NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Kedekatan Deana dan Lena

Reno benar-benar mengawasi Deana. Mobil Reno berjalan di belakang taxi yang sedang Deana naiki.

Sampai lobby rumah sakit, Deana turun dan membayar taxi, barulah di situ perempuan itu lebih lega karena Reno sedang memarkirkan mobilnya.

"Laki-laki itu menyebalkan." desis Deana bergumam sambil mengepal pelan kedua tangannya.

Deana segera berjalan menuju ruangan IGD dan mencari bocah kecil itu. Hari sudah mulai siang, dan ia harus cepat pulang untuk berangkat kerja.

Deana memasuki ruangan IGD di lantai dasar sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Reno tadi.

Ceklek~

Deana terdiam saat melihat Tuan Samuel dan Nyonya Ellen ada di sana, duduk di kanan dan kirinya ranjang Lena. Sedangkan Lena yang mendengar pintu terbuka, langsung menatapnya.

"Kakak Cantik!" seru Lena bahagia lalu bertepuk tangan, "Kakak Cantik!" ucapnya lagi memanggil dengan raut yang antusias.

"Deana, masuklah...." ucap Nyonya Ellen yang mengerti kegelisahan Deana.

Deana menoleh sesaat pada Nyonya Ellen lalu mengangguk kecil.

Tuan Samuel membuang napasnya kasar lalu menjauh dari sana, ia berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan semuanya. Nyonya Ellen hanya melihatnya, tak berani menegurnya.

Deana merasa tidak enak hati, tapi ia tidak perduli karena ia datang untuk menemui Lena saja bukan untuk yang lain.

Deana mendekati Lena lalu menarik tangannya lembut dan ingin memeluknya.

"Jangan peluk cucuku." ujar Nyonya Ellen.

Deana yang ingin memeluk tubuh kecil Lena, langsung menghindar dan mengangguk.

"Kenapa Oma?" tanya Lena tidak senang.

Lena langsung memeluk tubuh Deana, ia sendiri yang memeluknya, "Lena senang Kakak Cantik mau datang jenguk Lena. Apa Kakak Cantik mau datang kalau Len di rumah sakit?" tanyanya polos.

Hati Deana sedikit tersayat mendengar ucapan dari bocah kecil yang masih polos itu. Deana menggeleng, "Maafkan Kakak ya Lena, Kakak ada kesibukan tadi, sekarang sudah tidak ada. Lena kenapa hm?" tanya Deana. Ia bahkan menurunkan kedua tangannya di atas paha, tidak berani menyentuh Lena karena mata Nyonya Ellen mengawasinya.

"Lena ini sakit Kakak." ucap Lena menunjuk dada kirinya, "Ini juga." ucapnya kembali menunjukkan area tenggorokannya.

Deana mengangguk, "Lena sudah makan?" tanya Deana. Ia lupa membawa sesuatu untuk Lena karena terburu-buru.

"Itu makan Len, tapi... Len mau disuapi Kakak Cantik." Lena menatap ompreng besi berwarna abu tua itu yang masih tertutup rapih oleh plastik tipis.

Nyonya Ellen sedikit tersenyum, "Tolong suapi cucuku, dia belum makan." ucapnya masih terdengar dingin.

"Baik Nyonya, biar saya suapi." Deana mengangguk. Kemudian Deana mengambil omprengnya dan merobek plastiknya.

Deana duduk di samping Lena lalu membantu Lena untuk duduk, "Kakak kuncir ya rambutnya biar nyaman."

Lena mengangguk, "Len mau kuncir dua!" serunya sembari mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya bersamaan.

Nyonya Ellen membuka tas kecil milik Lena lalu mengambilkan kunciran rambut berwarna warni itu dan memberikannya pada Deana.

"Sebentar ya." ucap Deana lalu mulai menyisiri rambut Lena yang sedikit berantakan itu dan menguncirnya.

Lena terkekeh geli saat Deana menyisiri bagian bawah rambut belakangnya.

"Sudah selesai...." ujar Deana, "Lena sudah cantik." pujinya tersenyum manis menatap Lena.

"Seperti Kakak Cantik." balas Lena lalu memeluk leher Deana yang sedikit membungkuk itu.

Cup!

Lena mencium pipi Deana. Deana sedikit melirik pada Nyonya Ellen, ia takut Nyonya Ellen memarahinya, tapi yang dilirik hanya diam mengamati saja.

"Len mau makan."

"Okay, sekarang Kakak suapi Len. Len makan yang banyak ya...." Deana tersenyum lagi lalu mulai menyuapi Lena.

Nyonya Ellen tersentuh melihat cucunya begitu dekat dengan Deana, tak sadar bibirnya terbentuk lengkungan tipis saat keduanya tertawa karena bercanda bersama.

***

Di depan ruangan IGD, Tuan Samuel dan Reno sedang duduk beriringan.

