Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 : Menaklukkan Kerajaan Lebih Mudah Daripada Menaklukkan Hati Manusia
“Angkut puing-puing dari bangunan yang sudah dirobohkan ke lapangan dekat sungai!” seru seorang pria yang berdiri mengawasi para warga.
“Setelah wilayah ini bersih, kita akan mulai pembangunan ulang.”
Para warga yang bekerja tampak cukup riang. Senyum terukir di wajah mereka, seolah melupakan fakta bahwa orang yang pernah menghancurkan negara mereka kini berdiri tepat di hadapan mereka dan sedang memberi perintah.
“Yang Mulia, area A dan area B sudah selesai dibereskan,” lapor seorang kesatria sambil menundukkan kepala.
“Ya…” Ferisu mengangkat tangan kanannya, menutupi mata dari silau matahari yang tepat berada di atas kepala. Cahaya itu terasa panas, menusuk, seolah mengingatkannya pada api yang pernah melahap kota ini. “Sebentar lagi hampir tengah hari. Apa makan siang sudah disiapkan?”
“Sudah, Yang Mulia. Semuanya telah siap,” jawab kesatria itu dengan mantap.
“Bagus. Kalau begitu, awasi tempat ini. Jika waktunya tiba, suruh mereka beristirahat dan bagikan makan siangnya.”
Ferisu berbalik, melangkah pergi menuju istana—istana bekas Kerajaan Zenobia.
Istana ini dulu simbol kekuasaan mereka, batinnya.
Sekarang hanya bangunan kosong yang kupakai untuk menambal kehancuran yang kami buat sendiri.
Setelah perang besar antara Kerajaan Asterism dan Kerajaan Zenobia, seluruh wilayah Zenobia resmi dicangkok oleh Asterism. Meski begitu, wilayah tersebut belum sepenuhnya berada dalam kendali. Daerah-daerah pinggiran masih belum bisa didatangi, luka perang di sana terlalu dalam untuk disentuh.
Ferisu, raja Kerajaan Asterism, untuk saat ini memusatkan perhatiannya pada wilayah yang membentang dari perbatasan Asterism hingga ibu kota bekas Kerajaan Zenobia. Membangun ulang kota, menenangkan rakyat, dan menanam kembali kepercayaan yang telah runtuh bersama darah dan api.
Menaklukkan wilayah ternyata jauh lebih mudah daripada menaklukkan hati manusia, pikirnya pahit.
Dua minggu telah berlalu sejak perang usai, tetapi bara kebencian masih kerap menyala. Terutama dari mereka yang kehilangan keluarga di medan perang—rasa duka yang perlahan berubah menjadi amarah.
Ferisu menyadarinya. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Tatapan yang patuh di luar, namun penuh celaan di dalam.
Meski dibalut kebencian, mereka tak mampu berbuat banyak. Perang adalah perang. Tak ada pihak yang benar-benar menang.
Namun di balik semua itu, Ferisu melihat perubahan perlahan muncul.
Ironisnya, banyak rakyat Zenobia mulai menyadari satu hal: pemerintahan di bawah Kerajaan Asterism terasa jauh lebih manusiawi dibandingkan saat mereka masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Zenobia.
Dan Ferisu tahu, itu belum cukup untuk menebus darah yang telah tertumpah.
Langkah Ferisu menggema pelan di dalam lorong istana. Dinding-dinding tinggi yang dulu megah kini terasa dingin dan asing, seakan masih menyimpan bisikan masa lalu Kerajaan Zenobia. Meski telah dibersihkan dan diperbaiki seperlunya, istana itu belum sepenuhnya terasa hidup.
Ferisu berhenti sejenak di depan pintu ruang dalam sebelum mendorongnya perlahan. Cahaya lembut dari jendela besar menyambutnya, bersama sosok gadis elf yang berdiri di dekat meja.
Rambut pirangnya jatuh lurus hingga punggung, berkilau diterpa cahaya siang. Mata birunya—jernih dan tenang—menoleh ke arahnya begitu menyadari kehadirannya.
“Ferisu-sama,” ucapnya lembut.
Licia melangkah mendekat, gaun sederhana yang ia kenakan bergerak pelan mengikuti langkahnya. Tak ada kesan kemewahan berlebihan—ia selalu memilih kesederhanaan, bahkan di dalam istana.
“Apakah pekerjaanmu hari ini sudah selesai?” tanyanya dengan suara yang nyaris seperti bisikan.
Ferisu tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, bahunya sedikit merosot seakan seluruh beban dua minggu terakhir baru sekarang benar-benar terasa.
“Sedikit lagi,” katanya singkat. Bukan karena tak ingin bercerita, melainkan karena ia terlalu lelah untuk merangkai kata.
Dua minggu. Dua minggu tanpa jeda. Mengatur pembangunan, menenangkan rakyat, menghadapi kebencian yang tak pernah diucapkan secara langsung. Ia raja, tapi juga manusia—dan tubuhnya mulai menuntut istirahat.
Licia menatapnya sejenak, seolah bisa membaca kelelahan yang tak terucap itu.
“Kau sudah bekerja terlalu keras,” ujarnya pelan.
