NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Atas Kaca yang Baru Saja Bening

Semesta itu kadang punya selera humor yang gelap. Pas kamu ngerasa hidupmu udah seimbang, pas kamu udah berani naruh seluruh kepercayaanmu di telapak tangan seseorang, di situlah dia narik karpet di bawah kakimu sampai kamu jatuh terjungkal.

Pagi itu dimulai dengan sangat manis—terlalu manis, kalau diingat-ingat sekarang. Adrian dateng ke toko bunga jam tujuh pagi, bawa dua gelas kopi susu dan satu kotak croissant cokelat yang masih anget.

"Hari ini aku pulang telat dikit ya, Sheil," kata Adrian sambil benerin posisi celemek Sheilla yang agak miring. "Ada rapat evaluasi akhir semester, terus aku mau mampir ke toko bangunan sebentar. Mau beli lampu hias buat taman belakang rumahmu."

Sheilla ketawa, sambil nyubit pelan pinggang Adrian. "Lampu lagi? Kamu mau bikin rumahku jadi pasar malam?"

Adrian nyengir, narik Sheilla ke pelukannya sebentar. Pelukan yang rasanya kaya selimut hangat di musim hujan. "Aku cuma mau tiap malam kamu lihat ke jendela, kamu inget kalau ada aku yang bakal selalu kasih cahaya. Alay ya? Nggak apa-apa, mumpung libur sekolah."

"Hati-hati di jalan, Yan. Kabarin kalau udah beres," bisik Sheilla, ngecup pipi Adrian singkat—sebuah gestur yang sekarang udah berani dia lakuin tanpa rasa ragu.

"Siap, Bos!" Adrian melambai, naik ke motor maticnya, dan hilang di persimpangan jalan.

Itu adalah terakhir kalinya Sheilla ngelihat mata itu berbinar.

--

Sore harinya, hujan turun deras banget. Jakarta dan sekitarnya emang lagi nggak bersahabat. Sheilla lagi ngerapihin stok mawar putih pas HP-nya bunyi. Nama yang muncul: "Adrian".

Sheilla senyum, baru mau angkat dengan kata-kata candaan. Tapi suara di seberang sana bukan suara berat Adrian yang hangat. Suaranya gemetar, asing, dan kedengeran panik.

"Halo... Ini dengan keluarga Pak Adrian? Saya warga di jalan raya... Ada kecelakaan beruntun. Truk rem blong... Pak Adrian kondisinya kritis."

Dunia Sheilla mendadak sunyi. Bunyi hujan di luar sana seolah ilang, diganti sama suara dengung panjang di telinganya. Gunting bunga di tangannya jatuh, merusak beberapa tangkai mawar yang baru aja dia potong.

"Di... di mana?" suara Sheilla hampir nggak keluar.

Koridor Dingin dan Kehilangan yang Absolut

Rumah sakit itu baunya memuakkan. Bau obat, bau darah, dan bau kematian yang samar. Sheilla lari nyusurin koridor dengan baju yang masih basah kuyup kena air hujan. Di depan ruang IGD, dia nemuin Maya yang udah nangis sesenggukan.

"Mbak... Pak Adrian, Mbak..."

Begitu Sheilla masuk ke dalem, dia ngelihat Adrian. Pria yang tadi pagi masih nyubit pinggangnya, pria yang tadi pagi janji mau beli lampu taman, sekarang terbaring dengan berbagai selang di tubuhnya. Mukanya pucat, hancur di satu sisi, tapi bibirnya masih kelihatan tenang.

Adrian sempet buka matanya sebentar pas ngerasain tangan Sheilla ngeraih jemarinya yang dingin. Dia nggak bisa ngomong, cuma ada setetes air mata yang jatuh dari sudut matanya. Genggamannya di tangan Sheilla lemah banget, tapi Sheilla tahu itu adalah cara Adrian bilang selamat tinggal.

Grafik di monitor itu mulai mendatar. Suara beep panjang yang paling dibenci semua manusia di bumi itu menggema.

"Yan? Adrian! Bangun! Kamu janji mau pasang lampu, Yan! Kamu janji nggak akan jadi monster, kamu janji nggak akan ninggalin aku!" Sheilla teriak, suaranya pecah, merobek keheningan bangsal itu.

Dokter dateng, nahan bahu Sheilla. Tapi Sheilla nggak peduli. Dia hancur. Untuk kedua kalinya, dunianya runtuh. Bedanya, dulu Ardhito merusak hatinya, tapi Adrian... Adrian bawa pergi seluruh harapan hidupnya.

--

Pemakaman Adrian adalah kabur yang paling abu-abu di hidup Sheilla. Dia berdiri di sana, di bawah payung hitam, ngelihat tanah nutupin satu-satunya orang yang bikin dia ngerasa berharga.

