NovelToon NovelToon
Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Cerai / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:269
Nilai: 5
Nama Author: VISEL

Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Hana menolak dengan tegas permintaan Aldo, ia tidak ingin terlibat lagi dengan urusan Aldo dan Sari.

  Hana: "Maaf, mas. Hadapi masalahmu sendiri. Aku tidak ingin terlibat lagi denganmu dan Sari." ucapnya dengan pelan namun tegas. Perlahan-lahan Aldo bangkit dari sujudnya, ia menyadari permintaan maafnya tidak akan menggoyahkan hati Hana untuk sekedar mendengarkan ceritanya.

  Aldo: "Apakah kamu masih marah padaku, Hana?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Hana menghela nafas ringan, ia menatap wajah Aldo dalam-dalam.

  Hana: "Aku sudah melupakan semuanya, mas. Aku hanya tidak ingin terlibat lagi denganmu." ucapnya.

  Aldo: "Aku menyesali semuanya, Hana. Aku tersiksa hidup bersama Sari." ucapnya dengan perasaan tertekan.

  Hana: "Sudahlah, mas. Kamu telah memilih Sari, kamu juga harus menjalaninya dengan ikhlas." ucapnya dengan bijaksana. "Aku masuk dulu, mas. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." ucapnya dengan pelan namun tegas. Hana membalikkan badannya, ia berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Aldo masih berdiri menatap Hana dari depan pintu pagar rumah Hana yang cukup tinggi. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya, rasa sesal dan sesak menyatu dalam dadanya. Hana adalah wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta, namun cinta itu goyah saat Sari menggoda dan memberinya kenikmatan lain. Aldo merasa dunianya hancur, kenangan-kenangan saat bersama Hana mulai bermunculan dalam benaknya, rumah yang ia datangi adalah rumah yang memberinya kebahagiaan lahir batin hingga akhirnya kebahagiaan itu musnah karena ulahnya sendiri.

Aldo kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan pelan. Hana menatap kepergian Aldo dari jendela kamarnya, raut wajahnya memancarkan ketenangan saat melihat kepergian Aldo.

  Hana: "Semoga kamu selalu bahagia, mas. Kamu harus bahagia karena kamu sendiri yang memilih jalan itu." ucapnya lirih.

Keesokan paginya, Sari keluar dari dalam kamarnya dan melihat Aldo tertidur di atas kursi panjang. Raut wajah Sari berubah tegang, hatinya mulai kesal saat mengingat Aldo yang pergi dari rumah. Mbok Surti melangkah pelan dan menghampiri Sari.

  Mbok Surti: "Sudah hampir jam 8, nyonya. Biasanya jam segini tuan sudah sarapan dan siap untuk ke kantor." ucapnya pelan sambil menatap wajah Sari.

  Sari: "Kamu saja yang membangunkannya, mbok. Aku masih kesal padanya." sahutnya dengan wajah yang cemberut. Sari berjalan pelan menuju ke dapur, sedangkan mbok Surti melakukan perintah Sari, ia melangkah dengan pelan dan mulai membangunkan Aldo dengan cara menepuk bahu Aldo beberapa kali.

  Mbok Surti: "Bangun tuan, sudah pukul 8 pagi." ucapnya pelan. Beberapa detik kemudian Aldo terbangun, perlahan Aldo membuka kedua matanya dan melihat mbok Surti berdiri di sampingnya.

  Aldo: "Sudah pukul berapa ini, mbok?" tanyanya dengan rasa penasaran.

  Mbok Surti: "Sudah pukul 8 pagi, tuan." sahutnya. Aldo buru-buru bangkit dari kursi panjang itu, ia mengusap-usap kedua matanya dan menatap ke luar jendela rumahnya, hari begitu cerah dan matahari bersinar dengan indahnya.

  Aldo: "Aku sudah telah, mbok." ucapnya sambil berlari kecil masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Mbok Surti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil kembali melangkah ke dapur.

  Sari: "Apakah mas Aldo sudah bangun, mbok?" tanyanya dengan rasa penasaran.

  Mbok Surti: "Iya, nyonya. Tuan Aldo sedang mandi." ucapnya dengan penuh keyakinan.

  Sari: "Aku akan menemuinya." ucapnya sambil berjalan pelan masuk ke dalam kamarnya. Saat Sari masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Aldo telah berpakain dengan rapi dan memakai parfum di bajunya.

  Sari: "Ke mana kamu semalam, mas? Apakah kamu menemui Sari?" tanyanya dengan penuh kecurigaan.

