Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motor Baru
Selesai dengan urusan Lesi, Akhirnya Lesi pun mau memaafkan Panji, dan semua sosmednya kembali di buka Blokiran nya, Mereka kembali berdamai setelah perseteruan kemarin.
Pagi ini, Pak Warto dan Bu Arumi sedang berada di rumah, Karena pekerjaan nya di ladang kek Erwin sudah selesai.
Sedang bersantai bersama Lesi di halaman Depan rumah, menikmati cuaca yang cerah di pagi hari ini, Tiba tiba Om Luslam adik kedua Dari Bu Arumi bersama istrinya datang kerumah. Sontak membuat mereka terkejut, karena tidak pernah pernah nya mereka datang. Bahkan menginjakkan kaki ke rumah Bu Arumi pun tidak pernah.
" hmmzz, pasti ada maunya ?" tebak Lesi dalam hatinya.
"Permisi , mbak ?, Mas , apa kabar ?" Sapa Istri Om Luslam basa basi.
" alhamdulilah" Ucap Bu Arumi dan Pak Warto secara bersamaan, " ada apa kalian kesini, Tumben, pantesan saja Cuacanya bagus , biasanya hujan terus ?" ujar Bu Arumi.
Om Luslam dan istrinya saling pandang, seperti melempar kode yang hanya mereka yang mengerti dalam kode itu,
" Maaf mbak. Boleh tidak kalo kami pinjam uang mbak sama mas dulu ?, Buat beli kebutuhan dapur Mas, mbak ?" Tutur Istri Om Luslam yang akrab di panggil Dewi itu.
Merasa tebakan nya benar , Lesi sontak menatap mereka berdua dengan tatapan sinis, senyum simpul yang menjadi sambutan mereka.
" Butuh berapa memangnya ?, aku tidak banyak uang simpanan saat ini, kalian tau kan, Suamiku baru di tendang dari pekerjaan nya oleh adik nya, Tau kan?"Ujar Bu Arumi.
" iya tau mbak, tapi kita gak tau mau kemana lagi pinjem uangnya selain ke mbak dan Mas Warto , Tolongin kita ya, kita cuma butuh dua ratus ribu saja kok ?" timbal Dewi yang di angguki oleh Luslam di sampingnya, dia bahkan hanya diam saja sejak tadi, yang banyak omong hanya istrinya saja.
Bu Arumi melirik sebentar ke arah Pak Warto, mengerti apa yang Mau Bu Arumi katakan, tidak perlu berbicara pak Warto mengerti dengan tatapan Istrinya itu, Seketika Pak Warto langsung mengangguk kecil, tak lama Bu Arumi berdiri dari duduknya dan beranjak pergi ke arah kamar.
Tidak lama dari itu, Bu Arumi kembali datang dan duduk di Kursi rotan nya lagi, dan memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah , dengan gambar pahlawan indonesia yang sedang tersenyum, di atas meja rotan dan menyodorkan nya ke Dewi , Dewi tanpa Ragu langsung mengambil uang itu dan mengantongi nya, " makasih ya mbak, mas ", ucapnya.
Pak Warto dan bu Arumi pun mengangguk, " ingat ya, cepat kembalikan sesuai janji kalian , aku gadak uang simpanan lagi soalnya ", Tegas bu Arumi.
Mereka mengangguk dan berpamitan dan pergi meninggalkan halaman rumah bu Arumi dan pemiliknya, yang masih memandangi kepergian mereka.
" bu, gampang amat sih ngasih pinjem sama Om Lusman," Rengek Lesi kepada Ibu nya.
" ya gapapa, toh mereka juga janji bakalan balikin kan,mereka gak ada buat kebutuhan dapur, daripada mereka ke laparan, lagian ibu dan adik adik ibu itu sudah tidak punya ibu lagi, jadi sebagai pengganti nenek mu yang sudah lama meninggal, itu ibu nak " jelas Bu Arumi.
Lesi membuang napas berat, dengan wajah yang di tekuk, " tapi kenapa kalo kita butuh mereka gadak bu, mereka kayak gak ngakui ibu sebagai kakak mereka " tutur Lesi.
