NovelToon NovelToon
Takdirku Yang Tak Terduga

Takdirku Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: Veela_

Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 9

Point of view Carmila

Ayah sudah pergi untuk bekerja. Waktu menujukan pukul 6. Ayah sengaja berangkat lebih awal karena ayah bilang ada klien yang mengajukan komplain kemarin dan akan pulang terlambat hari ini. Aku menatap diriku di cermin. Rasanya aku enggan melangkah pergi ke sekolah yang kotor itu. Kemarin aku benar-benar di tipu. Setelah aku menanyakan perihal jam sibuk kereta kepada ayah, ternyata itu hanya akal-akalan Mark. Justru alasan aku terlambat kemarin itu karena mengikuti dia.

Dipersimpangan jalan, aku melihatnya berdiri bersama orang yang selalu bersamanya. Rasa kesal yang sempat menghilang sebelumnya kembali muncul saat melihat dirinya. Aku tidak menyangka, atas apa yang telah aku katakan kemarin dia masih tetap menungguku seperti seekor anjing yang menunggu majikannya. Aku benar-benar harus menghindari akar permasalahan utamanya bukan? Yaitu dia.

Aku sadar di ikuti olehnya bahkan sampai di dalam kereta. Aku hanya perlu mengabaikannya. Aku merasa lelah bahkan hanya karena melihatnya saja. Ini pertama kalinya aku menaiki kereta. Bukan karena negara S tidak ada, hanya saja aku tidak memiliki alasan untuk menaikinya di sana. Dan ayah benar-benar selalu menghimbauku untuk tidak pergi jauh ke daerah yang tidak terjangkau olehnya. Kupikir, "Memangnya aku mau kemana?"

......................

Hari ini tidak terjadi apapun di sekolah. Mark juga tidak berusaha untuk mendekatiku atau apapun. Bahkan perempuan di kelas cukup tenang hari ini. Gadis berkacamata itu pun masih sering mengintaiku dari kejauhan. Dia pikir aku tidak tahu ya? Padahal gerak-geriknya itu sungguh menjadi pusat perhatian di sekolah sepanjang hari. Aku memang belum menghubunginya semenjak kejadian itu. Aku butuh waktu untuk menata kembali perasaanku yang kacau ini. Tanpa kusadari, siang kini telah berganti malam. Aku melihat jam dinding yang tertempel ditembok dapur. Pukul 7 malam. Suara pintu terbuka terdengar. Aku mematikan kompor.

"Ayah pulang."

"Ayah? Ayah bilang akan pulang terlambat hari ini?"

"Pekerjaan selesai lebih cepat. Jadi ayah ingin segera pulang."

"Bisa kah hari ini kita pergi keluar ayah?" 

"Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli?"

"Kurasa aku membutuhkan sepeda. Rasanya lelah juga jika harus kemana-mana dengan berjalan kaki. Sesekali aku juga ingin mengendarai sepeda ke sekolah."

"Hm... Sebenernya... Ikut ayah sebentar."

Ayah menarikku keluar.

"Tada!"

Ayah menunjukan sebuah sepeda yang telah di parkir di halaman kecil rumah kami.

"Sepeda?! Kapan ayah membelinya?"

"Itu tidak penting. Yang terpenting keinginanmu sudah ada di depan matamu!"

Aku benar-benar bahagia. Rasa lelah yang sudah kurasakan selama dua hari terakhir ini lenyap seketika ketika melihat ayah yang selalu membuatku bahagia setiap harinya. Rasanya aku tidak tega untuk berkeluh kesah padanya tentang diriku di sekolah. Namun, ditengah kebahagiaanku ini aku merasakan sesuatu yang janggal. Seperti ada sepasang mata yang tengah mengawasi kami. Aku sudah merasakannya dihari pertama kami datang kerumah ini. Tapi aku tidak merasakan tanda kehidupan sama sekali selain kami berdua. Sebuah bayangan hitam terlihat terbang ke kamarku.

