NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Bertemu Wartawan Cewek

Hujan belum sepenuhnya reda ketika Bima melangkah keluar dari rumah. Langit Kota Sagara masih diselimuti awan tebal, menyisakan aroma tanah basah yang bercampur bau aspal. Buku catatan kecil pemberian Rahmat tersimpan rapi di dalam tas selempangnya. Isinya terlalu berharga untuk hilang, terlalu berbahaya untuk jatuh ke tangan yang salah.

Pak Damar menyarankan satu nama—seorang wartawan muda yang dikenal idealis dan berani: Kirana.

Ia bekerja di sebuah media independen yang kerap mengangkat kasus-kasus sensitif. Tulisan-tulisannya tajam, tak jarang membuat pejabat panas dingin. Namun justru karena itulah, ia dipercaya banyak korban ketidakadilan.

Kafe kecil di sudut taman kota menjadi tempat pertemuan mereka. Tempat itu sepi, hanya dihuni beberapa pengunjung yang sibuk dengan laptop dan buku. Bima memilih duduk di meja paling pojok, membelakangi jendela, memastikan tak mudah terlihat dari luar.

Tak lama kemudian, seorang perempuan berjaket abu-abu masuk. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya polos tanpa riasan mencolok. Matanya tajam, bergerak cepat mengamati ruangan sebelum akhirnya tertuju pada Bima.

“Kamu Bima?” tanyanya singkat.

“Iya. Mbak Kirana?”

Ia mengangguk, lalu duduk tanpa banyak basa-basi. “Pak Damar bilang kau punya bahan besar.”

Bima membuka tas, mengeluarkan buku catatan dan flashdisk. “Ini semua yang kami punya sejauh ini.”

Kirana memeriksa isinya dengan cepat. Alisnya berkerut, matanya membesar sesaat. “Ini bukan sekadar fitnah biasa. Ini konspirasi terstruktur.”

“Karena itu kami butuh bantuan,” kata Bima lirih. “Kami tak punya kekuatan melawan sendirian.”

Kirana bersandar, menatap Bima dalam-dalam. “Kau sadar, kalau berita ini naik, hidupmu bisa makin berbahaya?”

Bima mengangguk. “Kami sudah tak punya apa-apa untuk ditakuti.”

Ada jeda hening di antara mereka. Lalu Kirana tersenyum tipis. “Baik. Kita mulai.”

Mereka menghabiskan berjam-jam menyusun kronologi. Bima menceritakan segalanya—dari kejayaan toko, bisikan iri, fitnah pertama, hingga ancaman demi ancaman. Kirana mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali mencatat dan mengajukan pertanyaan tajam.

“Siapa saja yang sudah kau hubungi?” tanya Kirana.

“Pak Damar, beberapa pemasok, mantan karyawan, dan Rahmat.”

“Rahmat yang hilang itu?”

“Iya.”

Kirana menghela napas. “Dia saksi kunci. Kita harus menemukannya.”

Sejak hari itu, mereka mulai bekerja bersama. Kirana menghubungi jaringan informannya, menelusuri aliran dana, dan menggali latar belakang toko saingan yang menjadi sumber fitnah. Setiap malam, Bima mengirimkan laporan perkembangan, dan setiap pagi, Kirana membalas dengan informasi baru.

Di tengah kesibukan itu, hubungan mereka perlahan berubah. Bima melihat sisi lain dari Kirana—bukan hanya wartawan berani, tapi juga perempuan yang hangat, peduli, dan penuh empati. Ia selalu menanyakan kabar keluarga Bima, terutama kesehatan ayahnya.

Suatu sore, mereka bertemu lagi di taman kota. Kirana menyerahkan selembar dokumen.

“Aku menemukan hubungan langsung antara toko saingan dan staf khusus wakil walikota. Ada transfer rutin tiap bulan.”

Bima menatap angka-angka itu dengan dada berdebar. “Ini cukup untuk memulai penyelidikan besar.”

“Cukup untuk mengguncang kota,” sahut Kirana.

