"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CASSIAN DAN VICTORIA
Hari sudah mulai gelap ketika Pangeran Cassian menunggu di taman kerajaan dengan gelisah yang sangat tidak biasa untuknya. Ia berdiri di dekat air mancur besar yang dulu menjadi tempat favorit mereka bertemu, tiga tahun yang lalu, sebelum Victoria pergi meninggalkan kerajaan untuk mengejar mimpinya.
Tangannya berkali-kali mengacak rambutnya sendiri tanpa sadar, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. Cassian yang biasanya penuh percaya diri dan santai, sekarang terlihat seperti pemuda yang akan mengungkapkan perasaannya untuk pertama kalinya dalam hidup.
Langkah kaki terdengar dari kejauhan, pelan tapi pasti. Cassian menoleh dengan cepat dan melihat Victoria berjalan mendekat dengan gaun biru tua yang sederhana namun sangat elegan. Rambut hitamnya tergerai dengan alami, tidak terlalu diatur dengan rumit. Seperti biasa, Victoria tidak pernah suka hal-hal yang terlalu berlebihan.
"Cassian," sapa Victoria begitu sampai di dekat air mancur, suaranya terdengar tenang tapi ada getaran kecil di sana.
"Victoria." Cassian menelan ludah dengan susah payah. "Terima kasih sudah mau datang. Aku tahu ini mendadak."
Mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak beberapa meter yang terasa seperti jurang yang sangat dalam. Keheningan yang canggung menggantung berat di antara mereka, diisi hanya oleh suara air mancur yang terus mengalir.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Victoria akhirnya, memecah keheningan yang mulai terasa menyesakkan.
Cassian mengambil napas sangat dalam, seperti seseorang yang akan menyelam ke laut yang dalam. "Aku ingin bicara tentang kita. Tentang apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun yang lalu."
Victoria menunduk, menatap lantai taman dengan tatapan yang jauh. "Cassian, itu sudah sangat lama sekali. Tidak perlu dibahas lagi sekarang."
"Tapi sangat perlu, Victoria! Setidaknya untukku ini sangat penting!" Cassian melangkah lebih dekat, suaranya naik sedikit. "Kamu pergi begitu saja tanpa benar-benar berpamitan. Hanya meninggalkan surat singkat yang mengatakan kamu harus pergi untuk studi. Hanya itu. Tidak ada penjelasan yang sesungguhnya."
"Karena aku memang benar-benar harus pergi. Kamu tahu aku sudah merencanakan studi itu sejak bertahun-tahun sebelumnya."
"Aku tahu itu dengan sangat jelas! Tapi kenapa kamu tidak mengajakku bicara dengan serius dulu? Kenapa kamu memutuskan sendiri bahwa kita harus berakhir tanpa memberi kesempatan padaku untuk bicara?"
Victoria mengangkat wajahnya, menatap Cassian dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Karena aku sangat takut, Cassian! Aku takut sekali kalau aku duduk bicara denganmu dengan jujur, aku tidak akan punya kekuatan untuk pergi! Dan aku harus pergi saat itu. Impianku untuk belajar, untuk menjadi lebih dari sekadar seorang countess yang hanya duduk cantik di kediaman, itu sangat penting bagiku. Yang menentukan hidup ku, Cassian."
"Dan aku tidak pernah sekalipun bilang kamu harus menjadi countess yang hanya duduk cantik di kediaman! Aku selalu mendukung setiap impianmu dari awal!"
"Aku tahu itu! Tapi kamu tidak mengerti keadaanku, Cassian!" Victoria mulai meninggikan suaranya, emosinya yang sudah ditahan terlalu lama mulai tumpah. "Kamu seorang pangeran! Kamu punya tanggung jawab yang sangat besar untuk kerajaan ini! Cepat atau lambat, kamu pasti akan diminta menikah dengan putri dari kerajaan lain untuk kepentingan aliansi politik! Aku tidak mau menjadi penghalang untuk tanggung jawab sebesar itu!"
"Kamu bukan penghalang! Kamu sama sekali bukan penghalang!" Cassian hampir berteriak. "Kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupku!"
"Tapi itu tidak cukup di dunia kita ini, Cassian! Cinta saja tidak akan pernah cukup saat kamu punya tanggung jawab dan beban sebesar itu di pundakmu!"
Keheningan turun kembali di antara mereka.
Keduanya berdiri dengan dada naik turun, napas terengah-engah, semua emosi yang sudah mereka simpan selama tiga tahun akhirnya keluar semua.
