NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Tamu

..."Aku pernah meminta dengan paksa dalam sujudku, sampai aku sadar bahwa mencintai yang paling tulus adalah dengan mendoakan kebahagiaanmu—meski bukan bersamaku. Aku belajar bahwa ridha terhadap takdir adalah bentuk cinta tertinggi kepada Sang Pencipta.”...

...~Qais~...

Suasana rumah Nenek masih menyisakan aroma melati dan kopi. Gus Qais dan Aiza berdiri di teras samping, terhalang jarak yang sangat terjaga, namun ada binar di mata mereka yang tidak bisa disembunyikan. Untuk pertama kalinya, mereka bicara sebagai dua orang yang sudah punya "ikatan" janji.

Qais menunduk, tersenyum tipis sambil memutar tasbih kecil di jarinya.

"Aiza... tahu tidak? Tadi saat Umi memintamu di depan Nenek dan keluarga, rasanya jantung saya berdetak lebih kencang daripada saat saya ujian hafalan kitab di depan Abah dulu.”

Aiza tersipu sambil memandangi ujung khimarnya.

"Masa sih, Gus? Padahal tadi Gus kelihatan tenang banget.”

Qais terkekeh pelan, suaranya lembut.

"Itu hanya tampak luarnya saja. Di dalam, saya sedang berdebat dengan diri sendiri. Saya bertanya-tanya, 'Qais, apakah kamu sudah cukup pantas untuk menjaga mutiara ini?'. Kamu tahu, Aiza? Menjadi pendampingmu bukan sekadar soal memiliki, tapi soal mengemban amanah besar dari Allah.”

Aiza menoleh pada Qais, hanya sekilas, setelahnya ia kembali menunduk.

Gus Qais menatap ke arah langit sore yang mulai menguning, raut wajahnya berubah menjadi lebih syahdu.

"Kamu tau, Aiza? Selama ini, nama kamu hanya saya 'curi' untuk saya sebut dalam doa-doa sunyi. Sekarang, setelah janji ini terucap, rasanya doa-doa itu sudah menemukan alamat rumahnya. Saya bukan pria yang sempurna, Aiza. Saya tidak menjanjikan dunia yang bertabur emas, tapi saya berjanji untuk membimbingmu sampai kita sama-sama lelah dan memutuskan untuk beristirahat di Jannah-Nya.”

Aiza tersenyum getir, matanya berkaca-kaca, menatap hamparan sawah di depan sana yang hampir menguning.

"Gus… tapi Aiza takut tidak bisa memenuhi harapan Gus.”

Qais menatap Aiza dengan penuh ketulusan, meski pandangannya tetap dijaga.

"Jangan takut pada harapan saya, takutlah jika kita tidak melibatkan Allah dalam perjalanan ini. Saya ini manusia biasa, Aiza. Saya bisa marah, saya bisa lelah, dan saya pun bisa salah. Itulah sebabnya saya membutuhkan kamu. Untuk menegur saya saat saya khilaf, dan untuk menguatkan saya saat pundak saya mulai goyah.”

Suara Qais sedikit lebih berat, sangat manusiawi.

"Mungkin di luar sana banyak pria yang bisa memberimu perhiasan lebih indah, atau kemewahan yang tak habis dimakan waktu. Tapi izinkan pria yang hanya memiliki doa dan hafalan ini menjadi pelindungmu. Mulai hari ini, setiap bait doa yang saya langitkan, tidak akan pernah absen menyertakan namamu. Tunggu saya sedikit lagi ya? Sampai tiba saatnya tangan saya benar-benar halal untuk menghapus air matamu.”

Aiza terdiam cukup lama setelah mendengar penuturan Gus Qais. Angin sore meniup pelan ujung khimarnya, seolah ikut mengamini setiap bait doa yang baru saja dilangitkan pria itu. Aiza menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sedari tadi tidak beraturan. Ia pun mendongak sedikit, menatap bayangan Gus Qais dengan penuh keyakinan.

Suara Aiza terdengar lembut namun jernih, ada keteguhan di dalamnya.

"Gus... Terima kasih karena sudah memilih untuk melihat saya melalui mata iman, bukan melalui apa yang nampak di permukaan. Gus bilang Gus takut tidak pantas, padahal di sini, saya yang merasa paling beruntung. Selama ini, saya hanya meminta kepada Allah untuk dikirimkan seorang guru sekaligus pelindung, dan hari ini... Allah menjawabnya melalui kedatangan Gus dan keluarga.”

Aiza menjeda kalimatnya, jemarinya meremas kain khimarnya sendiri untuk mengurangi rasa gugup.

"Gus tidak perlu menjanjikan istana. Karena bagi saya, rumah bukan soal seberapa megah bangunannya, tapi soal seberapa luas hati imam di dalamnya untuk menerima kekurangan saya. Gus bilang Gus akan belajar menjadi imam yang baik, maka izinkan saya juga belajar menjadi makmum yang sabar. Makmum yang tidak hanya berdiri di belakang Gus saat shalat, tapi juga berdiri di samping Gus saat badai dunia mencoba menggoyahkan langkah kita.”

Matanya berkaca-kaca, ia tersenyum dengan sangat tulus.

"Saya tidak butuh perhiasan yang mahal, Gus. Karena bagi saya, mahar Al-Qur'an dan bimbingan Gus untuk memahami isinya adalah harta yang tidak akan pernah habis nilainya. Saya akan menunggu, Gus. Saya akan menjaga hati ini sebagaimana Gus menjaga pandangan Gus. Saya akan merawat janji ini dalam setiap sujud saya, sampai tiba waktunya lisan Gus mengucap akad yang menggetarkan Arsy.”

