"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Penerus
Matahari pagi baru saja menyentuh pucuk-pucuk pohon jati ketika Menjangan melangkah menuju bagian belakang kediamannya. Udara di sekitar gudang rempah terasa berat dan hangat, dipenuhi aroma tajam cengkeh yang beradu dengan pedasnya lada hitam.
Pria itu menarik napas dalam, membiarkan wangi kekayaannya meresap ke dalam paru-paru. Biasanya, setiap kali dia kembali dari perjalanan panjang, hal pertama yang dia temukan di gudang ini adalah tumpukan karung yang tidak beraturan atau debu yang menyelimuti meja timbangan.
Namun, pagi ini langkahnya terhenti tepat di ambang pintu kayu besar yang terbuka lebar. Menjangan mengusap matanya, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Gudang itu tampak sangat berbeda. Karung-karung lada dan kayu manis kini tersusun rapi di atas palet bambu yang baru, dikelompokkan berdasarkan jenis dan kualitasnya. Jalur di tengah gudang bersih dari ceceran biji rempah, memberikan ruang bagi siapa saja untuk berjalan tanpa takut terpeleset.
Di atas meja kayu panjang yang biasanya berantakan dengan nota lusuh, kini terdapat susunan batu-batu kecil dan lidi yang tertata dalam pola tertentu.
"Tuan Besar sudah datang," sapa Wira yang muncul dari balik tumpukan cengkeh, diikuti oleh Jaka.
Keduanya segera membungkuk hormat, meskipun punggung mereka masih terasa sedikit kaku.
Menjangan menunjuk ke arah meja dengan tongkat kayunya. "Apa ini? Siapa yang merapikan semua ini sampai sebersih balai pertemuan kerajaan?"
Jaka melangkah maju dengan senyum bangga yang tidak bisa dia sembunyikan. "Ini adalah hasil kerja Nona Merah, Tuan. Selama Tuan Besar tidak berada di sini, Nona Merah sangat rajin. Dia hampir setiap hari menyelinap ke gudang ini untuk mengurusi setiap bagian yang terbengkalai."
"Nona Merah?" Menjangan mengerutkan dahi, seolah nama itu terdengar asing di telinganya. "Putri sulungku yang biasanya hanya peduli pada bedak dan perhiasan?"
"Benar, Tuan," sahut Wira menimpali. "Nona Merah mengajari kami cara mendata stok barang dengan sistem baru. Lihat lidi-lidi ini, Tuan. Satu lidi melambangkan satu karung kualitas utama, dan batu-batu ini melambangkan penyusutan atau kerusakan. Kami tidak perlu lagi membongkar seluruh isi gudang hanya untuk mengetahui sisa barang. Nona menyebutnya sebagai audit internal."
Menjangan mendekati meja itu, menyentuh susunan lidi dengan jemarinya yang kasar. Dia adalah seorang pedagang ulung, dan dia segera memahami logika di balik susunan sederhana yang jenius itu.
Sebuah senyuman perlahan terbit di wajahnya yang lelah. Ada rasa terkejut yang bercampur dengan kebanggaan yang meledak-ledak di dalam dadanya.
"Dia melakukan ini sendirian?" tanya Menjangan pelan.
"Hampir semuanya, Tuan," jawab Jaka. "Bahkan saat hari sudah gelap, dia tetap berada di sini untuk memastikan tidak ada kecurangan pada timbangan lada yang baru masuk. Nona sangat teliti, bahkan lebih teliti dari pengawas pasar yang biasa kita temui."
Pria tua itu mengangguk berkali-kali. Dia menatap ke sekeliling gudang sekali lagi, merasakan aura kedisiplinan yang baru di tempat ini.
Pikirannya melayang pada sosok Merah yang kemarin menyambutnya dengan sorot mata yang begitu hidup dan cerdas. Ternyata, perubahan yang dia lihat bukan hanya sekadar penampilan, melainkan sebuah transformasi jiwa yang nyata.
Malam harinya, ruang makan Kediaman Jati Jajar diterangi oleh belasan lampu minyak yang memberikan cahaya hangat dan temaram. Aroma gulai ikan dan sambal kemangi memenuhi ruangan, tapi suasana di meja makan terasa sedikit lebih tegang dari biasanya.
Citra duduk di sisi kanan suaminya, wajahnya tampak dipaksakan tenang meskipun matanya sesekali melirik ke arah Rosie. Di sisi kiri, Putih duduk terdiam, jemarinya sibuk memainkan pinggiran piring.
Rosie, yang duduk tepat berhadapan dengan Menjangan, tampak santai. Dia baru saja selesai membersihkan wajahnya dari sisa debu gudang, mengenakan pakaian sutra merah yang sederhana tapi tetap terlihat elegan.
"Aku sudah melihat gudang pagi ini," ucap Menjangan membuka percakapan.
Suaranya yang berat memecah kesunyian, membuat Citra segera menegakkan duduknya.
"Ah, benarkah Kakang? Aku sudah menyuruh para pelayan untuk membersihkannya dengan benar sebelum Kakang pulang," sahut Citra dengan senyum manis yang dibuat-buat.
Menjangan menggeleng pelan, lalu menatap Rosie dengan binar mata yang penuh penghargaan. "Jaka dan Wira menceritakan segalanya, Citra. Bukan pelayan yang menciptakan keteraturan itu, melainkan Merah. Aku sangat terkejut sekaligus bangga melihat cara mengatur yang belum pernah kulihat sebelumnya."
