"Ahhh..." Teriak seorang gadis cantik bernama Naomi Fathia kala mahkota yang dijaga selama 18 tahun harus hilang diambil paksa oleh seorang pria yang dia panggil guru di tempatnya menuntut ilmu.
"Ini enak sekali, sempit dan legit padahal aku pikir gadis panggilan sepertimu pasti sudah longgar." Ucapnya sambil terus mencari kenikmatan.
Dia adalah Damian Lorenzo berumur 28 tahun yang berprofesi sebagai Guru Matematika di Sekolahan Swasta.
Malam itu Damian sedang mabuk, dia tidak melihat jelas siapa wanita yang ada di hadapannya. Dia pikir Naomi salah satu wanita malam yang mencari mangsa. Sehingga tanpa banyak bicara, Damian menyeretnya masuk ke dalam mobil.
Satu bulan setelah malam kelam, Naomi harus menelan pil pahit ketika dia mendapati dirinya hamil. Susah payah Naomi harus terus menyembunyikan kehamilannya dari semua orang. Hingga setelah kehamilannya berusia 3 bulan, rahasia itu akhirnya terbongkar.
Ikuti kelanjutan kisah Naomi hanya di Noveltoon.
UPDATE SETIAP HARI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikita Kembali Berulah
"Jadi... Sebelum semua terlambat, saya ulangi lagi pertanyaan saya tadi." Ucap Papa Sofyan dengan tegas.
"Kamu bertanggung jawab dalam bentuk sekedar melamar? Lalu ditinggal, membiarkan Naomi menjalani kehamilan seorang diri. Tanpa kamu dampingi sebagai pasangan yang SAH, ayah kandung janin yang tumbuh di rahim Naomi karena kesalahanmu salah mengenali orang?"
"Lalu ketika mantan calon istri yang kamu cintai mengajak kembali. Kamu bisa dengan mudah meninggalkan Naomi karena status kalian yang masih bukan siapa-siapa itu? Saya akui kamu cerdik Damian. Kamu ingin mengingat Naomi dengan tali rapuh yang mudah putus. Jadi jika benar-benar putus, kamu tidak akan mudah dipersalahkan."
"Jika memang seperti itu yang ada dalam pemikiranmu saat ini. Biar Naomi menjalani kehamilan cukup bersama kami orang tua angkatnya. Kami cukup mampu jika hanya sekedar memberi nafkah untuk Naomi. Bahkan kami akan bawa Naomi pergi jika kehadirannya membuatmu terganggu. Saya tahu Damian, pria sepertimu hanya menjunjung tinggi harga diri."
Damian terdiam, jujur saja semua omongan Papa angkat Naomi menamparnya. Tidak semuanya benar, tapi ada yang memang sedang dipikirkan.
Tentang harga dirinya yang tinggi. Damian merasa jika menikahi Naomi sekarang, di saat dia baru saja gagal nikah dengan mantan Sekretaris lalu tiba-tiba menikah dengan salah seorang muridnya karena kesalahan.
Rasanya ada rasa malu menghinggapinya, malu bukan karena Naomi yang masih muda bahkan selisih usia 10 tahun bukan kendala utama. Tapi malu pada dirinya sendiri yang sebagai seorang pendidik malah memberikan contoh yang begitu buruk. Datang ke club karena terluka, patah hati membuat Damian kehilangan salah satu prinsip hidupnya sendiri.
Yakni tidak mau menyentuh alkohol, tidak menggauli yang bukan haknya. Nyatanya keduanya sudah dia lakukan, dan parahnya dengan muridnya sendiri.
"Nyonya, maaf kalau suami saya bicara terlalu keras terhadap Damian. Karena bagaimana pun kejadian Naomi yang kehilangan mahkotanya adalah musibah yang sebenarnya masih bisa kita hindari jika Damian mengendalikan dirinya."
"Kami tidak memaksa Damian, tapi jika hanya lamaran lalu pergi. Maaf kami menolak dengan tegas. Karena dalam keadaan seperti ini, Naomi tidak butuh hubungan menggantung. Karena yang dibutuhkan Naomi adalah status yang jelas, yang kuat di mata hukum dan agama. Penghulu sudah siap, jika Damian bersedia menikahi Naomi sekarang juga."
"Saya siap, bukan hanya karena rasa tanggung jawab tapi lebih. Saya merasa ketertarikan kepada Naomi, sebagai pria yang mendekati wanita. Sudah saya katakan juga pada Naomi untuk kita sama-sama membuka hati, tapi mungkin Naomi masih ragu atau bahkan tidak percaya dengan apa yang telah saya bicarakan padanya siang tadi."
"Saya tahu saya salah, tapi ijinkan saya sungguh sungguh ingin memperbaiki kesalahan itu menjadi kebahagiaan. Mari Pak Penghulu nikahkan kami." Ucap lantang Damian pada akhirnya.
Naomi terdiam dengan mata berkaca-kaca setelah mendengar kesungguhan gurunya. Dinikahi bukan karena keterpaksaan saja, tapi gurunya mengatakan jika dia tertarik dengannya sebagai seorang pasangan.
Sejak awal Naomi sudah didandani dengan kebaya putih yang disamarkan dengan kardigan saat Damian datang. Jadi ketika Damian berucap siap, maka kardigan itu langsung dibuka. Terlihatlah dengan jelas kebaya putih yang melekat indah di tubuh Naomi yang terbilang sangat proporsional. Dengan tinggi 165 cm dan berat 50 kg pinggang ramping. Membuat penampilan Naomi tidak seperti gadis SMA berusia 18 tahun.
