apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecap vs susu coklat
Seminggu telah berlalu sejak aroma "bencana" pertama kali menguar dari dapur kediaman Cavin
Pagi itu, Thalia, dengan binar polos di matanya, menyajikan sebuah mahakarya yang hampir membuat nyawa Cavin melayang di ujung tenggorokan: nasi goreng susu cokelat.
"Air..." Cavin mengerang, suaranya parau seolah-olah ia baru saja menelan bara yang manis namun mematikan. Hanya satu suap, namun dampaknya sanggup mengguncang stabilitas lambungnya.
Thalia tersentak, jemarinya yang lentik bergetar saat ia berlari menuju lemari es. "Eh, sebentar, Om!" Dengan napas terengah, ia menyodorkan segelas air dingin yang segera diteguk Cavin hingga tandas.
"Bagaimana, Om? Rasanya?" tanya Thalia dengan raut tanpa dosa.
Matanya jernih, tak mampu membaca garis-garis frustrasi yang terukir di wajah tampan suaminya.
Cavin mengatur napas, menatap piring di depannya dengan ngeri. "Kau... tidak mencicipinya?"
Thalia menggeleng pelan, ujung jarinya bertautan. "Thalia takut tidak enak, Om. Ini... masakan pertama Thalia."
Gadis itu tidak tahu bahwa cairan hitam pekat yang di sebut (kecap)yang biasa digunakan oleh Nana, telah dipindahkan ke botol polos demi keamanan.
Saat mencari di dapur yang tak begitu banyak peralatan dan perlengkapan memasak Thalia melihat ada cairan warna coklat yang sudah ada dalam botol sama persis seperti yang di pakai Nana di dalam kulkas dan tanpa pikir panjang ia menggunakan nya sebagai pelengkap nasi goreng
Bagi Cavin, dapur hanyalah tempat untuk menyeduh teh hijau di pagi hari, bukan laboratorium eksperimen rasa yang ekstrem. Sedangkan susu coklat yang di dalam botol itu namanya yang meletakkan nya .
"Jangan pernah menyentuh kompor lagi," desis Cavin suaranya mengandung ancaman yang dingin.
"Apalagi memberikan makan pada orang lain. Jika kau melanggar, aku akan mengunci mu di gudang."
Thalia menciut. Ia tahu gudang itu gelap, dan kegelapan adalah musuh terbesarnya. Cavin sengaja menanamkan ketakutan itu, bukan karena kejam,
melainkan karena ia tak sanggup membayangkan kekacauan medis yang akan terjadi jika Thalia "meracuni" tetangga mereka dengan kreativitas memasak nya yang kurang bagus
▪️▪️▪️
Di ruang tengah yang hening, Thalia mendekat dengan langkah ragu. "Om, Thalia ingin bertemu Nana di kafe. Tapi... Thalia tidak punya uang.
Thalia malu karena Nana selalu mentraktir es krim. Thalia ingin membalasnya, tapi tidak punya uang."
Cavin hanya mengangkat alis, menatapnya datar. "Lalu?"
"Thalia ingin meminjam uang pada Om. Nanti, kalau sudah bekerja, Thalia pasti ganti."
Sebenarnya, kasih sayang Mama Hera telah melampaui logika. Ibu mertua nya itu telah meminta suaminya, Pak Xian Ru , untuk mengurus administrasi kampus agar KKN Thalia dipindahkan ke kantor mereka.
Namun, alih-alih bekerja, Thalia justru diperintahkan untuk istirahat total.
Kekuasaan memang bisa membeli status, tapi tidak bisa memberi kesibukan bagi jiwa yang polos.
"Nih. Jangan keluyuran terus, nanti pihak kampus curiga kalau kau hanya diam di rumah," ujar Cavin sambil menyodorkan sebuah kartu hitam (Black Card.)
Thalia menerima kartu itu, membolak-baliknya dengan kening berkerut. "Ini apa, Om?" tanyanya bingung.
Sesaat kemudian, matanya membelalak cerah. "Oh! Paham! Thalia paham! , akhirnya aku di terima bekerja" ucap nya senang
Cavin membatin sinis, 'Lihatlah, begitu melihat uang, otaknya langsung bekerja. Apa selama ini dia hanya berpura-pura gila?'
"Apa Thalia sudah diterima kerja di kantor Om? Nana bilang sulit masuk perusahaan kalau belum lulus," cicitnya penuh semangat. Ia mengusap permukaan kartu itu seolah itu adalah jimat keberuntungan.
" memang nya itu kartu apa" tanya Cavin memancing kebohongan Thalia
"Ini kartu identitas karyawan, kan? Seperti milik Nana? Kapan Thalia mulai bekerja?"
Rahang Cavin mengeras. "Siapa yang kau panggil 'Om'?" bentaknya tiba-tiba.
Ia masih merasa terusik, panggilan itu membuatnya merasa seperti orang asing yang tua, padahal garis wajahnya masih menunjukkan ia masih muda dan memikat.
Thalia tersentak, kepalanya tertunduk dalam. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan bendungan air mata agar tidak pecah.
Ia teringat pesan Nana: memanggil seseorang dengan sebutan paman atau om bisa sangat sensitif di masa sekarang. Thalia hanya ingin sopan, namun ia justru memancing amarah suami nya.
"mulai sekarang Jangan panggil aku 'Om'! Mengerti" ucap Cavin lagi.
"Maaf...kak " suara Thalia nyaris tak terdengar, tenggelam dalam keheningan ruangan yang mencekam.
"Siapa yang menyuruhmu kerja, hah?" geram Cavin , frustrasi dengan pemikiran istri nya.
"Tapi... ini kartu identitas, kan? Artinya aku diterima kerja?" tanya Thalia lagi, memberanikan diri menatap mata elang suaminya.
Cavin memijat pelipisnya. "Kau bisa membaca tidak, sih?"
Tanpa kata, Cavin merebut kembali kartu kredit tanpa batas itu.
Ia menyadari bahwa memberikan benda secanggih itu kepada gadis yang mengira susu cokelat adalah kecap adalah sebuah kesalahan fatal.
Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dan menyodorkannya kasar.
'Apa dia benar-benar kehilangan akal, atau dia masih pura pura?' batin Cavin sambil menatap punggung Thalia yang masih bergetar kecil.
" jangan menangis "
"iya kak "