"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditengah Tengah Batas Hidup Dan Mati
Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun-tahun beterbangan seperti awan kecil saat Yuuichi menggeser penutup ventilasi baja di langit-langit laboratorium kimia. Suara logam yang bergeser terdengar menyayat telinga – kresek... krek – seperti teriakan benda mati yang terganggu dari tidurnya yang panjang, membekukan suasana di tengah keheningan ruangan yang mencekam.
Tanpa ragu, Yuuichi meloncat dengan ringan dari atas meja, kedua tangannya yang kuat mencengkeram pinggiran lubang ventilasi dengan erat. Dengan satu tarikan otot lengan yang efisien dan tanpa terlihat capek, ia mengangkat tubuhnya yang tinggi masuk ke dalam lorong seng yang sempit dan gelap, seperti ikan yang menyelam ke dalam sarangnya.
Bau besi tua yang berkarat dan udara pengap yang belum pernah disentuh angin segera menyambutnya, membuatnya sedikit tersedak sebelum paru-parunya menyesuaikan diri. Yuuichi merangkak maju beberapa langkah untuk memberi ruang yang cukup, lalu berbalik perlahan dan menjulurkan tangannya ke bawah melalui lubang yang terbuka.
"Sensei, kau duluan," bisik Yuuichi dengan suara yang lembut namun pasti. Matanya yang merah pekat bersinar lembut di kegelapan, menjadi satu-satunya sumber cahaya kecil di sekitar lubang itu.
Chika Kudou ragu sejenak, melihat ke atas lalu kembali ke meja laboratorium yang sudah ia gunakan sebagai pijakan. Kakinya sedikit gemetar saat ia memikirkan harus merangkak di dalam lorong yang sempit dan penuh debu itu. Namun kemudian ia melihat tangan Yuuichi yang kuat dan lebar yang terjulur ke arahnya – tangan yang baru saja menyelamatkannya dari kematian, tangan yang memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelum ini.
Dengan napas yang gemetar dan tangan yang sedikit menggigil, ia menyambut tangan itu dengan erat. Kulitnya yang lembut menyentuh kulit kasar Yuuichi yang terbentuk dari latihan dan pengalaman. Tanpa sedikit pun kesusahan, Yuuichi menariknya ke atas dengan kekuatan yang sangat terkontrol – setiap gerakan dihitung dengan presisi agar tubuh lembut sang guru tidak terbentur pinggiran logam yang tajam dan bisa menyebabkan luka.
Saat Chika berhasil masuk ke dalam lorong ventilasi, ia terpaksa merangkak dengan posisi yang sangat dekat tepat di depan Yuuichi. Ruang yang terbatas hanya sekitar satu meter lebar dan setengah meter tinggi membuat tubuhnya harus menekuk dengan sangat rendah, membuat punggungnya membungkuk dan dada nyaris bersentuhan dengan wajah Yuuichi yang berada tepat di belakangnya. Aroma parfum mawar yang selalu ia gunakan – kini bercampur dengan aroma keringat dingin dari tubuhnya yang masih tegang – memenuhi indra penciuman Yuuichi dalam jarak yang sangat intim, membuatnya harus menahan napas sejenak agar tidak terganggu fokusnya.
"Maafkan aku, Shiro-kun... ini benar-benar sangat sempit," bisik Chika dengan suara yang sangat lembut, wajahnya pasti sudah memerah meskipun tidak terlihat jelas dalam kegelapan. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan kedekatan fisik ini, namun juga tidak bisa menyangkal bahwa ada rasa aman yang muncul saat berada begitu dekat dengan Yuuichi.
"Tidak apa-apa. Tetap bergerak maju, Sensei. Jangan berhenti kecuali aku yang menyuruhmu berhenti," jawab Yuuichi dengan suara rendah yang bergetar lembut, uap napasnya menyentuh leher Chika dan membuat guru kesehatan itu merinding halus dari kepala hingga ujung kaki.