"Cantik..." Tanpa sadar Damian berucap lirih tapi masih bisa didengar.
"Calon menantu Mama ternyata sangat cantik dengan kebaya putih ini. Nyonya Sofia sudah mempersiapkan semua, terima kasih." Ucap Nyonya Donita.
"Sama-sama, mulai sekarang kita menjadi besan. Jangan terlalu sungkan."
Dengan tubuh tegap, Damian menghadap Penghulu yang sudah disiapkan oleh Papa Sofyan dari kantor KUA. Kekuatan uang dan jaringan relasi membuat segalanya menjadi sangat mudah.
SAH
SAH
SAH
Akhirnya Damian resmi menikahi Naomi di mata hukum dan agama meskipun dadakan. Bahkan buku nikah sudah siap tinggal ditanda tangani kedua mempelai.
Saksi pernikahan ada dari kantor KUA dan Kepala Sekolah tempat Naomi dan Damian belajar mengajar.
"Terima kasih, sekarang saya lega. Karena setidaknya di luar rumah ini, Naomi ada yang melindungi. Untuk masalah kehamilan Naomi yang lebih cepat dari tanggal pernikahan, tolong untuk menjadi rahasia cukup di sini." Ucap Papa Sofyan.
Awalnya Kepala Sekolah merasa ini salah, tapi Papa Sofyan berjanji jika perut Naomi sudah membesar, maka dia akan belajar daring. Supaya tidak menimbulkan banyak kegaduhan. Yang sebenarnya tidak masalah juga, asalkan hamil sudah punya suami.
"Dan mulai sekarang, Damian harus tinggal di sini. Tidak ada bantahan." Ucap Papa Sofyan tegas.
Jika biasanya seorang Istri mengikuti Suami, tapi tidak berlaku untuk Naomi yang menurut dengan pengaturan dari kedua orang tua angkatnya.
Alasannya simpel, mereka menikah karena terpaksa dan belum ada cinta. Apalagi kondisi Naomi sedang hamil. Mama Sofia khawatir Naomi tidak nyaman tinggal berdua dengan Damian.
"Baik, saya mengerti." Ucap Damian.
Damian tidak mau mempersulit keadaan. Dia paham sangat paham kekhawatiran orang tua Naomi jika berjauhan. Melepaskan anak gadisnya kepada pria yang baru dikenal tidak mudah. Dan juga keadaan Naomi yang sedang hamil butuh support sistem.
"Kalau begitu, untuk malam ini saja saya pamit pulang dulu sekalian mengantar Mama." Ucap Damian.
"Ya silahkan, besok pagi atau setelah pulang dari sekolah kamu bisa langsung pulang ke sini. Kemasi barang-barangmu dulu, minta orang untuk mengantarkan ke sini. Mulai besok, jemput Naomi dan kalian harus pulang pergi bareng. Jangan menyembunyikan status, atau kalian akan menuai fitnahan dari luar. Bilang saja, kalian menerima perjodohan."
Malam itu semua berjalan baik, Damian lega dengan status barunya. Tapi Naomi sedikit keberatan jika harus berterus terang tentang statusnya. Padahal niatnya masih ingin menyembunyikan status jika dia sudah dinikahi.
"Tapi, tidak ada ruginya juga. Jadi aku bisa merasa aman. Ada yang melindungiku dari kejahatan. Setidaknya jika dia memang peduli."
Pagi telah kembali memulai hari, semalam Damian langsung mengemasi pakaiannya. Tidak banyak karena yang dibawa ke Apartemen memang hanya beberapa. Jadi dia akan pulang dulu ke rumah Mamanya untuk mengambil sebagian lagi barang penting lainnya. Siapa sangka di depan gerbang sudah duduk menunggu mantan tunangannya.
"Damian... aku ingin bicara sebentar." Nikita menghadang mobil Damian yang baru mau masuk gerbang rumah.
"Aku sibuk, minggir." Ucap Damian.
"Damian, aku akan gugurkan kandunganku. Aku rela melakukan apa pun asal kamu mau menerimaku kembali." Teriak Nikita semakin hilang kendali.
"Kalau begitu, kamu mati saja. Dengan begitu dosamu padaku terhapuskan." Ucap Damian membuat Nikita tertegun.
ceritanya bagus,,sat set lgsg tamat 🤗
Mau gk mau ya harus bersyukur dan ikhlas menerima takdir sang AUTHOR.
TERIMA KASIH BANYAK THOR...🙏🥰
Istilah ini menggabungkan konsep karma (hukum sebab-akibat) dengan "dibayar kontan" (pembayaran langsung tunai) untuk menekankan kesegeraan dan kejelasan balasan tersebut...😥😭
iy bener thor skg byk yg kurang bersyukur, di ucapkan gampang tapi melakukan nya itu sulit loh
Maka ketika dihadapkan oleh musibah, yakinkan bahwa musibah ini adalah sebuah ujian untuk menguji keimanan kita, kesabaran kita.
Ketika seorang hamba dapat memahami sebuah kebaikan di dalam sebuah musibah, ia akan menganggapnya sebagai rahmat. Banyak hikmah yang dapat dipetik darinya dan menjadikannya sebagai pembelajaran...🤧😥💪