Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Mulai Hidup Baru
Sementara itu, terik matahari membakar atap-atap seng rumah desa.
Sepeda kumbang tukang pos berhenti tepat di depan pagar bambu rumah Lasmi. Suara belnya berdering nyaring.
"Pak Joko! Ada surat dari Koramil!"
Joko berlari keluar hingga sandalnya terlepas sebelah. Jantungnya berdebar kencang tak karuan.
Rekomendasi jabatan! Pasti itu surat pengantarnya!
Lasmi dan Jamilah mengekor panik dari belakang, tak sabar melihat lembaran pengubah nasib keluarga mereka.
Joko merobek amplop cokelat itu kasar. Matanya menyapu deretan tulisan tangan Sutrisno yang rapi, kaku, dan sangat tegas.
Senyum lebar di wajah Joko perlahan pudar. Berganti dengan keringat dingin yang mengucur deras membasahi kerah bajunya.
"Apa isinya, Le?" desak Lasmi tak sabar. Tangannya gemetar ingin merebut kertas itu.
"Beneran surat buat Pak Kades kan?"
Joko menelan ludah susah payah. Kertas buram itu nyaris lecek dalam genggamannya yang melemah.
Surat itu sangat singkat. Tidak ada bahasan soal rekomendasi jabatan Carik sama sekali.
Hanya sebuah peringatan mutlak.
Sutrisno memerintahkan agar Joko, Lasmi, dan seluruh anggota keluarga Priyanto lainnya tidak menginjakkan kaki di halaman rumah bata lagi, atau semua dukungan finansial akan dihentikan detik itu juga. Tanpa kompromi.
Urat leher Lasmi menonjol. Wajah tuanya memucat, darah seakan tersedot habis dari kepalanya.
Lembaran surat dari Sutrisno yang baru saja dibacakan Joko bergetar pelan di udara. Keputusan mutlak itu menghantam harga dirinya telak.
Anaknya sendiri, kebanggaannya, menuntut pemisahan keluarga dan mengancam memutus aliran dana jika Lasmi berani menolak.
Jamilah meremas lengan suaminya panik.
"Mas, piye iki? Lek Ibu ndak gelem misah KK Mbak Sukma, surat rekomendasimu batal to? Koen ndak dadi Carik?!" bisik Jamilah histeris.
Joko mengusap wajahnya kasar. Matanya menatap ibunya dengan sorot memohon bercampur frustrasi.
"Bu... Ibu krungu dewe kan? Mas Trisno ndak main-main. Lek Ibu tetep nahan lumbung sama wesel, aku sing dadi korban! Ibu tega lihat aku gagal dadi Carik gara-gara masalah iki?!"
Lasmi terdiam kaku. Dilema besar mencekik batinnya. Di satu sisi, ia tak rela melepaskan tambang emas dari gaji Sutrisno.
Di sisi lain, masa depan Joko berseragam safari balai desa adalah impian terbesarnya.
"Aku..." Suara Lasmi serak, nyaris tak terdengar. Ia menelan ludah pait.
"Panggil Kades Darman sama Carik Tejo... Kita urus surat pisah keluargane Sukma wengi iki pisan."
Malam itu, di ruang tengah rumah bata.
Lampu petromaks menyala terang. Kades Darman dan Carik Tejo duduk bersila dengan buku catatan besar terbuka di depan mereka. Lasmi, Joko, dan Prapto duduk berhadapan dengan Sukma.
Di sebelah Sukma, Sigit duduk tegak. Meski baru sembilan tahun, sorot matanya tajam mengawasi setiap pergerakan keluarga neneknya.
Ia tahu ibunya butuh saksi, dan ia siap menjadi pelindungnya.
Sukma melipat tangannya di dada. Wajahnya dibuat datar, tanpa ekspresi kemenangan sedikit pun.
"Dadi," Kades Darman berdeham memecah ketegangan,
"Sesuai surat dari Mas Trisno, malam ini kita sahkan pemisahan Kartu Keluarga. Sukma dan empat anaknya sah lepas dari tanggungan Mbah Lasmi. Wesel bulanan, jatah beras, dan lumbung gabah dibagi sesuai hak."