Setelah Chika cukup maju, Sakura Hoshino menyusul dengan gerakan yang lincah dan terampil – tubuhnya yang terbiasa dengan latihan bela diri membuatnya mudah beradaptasi dengan posisi merangkak yang tidak nyaman. Ia bahkan bisa membawa bokken kayu eknya dengan hati-hati tanpa membuat suara sedikit pun. Diikuti kemudian oleh Rina Suzuki yang masih sempat menggerutu dengan suara rendah tentang betapa tidak higienisnya lorong ventilasi ini, menyebutkan jumlah bakteri yang mungkin ada di permukaan logam dengan angka yang sangat detail. Setelah semua anggota kelompok masuk dengan selamat, Yuuichi memasang kembali penutup ventilasi dengan sangat hati-hati, menggesernya perlahan hingga tidak ada suara sedikit pun dan tidak menyisakan celah yang bisa dilihat dari luar.
Lorong ventilasi itu sesungguhnya hanya memiliki lebar sekitar satu meter dan tinggi yang memaksa mereka untuk merangkak dengan menggunakan siku dan lutut. Cahaya hanya bisa masuk melalui sela-sela lubang udara kecil yang mereka lewati setiap beberapa meter sekali, memberikan efek garis-garis cahaya terang yang jatuh di tubuh mereka secara bergantian – membuat bagian tubuh yang terkena cahaya terlihat jelas sementara bagian lainnya tenggelam dalam kegelapan pekat.
"Menganalisis integritas struktur lorong dengan sistem pemindaian 3D... Hasilnya cukup memuaskan Kakak. Lorong ini cukup kuat untuk menampung berat badan kalian berempat dengan aman, asalkan si jenius di belakang sana tidak membawa terlalu banyak botol asam sulfat di dalam tasnya yang bisa menyebabkan korosi pada logam jika tumpah."
Diam saja, Miu. Cukup berikan aku visualisasi rute terpendek ke gedung olahraga, perintah Yuuichi dalam hati, sambil merangkak dengan hati-hati di belakang Chika, menjaga jarak yang cukup namun tetap siap membantu jika terjadi sesuatu.
[ PEMETAAN AREA DIAKTIFKAN ]
TARGET UTAMA: GEDUNG OLAHRAGA
JARAK SISA: 120 METER
RUTE TERSEDIA: 2 jalur – Jalur A (Lurus namun melewati area terbuka di atas aula utama) | Jalur B (Berliku namun lebih tersembunyi)
REKOMENDASI SISTEM: Jalur A – lebih cepat namun berisiko tinggi
Suara gemeretak logam yang keras di bawah lutut mereka menjadi satu-satunya melodi yang terdengar di lorong yang sunyi itu. Setiap gerakan membuat lorong sedikit bergetar, mengirimkan getaran yang menyebar ke seluruh tubuh mereka. Yuuichi bisa melihat punggung Chika yang berada tepat di depannya; gerakan pinggul sang guru saat merangkak dengan hati-hati menciptakan pemandangan yang cukup mengganggu fokusnya, namun ia dengan cepat menepis pikiran itu dan kembali fokus pada rute yang harus ditempuh.
Namun, konsentrasinya segera terpecah saat sebuah suara dentuman sangat keras terdengar dari arah koridor di bawah mereka – suara seperti gunung yang runtuh atau gedung yang ambruk.
DUAAM!
Seluruh lorong ventilasi bergetar hebat seolah sedang mengalami gempa bumi kecil. Sakura yang berada tepat di belakang Chika hampir kehilangan keseimbangan, tubuhnya menjorok ke depan dan secara tidak sengaja memegang kaki Yuuichi dengan erat untuk menahan diri agar tidak terjatuh.
"Apa itu?! Apa yang terjadi di bawah sana?!" bisik Sakura dengan nada yang mulai menunjukkan rasa panik, matanya bergerak cepat mencari sumber suara yang mengerikan itu.
