Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Yang Mulai Terasa
Beberapa hari setelah itu, Senja mulai menyadari sesuatu yang kecil tapi mengganggu:
ia mulai merasakan hal-hal yang dulu terasa mati.
Bukan perasaan besar.
Bukan bahagia yang meledak.
Bukan sedih yang menenggelamkan.
Tapi hal-hal kecil.
Seperti rasa hangat saat minum teh di pagi hari.
Seperti lelah di kaki setelah jalan jauh.
Seperti sedikit tenang saat hujan turun pelan.
Dulu, semua itu terasa datar.
Sekarang, ia mulai sadar bahwa tubuhnya masih bisa merespons dunia.
Dan itu membuatnya bingung sekaligus takut.
Karena merasa berarti juga berisiko.
Pagi itu, Senja duduk di bus menuju kampus.
Ia berdiri, berpegangan pada besi atas.
Tubuhnya terhimpit orang lain.
Biasanya, ia akan merasa terasing.
Merasa seperti tidak benar-benar ada di situ.
Hari ini, ia justru sadar:
ia bisa mencium bau sabun dari orang di depannya.
Bisa mendengar suara obrolan di belakangnya.
Bisa merasakan panas dari jendela yang terkena matahari.
Ia ada di sana.
Di tubuhnya.
Di ruang itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa menghilang.
Di kelas, dosen meminta mereka berdiskusi kelompok.
Hal yang biasanya membuat Senja pasif.
Ia duduk, mendengarkan.
Lalu, tanpa terlalu berpikir, ia bicara.
“Sebenarnya menurutku… kita bisa lihat dari sisi ini juga.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tidak bergetar.
Tidak ragu.
Beberapa temannya menoleh.
Mengangguk. Menanggapi.
Nara menatapnya dari seberang meja dengan ekspresi kaget kecil.
“Kamu barusan ngomong tanpa mikir dua menit dulu,” bisik Nara.
Senja tertawa pelan.
“Iya ya… aku baru sadar.”
Itu bukan prestasi besar.
Tapi bagi Senja, itu terasa seperti tanda kecil:
ia tidak lagi sepenuhnya bersembunyi di kepalanya.
Siangnya, Kay mengajaknya makan.
“Kamu keliatan lebih hidup hari ini,” kata Kay sambil menyeruput minumannya.
“Lebih hidup itu kedengarannya serem,” jawab Senja.
Kenapa?”
“Karena kalau aku hidup, berarti aku juga bisa sakit lagi.”
Kay terdiam sejenak.
“Itu risiko hidup.”
Senja menatap piringnya.
“Aku takut balik ke fase tenggelam.”
Kay mengangguk.
“Takut itu wajar. Tapi sekarang bedanya, kamu sadar saat kamu mulai tenggelam.”
Senja berpikir.
Dulu, ia tenggelam tanpa sadar.
Sekarang, ia bisa merasakan ketika dadanya mulai berat.
Ketika pikirannya mulai kabur.
Ketika ia mulai ingin menghindar.
Dan mungkin itu perbedaan paling penting.
Sore itu, Senja pulang sambil berjalan kaki.
Langkahnya pelan.
Ia tidak memakai earphone.
Ia mendengar suara motor.
Suara anak kecil tertawa.
Suara daun kering terinjak.
Ia berhenti sebentar di depan minimarket.
Melihat refleksinya di kaca.
Wajahnya masih sama.
Tidak lebih cerah.
Tidak lebih segar.
Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya.
Ia tidak lagi terlihat seperti orang yang ingin menghilang.
Lebih seperti orang yang masih bingung,
tapi mau tetap ada.
Dan itu membuatnya merasa aneh.
Seolah ia sedang berkenalan ulang dengan dirinya sendiri.
Di rumah, ibunya memanggil dari dapur.
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?”
Senja terkejut.
Ia baru sadar bibirnya terangkat sedikit.
“Nggak tau,” jawabnya jujur.
“Mungkin aku lagi ngerasa.”
Ibunya tertawa kecil.
“Baru sadar?”
Senja ikut tertawa.
“Iya. Baru sadar.”
Mereka makan malam tanpa banyak bicara.
Tapi suasananya terasa berbeda.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada kepura-puraan.
Hanya dua orang yang sama-sama lelah,
duduk di meja yang sama.
Malamnya, Senja menulis lagi di catatannya:
“Aku mulai merasakan hal-hal kecil.
Dan itu menakutkan, karena berarti aku hidup lagi.
Tapi mungkin, merasa takut karena hidup
lebih baik daripada tidak merasa apa-apa sama sekali.”
Ia menutup ponsel.
Merebahkan badan.
Selama ini, ia pikir mati rasa itu aman.
Tidak sakit. Tidak kecewa. Tidak berharap.
Tapi sekarang ia sadar:
mati rasa juga berarti tidak benar-benar ada.
Dan mungkin, meskipun hidup itu berisiko,
meskipun bisa tenggelam lagi,
meskipun bisa kecewa lagi,
ia lebih memilih merasa.
Daripada kembali ke versi dirinya
yang tidak merasakan apa pun.
Untuk pertama kalinya,
Senja tidak lagi sekadar bertahan.
Ia mulai menyentuh hidupnya sendiri.
Pelan.
Takut.
Tapi nyata.