NovelToon NovelToon
Pria Titisan Raja

Pria Titisan Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:32.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Gambaran Dari Naina

Kalandra terus berjalan sambil menggandeng tangan Naina. Naina pun mengikuti langkah pria di depannya.

"Apa masih jauh, Bang?" Tanya Naina. Ia merasa sudah jauh berjalan.

"Sepertinya ada yang menahan kita." Jawab Kalandra.

"Kita hanya di buat memutar saja." Imbuhnya kemudian.

"Astaghfirullah. Terus kita harus gimana?" Tanya Naina yang merasa kembali kehilangan harapan.

"Tenang, jangan khawatir. Aku pasti akan menemukan jalan keluarnya." Kata Kalandra yang tentu tak akan menyerah meskipun kini perasaannya sedikit resah.

"Kita istirahat sebentar, ya." Kata Kalandra. Mereka kemudian berhenti di dekat batang pohon tumbang yang ada di persimpangan jalan.

Naina pun duduk di atas batang pohon tumbang dan memijat - mijat kakinya yang terasa pegal. Sementara Kalandra terdiam sambil mengamati sekitarnya. Ia kembali mengingat - ingat pesan Ni Tuwe jika sedang 'dikerjai' seperti ini.

"Bang, Abang ada bawa makanan? Aku lapar." Tanya Naina.

"Ada roti, cukup untuk mengganjal perut." Jawab Kalandra sembari membuka tas dan memberikan sebungkus roti dan air mineral yang tinggal setengah botol pada Naina.

"Terima kasih, Bang." Ucap Naina yang segera membuka bungkus roti dan memotong roti itu menjadi dua bagian.

"Abang mau?" Tawarnya.

"Kamu saja yang makan. Saya gak lapar." Jawab Kalandra sambil menatap wajah cantik Naina yang berpeluh.

Naina kemudian memotong sedikit roti dan meletakkannya di sebelahnya.

"Aku makan, ya. Silahkan di makan kalau mau." Kata Naina yang bicara pada angin.

Walaupun bingung, tapi Kalandra hanya bisa tersenyum melihat tingkah Naina yang seolah sedang menawarkan makanan pada orang lain.

"Kata Nenek, kita harus berbagi makanan kalau sedang di hutan." Jelas Naina yang seolah mengerti mengapa Kalandra menatapnya sambil tersenyum.

"Kamu sering mendaki?" Tanya Kalandra yang di jawab anggukan oleh Nai.

"Lalu, kenapa bisa tersesat?" Tanya Kal.

"Karena salah satu temanku yang sok tau." Jawab Naina. Wajahnya pun kini berubah sedikit kesal.

"Harusnya kamu tinggal saja kalau kamu rasa langkahmu benar." Kata Kalandra.

"Gak ada yang mendukungku, Bang. Mereka semua lebih setuju dengan pendapat temanku yang satu itu." Kata Naina.

"Hm! Andai waktu itu aku tetap teguh dengan pendapatku." Lirih Naina yang merasa menyesal.

"Gak usah di sesali, semua sudah terjadi." Kata Kalandra.

"Apa teman - temanku yang lain sudah ketemu, Bang?" Tanya Nai.

"Baru satu, gadis berambut panjang yang memakai jaket rajut warna ungu. Dia juga yang memberi tau arah jalanmu." Jawab Kalandra.

"Dian? Alhamdulillah. Dia baik - baik aja kan, Bang?" Tanya Naina.

"Terakhir saat aku tinggalkan, dia mengalami hipotermia dan mulai dehidrasi. Semoga saja kondisinya membaik setelah di beri perawatan darurat." Jawab Kalandra.

"Sudah selesai? Ayo kita lanjutkan perjalanan." Ajak Kalandra saat melihat Nai sudah selesai dengan makan dan minumnya.

"Kita berdoa dulu, mudah - mudahan Allah mudahkan supaya kita bisa segera kembali dalam keadaan selamat." Kata Kalandra yang mengajak Nai untuk doa bersama.

Tak hanya berdoa, Kal juga membaca bacaan yang di ajarkan oleh Ni Tuwe jika sedang di 'kerjai' ketika di Hutan. Ia membacanya dalam hati dan diulangi sebanyak tiga kali.

"Kenapa?" Tanya Kalandra.

"Abang punya penjaga?" Tanya Naina.

"Ada, Allah." Jawab Kalandra.

"Bukan la. Ish Abang ni!" Kata Naina hingga membuat Kal tersenyum karena ekspres lucu Naina.

"Laki - laki kerajaan itu, yang tadi datang bersama Abang waktu menemukan aku. Sekarang dia ada lagi di sini dan menunjuk ke arah sana." Kata Naina sambil menunjuk ke arah yang sama dengan yang di tunjuk oleh pria berbaju raja itu.

"Hei! Jangan ngaco." Kata Kalandra.

"Bener, Bang. Aku gak ngaco." Sahut Naina.

"Sudah, ayo kita jalan lagi." Ajak Kalandra yang langsung menggandeng tangan Naina.

"Terima Kasih, Pak!" Kata Naina sambil melambaikan tangannya. Kalandra sendiri hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah aneh gadis yang ia gandeng.

Mereka pun berjalan ke arah yang tadi di tunjuk oleh Naina. Belum sampai lima menit berjalan, suasana tiba - tiba berubah gelap.