Lasmi mendengus keras. Ia menarik sebuah bungkusan kain dari balik kebayanya dan melemparnya kasar ke tengah tikar.
"Iki! Uang tabungan keluarga selama ini. Total ada tiga ratus dua puluh lima ribu! Aku sing pegang, aku sing ngirit! Berhubung Sukma dipisah, jatahnya cuma enam puluh delapan ribu! Sisane buat peganganku sama anak-anakku sing lain!"
Sukma hanya mengangkat sebelah alis. Jumlah itu jelas sudah disunat habis-habisan oleh mertuanya. Tapi ia tak mau berdebat. Kemerdekaan mutlak jauh lebih berharga dari nominal recehan itu.
"Dan untuk beras," lanjut Lasmi ketus, "Aku kasih seratus kilo jagung sama beras sisa panen kemarin. Wes! Ojo minta luwih! Koen wes ndak duwe hak nang ladang keluarga!"
Tepat saat Kades Darman bersiap mencatat kesepakatan itu, Sigit yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara.
"Nenek lupa satu hal," ucap Sigit lantang. Suaranya menggema di ruangan sunyi itu.
Semua mata menoleh ke arah bocah kurus itu.
Sigit menatap lurus ke mata neneknya tanpa gentar. "Tanah pekarangan belakang sama kebon singkong. Itu hak Bapak. Kalau Ibu dipisah, kebon itu hak kami juga. Jangan pura-pura lupa, Nek."
Wajah Lasmi memerah padam. "Bocah kurang ajar! Koen tahu opo soal tanah?! Iku tanah keluarga!"
Prapto yang sejak tadi diam langsung emosi. "Heh, Sigit! Koen iku cuma..."
"Cuma opo, Mas Prapto?!" Sukma memotong tajam. Ia menggebrak meja bambu hingga cangkir teh bergoyang.
"Sigit iki anak mbarepe Sutrisno! De'e berhak ngomong! Kebon singkong iku jelas-jelas dibeli pakai duit wesel suamiku dua tahun lalu! Lek Koen wani nyaplok tanah iku, tak seret masalah iki ke Koramil! Biar Mas Trisno sing ngadepi Koen kabeh!"
Prapto langsung bungkam. Nyalinya menciut mendengar ancaman Koramil.
Kades Darman menengahi cepat sebelum suasana makin panas.
"Wes, wes! Sesuai aturan desa, kebon singkong iku memang terdaftar atas nama Sutrisno. Jadi otomatis jatuh ke tangan Sukma dan anak-anaknya. Mbah Lasmi ndak duwe hak lagi di sana."
Lasmi menggertakkan giginya menahan murka. Rencananya menguasai ladang singkong hancur berantakan. Namun, demi Joko, ia terpaksa menelan kekalahannya.
"Tanda tangan saiki!" desis Lasmi sambil membubuhkan cap jempolnya di atas kertas buram.
Malam itu, kemerdekaan resmi jatuh ke tangan Sukma.
Begitu rombongan Lasmi dan aparat desa pulang, Sukma memeluk keempat anaknya erat-erat. Gito dan Syaiful bersorak kegirangan. Sinta menangis lega.
Hanya Sigit yang tersenyum tipis. Sangat tipis. Ia menatap ibunya dengan perasaan aneh yang mengembang di dadanya. Perasaan aman yang selama ini tak pernah ia kenal.
"Nah," Sukma mengurai pelukannya, matanya berbinar cerah. "Besok pagi, kita mulai hidup baru. Ibu mau buka warung pisang goreng di depan balai desa! Koen kabeh kudu bantu Ibu!"
Esok subuh. Udara sedingin es menusuk tulang.
Tapi dapur rumah bata sudah mengepulkan hawa panas. Sukma sibuk mengaduk adonan tepung rahasianya.
Gito dan Sigit bertugas memotong pisang kepok matang sempurna yang dibeli Sukma semalam. Sinta menata daun pisang di atas tampah.
