“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#32
Elang duduk dengan kaki terbuka, sambil bersandar. Matanya menatap lurus dan tajam pada Ayunda.
Sementara ayunda hanya diam duduk menunduk seperti seorang anak yang akan kena hukum orang tuanya.
Elang menghela nafas. Memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih santai.
“Terus kamu juga suka sama Alex?”
Ayunda menggelengkan kepala.
“Dia nembak kamu?”
Aunda mengangguk kecil.
“Tau dia suka sama kamu, kamu masih mau jalan sama dia. Kenapa?”
Gadis itu memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap elang.
“Gak ada alasan. Memangnya gak boleh ya?”
Lagi-lagi Elang menghela nafas berat.
“Dek, kalau hati kamu masih milik orang lain, jangan coba-coba menjalani hubungan dengan siapapun. Itu namanya kamu mempermainkan laki-laki. Mas gak suka kamu kayak gitu. Kalau memang mau mencoba jalan sama Alex, lupakan dulu Zayan. Mas gak mau pertemanan mas sama Alex rusak.”
“Kan kata Kak Alex nya coba jalani dulu. Lagian gimana aku bisa melupakan Zayan kalau gak ada yang bantu. Siapa tahu setelah jalan sama kak Alex aku lupa sama Zayan.”
“Ya kalau lupa, kalau enggak?”
“Terus aku harus gimana? Bertahan sama perasaan yang gak tau akan berakhir di mana? Setidaknya aku ingin mencoba menjalani percintaan dengan yang lain. Kalaupun tidak bisa melupakan Zayan, toh aku juga gak akan bisa sama dia lagi.”
“Kalau ada kesempatan? Kamu mau begitu saja meninggalkan Alex?”
“Ya aku…., ihhh mas kok bentak sih.”
Ayunda kembali terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Elang. Dia sendiri bingung harus bagaimana jika suatau saat Zayan kembali dan ada kesempatannya untuk mereka bisa bersama.
“Jangan mempermainkan perasaan orang lain. Kamu sendiri tahu gimana sakitnya kan?”
Hening.
“Ya udah, nanti aku bilang sama kak Alex.”
“Mau bilang apa?”
“Bilang kalau jangan suka sama aku lagi. Udah, aku mas ke asrama. Ayo anterin,” rengek Ayunda.
”mas telpon ketua asramanya sini. Malam ini nginep di sini aja. Mas cape balik lagi ke sana nya.”
“Tuh kan, kata aku juga apa. Ngapain coba kita pulang ke rumah.”
Elang tidak menggubris. Dia mengambil ponsel ayunda untuk menelpon ketua asrama.
“Kenapa sih gak pulang? Kamu ke mana?” Tanya Sri di telpon saat mendapati Ayunda tidak ada di kamar.
“Di rumah.”
“Emang besok libu?”
“Nggak. Tadi aku bikin masalah, jadi dijemput paksa sama mas ku. Nanti deh aku cerita ya. Aku lagi bete banget hari ini.”
“Oh, oke. Kalau emang di rumah sih gak apa-apa. Akunya jadi tenang. Udah malem gini kamu belum pulang juga.”
“Makasih ya, Sri.”
“Iya. Oke, good night.”
“By.”
Ayunda kembali melakukan aktifitas nya sejak tadi di dalam kamar. Gelelengan tidak jelas karena bingung mau ngapain. Mau ke bawa ada Elang, orang yang tidak ingin dia temui saat ini.
Tok tok tok
“Gak ada orang.” Ayunda menjawab ketukan pintu Elang.
“Ada Alex di bawah. Mau ketemu nggak?”
Ayunda langsung duduk mendengar ucapan Elang.
“Iya, bentar.”
Gadis itu melompat dari ranjang. Dia berdiri di depan cermin. Memutar badan nya ke kiri dan kanan. Merapikan hiasan wajahnya agar terlihat segar. Tidak lupa memakai parfum yang dibelikan oleh Elang bulan lalu.
Ayunda berdiri di samping sofa. Di mana Elang dan Alex sedang duduk di sana. Mereka terlihat sangat serius dan tegang.
“Duduk,” titah Elang.
“Aku bawa makanan. Makan ya.”
“Makasih, Kak.” Ayunda kembali menundukkan kepala.
“Oke, kita perjelas aja masalahnya. Jadi, lo suka sama adek gue?” Tanya Elang to the point.
“Hmmm.”
“Seserius apa?”
Alex menghela nafas.
“Gue baru mau mencoba jalan. Kita semua di sini tau lah gimana Ayunda ya kan? So, gue gak mau maksa dia untuk saat ini.”
“Dia pernah kecewa dan gue gak mau dia kecewa kedua kalinya.”
Ayunda langsung mengangkat wajahnya lalu memandangi Elang.
“Gue tau gimana lo, gue percaya lo baik. Cuma gue gak mau kalau lo deketin adek gue tapi hati lo belum yakin.”
Alex tidak bisa mengatakan apapun karena dia sendiri memang tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini pada Ayunda.
Dia memang merasa nyaman saat bersama ayunda. Tapi jantungnya tidak pernah berdegup kencang untuk Ayunda.
Rasa rindu sering tumbuh saat dia jauh dari gadis itu, tapi dia juga tidak pernah merasa gelisah saat akan berjumpa dengannya.
Selalu ingin bertemu, tapi kemudian dia memilih untuk diam dan melupakan rasa itu dalam waktu yang singkat.
“Jawaban apa yang lo mau dari gue?”
“Ya tentang perasaan lo sama ayunda lah. Gue pengen tahu sedalam apa lo suka sama dia.”
“Harus kah kita jatuh cinta begitu dalam untuk bisa menjalin hubungan dengan seseorang? Bukankah perasaan itu akan semakin tumbuh seiring berjalan nya waktu bersama.”
“Mas gak akan ngerti, makanya jomblo terus.” Cetus Ayunda.
Alex tersenyum tipis.
“Ah, udah lah. Aku mau makan, habis itu tidur. Jangan lupa besok pagi anterin aku ke kampus. Jam 7 harus udah ada di sana.”
Ayunda mengambil paper bag biru yang tadi diberikan oleh Alex.
Elang menatap kepergian ayunda. Gadis itu pergi tanpa mengatakan apapun pada Elang. Hal itu membuat elang semakin yakin jika Ayunda memang tidak punya perasaan apapun pada sahabatnya itu.
“Gue balik.”
“Hmmm.”
Kini elang sendirian duduk di sofa sambil berpikir.
“Mereka berdua terlihat tidak peduli. Bagaiman bisa mereka mau berjalan mencoba suatu hubungan.”
“Kalau sampai mereka menjalin hubungan dan kenapa-kenapa, gue juga yang bingung. Dia adek, satunya lagi sahabat.”
Elang berbicara sendir sambil ditemani kopi hangat dan biskuit.