Suara Aiza sedikit lebih pelan, hampir berbisik namun penuh cinta.

"Jangan pernah merasa minder dengan apa yang Gus miliki. Sebab di mata saya, ketulusan Gus jauh lebih berharga daripada seluruh pangkat dan harta di dunia ini. Mari kita jaga perjalanan ini pelan-pelan ya, Gus? Biarlah Allah yang menjadi penulis naskah terbaik untuk akhir cerita kita nanti.”

Qais menoleh, senyum tulus penuh cinta karena Allah itu mengembang indah di bibirnya.

***

Hari lamaran itu berakhir dengan sangat manis. Qais pulang dengan hati tenang, Aiza tidur dengan senyum di wajah. Dan keesokan harinya, pagi-pagi sekali Qais bertamu ke rumah Aiza dengan status yang sudah berbeda, calon suami.

Subuh tadi usai shalat subuh berjamaah di masjid pesantren, mereka tak sengaja berpapasan. Aiza tiba-tiba ingat bahwa dia sudah lama mencari kitab Nashoihul ‘Ibad

Karya Syekh Nawawi al-Bantani yang berisi nasihat-nasihat praktis tentang persiapan diri menghadapi akhirat dan memperbaiki akhlak itu. Dia lantas bertanya pada Qais apakah pria itu memilikinya, sebab Aiza berencana akan meminjamnya sebentar. Namun Qais bilang diatidak punya buku itu. Namun pria itu menawarkan diri untuk mengantar Aiza ke toko kitab besok, sebab dia tahu toko kitab yang bagus menurutnya.

Udara pagi itu terasa jauh lebih segar bagi Aiza. Untuk pertama kalinya, ia pergi keluar didampingi Gus Qais. Meski tetap menjaga jarak dan tidak ada sentuhan fisik, kehadiran pria itu di sampingnya memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mereka juga tak hanya berdua. Qais mengajak Laila, adiknya yang berusia dua belas tahun.

Mereka berdiri di depan rak buku agama dan sastra di sebuah toko buku kecil di kota.

“Sudah ketemu kitabnya, Aiza?” Qais sambil memegang sebuah kitab tipis, melirik Aiza yang sedang mencari buku di tumpukan buku lain. Kitab yang ia cari sudah ia pegang.

“Alhamdulillah sudah, gus.' Aiza menunjukkan kitab yang ia pegang itu.

"Tapi mau cari novel islami gitu,” lanjutnya. Tangannya tetap sibuk menyibak beberapa buku.

Qais tersenyum lembut, matanya menunjukkan binar kebahagiaan.

"Pilih saja yang kamu suka. Anggap saja ini hadiah pertama dari saya sebagai tunanganmu. Kamu tahu, melihatmu antusias memilih buku seperti ini, saya jadi membayangkan... suatu saat nanti, kita punya perpustakaan kecil di rumah kita sendiri. Kita bisa membaca bersama setelah setoran hafalan santri selesai.”

Wajah Aiza sontak memerah sampai ke telinga.

"Gus... bicaranya sudah sampai sejauh itu?”

"Tentu. Bukankah niat saya mengkhitbahmu adalah untuk membangun masa depan? Saya ingin setiap jengkal hidup saya nanti ada kamu di dalamnya. Bahkan, saya sudah menyiapkan satu rak kosong di kamar saya di pesantren, khusus untuk buku-buku yang kamu sukai.”

Mereka tertawa kecil, sebuah tawa yang sangat murni. Gus Qais membayarkan buku-buku Aiza, lalu mereka pulang menggunakan mobil tua itu dengan perlahan, membuka kacanya untuk menikmati angin yang menerpa wajahnya. Aiza duduk di kursi belakang bersama Laila, memegang plastik bukunya dengan erat, merasa dunianya sudah sempurna.

Saat mobil Gus Qais memasuki gang menuju rumah Nenek, perasaan senang itu mendadak luntur. Dari kejauhan, nampak sebuah mobil SUV hitam mengkilap terparkir tepat di depan pagar kayu rumah Nenek yang sederhana.

Qais memelankan motornya, dahinya berkerut.

"Aiza... ada tamu penting di rumah Nenek?”

Jantung Aiza mulai berdegup kencang, perasaannya mendadak tidak enak.

"Nggak tahu, Gus. Nenek nggak bilang ada tamu hari ini.”

Gus Qais menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil hitam itu. Aiza turun dan melangkah memasuki pekarangan rumah dengan langkah gamang. Ia menggenggam erat plastik buku yang dipegangnya. Qais menyusul di belakangnya setelah berpesan pada Laila untuk tetap di dalam mobil.

Aiza mematung di depan pintu, ia tertegun bingung melihat orang-orang asing berkumpul di rumah neneknya. Diantara mereka ada bibinya, Sarah.

Wanita itu tersenyum senang. Ia berdiri menghampiri Aiza, menariknya masuk dan memperkenalkan pada orang-orang itu.

“Den Arjuna, ini loh Aiza yang Bibi maksud. Gimana? Cantik kan?"

Pria yang dipanggil Arjuna itu tampak menatap malas, sekedar mengangguk untuk membenarkan. Tapi di dalam hati…..

"Cantik dari mana? Yang kelihatan cuma mata doang.”

“Assalamualaikum."

Tatapan semua orang tertuju pada Qais yang baru saja tiba.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!