Reno baru saja membayar administrasi agar Len segera pindah ke ruang VVIP agar lebih nyaman.

"Daddy sampai bingung kenapa Lena dekat sekali dengan Deana." ucap Tuan Samuel melirik ke arah putranya.

"Reno juga tidak tahu, padahal mereka baru satu kali bertemu. Mungkin pertemuan pertama mereka begitu mengesankan sampai Lena jatuh hati pada perempuan itu." sahut Reno.

"Kau ingin menikahinya?"

Reno menatap ke arah Daddynya, "Iya, Reno takut Deana hamil."

"Keluarga Deana tahu?"

Reno menggeleng, "Deana ingin kami merahasiakannya."

"Jadi?"

"Reno tetap menikahi Deana selama satu tahun."

Tuan Samuel terjingkat kaget mendengarnya, "Satu tahun? Pernikahan kontrak maksudmu?" tanyanya. Ini lebih parah dari pemikiran Tuan Samuel sendiri.

Reno menghembuskan napasnya panjang, ia belum bercerita pada kedua orang tuanya, "Ya, Reno tidak mencintainya, Reno hanya memastikan Deana tidak mengandung anakku. Selama satu tahun jika Deana tidak positif hamil, maka Reno akan menceraikannya."

"Satu tahun? Jika melakukannya hanya sekali, cukup tiga sampai empat bulan saja kecebongmu berubah menjadi berbuah."

Reno terkekeh, "Agar waktunya tidak terlalu cepat."

Tuan Samuel mengangguk, "Kalau begitu Daddy setuju. Setelah itu, kau harus menceraikannya. Daddy yakin, perempuan itu tidak subur."

Reno mengangguk.

"Lalu berjanji untuk menikahi Fiona." lanjut Tuan Samuel.

"Reno tidak akan menikahi Fiona, Dad. Fiona bukanlah wanita baik seperti yang Daddy kenal. Sudah banyak pria yang menidurinya setiap malam."

"Kau bicara apa Reno... Fiona bukan wanita seperti itu." kilah Tuan Samuel.

"Daddy cari tahu sendiri saja, bukankah Daddy lebih hebat daripada Reno sendiri?" tantang Reno lalu meninggalkan Daddynya.

Tuan Samuel mendesis pelan, menatap kepergian Reno dari pandangannya.

***

Lena sudah dipindah ke ruang rawat VVIP, Lena akan bedrest total sampai tubuhnya kembali normal.

Dokter yang menangani Lena dari awal kembali mengecek kondisi Lena.

Di kamar itu, lengkap ada di sana semua. Bahkan Suster Ina sudah datang membawa peralatan yang pasti dibutuhkan oleh Lena.

Deana masih di sana menemani Lena karena Lena tidak memperbolehkan Deana pulang. Reno langsung menelpon Jordi agar mengurusi pekerjaan Deana.

"Nona Lena sudah makan?" tanya Dokter laki-laki muda itu sambil memeriksa Lena menggunakan stetoskopnya.

"Sudah Om Dokter. Lena sudah makan dan minum obat sama Kakak Cantik." ucap Lena lalu menarik tangan Deana dan menggenggamnya.

Senyum Reno terangkat mendengar ocehan putrinya.

"Nah begitu ya, supaya cepat pulang dan sehat. Kakak Cantik ya...." ucap Dokter muda itu lalu melirik ke arah Deana dan tersenyum.

Deana tersenyum kikuk saat laki-laki tampan itu menatapnya dengan lekat.

"Om Dokter pikir, ini Mommy Lena...." sambung Dokter lalu menyudahi mengecek kondisi Lena.

Lena menatap wajah Deana, "Mommy?"

Deana menggeleng dengan cepat, ia takut Lena kebablasan.

"Daddy, Kakak Cantik jadi Mommy Lena apa boleh?" tanya Lena menatap wajah Daddynya.

"Ah... Eum, tidak ya, nanti, eum, ya." balas Reno gelagapan karena bingung dan ngeblank.

Deana menghela napasnya panjang, "Om Dokter tadi Lena mengatakan jika dada kiri dan tenggorokannya sakit." jelas Deana.

Dokter itu tersenyum, "Wah kalau ada Kakak Cantik mau kasih tahu di mana sakitnya ya... Tadi Om Dokter tanya, Lena tidak mau kasih tahu...." ucap Dokter lalu mengusap lembut lengan Lena.

Lena membuang wajahnya pada Dokter karena malu dan menyembunyikannya di dada Deana.

Dokter terkekeh, "Tetap stimulus dengan Kakak Cantik ya."

Deana mengangguk lalu mengusap punggung Lena yang masih terasa hangat, "Terima kasih Dok."

"Baik, saya pergi dulu. Permisi." ucap Dokter lalu meninggalkan ruangannya.

1
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!