"Kalau begitu, mari kita makan. Aku sudah membuat kari daging untuk makan malam kita."

"Benarkah? Itu makanan kesukaan ayah. Ayah akan tambah nasi hari ini!"

Ayah sudah beristirahat di dalam kamarnya. Perasaan di awasi itu muncul kembali. Namun perasaan ini sedikit familiar bagiku. Sebenernya ada satu rahasia yang aku sembunyikan dari semua orang. Termasuk ayah.

"Nenek? Sampai kapan kau akan mengawasiku?"

Aku bisa merasakan dan melihat sosok yang tidak bisa di lihat oleh mata orang biasa. Kemampuan ini sudah ku miliki sedari kecil. Sebagian orang bilang kemampuan ini adalah pembawa petaka. Namun tak sedikit juga ada orang bilang bahwa orang yang memiliki kemampuan ini adalah pilihan para dewa. Aku memutuskan menyembunyikan kemampuan ini karena aku memiliki alasan. Dan itu terjadi saat aku berusia 8 tahun.

......................

Saat itu di negara S. Aku belum mengerti akan apa yang aku lihat. Karena kemampuan ini muncul secara tiba-tiba. Waktu itu aku hendak pulang kerumah setelah bermain. Aku hendak melewati jalan pintas seperti biasa karena aku terlambat pulang saat itu. Aku takut ayah akan memarahiku. Jalan pintas itu sangat sepi dan tidak banyak orang yang mengetahui tempat itu. Aku pun kebetulan menemukannya saat tersesat ketika hendak pulang kerumah sebelumnya. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang anak yang usianya terlihat lebih tua dariku karena badannya yang sedikit lebih besar dari aku. Dia sedang mencari-cari sesuatu di semak-semak dekat rel kereta yang sudah lama tidak terpakai.

"Hai!"

Sapaku. Namun anak itu hanya diam dan terus sibuk mencari sesuatu yang entah apa itu. Mungkin dia tidak mendengar aku? Pikirku saat itu.

"Hei kau yang sedang mencari-cari!"

Aku meninggikan suaraku. Seketika dia berhenti mencari. Lalu terdiam. Perlahan dia menoleh. Setengah wajahnya terlihat. Begitu pucat. Aku pikir dia sedang sakit saat itu.

"Kau bisa melihatku?"

Seketika aura tempat itu berubah menjadi dingin.

"Tentu saja! Semua orang pasti dapat melihatmu. Kecuali dia buta. Hehe."

Saat anak itu menoleh kearahku dengan memperlihatkan seluruh wajahnya, alangkah terkejutnya aku saat melihat separuh wajahnya yang lain dalam kondisi hancur dengan setengah badannya yang berlumuran darah. Bau busuk yang sebelumnya tidak ada muncul tiba-tiba menusuk hidungku. Aku menutup hidungku. Karena terkejut aku bahkan tidak sanggup menangis. Aku terjatuh. Aku berusaha lari, namun karena rasa terkejut ini aku begitu kesulitan untuk kabur. Bahkan jeritanku pun seperti tertahan di tenggorokan.

"Kau bisa melihatku? Kau bisa melihatku? Kau bisa melihatku?"

Dengan terus mengulangi kata-kata yang sama dia mendekati aku yang sedang berusaha menjauhinya.

"Jangan dekati aku!!!"

Teriakku ketakutan.

Seketika dia berhenti mendekatiku. Wajahnya nampak sangat sedih. Aku merasa bersalah karena telah berteriak. Tapi aku takut melihat wujudnya itu. Kemudian sosok itu melanjutkan pencariannya yang sempat terhenti. Karena rasa penasaranku, aku mencoba untuk memberanikan diriku untuk bertanya sekali lagi. Rasa bersalah ini mengalahkan ketakutanku.

"A-apa yang  sebenarnya kau cari?" 

"Aku mencari bukti."

"Bukti apa?"

"Pembunuhan."