  Aldo: "Jangan memulai pertengkaran lagi, Sari. Aku sudah terlambat." ucapnya dengan kesal. "Pagi ini aku ada rapat penting." ucapnya lagi. Aldo membuka pintu kamarnya, lalu melangkah dengan terburu-buru menuju ke halaman rumahnya. Mbok Surti ikut mengejar Aldo sampai ke depan rumah, namun Aldo telah pergi mengendarai mobilnya dengan terburu-buru.

  Mbok Surti: "Tuan tidak sempat sarapan." gumannya.

  Aldo terus melaju dengan mobilnya di jalan raya yang cukup ramai pagi itu. Aldo harus memberhentikan mobilnya beberapa detik hanya untuk membiarkan kendaraan lain lewat. 25 menit kemudian Aldo tiba di depan kantornya, Aldo keluar dari dalam mobil dan melangkah dengan terburu-buru masuk ke dalam kantornya. Cindy berlari kecil menghampiri Aldo yang sedang melangkah dengan terburu-buru di dalam ruangan kantor itu.

  Cindy: "Cepat, pak. Semua sudah berada di dalam ruangan." ucapnya dengan wajah tegang.

  Aldo: "Apakah rapatnya sudah dimulai, ,cindy?" tanyanya dengan gelisah.

  Cindy: "Rapatnya baru saja dimulai, pak." sahutnya. Aldo berjalan cepat masuk ke dalam ruangan rapat. Sesampainya di dalam ruangan rapat, Aldo menatap satu-persatu sesama rekan bisnisnya dengan perasaan bersalah karena terlambat datang. Semua rekan bisnisnya sangat dikenalnya dengan baik, namun pandangan Aldo tertuju pada sosok seseorang yang menurutnya asing dan baru pertama kali dilihatnya. Cindy menyadari jika Aldo belum berkenalan dengan sosok pria asing itu, Cindy menghampiri Aldo untuk memperkenalkannya dengan pria asing itu.

  Cindy: "Maaf, pak. Pria itu rekan bisnis kita yang baru. Aku lupa memperkenalkannya." ucapnya. Aldo menatap wajah pria asing itu dalam-dalam, Aldo merasa pernah melihat pria asing itu tapi ia tidak bisa mengingatnya lagi.

  Aldo: "Aku merasa pernah melihatnya." ucapnya lirih. "Di mana, ya?" tanyanya dengan pelan sambil menatap wajah Cindy.

  Cindy: "Pria asing itu bernama Peter, pak." ucapnya sambil tersenyum tipis menatap ke arah Peter. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Aldo menjabat tangan Peter dengan erat.

  Aldo: "Senang bekerja sama denganmu, Peter." ucapnya sambil tersenyum tipis.

  Peter: "Sama-sama, pak." sahutnya dengan pelan.

  Aldo: "Namaku Aldo." ucapnya dengan rasa percaya diri. "Baiklah, kita akan memulai rapatnya sekarang." ucapnya lagi. Saat Aldo mulai memimpin rapat itu, Peter merasa pernah melihat wajah Aldo. Peter mencoba mengingatnya dan akhirnya Peter ingat jika Aldo adalah mantan suami Hana. Peter juga mengingat saat awal pertemuannya dengan Aldo di rumah sakit, saat itu Peter tanpa sengaja bertemu dengan Hana di rumah sakit tempat Kenzo dirawat. Beberapa menit kemudian rapat telah selesai, rekan-rekan bisnis Aldo telah keluar dari ruangan rapat itu kecuali Peter.

Aldo: "Semoga kerja sama kita bisa terus berlangsung, Peter." ucapnya dengan penuh harap.

Peter: "Iya, Aldo." ucapnya sambil tersenyum tipis. "Saya permisi dulu, ya." ucapnya lagi. Saat Peter hendak melangkah keluar, Aldo memanggilnya.

Aldo: "Tunggu, Peter." ucapnya dengan suara agak keras. Peter berbalik dan menatap wajah Aldo.

Peter: "Ada apa, Aldo?" tanyanya dengan rasa penasaran. Aldo melangkah pelan, ia mendekati Peter yang masih berdiri menatapnya dengan heran.

************************************

1
tia
dunia nyata dunia novel sama istri pertama pasti ada ruang khusus 😁😁
tia
tambah lg updatenya thor
tia
karma di bayar lunas ,, kehilangan bayi kakiny lumpuh ,,, syukurin
tia
kasihan hana 😭😭,,moga kenzo cepat sembuh.
tia
lanjut Thor,,buktikan hana bahwa qmu hebat
tia
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!