Namun langkah mereka tak luput dari pengawasan.

Dalam perjalanan pulang, Kirana menyadari sebuah mobil gelap mengikuti sejak beberapa ruas jalan. Ia mempercepat langkah, masuk ke pusat perbelanjaan, berbaur dengan keramaian. Mobil itu berhenti di kejauhan, menunggu.

Ia segera mengirim pesan ke Bima: Kita diawasi. Hati-hati.

Ancaman itu semakin nyata ketika sebuah artikel anonim muncul di media sosial, menyerang Kirana secara personal, mempertanyakan integritas dan masa lalunya. Serangan itu jelas bertujuan membungkam.

“Ini cara lama,” kata Kirana getir. “Menjatuhkan reputasi agar suara kita tak dipercaya.”

Bima mengepalkan tangan. “Mereka tak akan berhasil.”

Di tengah tekanan itu, Kirana tetap melangkah. Ia menyusun laporan investigasi panjang, menggabungkan data finansial, kesaksian, dan rekaman suara. Setiap paragraf ditulis dengan kehati-hatian, karena satu kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya.

Suatu malam, di ruang redaksi yang hampir kosong, Kirana menatap layar komputernya lama. Bima duduk di seberang, menunggu dengan gelisah.

“Jika ini terbit,” kata Kirana pelan, “tak ada jalan kembali.”

“Tak apa,” jawab Bima mantap. “Kami sudah siap.”

Kirana tersenyum samar. “Kau tahu? Tak banyak orang seusiamu yang berani sejauh ini.”

Bima terdiam. “Aku hanya ingin toko ayahku kembali. Dan kebenaran ditegakkan.”

Di luar, hujan kembali turun, membasuh kota yang penuh luka. Di balik kaca jendela, dua sosok itu bekerja dalam diam, merajut harapan dari serpihan kebenaran.

Mereka tahu, artikel itu akan menjadi pemantik badai.

Dan sejak pertemuan itu, takdir Bima dan Kirana terikat dalam satu perjuangan—perjuangan melawan kebohongan, kekuasaan, dan ketakutan, demi satu hal yang paling berharga yaitu keadilan.

Hari-hari berikutnya menjadi rangkaian waktu yang nyaris tak mengenal jeda. Kirana bekerja siang dan malam, mengumpulkan potongan-potongan fakta yang tercecer, menyatukannya dalam sebuah laporan investigasi yang akan menjadi bom waktu bagi para pelaku. Bima menemaninya, membantu memverifikasi data, menyusuri saksi, dan memastikan setiap detail yang tertulis dapat dipertanggungjawabkan.

Ruang redaksi kecil tempat Kirana bekerja menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Dindingnya dipenuhi tempelan kertas, peta, dan foto-foto yang terhubung oleh benang merah. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang penuh laptop, buku catatan, dan cangkir kopi kosong.

“Kita harus ekstra teliti,” kata Kirana suatu malam, jemarinya mengetik cepat. “Satu kesalahan saja, mereka bisa memutarbalikkan segalanya.”

Bima mengangguk. “Aku tak ingin perjuangan keluarga kami berakhir sia-sia.”

Di sela-sela kesibukan, kelelahan sering kali datang tanpa ampun. Mata Kirana memerah karena kurang tidur, sementara Bima kerap pulang larut dengan tubuh lelah dan pikiran kusut. Namun setiap kali semangat mereka meredup, ingatan akan toko kosong, wajah pucat ayah, dan air mata ibu kembali menyalakan bara tekad di dada.

Ancaman semakin intens.

Ponsel Kirana menerima pesan bernada intimidasi hampir setiap hari. Ada yang memaki, ada yang mengancam, bahkan ada yang menjanjikan imbalan besar agar ia menghentikan penyelidikan. Kirana menyimpan semua pesan itu, menjadikannya bukti bahwa mereka sedang menyentuh sarang kekuasaan.

Suatu sore, saat mereka bertemu di sebuah perpustakaan umum untuk menghindari pengawasan, Kirana datang dengan wajah tegang.