"Kau mati dibunuh?"

"Ya."

"Siapa pembunuhnya?"

"Ayahku."

Aku terkejut lagi. Aku terdiam. Rasa sedih langsung menyelimutiku. Bagaimana bisa? Ayahnya...

"Aku dicabuli olehnya."

"Ayah kandungmu?"

"Bukan. Ayah tiriku."

"Jika kau menemukannya kau pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kau sudah mati."

"Tapi setidaknya aku bisa mencari orang sepertimu yang dapat membantuku kan?"

Aku terdiam lagi.

"Aku ingin menyelamatkan adik-adikku. Ibuku sudah meninggal. Aku tidak tenang jika adik-adikku diasuh oleh seorang pedofil seperti dia."

Aku berpikir. Saat melihat sosok itu mengorek-ngorek sesuatu yang bahkan sebenernya tidak bisa ia sentuh rasa perih di dada tiba-tiba muncul. Sosok ayahku muncul di benakku. Mengapa hanya aku yang memiliki ayah yang baik?

"Aku akan membantumu"

Ucapku yakin walau sebenarnya saat itu bahkan aku tidak tahu apakah aku bisa diumurku yang sekecil itu.

"Benarkah?"

Harapan terlihat di matanya.

"Apa yang kamu cari?"

"Sebuah kartu memori. Didalamnya terdapat bukti video pencabulan dan juga rekaman percakapanku dengan ayah tiriku."

"Kau menjatuhkannya?"

"Iya. Aku menyimpannya kedalam sebuah kotak kecil. Aku pikir itu terjatuh disini. Sepertinya tidak akan rusak kan?"

"Bagaimana kau mati?"

"Dengan batu. Wajahku dipukul dengan batu. Lalu jasadku dikuburkan di situ."

Dia menunjuk tempat yang tak jauh dari tempat ka berdiri.

"Dari pakaianmu yang elegant, kau nampaknya orang kaya raya ya?"

"Iya, ibuku seorang janda kaya. Hartanya kini dikuasai oleh ayah tiriku. Ibuku tidak memiliki siapapun. Oleh karena itu, adikku diasuh oleh ayah tiriku. Aku ingin menyelamatkan adikku. Aku takut. Adikku tidak bisa melanjutkan hidupnya karena ayah yang biadab itu. Sebelum terlambat, aku ingin menyelamatkannya."

"Bagaimana kau bisa memdapatkan bukti itu?"

"Diam-diam aku merekamnya dengan kamera yang kusembunyikan."

Sepertinya semasa hidup dia gadis yang pintar. Namun karena lemah, dia dibunuh. Sebisa mungkin aku membantunya. Dengan susah payah aku mencari-cari kotak itu sampai bajuku kotor berlumuran tanah. Tubuh rusak itu kini tidak membuatku takut. Yang benar-benar membuatku takut justru manusia bejat yang disebutnya sebagai ayah.

"Ketemu!!!"

Aku mengangkat kotak yang sudah ku temukan dengan susah payah. Sosok itu sangat senang. Samar-samar aku melihat dirinya menitikan air mata.

"Aku akan langsung kekantor polisi."

Ia mengangguk senang. Aku berlari menuju kantor polisi dengan kekuatan yang tersisa. Sepanjang jalan ramai karena melihatku yang berlari kencang mengangkat kotak dengan baju kotor. Mungkin mereka pikir saat itu aku adalah anak kecil yang gila. Dengan napas yang terengah-engah aku berteriak saat sampai di kantor itu.

"Pak polisi!! Pak polisi!!!"

Seorang polisi wanita menghampiriku dengan khawatir lalu berjongkok dihadapanku.

"Adik kecil. Ada apa? Kenapa kau berlarian? Kenapa tidak pulang? Apa kau tersesat? Kenapa bajumu kotor?"

Dengan segera aku memberikan kotak yang ku bawa itu padanya.

"Apa ini?"

"Aku mohon... Selamatkan temanku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!