NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Ruang kerja itu semula hening.

Hanya suara lembaran kertas yang dibalik perlahan terdengar di antara dinding marmer dan rak arsip tinggi yang berjajar rapi. Lampu meja menerangi map bersegel merah di hadapan Adrian.

Jessica Zhou.

Adrian mulai membaca berkas itu dengan sikap profesional seperti biasanya. Namun semakin jauh matanya menelusuri baris demi baris laporan, raut wajahnya berubah.

Ia membaca ulang bagian kronologi.

Membaca hasil forensik.

Membaca pengakuan tertulis.

Tangannya berhenti di satu halaman. Sorot matanya menajam.

Beberapa detik kemudian, ia menekan tombol interkom di sudut meja.

Suara kecil berdenging sebelum tersambung.

“Panggil Jaksa Wu. Aku ingin semua bukti asli kasus Jessica Zhou dikirim ke mejaku malam ini.”

“Baik, Hakim Li,” jawab sekretarisnya cepat dari seberang saluran.

Adrian mematikan interkom.

Ia berdiri perlahan, kursinya bergeser sedikit ke belakang.

Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota. Kedua tangannya diletakkan di pinggang, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.

“Mana mungkin dia membunuh orang tuanya sendiri…” gumam Adrian lirih.

Ketukan pintu terdengar tegas.

“Masuk,” ucap Adrian singkat.

Pintu terbuka. Jaksa Wu melangkah masuk dengan wajah serius.

“Hakim Li.”

Adrian kembali ke meja kerjanya, berkas Jessica Zhou masih terbuka. Tatapannya tajam namun terkendali.

“Aku sudah membaca semuanya,” katanya pelan.

“Apakah ada masalah pada berkasnya?” tanya Jaksa Wu.

Adrian tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu lembar laporan forensik dan mengangkatnya sedikit.

“Motifnya jelas. Bukti fisik ada. Kesaksian menguatkan,” ucapnya. “Tapi ada sesuatu yang tidak selaras.”

“Bagian mana?”

“Alurnya terlalu lurus.”

Jaksa Wu terdiam.

“Dua korban. Satu tersangka. Tidak ada perlawanan berarti. Tidak ada upaya melarikan diri. Tidak ada upaya menyembunyikan jejak.” Adrian meletakkan kembali lembar itu. “Seolah-olah semuanya sudah selesai sebelum dimulai.”

“Maksud Anda…?”

“Aku tidak suka kasus yang tidak memiliki ruang pertanyaan.”

Nada suaranya rendah namun pasti.

“Eksekusi tidak boleh dijalankan dulu,” lanjut Adrian. “Aku ingin pemeriksaan ulang pada bukti fisik dan laporan forensik. Kirimkan salinan asli, bukan ringkasan.”

“Baik, Hakim Li.”

“Hakim Li, apakah Anda mencurigai pelakunya adalah orang lain?” tanya Jaksa Wu hati-hati.

“Jessica Zhou memiliki dua orang kakak,” ucapnya tenang. “Mereka tampil sebagai saksi di pengadilan karena percaya pada apa yang mereka lihat dan dengar.”

Ia berhenti sejenak.

“Namun setelah kupikir ulang… semuanya tidak masuk akal.”

Jaksa Wu mengernyit.

“Seorang gadis muda,” lanjut Adrian, “dituduh membunuh dua orang dewasa sekaligus. Orang tuanya sendiri. Andaikan mereka ditikam dalam keadaan sadar, setidaknya akan ada perlawanan. Luka defensif. Barang pecah. Tanda pergeseran furnitur.”

Ia menunjuk laporan forensik di meja. “Tapi di sini tidak ada.”

Suara Adrian menjadi lebih rendah.

“Tidak ada tanda perlawanan, Tidak ada jejak perkelahian. Seolah-olah… mereka tidak melawan dan hanya pasrah dibunuh."

“Apakah karena mereka terkejut?” tanya Jaksa Wu pelan.

“Atau tidak mampu melawan,” jawab Adrian tajam.

