan moralitas tidak akan menghangatkan tubuhnya saat ia mati kedinginan.

​Shen Yuan berlutut. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke dada Gou San yang belum sepenuhnya dingin. Ia memejamkan mata dan membuka segel benih hitam di dalam Dantian-nya.

​Telan.

​Sebuah pusaran gaya isap yang tak kasat mata meledak dari telapak tangannya. Tubuh Gou San tersentak pelan. Sisa-sisa Qi, esensi darah, dan vitalitas yang masih tertinggal di dalam mayat itu ditarik keluar secara paksa. Kabut merah pucat mengalir memasuki pori-pori lengan Shen Yuan.

​Hanya butuh dua tarikan napas.

​Tubuh Gou San yang tadinya kekar tiba-tiba menyusut drastis. Kulitnya mengkerut, kehilangan seluruh kelembapan dan warnanya, berubah menjadi kelabu seperti kertas perkamen yang terbakar. Otot dan dagingnya layu hingga hanya menyisakan kulit yang menempel pada tulang.

​Shen Yuan melepaskan tangannya dan mundur selangkah. Kepalanya mendadak pusing. Energi manusia yang ia hisap terasa sangat "kotor" dan kacau, tidak semurni energi dari batu roh atau binatang es. Benih hitam di perutnya berputar liar, harus bekerja ekstra keras untuk menggiling dan menyaring karma, emosi kematian, serta kotoran dari Qi Gou San sebelum mengubahnya menjadi setetes energi murni untuk Shen Yuan.

​Rasa mual menyerang perutnya. Shen Yuan menggigit lidahnya hingga berdarah untuk mempertahankan kesadarannya. "Menelan manusia memiliki efek samping psikologis dan racun energi. Ini bukan jalan pintas yang bisa kugunakan sembarangan. Jika aku terlalu rakus, pikiranku sendiri yang akan hancur ditelan oleh kitab ini."

​Ia mendapatkan pelajaran kedua hari ini. Kekuatan selalu datang dengan harga.

​Setelah menekan rasa mualnya, Shen Yuan berdiri. Ia menggunakan kakinya untuk menginjak mayat Gou San yang kini serapuh dahan kering.

​Kres... Kres...

​Hanya dengan sedikit tekanan tenaga, tulang belulang dan kulit kering itu hancur menjadi serbuk abu kelabu. Tidak ada daging, tidak ada darah tersisa. Angin yang berhembus kencang melintasi cekungan itu segera menerbangkan serbuk abu tersebut, mencampurkannya dengan kepingan salju, lalu menghilang tanpa jejak.

​Shen Yuan mengulangi proses mengerikan itu pada dua mayat antek lainnya. Menahan rasa mual yang semakin parah, ia mengubah mereka menjadi debu yang disapu oleh badai. Noda darah di atas salju ia kikis dan ia kubur di bawah lapisan salju baru.

​Hanya dalam waktu sebatang dupa, Air Terjun Beku kembali suci dan perawan. Seolah tidak pernah ada pertarungan di sana. Tidak pernah ada pembunuh yang datang. Tidak ada darah yang tumpah.

​Shen Yuan berjalan menuju genangan air di tepi air terjun, membasuh wajah dan tangannya yang gemetar. Air yang membekukan itu membantunya menenangkan pikiran.

​Ia kemudian memungut pedang besi Gou San, mematahkannya menjadi dua, dan membuangnya ke dasar sungai beku. Ia lalu berjalan ke sisi tebing, mencabut sepuluh helai Rumput Urat Es yang tumbuh di sela-sela bebatuan, memasukkannya ke dalam keranjang bambunya dengan rapi.

​Ia kembali menyusun topeng pelayannya. Punggungnya kembali sedikit membungkuk. Tatapannya kembali kosong dan tidak berbahaya.

​Saat Shen Yuan melangkah keluar dari kabut menuju jalan pulang, ia tahu ada sesuatu di dalam dirinya yang telah berubah secara permanen. Anjing pelayan yang penurut itu telah mati di Air Terjun Beku, dan monster rasional yang tidak terikat oleh aturan moral dunia telah lahir dari abunya.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!