"Alhamdulillah." Lirih Kalandra saat sadar kalau ia berhasil membawa Naina keluar dari Desa Ghoib yang ada di Gunung itu.

"Alhamdulillah! Penjaga Abang memang keren!" Celetuk Naina yang tak di tanggapi oleh Kalandra.

"Di tasmu ada senter atau headlamp?" Tanya Kalandra sembari mengambil sebuah headlamp dari tasnya.

"Ada, tapi gak tau masih mau menyala atau tidak." Jawab Naina yang kemudian membuka tasnya dan mengambil headlamp yang ia maksud.

"Gak mau menyala. Mungkin habis batrainya." Lirih Naina kemudian sambil memukul - mukul headlamp.

"Yasudah gak apa - apa. Kita punya satu headlamp." Kata Kalandra yang kemudian kembali menggandeng Naina.

Keduanya kembali berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan belantara yanh vegetasinya masih rapat.

Entah mengapa, Naina merasa aman dan bisa percaya begitu saja dengan pria yang kini sedang menggandeng tangannya ini.

"Abang sudah pernah lewat sini?" Tanya Naina.

"Iya. Itu ada bekas ranting yang aku babat." Jawab Kalandra sambil menyorot ke arah ranting yang ia maksud.

"Apa masih jauh, Bang?" Tanya Naina. Tubuhnya tiba - tiba saja menjadi lemas dan menggigil.

"Kamu kedinginan?" Tanya Kalandra saat merasakan tangan Nai yang gemetar.

"Gak tau, Bang. Tiba - tiba aku menggigil, badanku juga lemas banget." Jawab Naina.

Kalandra pun menghentikan langkah. Ia kemudian mengambil emergency blanket di tasnya dan membalut tubuh Naina dengan emergency blanket.

Kalandra berusaha menghubungi Pos Utama dengan HT yang ia bawa. Namun, tak juga terhubung.

"Sudah hampir tengah malam. Lama juga aku di dalam sana." Batin Kalandra sembari melihat posisi bulan.

"Kita bermalam di sini dulu saja." Putus Kalandra pada akhirnya karena tak mungkin memaksakan Naina yang kondisinya tampak lemas.

Dengan cekatan, Kalandra membuat api dan juga membuat Bivak sederhana dari flysheet yang ada di tasnya.

"Abang sudah sering ke hutan?" Tanya Naina saat melihat ketangkasan Kalandra.

"Aku dulu sering tinggal di hutan." Jawab Kalandra.

"Abang bukan Tarzan, kan?" Ledek Naina yang membuat mereka berdua tersenyum.

"Abang dari Kalimantan?" Tanya Naina pada pria yang kini duduk di sampingnya.

"Mamaku berasal dari sana." Jawab Kalandra.

"Berarti penjaga Abang, berasal dari garis keturunan Mama." Celetuk Naina.

"Kamu bisa lihat makhluk seperti itu?" Tanya Kalandra yang penasaran karena Naina sering membicarakan tentang 'penjaganya'.

"Enggak. Aku juga gak tau, kenapa bisa lihat beliau." Jawab Naina.

"Kamu tau dari mana kalau beliau dari Kalimantan?" Tanya Kalandra lagi.

"Beliau memakai baju Kustim yang mewah. Aku ingat kalau baju itu berasal dari Kalimantan. Burung Rangkong gagah yang selalu bertengger di pundaknya juga, itu burung endemik Kalimantan, kan." Kata Naina yang di jawab anggukan oleh Kalandra.

Setelah menceritakan itu, mereka sama - sama terdiam dan larut dengan pikiran masing - masing. Kalandra pun teringat dengan cerita - cerita legenda yang dulu sering kali di ceritakan padanya oleh Ni Tuwe dan Pui.

Namun, lamunannya itu terhenti saat melihat Naina yang hampir tersungkur. Untungnya Kalandra berhasil menahan tubuh gadis itu.

"Tidur dia?" Kekeh Kalandra sambil menyandarkan kepala Naina di bahunya.

1
Ita Xiaomi
Kalandra kalimat terakhir tlg direvisi bs bikin emosi nih😁
Ita Xiaomi
Daddy berkelit aja tuh 🤣
Nurlaila Elahsb
fans ya😀di maklumi aja na😊
Dewi kunti
mengantar yaaa
Nuri 73749473729
ada2 aja kamu kal... lanjut💪
Esther
bagi coklatnya Naina, jangan dihabiskan sendiri nanti sakit gigi😄😂
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kal. bikin orang bete aja kata terakhir nya
Mulyani Asti
seru
Ita Rcwt
ga sabar ini nunggu lanjutannya😊
Nifatul Masruro Hikari Masaru
langsung dapat gelar mommy aja nih
Atik Kiswati
semoga langgeng sampe nikah ya....
Nuri 73749473729
lanjut thor💪
Dewi kunti
pacarnya boleh Nemu dihutan itu🤭🤭🤭🤭
Kristiana Subekti
semangat up nya thor 🥰
Faqisa Sakila
yg dsni happy2..
yg crita stunya ko serem sih thor..
doble up donk
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wiiiih langsung gercep
Priyatin
mau .... ayo bang 🥰🥰🥰🥰
Priyatin
hah. ek kok aku yg kaget bang 😄😄😄
Atik Kiswati
lnjt..
Nuri 73749473729
nah tu na... mau dikenalin sama camer lanjut💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!