Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Nekat di Tengah Kota
Kenzo tidak membual. Namun, ia juga tahu bahwa uang sebesar sepuluh juta rupiah tidak akan jatuh dari langit hanya dengan menjentikkan jari, apalagi setelah ayahnya memblokir semua kartu kredit dan menyita kunci motor sportnya. Baginya, ini bukan sekadar soal festival; ini soal membuktikan pada Reina bahwa ia bukan sekadar "pemberontak tanpa rencana".
Kawasan Sudirman – Pukul 16.30 WIB
Lampu-lampu jalanan mulai menyala, bersaing dengan jingga matahari yang tenggelam di balik gedung pencakar langit Jakarta. Di tengah kerumunan pekerja kantor yang bergegas pulang, Kenzo berdiri tegak. Ia tidak lagi memakai seragam sekolahnya. Ia mengenakan kaos sleeveless hitam dan celana pendek basket, memperlihatkan guratan otot dan tato tempel di lengannya yang menambah kesan "berandal jalanan".
Di sampingnya, Reina berdiri dengan wajah yang memerah sempurna karena malu. Ia memegang sebuah papan karton besar yang ditulis dengan spidol permanen:
"CHALLENGE 1-ON-1: MENANG DAPAT 100 RIBU. KALAH? DONASI SEIKHLASNYA UNTUK FESTIVAL BUDAYA SMA GARUDA."
"Ken, ini gila. Ini... ini memalukan!" bisik Reina, mencoba menutupi wajahnya dengan papan karton itu saat beberapa orang mulai melirik mereka. "Kita ini pengurus OSIS, bukan pengamen jalanan!"
Kenzo mendribel bola basketnya dengan ritme yang tenang. Bum. Bum. Bum. "Rein, dengar. Aris punya uang bapaknya, tapi aku punya skill ini. Orang Jakarta itu stres, mereka butuh hiburan. Dan aku bakal kasih mereka tontonan yang layak mereka bayar."
Ia melangkah ke tengah area terbuka di dekat stasiun MRT. "AYO! SIAPA YANG MAU COBA? SATU LAWAN SATU! KALAU KALIAN BISA MASUKIN SATU BOLA SAJA, SAYA KASIH SERATUS RIBU!" teriak Kenzo, suaranya lantang membelah kebisingan klakson kendaraan.
Pertarungan di Aspal Panas
Awalnya, orang-orang hanya lewat dan mencibir. Namun, seorang pria kantoran dengan kemeja yang sudah kusut dan dasi yang dilonggarkan berhenti. Ia tampak tertantang. "Seratus ribu? Benar ya, Dek?"
"Taruhan nyawa kalau perlu, Bang," jawab Kenzo dengan seringai miringnya.
Permainan dimulai. Reina terpaku melihat perubahan drastis pada Kenzo. Di sekolah, Kenzo mungkin terlihat malas, tapi di atas aspal ini, dia adalah penguasa. Gerakannya begitu cepat, hampir tidak terlihat. Ia melakukan crossover yang membuat pria kantoran itu hampir terjatuh, lalu melakukan lay-up cantik yang memancing tepuk tangan penonton yang mulai berkerumun.
"Ayo, Bang! Satu bola saja!" seru penonton.
Setiap kali Kenzo menang, orang-orang mulai melempar uang ke dalam kotak donasi yang dipegang Reina. Lima ribu, sepuluh ribu, bahkan ada yang melempar lembaran lima puluh ribu karena kagum dengan aksi freestyle Kenzo.
Reina, yang awalnya merasa malu, perlahan mulai terhanyut. Ia melihat bagaimana Kenzo berkeringat, bagaimana ia jatuh bangun di atas aspal kasar demi mengumpulkan receh demi receh. Ia melihat sisi Kenzo yang tidak pernah ia sangka: kerja keras yang murni.
"Kak, ini untuk festivalnya ya? Semangat ya!" ucap seorang siswi dari sekolah lain sambil memasukkan uang ke kotak.
Reina tersenyum tulus. "Iya, terima kasih banyak."
Momen di Trotoar – Pukul 19.45 WIB
Setelah hampir empat jam dan menghadapi lebih dari dua puluh penantang, Kenzo akhirnya berhenti. Napasnya memburu, seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia terduduk di pinggiran trotoar, menyandarkan kepalanya pada tiang lampu jalan.
Reina duduk di sampingnya, lalu membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebotol air mineral yang sudah ia siapkan dan sehelai handuk kecil. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan air itu.
"Gimana? Dapat berapa?" tanya Kenzo dengan suara serak, namun matanya berbinar puas.
Reina menghitung uang di dalam kotak. "Tiga juta dua ratus ribu, Ken. Dalam satu malam..." Reina menatap uang itu, lalu menatap tangan Kenzo yang lecet karena tergesek aspal. "Tanganmu berdarah."
Reina menarik tangan Kenzo, lalu mengeluarkan tisu basah dan plester dari tas "ajaib"-nya yang selalu penuh dengan perlengkapan darurat. Dengan sangat lembut, ia mulai membersihkan luka di telapak tangan Kenzo.
Kenzo terdiam. Ia menatap wajah Reina yang sangat dekat dengannya. Di bawah temaram lampu jalan, wajah kaku sang Ketua OSIS itu tampak sangat lembut. Aroma sabun dari tangan Reina menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Kenapa kamu seserius ini, Ken?" tanya Reina tanpa mendongak, fokus pada plester yang ia pasang. "Padahal kamu bisa saja biarkan festival ini gagal dan menyalahkanku."
Kenzo menghela napas, jemarinya yang bebas menyentuh dagu Reina, memaksanya untuk mendongak. "Karena aku benci melihatmu memohon pada Aris. Dan karena aku ingin kamu tahu... kalau aku bisa diandalkan, meskipun aku nggak punya mobil putih seperti dia."
Reina terpaku. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia dikejar deadline proposal. Ia bisa melihat bayangan dirinya di mata cokelat gelap Kenzo.
"Makasih, Ken," bisik Reina.
Tepat saat suasana menjadi sangat intim, ponsel Reina bergetar hebat. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari ibunya. Dan sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak ia kenal:
"Reina, ini Aris. Aku sedang di rumahmu bersama orang tuamu. Ayahmu sepertinya sangat tertarik dengan proyek pameran yang kutawarkan. Pulanglah, kita makan malam bersama."
Wajah Reina memucat. Kenzo yang membaca sekilas pesan itu langsung berdiri, rahangnya mengeras kembali. Genggaman tangannya pada bola basket mengencang.
"Si brengsek itu..." desis Kenzo. "Dia nggak main di sekolah lagi, dia main di rumahmu."