NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Ketika Mereka Semakin Goyah dan Tertekan

Pagi datang tanpa cahaya hangat. Langit masih kelabu sisa hujan semalam ketika Marcus berdiri di depan cermin kamar kerjanya. Ia tidak benar-benar melihat bayangannya. Ia melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Pengkhianatan.

Kebohongan.

Manipulasi.

Dan yang paling mengganggunya ia tidak tahu datang dari siapa.

Semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia teringat satu momen kecil kunci mobil yang jatuh ke lantai, suara logam yang keras, dan Elena yang tidak tersentak.

Itu bukan bukti. Tapi cukup untuk merusak sebuah ketenangan.

Marcus mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan singkat:

Audit internal penuh. Tanpa pemberitahuan. Mulai hari ini.

Ia tidak menuliskan nama penerima di ruang terbuka. Ia punya orang-orang yang bergerak tanpa tercatat di struktur resmi perusahaan. Orang-orang yang tidak pernah muncul di dalam laporan. Jika ada kebocoran dari dalam, ia akan menemukannya.

Dan jika itu Selene, Marcus mengencangkan rahangnya. Ia tidak pernah gagal membaca orang sebelumnya.

Selene tiba di kantor lebih pagi dari biasanya. Ia tidak ingin terlihat gugup. Tapi kurang tidur membuat concealer tak cukup menyembunyikan bayangan gelap di bawah matanya.

Ia tahu Marcus sedang mengujinya. Dan yang lebih menakutkan ia tidak tahu sejauh mana Marcus sudah tahu. Ia membuka sistem internal. Semua masih bersih dan jalur akses aman. File yang dipindahkan sudah lama keluar dari server utama dan tak meninggalkan jejak langsung. Namun tetap saja, perasaan diawasi membuat jemarinya dingin.

Pintu ruangannya diketuk.

Marcus masuk tanpa menunggu jawaban.

“Mulai hari ini, semua akses tingkat tiga dan empat perlu persetujuan langsung dariku,” katanya datar.

Selene berdiri. “Itu akan memperlambat operasional.”

“Bagus.” Jawaban itu membuat udara di ruangan terasa menegang.

Marcus berjalan mengitari meja Selene, berhenti tepat di belakang kursinya. “Aku ingin melihat siapa yang keberatan.” Kalimat itu terdengar seperti strategi.

Tapi Selene tahu itu juga sebuah ancaman. “Kau mencurigaiku?” tanyanya pelan, mencoba terdengar netral.

Marcus tidak langsung menjawab. “Aku mencurigai semua orang,” katanya akhirnya.

Sejak bekerja bersamanya, Selene merasa tidak lagi berada di lingkaran dalam.

Ia bukan sekutu.

Ia hanya kemungkinan.

...****************...

Di rumah, Elena duduk di ruang tengah dengan secangkir teh yang sudah dingin. Ia mendengar mobil Marcus pergi lebih cepat dari biasanya. Nada pintu yang ditutup lebih keras. Dan langkah yang lebih cepat. Ia tersenyum tipis seakan tahu tekanan pekerjaan yang kini di rasakan Marcus. Ia berdiri dan berjalan menuju ruang kerja pribadi yang selama ini dibiarkan tak tersentuh oleh Marcus.

Ruangan itu memang miliknya sejak awal, ruang “untuk menyesuaikan diri” setelah kecelakaan.

Marcus tidak pernah benar-benar masuk.

Itu kesalahannya.

Elena menutup pintu dan membuka laci meja. Sebuah laptop tipis tersembunyi di balik lapisan kain. Ia mulai menyalakannya dan layar menyala terang.

Tidak ada kegelapan.

Tidak ada keterbatasan.

Ia membuka file laporan saham kompetitor yang beberapa minggu terakhir bergerak tidak stabil.

Senyumnya melebar sedikit. Marcus terlalu fokus pada kebocoran internal, padahal pergeseran pasar adalah bagian dari permainan yang lebih besar.

Ia tidak sekadar ingin membuat Marcus ragu. Ia ingin membuatnya salah langkah.

Dan Marcus, dalam kondisi penuh kecurigaan, akan membuat keputusan yang terburu-buru. Sekarang sudah mulai terlihat.

Siang hari, rapat darurat diadakan. Beberapa direktur senior duduk tegang. Mereka tidak pernah melihat Marcus sekeras ini.

“Kita hentikan ekspansi cabang timur,” ucap Marcus tanpa pembuka.

Ruangan langsung gaduh.

“Itu proyek tiga tahun, Pak.”

“Risikonya meningkat,” potong Marcus. “Saya tidak mau celah tambahan.”

Keputusan itu impulsif. Biasanya Marcus menghitung dengan presisi dan rapi. Selene mulai memperhatikannya dari ujung meja. Ia tahu proyek itu aman. Audit sebelumnya tidak menunjukkan sebuah ancaman. Tapi Marcus kini bergerak berdasarkan insting yang diliputi keraguan.

Ini bukan sikap Marcus yang tenang. Ini adalah Marcus yang mulai defensif. Dan Marcus yang defensif jauh lebih berbahaya.

Malamnya, rumah terasa lebih sunyi dan tenang. Marcus pulang dengan wajah keras. Sedangkan Elena duduk di meja ruang makan.

“Ada yang berubah di kantor?” tanyanya lembut.

Marcus berhenti. “Kau terdengar sangat ingin tahu.”

“Aku hanya mendengar nada napasmu.”

Marcus menatapnya tajam. “Kau banyak mendengar akhir-akhir ini.” Elena tersenyum tipis. “Karena kau semakin berisik.” Itu bukan jawaban defensif. Tapi sebuah sindiran.

Marcus melangkah mendekat. “Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, katakan langsung.”

“Seperti apa?”