Memang benar apa yang di katakan Lesi, mereka datang jika mereka sedang dalam keadaan susah saja, coba saja kalo mereka sedang dalan keadaan tenang , mereka tidak pernah mau mampir atau nanya kabar ibu, memang sih rumah mereka hanya terbatas Tembok gank saja, tapi ya masa mampir saja tidak pernah.
*****
Dua hari kemudian, Lesi sedang jalan jalan sore, sekalian habis berziarah ke makam nenek dan kakek nya, Lesi tidak sengaja mendengar suara riuh dari rumah Om Lusman dan Bi Dewi, Lesi langsung berlari ke sumber suara, dan melihat apa yang terjadi disana.
Orang orang sedang bergembira, anak anak kecil bersorak ria, bukan hanya anak anak saja, tapi juga ibu ibu tua dan muda berada disana, di tengah tengah Lesi melihat sebuah motor H0ND4 berdiri disana dengan Jok motornya yang masih di bungkus plastik, terlihat seperti motor yang baru datang dari Dilear.
Lesi langsung ikut bergabung, tapi bukan untuk ikut menangkap saweran, tapi ia menuju Om Lusman yang berdiri di ambang pintu rumah nya.
" om, motor baru ya ?" tanya Nya sambil menunjuk ke arah motor itu.
" ah, iya nih, baru datang tadi , maaf ya gak ngabarin soalnya mendadak banget " Jelasnya, Lesi hanya mengangguk angguk seraya mengembungkan pipinya.
" berapa duit om, katanya kemarin gadak duit, sampe pinjem pinjem ke ibu buat makan aja, ini tiba tiba beli motor ", Sindir Lesi, Bi Dewi langsung menghampiri Lesi dengan tergesa gesa, " Euuuu, Lesi ini Uang yang kemarin di pinjam sama Om dan Bibi, Udah Bibi balikin ya, makasih ya, iya nih alhamdulilah Cash, BiBi dapat Warisan dari Ibunya bibi " jelasnya dengan terbata bata dan tidak berani menatap mata Lesi, pandangan nya selalu saja kesembarang arah, seperti takut jika mata nya bertemu dengan Mata Lesi.
" Ouhh, selamat ya, dan makasih ya udah di balikin, gak mau di tambahin nih ?", Tutur Lesi dengan nada bercanda.
Mereka pun tertawa bersama , ya walau pun terasa garing, Tapi Lesi berhasil membawa kembali pulang Uang yang di pinjam mereka dari Ibunya.
Lesi pamit pulang dan segera memberikan Uang tersebut kepada sang Ibu, dan menceritakan apa yang baru di beli oleh Om Dan Bibinya itu.
" masa sih ?, Bagus deh kalo gitu, ya semoga saja hubungan Om mu dan ibu mertuanya rukun lagi ya ", Jawaban ibu membuat Lesi bertanya tanya.
" memang ada apa om sama mertuanya Bu ?" tanya Lesi penasaran, sampai dia menggeser duduknya lebih dekat dengan Ibu, seperti tidak mau tertinggal barang sekata pun.
" iya kan dulu sempet gak damai, dari mereka pisah sampai rujuk lagi gak beres lah hubungan om mu sama Mertuanya, katanya sih, mertuanya nyetir ya, lebih ke banyak ngatur nya dari pada ngebantu anak dan menantu kalo lagi susah, tapi ibu denger dari kamu dapat warisan ya, bukan nya tanyain dapat warisan dari apa, jual tanah yang mana memang ?" jelas ibu, dan kembali bertanya kepada anak semata wayangnya. Lesi menggeleng " aku gak nanya warisan hasil apa ya, mungkin tabungan kali bu " tutur Lesi.
" ouh mungkin kali ya, ya semoga saja mereka bisa kembali berdamai ya," Ucap ibu sambil merapihkan Baju yang sedang di lipatnya.
" tuh bu, kalo lagi banyak duit gitu, gadak yang di undang, masa katanya karena mendadak sih, aneh " Ujar Lesi, yang masih merasa aneh dengan sikap adik ibunya sendiri.
" sssttt, udah ah, biarin aja " timbal ibu.