Setelah itu, Sheilla berubah jadi robot. Dia buka toko bunga, tapi matanya kosong. Dia merangkai bunga, tapi warnanya nggak pernah pas. Tiap malam, dia duduk di halaman belakang rumahnya yang sekarang udah terpasang lampu hias (temen-temen guru Adrian yang masangin buat dia), tapi dia nggak berani nyalain lampunya. Gelap itu lebih pas buat perasaannya.

"Mbak Sheil, ada surat dari Canada," kata Maya suatu sore.

Itu dari kakaknya Sheilla yang udah lama menetap di Montreal. Kakaknya tahu kondisi Sheilla dan nggak tega ngelihat adeknya jadi mayat hidup di kota yang tiap sudutnya ada bayangan Adrian.

"Sheilla, dateng ke sini. Tinggal sama Kakak. Kamu butuh spasi yang bener-bener baru. Bukan cuma ganti warna cat, tapi ganti seluruh langitmu. Di sini dingin, tapi mungkin dingin itu yang bisa bikin luka kamu beku dan nggak sakit lagi."

Sheilla natap kunci rumah sage green-nya. Dia natap toko bunganya. Dia sadar, dia nggak bisa di sini. Kota ini terlalu berisik dengan suara tawa Adrian.

--

Tiga bulan kemudian. Montreal, Canada.

Suhu di luar minus sepuluh derajat celcius. Sheilla duduk di depan jendela flat kakaknya, ngelihat salju turun nutupin jalanan batu. Semuanya putih. Bersih. Nggak ada jejak.

Di sini, nggak ada yang tahu siapa Sheilla. Nggak ada yang tahu dia mantan istri Ardhito, nggak ada yang tahu dia pacar mendiang Adrian. Dia cuma seorang imigran yang kerja paruh waktu di sebuah toko bunga lokal di daerah Le Plateau-Mont-Royal.

Kerja di toko bunga di Canada beda banget sama di Indonesia. Di sini dia belajar soal tulip, peony musim dingin, dan gimana caranya jaga bunga supaya nggak mati beku. Tangannya sekarang sering pecah-pecah karena kedinginan, bukan lagi karena tanah basah.

"Sheilla, can you help me with this bouquet?" tanya Pierre, pemilik toko bunga tempat dia kerja.

Sheilla bangkit, ngerapihin syal wolnya. Dia merangkai bunga dengan gaya yang beda. Lebih liar, lebih berani. Pierre sering bilang kalau rangkaian bunga Sheilla itu punya "jiwa yang melankolis tapi kuat".

--

Malem-malem setelah kerja, Sheilla sering jalan sendirian di taman Mount Royal. Dia suka liat lampu-lampu kota Montreal dari ketinggian. Dinginnya angin Canada itu bener-bener "numb" rasa sakitnya, persis kayak kata kakaknya.

Dia mulai belajar bahasa Perancis, mulai nyoba makan poutine, dan mulai berani pake baju warna-warni lagi. Tapi di balik semua itu, ada satu kotak kecil yang selalu dia simpan di laci mejanya. Isinya cuma kunci rumah sage green dan selembar kartu ucapan dari Adrian: "Untuk Sheilla, yang bunganya selalu mekar di hatiku."

Suatu sore, pas dia lagi jalan pulang, dia ngelihat seorang pria lokal lagi masang lampu hias di depan tokonya. Lampu-lampu kecil warna kuning hangat.

Sheilla diem sebentar. Air matanya jatuh, tapi kali ini nggak bikin dia sesak. Dia sadar, dia nggak lari dari Adrian. Dia cuma lagi bawa Adrian jalan-jalan ke tempat yang lebih indah.

"Adrian," bisiknya ke arah langit Canada yang mulai gelap. "Lampu kamu udah nyala di sini. Aku udah nggak takut gelap lagi."

Dia narik napas dalem-dalem, ngerasain udara dingin masuk ke paru-parunya. Dia hancur dua kali, ya. Tapi tiap kali dia hancur, dia selalu belajar gimana cara ngerakit dirinya jadi versi yang lebih tangguh.

Sheilla di Canada bukan lagi Sheilla yang nunggu atau Sheilla yang bertahan. Dia adalah Sheilla yang hidup. Biarpun di atas salju, dia milih buat tetep tumbuh, pelan-pelan, setangkai demi setangkai.

Apakah kamu ingin melanjutkan ke Bab 20? Mungkin tentang Sheilla yang mulai sukses di Canada atau ada seseorang baru yang mencoba masuk ke hidupnya tapi dia masih ragu?

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!