"Jangan bicara terlalu keras. Cukup diam dan lihat ke bawah," perintah Yuuichi dengan suara yang rendah namun penuh kekuasaan, membuat semua orang langsung menuruti tanpa berkomentar lagi.
Mereka baru saja sampai tepat di atas sebuah jeruji ventilasi besar yang menghadap langsung ke aula utama lantai dua – ruangan yang biasanya digunakan untuk acara sekolah atau pertemuan umum. Yuuichi memberi isyarat dengan tangan untuk mereka berhenti, lalu ia perlahan menempelkan wajahnya ke jeruji logam yang berlubang, mengintip dengan hati-hati ke bawah untuk melihat apa yang terjadi.
Di bawah sana, pemandangan yang ada adalah seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan paling mengerikan. Sesosok makhluk raksasa dengan tinggi hampir tiga meter berdiri di tengah aula, tubuhnya penuh dengan otot-otot yang membengkak hingga merobek seragam sekolahnya yang sudah sobek berkeping-keping. Kulitnya berwarna kelabu gelap dengan pembuluh darah besar berwarna ungu yang menonjol seperti akar pohon yang menjalar di permukaan kulitnya. Salah satu lengannya membengkak hingga tiga kali lipat dari ukuran normal manusia, berakhir dengan kepalan tangan sebesar bola basket yang berlumuran darah segar dan serpihan beton dari pilar yang baru saja ia hancurkan.
Itu adalah zombie tipe Tank – yang mungkin merupakan subjek eksperimen yang gagal dari proyek Chimera yang pernah menculik Yuuichi, atau mungkin varian virus yang bermutasi dengan kecepatan yang luar biasa.
Makhluk itu baru saja menghancurkan pilar beton tebal yang menyangga langit-langit aula hanya dengan satu hantaman saja – tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun. Di sekelilingnya, zombie-zombie biasa yang biasanya sangat agresif tampak menjauh dengan cepat, seolah-olah mereka pun memiliki rasa takut pada predator puncak yang ada di hadapan mereka ini.
"Mustahil secara biologis..." Rina yang mengintip dari balik bahu Sakura berbisik dengan nada tidak percaya, matanya di balik kacamata membelalak lebar. "Massa otot sebanyak itu membutuhkan metabolisme yang sangat tinggi dan konsumsi energi yang luar biasa besar. Bagaimana mungkin virus itu bisa memicu pertumbuhan dan fungsi tubuh seperti itu dalam hitungan menit saja?"
"Itu bukan virus biasa seperti yang kau pikirkan, Rina," gumam Yuuichi dengan suara yang penuh dengan benci yang dalam, matanya yang merah pekat berkilat dengan emosi yang sudah lama terkubur. "Itu adalah karya dari orang-orang yang menculikku dulu – mereka yang membuatku menjadi bagian dari eksperimen yang mengerikan itu."
"Peringatan Kritis: Target memiliki sistem pendengaran yang sangat sensitif terhadap frekuensi rendah. Jangan menjatuhkan apa pun dari lorong ini atau membuat suara yang tidak perlu, karena jika tidak, kalian akan seperti kaleng sarden yang dihancurkan oleh tangan besarnya."
Tiba-tiba, makhluk raksasa itu berhenti semua gerakannya yang sebelumnya sangat ganas. Ia mengangkat kepalanya yang besar, hidungnya yang sudah cacat mengendus udara dengan seksama seperti anjing yang sedang mencari mangsa. Kepalanya perlahan berputar ke segala arah, hingga akhirnya berhenti dan menatap tepat ke arah langit-langit – tepat ke arah posisi ventilasi tempat Yuuichi dan kelompoknya berada.
