NovelToon NovelToon
Dear Unforgettable Story

Dear Unforgettable Story

Status: tamat
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.

Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.

langsung baca aja dear😍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksprerimen Yang Salah Sasaran

Katarina Ayudia, Dipanggil Kate adalah standar emas di SMA Pelita. Pintar, disiplin, dan bersih dari skandal. Tapi malam ini, di balik pintu kamar yang terkunci, Kate sedang menguji teori yang tidak ada di buku teks biologi mana pun. Ia didorong oleh rasa penasaran yang membuncah setelah mendengar perdebatan teman-temannya tentang film dewasa.

Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol play pada situs yang baru saja ia temukan. Suasana kamar yang biasanya sunyi kini berubah drastis.

Tepat saat adegan di layar mulai memanas, suara benturan keras terdengar dari arah balkon.

BRAK!

Seorang laki-laki dengan napas memburu menerjang masuk melalui pintu geser balkon yang tidak terkunci. Dia mengenakan jaket kulit hitam yang sedikit kotor di bagian bahu, wajahnya dihiasi luka goresan yang masih segar, namun auranya tetap terlihat mengintimidasi.

Dia adalah Alarick Valerius. Ketua geng motor dari SMA Garuda sekaligus putra tunggal penguasa bisnis yang wajahnya sering menghiasi majalah finansial.

Kate terlonjak kaget, tangannya refleks ingin menutup laptop, tapi sialnya, jemarinya malah menekan tombol volume up. Suara desahan dari laptop itu justru menggema lebih keras di ruangan yang sempit itu.

Alarick, yang awalnya sedang bersiap untuk menyerang siapa pun di dalam ruangan itu, mendadak mematung. Matanya yang tajam beralih dari Kate ke arah layar laptop, lalu kembali ke Kate dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hening yang luar biasa canggung menyelimuti mereka selama tiga detik yang terasa seperti tiga tahun.

"Gue nggak tahu kalau Si Genius dari SMA Pelita punya hobi belajar... praktik mandiri," ucap Alarick dengan suara berat dan serak. Sebuah seringai nakal muncul di sudut bibirnya yang berdarah.

Kate segera membanting laptopnya hingga tertutup rapat. Wajahnya memanas hingga ke telinga. "Ini... ini tidak seperti yang kamu lihat! Aku sedang... sedang memblokir virus!"

Alarick terkekeh pendek, lalu meringis sambil memegangi rusuknya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar Kate yang dicat putih bersih, kontras dengan penampilannya yang berantakan.

"Virusnya kedengeran sangat menikmati tuh," sindir Alarick. Ia melirik keluar jendela, memastikan tidak ada pengejarnya yang naik ke lantai dua. "Sembunyiin gue di sini sepuluh menit. Kalau nggak, gue bakal pastiin rumor tentang hobi malam lo ini sampai ke telinga guru-guru lo besok pagi."

Kate mengepalkan tangannya. "Kamu mengancamku, Alarick Valerius?" Ya Kate mengenal Pria Muda Tinggi itu. Siapa yang tidak mengenalnya.

"Gue nyebutnya negosiasi, Kate." Alarick melangkah mendekat, aroma aspal dan darah menyerbu indra penciuman Kate. "Lagipula, kita sekarang punya rahasia masing-masing, kan?"

Ketegangan di kamar itu mendadak berubah arah. Alarick Valerius, yang awalnya hanya mencari tempat perlindungan dari kejaran geng lawan, kini justru terjebak dalam situasi yang jauh lebih berbahaya bagi kewarasannya.

ALarick melangkah maju, semakin dalam ke area privat Kate. Ia tidak lagi peduli dengan denyut nyeri di rusuknya. Matanya yang gelap kini terpaku pada penampilan Kate yang sangat kontras dengan citra "Gadis Sempurna" yang selama ini ia kenal dari jauh.

Kate mengenakan baju tidur satin tipis bermotif Doraemon. Potongannya pendek, memperlihatkan jenjang kaki yang putih bersih, dan bahan tipisnya jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan cara yang membuat napas Alarick tertahan. Rambut panjang Kate yang biasanya diikat rapi, kini terurai berantakan, membingkai wajahnya yang semerah stroberi.

"Keluar, Alarick... kumohon," bisik Kate. Suaranya bergetar, setengah karena malu kepergok menonton hal tabu, setengah lagi karena intensitas tatapan Alarick.

Alarick tidak berhenti. Ia justru berdiri tepat di depan Kate, membuat gadis itu harus mendongak. Aroma maskulin yang tajam bercampur bau hujan menyelimuti Kate.

"Baju tidur Doraemon?" Alarick berbisik rendah, suaranya parau dan dalam. "Gue nggak nyangka selera lo se-gemas ini, Kate. Tapi bahannya... terlalu tipis buat dipakai di depan cowok yang lagi luka-luka."

Tangan Alarick yang kasar dan dingin perlahan menyentuh dagu Kate, memaksanya untuk terus menatap matanya. Alarick merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya sebuah perasaan protektif yang asing sekaligus keinginan yang membakar. Ia selalu mengagumi Kate dari jauh sebagai bintang yang tak terjangkau, tapi melihatnya serapuh dan seberani ini di depan matanya, Alarick merasa jatuh... dan jatuh sangat dalam.

"Tadi itu... hanya rasa penasaran," Kate membela diri, napasnya mulai tidak beraturan saat ibu jari Alarick mengusap bibir bawahnya.

"Penasaran itu berbahaya, Sayang," gumam Alarick. "Apalagi kalau lo nonton itu sendirian, pakai baju kayak gini, dan ada gue di sini."

Alarick mencondongkan tubuhnya. Kate bisa merasakan panas tubuh laki-laki itu. Nafsu yang terpicu oleh visual di laptop tadi kini seolah berpindah ke dunia nyata, mengalir di antara mereka. Alarick tidak bisa menahannya lagi, ia merunduk, menempelkan keningnya pada kening Kate.

"Gue harusnya lari dari musuh gue," bisik Alarick tepat di depan bibir Kate. "Tapi sekarang, gue malah nggak mau pergi dari sini. Sedikit pun."

Alarick kemudian mendaratkan ciuman yang menuntut di sudut bibir Kate yang masih ternganga. Itu bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang penuh klaim, seolah ia sedang menandai wilayahnya. Kate yang awalnya membeku, perlahan merasakan dorongan aneh di dalam dirinya, efek dari film yang ia tonton dan pesona berbahaya Alarick yang tak terbantahkan.

Kate mencengkeram jaket kulit Alarick, menariknya lebih dekat. Di tengah kekacauan malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci, dua kutub yang berbeda itu akhirnya bersentuhan dalam gairah yang tak terduga.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading 😍

1
anggita
ikut ng👍like aja+iklan☝. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!