Citra tertegun, sendok peraknya berdenting pelan saat menyentuh piring. Dia menoleh ke arah Rosie dengan tatapan tidak percaya. Dia kira, suaminya itu akan marah jika tahu anaknya ikut campur dalam urusan pekerjaan.
"Darah saudagar sejati rupanya mengalir lebih kuat di nadimu daripada yang aku kira, Merah," lanjut Menjangan, suaranya kini dipenuhi nada emosional. "Caramu mengelola gudang, caramu mengawasi timbangan, itu adalah kemampuan yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Kamu benar-benar calon penerus keluarga yang handal. Aku tidak perlu lagi merasa cemas meninggalkan rumah ini jika ada kamu yang menjaga urusan perdagangan kita."
Rosie merasakan pipinya memanas. Meskipun dia adalah seorang manajer operasional yang sudah biasa dipuji oleh jajaran direksi di Jakarta, mendapatkan pujian tulus dari sosok ayah di dunia ini memberikan sensasi yang berbeda. Ada rasa haru yang menggelitik dadanya.
"Ah, Ayah bisa aja. Aku cuma enggak mau kita rugi karena sistem yang berantakan," sahut Rosie sambil tersenyum malu-malu, mencoba meredam kegembiraannya dengan nada bicara yang rendah hati. "Lagipula, Jaka dan Wira sangat kooperatif saat aku arahkan."
"Tidak perlu rendah hati, anakku." Menjangan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat lepas. "Banyak saudagar di Indraloka yang memiliki putra laki-laki, tapi tidak satupun dari mereka yang memiliki ketajaman berpikir seperti yang kamu tunjukkan. Ini adalah anugerah bagi keluarga Trajuningrat."
Di sisi lain meja, Putih tetap terdiam seribu bahasa. Dia tidak menyentuh makanannya sejak pujian pertama dilontarkan. Tangannya yang berada di bawah meja meremas kain jariknya dengan sangat kuat.
Kata-kata 'calon penerus keluarga' terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya. Selama ini, dialah anak yang dianggap penurut, dialah yang selalu berada di sisi ayahnya. Namun kini, hanya dalam beberapa hari, posisi itu seolah dirampas paksa oleh Merah.
Putih melirik Rosie dari sudut matanya. Ada rasa tidak nyaman yang sangat besar di dalam dirinya, sebuah rasa iri yang mulai membusuk dan berubah menjadi kegelapan. Dia melihat bagaimana Rosie tertawa kecil menanggapi cerita ayahnya, melihat bagaimana Citra hanya bisa terdiam membisu karena tidak bisa membantah kenyataan di gudang.
"Putih, mengapa makanannya tidak dimakan?" tanya Menjangan, menyadari keterdiaman putri bungsunya.
Putih tersentak, segera mengangkat wajahnya dan memasang senyum tipis yang tampak sangat rapuh. "Aku hanya sedang mendengarkan cerita Ayah. Aku ikut bangga jika Kakak sekarang sudah bisa membantu Ayah di gudang."
"Tentu saja," sahut Citra dengan nada yang sedikit tajam. "Merah memang sekarang jadi sangat rajin, Tuan. Sampai-sampai dia lupa waktu dan seringkali mengabaikan tata krama rumah tangga hanya demi tumpukan lada itu."
Menjangan hanya mengibaskan tangan, tidak memedulikan sindiran istrinya. "Tata krama bisa dipelajari, Citra. Tapi insting dagang adalah bakat alami. Dan Merah memilikinya."
Rosie menangkap tatapan Putih sejenak sebelum adiknya itu kembali menunduk. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah, sebuah aura dingin yang memancar dari sosok yang biasanya terlihat lemah lembut itu.
Namun, Rosie memilih untuk mengabaikannya. Dia ingin menikmati momen ini, momen di mana dia merasa benar-benar diakui bukan sebagai manajer di kantor Jakarta yang penuh tekanan, melainkan sebagai seorang manusia yang dihargai di dalam keluarganya sendiri.
Makan malam berlanjut dengan Menjangan yang terus menceritakan pengalamannya di istana Indraloka, sesekali menanyakan pendapat Rosie tentang harga rempah di pasar bawah.
Rosie menjawab dengan analisis data yang dia miliki dari pengamatannya tempo hari, membuat Menjangan semakin terpesona.
Sementara itu, di bawah temaram lampu minyak, Putih terus memperhatikan setiap gerak-gerik kakaknya.
Setiap tawa Rosie adalah duri. Setiap pujian Menjangan adalah cambukan bagi harga dirinya. Putih menyadari bahwa jika dia tidak melakukan sesuatu, dia akan segera kehilangan tempatnya di rumah ini, tertimbun oleh bayang-bayang kejayaan kakaknya yang baru saja terbit.
Malam itu, di Kediaman Jati Jajar, sebuah sumpah penerus telah diucapkan oleh sang tuan besar. Namun di saat yang sama, sebuah benih pengkhianatan mulai disiram oleh rasa iri yang mendalam, bersiap untuk tumbuh menjadi tragedi yang akan mengguncang pondasi rumah tangga mereka dalam waktu dekat.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..