Jantung Chika berdegup begitu kencang dan keras hingga Yuuichi bisa mendengarnya dengan jelas meskipun berada di belakangnya. Ketegangan di lorong sempit itu mencapai puncaknya – udara terasa begitu berat hingga sulit untuk dihirup. Jika mereka bergerak sekarang, suara gesekan tubuh dengan permukaan logam akan langsung memberitahu makhluk itu tentang posisi mereka. Jika mereka tetap diam, ada kemungkinan besar makhluk itu akan menemukan mereka dengan indra penciumannya yang tajam.
Yuuichi berpikir dengan sangat cepat. Ia perlahan mengulurkan tangannya ke depan, melewati pinggang Chika dengan hati-hati agar tidak menyentuhnya secara tidak sengaja, lalu menaruh telapak tangannya yang hangat dengan lembut di atas mulut sang guru untuk mencegahnya mengeluarkan suara sekecil apa pun jika ia tiba-tiba terkejut atau ketakutan.
Chika membelalak mata dalam kegelapan, tubuhnya langsung menegang saat merasakan sentuhan telapak tangan Yuuichi yang sedikit kasar dan berbau mesiu serta sedikit darah. Namun ia segera mengerti maksud dari tindakan Yuuichi itu dan dengan cepat memejamkan matanya, mencoba menenangkan napasnya yang mulai terengah-engah dengan cara menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya.
Makhluk di bawah sana mengeluarkan geraman rendah yang sangat dalam – suara yang begitu kuat hingga membuat dada mereka semua bergetar dan telinga terasa berdenging. Ia menatap jeruji ventilasi tempat mereka bersembunyi selama beberapa detik yang terasa seperti berlangsung selama berabad-abad, mata matanya yang merah menyala seperti bara api di kegelapan aula. Namun akhirnya, ia mengangguk sedikit seolah tidak menemukan apa-apa, lalu berbalik dan menghantam pintu aula yang terbuat dari kayu tebal hingga hancur berkeping-keping, melanjutkan perburuannya ke arah gedung olahraga melalui jalur di bawah sana.
Yuuichi melepaskan tangannya dari mulut Chika dengan perlahan, napasnya sendiri terasa berat dan panas setelah harus menahan napas sejenak. Ia bisa merasakan keringat yang menetes di dahinya meskipun udara di lorong cukup dingin.
"Dia sedang menuju ke arah yang sama dengan kita," bisik Yuuichi dengan suara yang penuh dengan keprihatinan namun tetap tenang. "Kita harus bisa sampai di gedung olahraga lebih dulu dan menyiapkan jebakan untuknya. Rina, bom molotov yang kamu buat... aku punya rencana khusus untuk menggunakan mereka semua."
Rina menyeringai tipis dalam kegelapan – sebuah senyum yang menunjukkan kegembiraan karena bisa menggunakan pengetahuannya untuk sesuatu yang berguna. Sebuah kilatan kecerdasan yang licik muncul di matanya meskipun tidak terlihat jelas. "Aku suka cara kamu berpikir sekarang, Shiro. Setidaknya itu jauh lebih logis daripada sekadar lari seperti tikus yang sedang dikejar oleh harimau."
"Baiklah, sekarang kita harus bergerak lagi. Cepat tapi tetap sunyi. Setiap detik yang kita tunda bisa menjadi kesempatan yang hilang untuk menyelamatkan diri kita," perintah Yuuichi dengan suara yang jelas dan tegas.
Mereka kembali merangkak dengan hati-hati di dalam lorong yang sempit, kali ini dengan kecepatan yang lebih cepat dan urgensi yang lebih besar. Di dalam lorong yang panas dan penuh debu itu, ikatan yang ada di antara mereka mulai mengeras dengan sendirinya – bukan hanya karena rasa takut yang sama terhadap bahaya yang mengintai di luar, tapi karena mereka semua tahu dengan pasti bahwa pria yang memimpin mereka dari depan itu adalah satu-satunya garis tipis yang memisahkan mereka dari kematian yang mengerikan yang sedang berjalan di bawah sana.