Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Retakan yang Tidak Bisa Ditutup
Marcus bangun sebelum alarmnya berbunyi. Langit masih pucat, cahaya pagi menyusup tipis lewat celah tirai. Biasanya jam segini pikirannya sudah rapi, agenda, strategi, angka. Tapi pagi ini terasa berbeda. Ada kegelisahan yang tidak punya bentuk jelas, seperti bayangan yang terus bergerak di sudut pandang.
Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah pelan. Bukan takut. Bukan juga panik. Tapi lebih seperti kehilangan pijakan. Dan ia membenci perasaan seperti itu.
Langkah kaki ringan terdengar dari lorong. Marcus menoleh saat Elena muncul di ambang pintu. Rambutnya terikat sederhana, pakaiannya rapi. Tongkat putih berada di tangannya lebih seperti simbol daripada kebutuhan.
“Aku buatkan kau kopi,” katanya lembut.
Marcus hanya mengangguk.
Ia memperhatikan Elena berjalan ke arah dapur. Tidak ada keraguan. Tidak ada sentuhan yang mencari arah. Tangannya menemukan benda-benda dengan presisi yang terlalu alami.
Marcus mengencangkan rahangnya. Kebiasaan, katanya dalam hati. Tapi instingnya tidak setuju.
Aroma kopi mengisi ruangan. Elena menuangkan cairan panas tanpa menumpahkan setetes air pun. Marcus berdiri di dekat meja, matanya mengikuti setiap gerakan.
“Kau terlihat sangat tegang,” kata Elena tanpa menoleh.
Marcus berhenti sepersekian detik. “Pekerjaan,” jawabnya singkat.
Elena mengangguk kecil. “Masalah yang datang pelan biasanya lebih berbahaya daripada yang datang berisik.”
Kalimat itu jatuh ringan namun mengendap berat di dada Marcus.
Ia tidak suka cara Elena mengatakannya. Tenang. Seolah berbicara tentang hal yang sudah ia pahami sepenuhnya.
Marcus mengambil cangkir kopi. Tangannya stabil. Berbeda dengan pikirannya.
...****************...
Kantor terasa berubah. Begitu Marcus melangkah masuk, percakapan mereda sedikit terlalu cepat. Orang-orang tetap bekerja, tetap profesional, tapi atmosfernya terasa berbeda. Ada kehati-hatian yang tidak biasa.
Marcus berjalan ke ruangannya tanpa menoleh. Selene sudah menunggu. Posturnya tegak, tapi ada ketegangan di bahunya.
“Kita kehilangan satu mitra lagi,” katanya langsung.
Marcus berhenti. “Alasan?”
“Mereka menunda kerja sama dengan kita,” jawab Selene “Katanya butuh evaluasi ulang.”
Marcus tertawa pendek. Tidak ada humor di dalamnya. “Evaluasi apa?”
Selene menggeleng kecil. “Mereka tidak menjelaskan.”
Marcus berjalan ke meja, membuka laporan. Proyek yang biasanya stabil kini penuh dengan catatan penundaan. Tidak ada konflik terbuka. Tidak ada tuduhan.
Hanya jarak.
Seseorang sedang menarik diri. Dan Marcus tidak tahu siapa.
“Telusuri semua komunikasi,” katanya dingin. “Setiap jalur.”
Selene mengangguk terlalu cepat.
Marcus melihatnya. Ketakutan.
Dan ketakutan adalah retakan pertama dari kendali.
...****************...
Di sisi lain kota, Elena duduk di dalam mobil yang terparkir di basement gedung lama. Udara dingin, suara kendaraan bergema jauh. Adrian memegang tablet, matanya menyapu data.
“Dua mitra mundur,” katanya pelan. “Satu lagi menunda.”
Elena tidak terlihat terkejut.
“Marcus pasti mulai merasa terkepung,” lanjut Adrian.
“Bagus,” jawab Elena tenang. “Biarkan dia berpikir dunia berubah tanpa penjelasan.”
Adrian menoleh. “Selene?”
Elena tersenyum tipis. “Dia sudah panik. Orang panik selalu membuat kesalahan. Marcus akan melihatnya dan jarak di antara mereka akan terbuka sendiri.”
Adrian menghela napas pelan. “Kau memecah mereka dari dalam.”
“Mereka membangun sistem rapuh,” kata Elena. “Aku hanya menyentuh titik lemahnya.”
Ia membuka pintu mobil.
“Sekarang kita tunggu,” katanya.
“Tunggu apa?”
Elena turun tanpa menoleh. “Kesalahan berikutnya.”