“Kebenaran.”

Keheningan membeku.

Elena berdiri perlahan. Ia melangkah mendekat hingga hanya satu langkah memisahkan mereka.

“Kebenaran apa yang kau cari, Marcus?” suaranya tenang. “Tentang perusahaanmu? Atau tentangku?”

Marcus tidak menjawab.

Karena ia tidak tahu mana yang lebih ia takutkan.

Elena mengangkat wajahnya sedikit, seolah menatap tepat ke matanya. Dan untuk sesaat, Marcus merasa seperti sedang dilihat. Bukan oleh wanita yang buta. Tapi oleh seseorang yang sepenuhnya sadar.

Ia mundur setengah langkah dengan gerakan kecil.

Tapi cukup untuk menunjukkan siapa yang mulai goyah. Elena merasakan pola dan gerakan itu.

Dan ia tahu, retakan itu kini nyata.

...****************...

Malam semakin larut. Di ruang kerjanya, Marcus menerima laporan awal dari tim audit bayangan.

Tidak ada tanda bukti langsung, namun ada satu catatan kecil. Beberapa keputusan finansial internal dalam tiga bulan terakhir selalu selaras dengan pergerakan pasar yang tidak dipublikasikan.

Seseorang memiliki informasi lebih cepat dari yang seharusnya. Marcus memejamkan mata sejenak. Ia mencoba mengurutkan semua potongan. Selene mempunyai akses di sistem. Tapi Elena mempunyai motivasi. Jika Elena tidak pernah benar-benar kehilangan penglihatannya, ia hanya menunggu.

Darah Marcus terasa lebih dingin.

Sesaat ia menyadari kemungkinan paling mengerikan: Ia mungkin tidak sedang memburu pengkhianat. Tapi mungkin sedang bermain dalam skenario yang dirancang oleh orang lain. jika itu benar maka ia bukan lagi pengendali. Tapi ia sendiri adalah targetnya.

Di kamar, Elena berdiri mematung di depan cermin.

Matanya menatap tajam dan tetap tenang. Ia menyentuh pantulan wajahnya sendiri.

“Sedikit lagi,” bisiknya pelan.

Marcus mulai mengambil keputusan emosional. Mulai meragukan para sekutu. Mulai memotong proyek yang sebenarnya menguntungkan. Ia mulai semakin jatuh. Dan Selene?

Selene akan menjadi tekanan tambahan. Elena tidak perlu menyerang langsung dengan tangannya. Ia hanya perlu membiarkan Marcus menghancurkan stabilitasnya sendiri.

Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Di dalam rumah itu, dua orang berdiri di sisi yang berbeda dari perang yang belum diumumkan secara terbuka. Marcus merasa ia sedang menyusun strategi. Elena tahu ia sedang mengarahkannya.

Dan di antara mereka kepercayaan yang dulu menjadi fondasi kini berubah menjadi celah yang menganga.

Celah yang tidak bisa lagi ditutup. Karena ketika seseorang mulai meragukan segalanya akhirnya ia akan meragukan dirinya sendiri. Dan itulah awal dari kejatuhan yang sesungguhnya.

1
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Toasted/ "badai? jangan-jangan ini sama kayak yg lagi aku pikirin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hammer/ "udah kebanyakan pikiran, pola makan nggak di jaga, istirahat nggak teratur, ya, jadinya gitu deh"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/NosePick/ "bilang aja, emang sengaja nggak di inget"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "pasti lupa itu, udah kelihatan banget"
cimownim
apa yang marscus sembunyi kan?
putrijawa
dia butuh sebuah pembuktian, bukan janji😌
MARDONI
Elena benar-benar beda… cara dia memotong rapat Marcus dengan tenang tapi langsung membalik situasi itu keren banget. Marcus kelihatan kuat, tapi Elena juga sama tajamnya. Dialog mereka di lorong sampai di apartemen itu terasa seperti dua orang yang sama-sama kuat sedang saling membaca.
SarSari_
gak ada ya selain tanda tangan...tanda tangan terus....gak capek tuh tangan..🫣
Serena Khanza: berkas nya banyak kayaknya kak 🤭
total 1 replies
Indira Mr
Datanya hilang, gak bisa tidur .Marcus..😂
Indira Mr
Marcus mencurigai Elena ???
Serena Khanza: mulai curiga dia kak
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
sabar dulu elena, tunggu momonet yang pas untuk yang paling kejam
Serena Khanza: setuju kak
total 1 replies
Hunk
Marcus udah mulai curiga terhadap sikap elena. Tapi entah apa yang akan di lakukan elena. Aku pikir elena adalah gadis paling pintar. Pasti nggak bakal ketahuan.👍
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
kamu jangan terlalu baik jadi orang sayangku /Cry/
Serena Khanza: kadang terlalu baik gampang di manfaatkan ya kak
total 1 replies
Anisa Febriana272
dia kasihan pura2 Buta biar tahu siapa yang jahat, Ellena hebat banget pas rapat, dia jawab pertanyaan itu tanpa emosi😱
Anisa Febriana272: wkwkwkwk, author GK mau ngaku nih🤣
total 4 replies
Tiara Bella
kita tunggu hasilnya....siapa yg menang
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
cantiknya itu fakta ya, masak masih nggak mau menerima kenyataan, mending kasih aku aja /CoolGuy/
Hunk
Wih, keren banget nih Elena.

Catatannya dihilangin dulu, terus dimunculin lagi—kayak sengaja ngejek Marcus 😆
Panda
🤔🤔🤔

tegang tapi belum show

beberapa frasa diulang

masih terlalu subtil
Serena Khanza: dikit lagi tamat
total 2 replies
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
aku tak rela dia mendekatinya /Angry/
Tiara Bella
Selena ternyata ada udang dibalik bawan ya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!