“Jika ini benar pembunuhan spontan karena emosi, maka akan kacau. Jika ini pembunuhan terencana oleh seorang gadis sendirian… tetap tidak mudah.”

Adrian menatap lurus ke arah Jaksa Wu. “Dan satu hal lagi. Dua kakaknya begitu yakin.”

“Mereka menyaksikan akibatnya,” ujar Jaksa Wu.

“Ya. Akibatnya.” Adrian menekankan kata itu. “Bukan prosesnya. Aku tidak mengatakan pelakunya orang lain,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga tidak percaya bahwa semua yang terlihat di permukaan adalah keseluruhan kebenaran. Kasus ini menyisakan terlalu banyak ketenangan untuk sebuah tragedi berdarah.”

“Namun pihak kepolisian di wilayah itu telah menyelidiki lokasi kejadian,” ujar Jaksa Wu. “Semua bukti hanya mengarah pada Jessica Zhou. Tidak ada tanda orang asing masuk. Password pintu hanya diketahui keluarga. Kedua kakaknya tidak berada di rumah, dan pembantu juga tidak ada.”

Adrian mengangguk pelan.

“Justru itu yang membuatku merasa ada kejanggalan. Jika dia pembunuh yang panik, seharusnya ada upaya menutupi jejak atau melarikan diri.”

Ia berhenti sejenak.

“Jika dia pembunuh yang tenang dan terencana, seharusnya ia menciptakan alibi. Tapi dia tidak melakukan keduanya.”

Jaksa Wu terdiam.

“Dia tidak kabur. Tidak menghapus jejak. Tidak menciptakan cerita pembelaan. Bahkan tidak mencoba menghubungi siapa pun.”

Adrian kembali melihat laporan CCTV.

“Rekaman rusak tepat pada malam kejadian. Tidak ada tanda pembobolan. Semua akses hanya dari dalam. Seorang pembunuh yang sudah merencanakan semuanya tidak akan duduk di lokasi kejadian sambil menangis tanpa rencana berikutnya."

“Hakim Li, jasad korban akan dikremasi dalam waktu dekat,” katanya pelan namun tegas.

Adrian yang semula menunduk membaca laporan, perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya berubah tajam.

“Kapan?” tanyanya singkat.

“Dua hari lagi. Permohonan keluarga sudah hampir disetujui.”

Hening sesaat memenuhi ruangan.

“Hentikan prosesnya,” ucap Adrian datar namun penuh tekanan. “Tunda kremasi sampai kita selesai melakukan penyelidikan ulang.”

Jaksa Wu sedikit terkejut. “Tapi administrasinya sudah berjalan, Hakim Li.”

“Cabut sementara,” potong Adrian tanpa ragu. “Ajukan penangguhan resmi. Selama belum ada persetujuanku, tidak ada satu pun barang bukti yang boleh dimusnahkan. Begitu tubuh itu menjadi abu,” lanjutnya pelan, “semua kemungkinan juga ikut hilang.”

Jaksa Wu menelan ludah.

“Baiklah… kita akan melakukan autopsi ulang,” katanya akhirnya. “Saya yang akan mengawalnya langsung.”

“Gunakan tim forensik berbeda dari yang pertama,” perintahnya. “Aku ingin pemeriksaan independen. Periksa ulang waktu kematian, kedalaman luka, sudut tusukan… semuanya.”

“Dipahami.”

“Dan satu hal lagi,” tambah Adrian. “Lakukan secara tertutup. Jangan sampai keluarga mengetahui alasan penangguhan ini.”

“Berikan alasan administratif,” kata Adrian tenang. “Katakan ada prosedur verifikasi tambahan sebelum perkara dinyatakan selesai.”

“Tanpa menyebut peninjauan ulang?” tanya Jaksa Wu.

“Tepat,” ujar Adrian. “Aku tidak ingin ada kepanikan atau reaksi berlebihan sebelum kita memiliki hasil autopsi ulang. Jika memang ada yang disembunyikan… orang itu akan mulai gelisah saat mendengar kremasi ditunda.”

Nada suaranya rendah.

“Dan kegelisahan sering melahirkan kesalahan.”

1
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!