Syaiful asyik memakan sisa pisang yang terlalu matang di pojokan dapur.
"Ibu, adonane kok wangi tenan? Dikasih opo iku?" Gito mengendus udara dengan rakus.
"Rahasia perusahaan." Sukma mengedipkan sebelah mata. Ia memasukkan sejumput vanili dan mentega cair ke dalam adonan, bahan mewah dari ruang spasial yang mustahil ada di warung desa biasa.
Minyak panas meletup di wajan. Pisang berbalut adonan itu dimasukkan satu per satu. Aroma manis gurih langsung meledak ke udara, mengalahkan bau embun pagi.
Tepat jam enam pagi, Sukma dan anak-anaknya sudah menggelar meja kayu kecil di depan balai desa. Tampah besar berisi pisang goreng kuning keemasan, renyah di luar dan lembut di dalam, menggoda siapa saja yang lewat.
Tak butuh waktu lama, aroma wangi itu memancing warga yang baru pulang dari sawah atau hendak ke pasar.
"Walah, Sukma! Koen jualan pisang goreng saiki?" sapa Paklik Karto, turun dari sepeda ontelnya.
"Iya, Paklik. Monggo dicicipi. Murah meriah, anget pol!" Sukma tersenyum ramah, membungkus dua potong pisang goreng dengan daun pisang.
Paklik Karto menggigit pisang goreng itu. Matanya langsung membelalak kaget.
"Gusti... iki pisang goreng opo roti bolu?! Kok empuk tenan?! Wangi pisan!"
Seruan Paklik Karto otomatis mengundang kerumunan. Warga yang penasaran mulai berebut membeli. Tangan Sukma tak berhenti melayani pembeli, sementara Sigit cekatan menerima uang dan memberi kembalian.
Dalam waktu kurang dari dua jam, tampah besar itu ludes tak bersisa.
Sukma menghitung lembaran uang receh di laci kayunya. Senyumnya mengembang lebar. Keuntungan hari pertama jauh melampaui ekspektasinya.
"Alhamdulillah," gumam Sukma lega.
Namun, senyumnya luntur saat matanya menangkap sosok Ningsih yang berdiri di seberang jalan. Wanita gempal itu menatap warung Sukma dengan wajah iri bercampur benci.
Sukma tak memedulikannya. Ia tahu Ningsih dan Lasmi tak akan tinggal diam melihatnya sukses. Tapi ia siap menghadapi apapun.
Malamnya, saat Sukma sedang menghitung sisa bahan jualan untuk besok, terdengar ketukan pelan di pintu belakang.
Sigit membuka pintu. Wati berdiri di sana, napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi ketakutan.
Ibu hamil itu menenteng buntalan kain berisi pakaian seadanya. Di belakangnya, Toni yang masih balita memegang erat ujung daster ibunya sambil menangis tanpa suara.
"Mbakyu Sukma..." Wati terisak pelan. "Tulung aku, Mbakyu..."
Sukma langsung berdiri, menarik Wati masuk ke dalam.
"Ono opo, Wat? Koen kenapa bawa buntalan segala?"
Wati tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia ambruk di lantai, memeluk kaki Sukma erat-erat.
"Aku wes ndak kuat, Mbakyu! Ibu Lasmi ngusir aku! De'e nuduh aku nyolong duit simpenane! Padahal aku ndak tahu apa-apa!"
Sukma mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lasmi benar-benar nenek lampir tak punya hati.
Ia pasti melampiaskan kekesalannya karena kehilangan lumbung dan wesel Sutrisno pada Wati yang lemah.
"Koen tenang, Wat." Sukma memapah Wati berdiri.
"Malam iki, Koen sama Toni tidur nang kene. Besok pagi, tak temani Koen ngadepi Lasmi. Lek perlu, tak laporne Kades Darman ben tuntas sekalian!"
Di balik dinding rumah tua keluarga Priyanto, Lasmi tersenyum puas menghitung lembaran uang di tangannya. Ia sengaja mengusir Wati dengan tuduhan palsu agar bisa menguasai penuh sisa uang kiriman Priyambodo.