Senyum manis terukir di wajahnya. Senyum yang lembut, hangat, manis melebihi madu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Licia melangkah mendekat dan mendekap Ferisu dalam pelukan.
Ferisu sempat terdiam.
Lalu, perlahan, tubuhnya mengendur.
Ia membiarkan dirinya bersandar, merasakan kehangatan yang jarang ia izinkan untuk ia nikmati. Aroma khas Licia—tenang, menenangkan—membuat napasnya terasa lebih ringan.
Sejenak saja… pikirnya.
Biarkan aku berhenti menjadi raja.
Tangan Licia terangkat, menepuk punggung Ferisu dengan lembut. Tak ada tuntutan, tak ada pertanyaan lanjutan. Hanya kehadiran—dan itu sudah lebih dari cukup.
“Terima kasih,” ucap Ferisu lirih, hampir tak terdengar.
Licia tersenyum, tetap memeluknya.
“Aku di sini,” balasnya sederhana.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Pintu ruang dalam terbuka tanpa aba-aba.
“Ferisu!”
Suara itu tajam, sedikit meninggi, dan jelas dipenuhi emosi.
Licia refleks menoleh, sementara Ferisu sudah lebih dulu mengenali siapa pemilik suara tersebut. Rambut perak yang berkilau, mata ungu yang menyala penuh ketidaksenangan—Erica berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan.
“Apa yang kalian lakukan?” bentaknya, menatap Licia dengan tatapan tajam.
“Erica, aku hanya—” Licia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Erica sudah melangkah cepat mendekat.
“Cukup!” katanya singkat.
Dengan gerakan tegas, Erica memisahkan Licia dari Ferisu, lalu—tanpa ragu sedikit pun—memeluk Ferisu dan menariknya ke dalam dekapannya sendiri.
“H-hei…” Ferisu terkejut, namun tak sempat benar-benar menolak.
“Dia milikku juga,” ujar Erica dengan nada kesal, pipinya sedikit memerah. “Jangan seenaknya memeluknya duluan.”
Licia terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sama sekali tidak tersinggung, justru penuh pengertian.
“Maaf,” katanya lembut. “Tapi dia juga punyaku.”
“Ta-tapikan yang punya hubungan sama dia aku duluan!” Erica membuang muka, tetap memeluk Ferisu lebih erat, jelas tak berniat melepaskannya dalam waktu dekat.
Ferisu menghela napas pelan.
Beginilah mereka… batinnya, lelah tapi tanpa rasa kesal.
Belum sempat ia membuka suara, langkah kaki lain terdengar memasuki ruangan.
Berbeda dari Erica yang penuh energi, sosok ini melangkah dengan tenang. Rambut biru gelap sebahu membingkai wajahnya, sementara mata biru cerahnya menatap Ferisu dengan ekspresi lembut namun penuh perhatian.
“Noa,” sapa Ferisu pelan.
Noa berhenti beberapa langkah dari mereka, pandangannya sempat melirik Erica yang masih memeluk Ferisu, lalu Licia yang berdiri di samping dengan sikap tenang. Ia tidak bereaksi berlebihan—hanya tersenyum tipis.
“Maaf mengganggu,” ujarnya lembut. “Aku hanya ingin melaporkan hasil pertemuan.”
Erica mendecih pelan. “Di saat seperti ini masih saja bicara soal pekerjaan…”
Noa mengabaikan komentar itu. Ia melangkah sedikit lebih dekat, matanya kembali fokus pada Ferisu.
“Para bangsawan dari Kerajaan Zenobia mulai menunjukkan sikap patuh,” lapornya. “Beberapa di antaranya mengajukan kesetiaan secara resmi kepada Kerajaan Asterism. Mereka meminta jaminan bahwa wilayah dan rakyat mereka akan dilindungi.”
Ferisu mengangguk pelan. Kelelahannya kembali terasa, namun informasi itu tetap ia cerna dengan serius.
“Bagaimana sikap mereka?” tanyanya.
“Masih ada ketakutan,” jawab Noa jujur. “Tapi… mereka lebih takut pada kekacauan tanpa pemerintahan daripada berada di bawah kekuasaanmu.”
Ferisu terdiam sejenak.
“Terima kasih, Noa,” katanya akhirnya.
Noa tersenyum, lalu—dengan gerakan kecil yang hampir tak terlihat—melangkah sedikit lebih dekat lagi. Bahunya nyaris menyentuh Ferisu.
“Kalau kau sudah selesai hari ini,” tambahnya dengan nada yang lebih lembut, sedikit manja, “tolong luangkan waktu untuk beristirahat. Kami… mengkhawatirkanmu.”
Erica mendengus pelan. “Itu seharusnya sudah jelas.”
Licia tersenyum hangat, menatap Ferisu dari samping.
Dikelilingi tiga sosok dengan sifat yang begitu berbeda, Ferisu menutup matanya sejenak.
Raja penakluk, pemimpin kerajaan… dan di sini, hanya seorang pria yang kelelahan.
Ia membuka mata kembali, menatap mereka satu per satu.
“Baik,” katanya pelan. “Sebentar saja.”
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki istana itu, Ferisu merasa beban di dadanya sedikit berkurang—meski ia tahu, esok hari segalanya akan kembali menuntutnya.