Kesalahan itu datang lebih cepat dari dugaan.
Sore hari, Selene masuk ke ruang Marcus tanpa mengetuk. Wajahnya pucat. “Ada kebocoran,” katanya.
Marcus mengangkat pandangan perlahan.
“Jelaskan.”
“Dokumen internal sampai ke pihak luar.”
Ruangan terasa mengecil.
“Bagaimana?” suara Marcus datar.
“Aku tidak tahu,” kata Selene. “Akses aman.”
Marcus berdiri. Langkahnya pelan. Terkontrol. Berbahaya. “Kau tidak tahu?” ulangnya.
Selene mundur setengah langkah. “Aku sedang menyelidiki—”
“Itu seharusnya tidak terjadi,” potong Marcus.
Keheningan jatuh.
Untuk pertama kalinya, Marcus melihat sesuatu yang tidak pernah ia toleransi. Ketidakpastian.“Perbaiki,” katanya dingin. “Dan pastikan ini terakhir.”
Selene keluar dengan tangan gemetar.
Marcus berdiri sendirian. Instingnya berteriak. Seseorang tidak hanya menyerang bisnisnya tapi kepercayaannya.
...****************...
Malam membawa sunyi yang berat. Marcus pulang lebih cepat. Rumah terasa terlalu rapi, terlalu diam. Elena duduk di ruang tamu dengan buku terbuka di pangkuannya.
“Kau pulang cepat,” katanya lembut.
“Banyak masalah,” jawab Marcus singkat.
Elena menutup buku perlahan. “Masalah jarang datang sendirian.”
Marcus menatapnya. “Sejak kapan kau jadi filsuf?”
Elena tersenyum kecil. “Sejak aku belajar bahwa kendali itu ilusi.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Marcus akui. “Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan,” katanya datar.
“Mungkin,” jawab Elena.
Tapi nada suaranya mengatakan sebaliknya.
Marcus berjalan pergi. Ia tidak ingin melanjutkan percakapan yang membuatnya merasa dibaca. Di kamar kerja, ia berdiri di depan jendela. Kota berkilau seperti biasa. Namun untuk pertama kalinya
Marcus tidak merasa berada di atas semuanya. Ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan. Dan ia tidak melihat arahnya.
Di ruang tamu, Elena tetap duduk diam. Mendengarkan langkahnya. Menunggu. Karena ia tahu kejatuhan tidak datang sebagai ledakan. Ia datang sebagai retakan kecil yang tidak bisa lagi ditutup. Dan Marcus baru saja mendengarnya.
Marcus tidak tidur malam itu. Lampu kamar kerja tetap menyala, menciptakan bayangan panjang di lantai. Laporan terbuka di layar, tapi matanya tidak benar-benar membaca. Ia mengulang kejadian hari itu berulang kali, mencari pola, mencari titik masuk, sesuatu yang bisa ia kendalikan.
Tidak ada.
Dan itu membuat napasnya terasa berat. Marcus berdiri tiba-tiba. Kursi bergeser pelan. Ia berjalan mondar-mandir, otaknya bekerja cepat. Kebocoran data bukan kecelakaan. Mitra yang mundur bukan kebetulan. Semua terjadi terlalu rapi. Seseorang sedang bermain sabar. Dan Marcus sadar permainan itu dirancang untuk membuatnya meragukan orang di sekitarnya.
Selene.
Nama itu muncul tanpa diundang.
Bukan karena ia yakin Selene bersalah melainkan karena retakan kepercayaan sudah terbentuk. Marcus membenci fakta itu. Selene adalah orang paling loyal dalam sistemnya. Namun loyalitas tanpa kontrol adalah risiko. Marcus berhenti di depan jendela. Pantulan wajahnya terlihat keras.
“Siapa pun kau…” gumamnya pelan, “…kau ingin aku kehilangan pijakan.”
Tangannya mengepal.“Kesalahan besar.”
Di ruang lain, Elena berdiri dalam gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus tirai. Ia mendengar langkah Marcus berhenti. Ia bisa merasakan ketegangan yang menggantung di udara rumah itu. Sudut bibirnya bergerak tipis. Bukan senyum kemenangan melainkan kepastian.
Marcus akhirnya mulai melihat bahwa dunia di sekelilingnya tidak lagi tunduk sepenuhnya pada kendalinya. Dan begitu seseorang seperti Marcus merasakan itu ia akan bertindak. Elena menutup matanya sejenak. Karena langkah berikutnya bukan lagi tentang strategi. Melainkan tentang siapa yang lebih siap menghadapi kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.
Dan permainan itu baru saja memasuki fase paling berbahaya.