Cassian melangkah lebih dekat lagi, kali ini tepat berdiri di depan Victoria sampai jarak mereka hanya sejengkal. Tangannya terangkat perlahan, ingin menyentuh wajah Victoria, tapi berhenti melayang di udara seolah takut akan ditolak.
"Tiga tahun, Victoria. Tiga tahun penuh aku mencoba untuk melanjutkan hidup tanpamu. Aku kencan dengan berbagai wanita. Putri, duchess, countess dari berbagai kerajaan. Tapi tidak ada satu pun yang bisa membuatku merasakan apa yang aku rasakan saat bersamamu. Tidak ada yang bisa mengisi tempat yang kamu tinggalkan."
Air mata Victoria mulai jatuh mengalir di pipinya. "Cassian, tolong jangan lanjutkan..."
"Aku masih mencintaimu, Victoria. Bahkan setelah tiga tahun berlalu. Bahkan setelah kamu pergi tanpa penjelasan yang benar. Bahkan setelah aku mencoba sekuat tenaga untuk melupakanmu. Aku tetap mencintaimu."
Victoria menggelengkan kepalanya dengan keras sambil terus menangis. "Kita tidak bisa bersama, Cassian. Kita berasal dari dunia yang terlalu berbeda..."
"Omong kosong!" Cassian akhirnya menyentuh wajah Victoria dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu untuk menatapnya langsung. "Kita dari dunia yang persis sama. Dunia di mana kita saling mencintai dengan sangat dalam. Dunia di mana kita bisa bersama kalau kita mau berusaha keras untuk itu."
"Tapi ayahmu, Raja, dia tidak akan pernah menyetujui hubungan kita..."
"Ayahku yang dulu memang tidak akan menyetujui. Tapi ayahku sekarang sedang sangat sakit, Victoria. Dokter-dokter terbaik kerajaan sudah menyerah. Dan kakakku, Pangeran Alexander, dia adalah seorang penguasa tangan besi yang hanya memikirkan kekuasaan dan kekayaan. Cepat atau lambat, akan terjadi konflik perebutan tahta. Dan aku mungkin harus bertarung untuk tahta itu demi menyelamatkan kerajaan dari tangannya."
Victoria tersentak, matanya membelalak. "Apa yang kamu katakan? Kamu akan merebut tahta?"
"Aku tidak menginginkannya sama sekali. Tapi aku harus melakukannya. Demi kebaikan rakyat yang tidak bersalah. Dan kalau memang aku yang akhirnya menjadi Raja..." Cassian tersenyum tipis, senyum yang penuh harap. "Aku bisa memilih dengan bebas siapa yang akan menjadi Ratuku."
Mata Victoria semakin membelalak lebar. "Cassian, apa maksudmu..."
"Nikahilah aku, Victoria. Tidak harus sekarang juga. Tapi suatu hari nanti, saat semua konflik sudah berakhir, saat aku sudah membuktikan bahwa aku layak menjadi Raja yang baik, nikahilah aku."
"Kamu benar-benar serius dengan ini?"
"Lebih serius dari apa pun dalam hidupku. Aku tidak akan memaksamu untuk memberikan jawaban sekarang juga. Tapi aku ingin kamu tahu dengan sangat jelas, perasaanku tidak berubah sedikitpun. Dan aku akan bertarung untuk kita. Untuk masa depan yang kita impikan bersama."
Victoria menatap Cassian dengan mata yang penuh air mata. Perlahan, tangannya terangkat dan menyentuh tangan Cassian yang masih memegang wajahnya dengan lembut.
"Aku juga masih mencintaimu, Cassian. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu meskipun aku sudah berusaha sangat keras untuk itu."
Cassian tersenyum, senyum tulus yang sangat berbeda dari senyum santai yang biasa ia tunjukkan pada orang lain.
"Itu sudah lebih dari cukup untukku. Untuk saat ini."
Mereka berdiri di sana, di bawah cahaya bulan yang menerangi taman dengan lembut, dengan tangan saling menyentuh dan hati yang akhirnya jujur satu sama lain setelah tiga tahun penuh penyesalan.
Tidak ada ciuman dramatis seperti yang sering digambarkan di novel-novel romantis. Hanya perasaan yang sangat tulus antara dua jiwa yang saling mencintai dengan dalam.
Dan itu sudah jauh lebih bermakna dari apa pun.
*****
BERSAMBUNG