“Ada yang membuntuti aku sejak pagi,” bisiknya.

Bima refleks menoleh ke sekeliling. Di antara rak-rak buku, beberapa orang duduk membaca, tampak biasa. Namun firasat buruk berdenyut di kepalanya.

“Kita harus lebih hati-hati,” katanya.

Mereka segera berpindah tempat, memutar rute, dan menggunakan transportasi umum berbeda setiap kali bertemu. Kehidupan Bima berubah menjadi labirin kewaspadaan.

Di tengah situasi mencekam itu, kedekatan mereka tumbuh perlahan, tanpa disadari. Dalam keheningan malam, saat hanya suara ketikan dan detak jam yang terdengar, Bima dan Kirana sering terjebak dalam percakapan ringan—tentang mimpi, masa kecil, dan alasan mereka memilih jalan hidup masing-masing.

“Aku jadi wartawan karena ayahku,” ujar Kirana suatu ketika. “Ia difitnah hingga kehilangan pekerjaannya. Aku ingin tak ada lagi orang yang diperlakukan seperti itu.”

Bima terdiam. Ia melihat pantulan luka yang sama di mata Kirana. Sejak saat itu, perjuangan mereka tak lagi sekadar urusan profesional—ia berubah menjadi ikatan empati.

Namun bahaya mengintai lebih dekat dari yang mereka kira.

Suatu malam, ketika Kirana pulang ke apartemen kecilnya, ia mendapati pintunya terbuka. Jantungnya berdegup keras. Ia melangkah masuk perlahan, napas tertahan.

Laci-laci terbuka, lemari diacak-acak. Tak ada barang berharga yang hilang, kecuali satu: hard disk eksternal tempat ia menyimpan cadangan data.

Kirana gemetar. Ia segera menghubungi Bima.

“Mereka sudah masuk ke rumahku,” suaranya bergetar. “Data kita diambil.”

Bima terdiam sesaat, lalu berkata tegas, “Tenang. Kita masih punya salinan lain.”

Namun peristiwa itu menjadi peringatan keras. Tak ada lagi ruang aman.

Mereka mempercepat langkah. Kirana mulai menyiapkan draf artikel, sementara Bima membantu memverifikasi kutipan dan bukti. Setiap paragraf ditulis dengan presisi, memuat kronologi runtuhnya toko Wijaya, alur fitnah, hingga keterlibatan pihak-pihak berkuasa.

Di sisi lain, keluarga Bima juga merasakan tekanan. Ibu sering menangis diam-diam, ayah kembali jatuh sakit karena stres, dan Nara beberapa kali menerima teror di kampus.

“Berhenti saja,” pinta ibu suatu malam. “Ibu takut kehilangan kalian.”

Bima memeluknya erat. “Justru karena itu, Bu. Kalau kita berhenti, mereka akan terus menindas.”

Hari yang menentukan semakin dekat.

Kirana mengirim pesan singkat: Artikel siap tayang. Tunggu aba-aba.

Bima membaca pesan itu berulang kali. Dadanya dipenuhi kecemasan dan harap sekaligus. Ia tahu, setelah ini, tak ada lagi ruang mundur.

Malam sebelum penerbitan, mereka bertemu di atap gedung redaksi. Kota Sagara terbentang di bawah, lampu-lampu jalan berkilau seperti bintang jatuh.

“Apa pun yang terjadi besok,” kata Kirana pelan, “terima kasih sudah percaya padaku.”

Bima menatap langit. “Aku yang berterima kasih. Tanpamu, kami tak akan sejauh ini.”

Hening sejenak menyelimuti mereka. Di antara dinginnya angin malam, ada getaran halus yang tak terucap—perasaan yang lahir dari perjuangan bersama.

Namun mereka sadar, cinta dan keberanian sering berjalan di tepi jurang.

Dan saat jarum jam bergerak menuju tengah malam, takdir mereka bersiap melompat ke fase berikutnya yaitu fase di mana kebenaran akan diuji di hadapan seluruh kota, dan nyawa menjadi taruhan paling mahal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!